Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Wanita Berkelas
"Tidak perlu Arumi, orang yang berhak menemaniku adalah suamiku dan lagi pula kamu bukan bagian dari keluarga ini, apa yang terjadi pada aku juga tidak berurusan dengan kamu," jawab Lavanya cukup menohok membuat Arumi terdiam dengan tatapan matanya tampak tajam dan penuh penakanan seolah-olah harus tahu diri dan bisa menjauh dari suaminya.
"Ayo. Kak!" ajak Lavanya dan lagi-lagi Mike hanya menurut saja.
"Kurang ajar, apa yang barusan dia katakan kepadaku? Apa dia sedang mempermalukanku," batin Arumi tersinggung dengan perkataan itu.
Tetapi harus tetap memberikan ekspresi senyum dan seolah-olah apapun yang dikatakan Lavanya kepadanya tidak berpengaruh apa-apa.
Akhirnya Lavanya saat ini sudah duduk dan kamera kembali menerpa wajahnya dengan sinarnya yang begitu tajam. Lavanya berusaha untuk tenang.
"Selamat Pagi, saya Lavanya menantu dari tuan Brahmana dan Nyonya Maria, sampai saat ini saya tidak mengerti mengapa wartawan menginginkan saya untuk memberi klarifikasi atas apa yang terjadi kepada saya 3 minggu yang lalu, tetapi apapun itu saya mengucapkan terima kasih atas ketersediaan kalian semua menghadiri acara konferensi pers ini," ucap Lavanya berbicara tampak tenang dan bijak.
"Lumayan juga public speaking-nya, tidak seperti apa yang kita pikirkan memalukan jika dia akan menjadi orang gagap ketika berada di depan wartawan," ucap Maria yang sejak tadi memantau dari depan pintu yang berada di belakang wartawan melihat bagaimana menantu mereka saat tampil di depan umum.
"Sudahlah. Ma, kita dengarkan saja bagaimana Lavanya memberikan klarifikasi," sahut Brahmana," Maria mengangguk-anggukkan kepala dan menunggu bagaimana menantunya berbicara sampai saat ini terlihat begitu tenang dan tertata rapi.
"Jujur saja kejadian itu membuat saya takut, membuat saya trauma, membuat saya takut, pada kejadian itu adik ipar saya merayakan hari ulang tahun, saya tidak ikut bergabung di hari ulang tahun itu karena saya merasa tidak nyaman dengan situasinya, saya memilih untuk mencari udara segar di pinggir pantai, duduk dengan menatap lautan, ombak yang tenang membuat hati saya tanpa tenang,"
"Saya mulai merasa ada yang tidak beres, ketika melihat bayangan tiba-tiba muncul di hadapan saya, perasaan saya mulai tidak enak, membuat saya meninggalkan tempat tersebut karena waktu juga sudah semakin gelap,"
"Kejadian aneh mulai muncul ketika langkah saya semakin dekat dengan Villa, saya melihat ada bayangan yang berjalan mengikuti saya dan ketika saya membalikkan tubuh, tidak ada siapa-siapa yang membuat saya semakin memiliki perasaan yang tidak enak,"
"Saya seperti dipermainkan, diikuti, pada akhirnya ketika saya kembali membalikkan tubuh, sosok seorang yang misterius memakai pakaian serba hitam, memakai mantel yang tidak dapat saya kenali apakah dia laki-laki atau wanita, pada saat itu dia ingin menancapkan pisau kepada saya dan saya mendapat kesempatan untuk melarikan diri,"
"Dalam keadaan terdesak, saya berusaha untuk menghubungi orang-orang terdekat saya termasuk suami saya dan ternyata suami saya megang sibuk dengan pesta atau dengan hal lain sampai tidak mengangkat panggilan telepon saya," Lavanya melihat ke arah max saat mengungkit Mike.
Mike kesulitan menelan ludahnya dan dia harus mengingat pada saat itu dia bersama dengan Arumi.
"Saya kemudian menghubungi teman saya yang juga merupakan sekretaris suami saya, ternyata beliau juga tidak mengangkat, sampai akhirnya penjahat itu menemukan saya, menarik ponsel saya, menarik rambut saya lalu membenturkan saya ke pohon, keseimbangan tubuh saya tidak mampu menahan diri dan akhirnya membuat saya jatuh ke jurang," lanjut Lavanya.
"Lalu apakah setelah itu Anda tidak sadarkan diri lagi?" wartawan mulai mengantarkan pertanyaannya.
"Benar, saya tidak sadarkan diri, sampai pagi hari," jawab Lavanya.
"Lalu apakah Anda tidak langsung ditemukan oleh pihak kepolisian?"
"Untuk itu saya tidak bertanya kepada keluarga saya, apakah setelah saya dinyatakan hilang, tidak langsung dilaporkan kepada pihak berwajib, karena saya cukup lama berada di bawah jurang dan seharusnya jika dilakukan pencarian lebih awal dan otomatis mereka bisa menemukan saya," jawaban Lavanya seolah-olah menyudutkan keluarganya yang membuat Maria dan Brahmana saling melihat.
"Lalu bagaimana pada akhirnya Anda bisa selamat?"
"Saya mengandalkan Tuhan, berdoa dan berusaha untuk berjalan tertatih-tatih di dalam hutan, Allah berpihak kepada saya dan akhirnya memberikan saya petunjuk melangkah lebih cepat dengan menemukan lokasi Villa keluarga saya," jawab Lavanya.
"Ketika Anda sampai di Villa? bagaimana reaksi keluarga Anda?"
"Saya tidak mengingat hal itu, pada saat itu saya benar-benar lelah dan ketika sampai tidak ada orang di Villa yang mungkin saja sedang mencari saya, tetapi sudah pasti banyak hal yang saya dapatkan ketika saya sampai Villa," jawab Lavanya lagi-lagi perkataan yang memiliki arti.
"Lalu apakah Anda mengenali sosok penjahat itu?"
"Apakah ini ada kaitannya dengan pemilihan?"
"Apakah ada tindak kejahatan yang sengaja dilakukan pihak lawan yang berkaitan dengan persaingan?"
"Tidak, ini sama sekali tidak berkaitan dengan pihak lawan, untuk apa mereka melakukan itu kepada saya, saya tidak berhubungan dengan pemilihan dalam pemerintahan, saya bahkan tidak pernah muncul, pihak lawan melakukan semua ini kepada saya, itu sama saja hanya merugikan mereka, bukankah semenjak pemberitaan hilangnya saya menjadi bahan simpatik dari orang-orang terhadap keluarga saya,"
"Artinya kehilangan saya membawa keberuntungan untuk keluarga saya, bukankah pihak lawan adalah orang yang cerdas dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang hanya menguntungkan lawannya," jawab Lavanya.
Para wartawan saling melihat satu sama lain dengan mengangguk-anggukan kepala. Benar apa adanya yang telah dikatakan Lavanya jika memang pihak lawan ingin melakukan semua itu kepadanya dan sudah pasti itu hanya akan menguntungkan Brahmana.
Lavanya terus dicecar pertanyaan, tetapi jawabannya tidak pernah mendukung keluarganya dan justru ingin membersihkan dan menekankan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan pihak lawan dari persaingan yang saat ini dihadapi ayah mertuanya.
Acara konferensi pers berakhir dengan sangat lancar, Lavanya berhasil memberi keterangan dengan jujur dengan apa yang terjadi yang sebenarnya dengan penuh ketenangan tanpa gugup sama sekali.
Mereka sudah kembali ke rumah, Lavanya duduk di sofa bersama dengan mertuanya, suaminya dan juga adik iparnya.
"Apa-apaan kamu Lavanya, kamu tidak bisa mengontrol diri kamu untuk tidak berbicara terlalu panjang? Apa kamu tidak sadar apa yang kamu katakan tadi menimbulkan spekulasi dari masyarakat bahwa yang terjadi kepada kamu disengaja hanya untuk mendapatkan keuntungan bagi keluarga ini!" tegas Maria.
Sejak tadi benar-benar geram dengan menantunya itu yang berbicara terlalu panjang.
"Lavanya hanya berbicara apa adanya? tidak ada kebohongan atas klarifikasi yang Lavanya sampaikan memang semua itu terjadi dengan kenyataannya," jawab Lavanya dengan tenang.
"Saya tidak menyuruh kamu untuk berbohong, tetapi bukan berarti kamu harus menimbulkan pemikiran masyarakat yang pada akhirnya menarik kesimpulan bahwa semua ini terjadi dilakukan!" tegas Maria.
"Bukankah memang benar jika banyak keuntungan yang didapatkan karena Lavanya hilang dan justru Lavanya terlalu cepat kembali," sahut Lavanya.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu. Apa kamu pikir orang-orang yang ada di rumah ini sengaja melakukan tindakan seperti itu kepada kamu agar menarik simpatik masyarakat yang berkaitan dengan pemilihan," sahut Maria.
"Mama yang menyimpulkan sendiri, Lavanya bahkan tidak berpikir seperti itu," jawabnya dengan santai.
"Kurang ajar kamu Lavanya....."
"Sudah-sudah hentikan semua ini. Mama tenangkan diri dulu, Lavanya baru pertama kali menghadapi media, sudah pasti dia gugup, dan semua yang dikatakan di media hanya apa yang berdasarkan ada di otaknya tanpa berpikir," sahut Brahmana saat ini jauh lebih tenang dibandingkan istrinya.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga