Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
On the way Bali
Apakah aku bisa mencintai kak Dimas? Bisakah aku melupakan kak Rama ? Mengapa kisah cintaku begitu rumit seperti ini? Mengapa Kak Rama mencintaiku disaat yang tidak tepat? Tuhan tolong aku.
Gita menitikan air mata.
Sudah beberapa hari ini Gita tak melihat Rama. Entah kemana ia? Dikantor pun tidak ada. Semenjak kejadian malam itu, Rama menghilang bak ditelan bumi. Mungkinkah ia marah pada Gita? Baguslah, agar Gita mudah melupakannya. Tetapi, entah mengapa hati Gita tak semangat. Serasa ada yang kurang. Ada secuil rindu untuk Rama dari hati kecilnya.
-Kantin Angkasa Putra Grup-
"Gitaaaaa, elu kenapa? kok lesu banget sih akhir-akhir ini. Gak ada gairah tau gak." Ujar Rani
"Aku kurang istirahat mbak." Ucap Gita
"Kayaknya lu lagi banyak pikiran deh?" Tanya Rani.
"Ntahlah mbak." Jawab Gita lesu.
"Cerita aja Git, lu gak usah canggung sama gue. Anggap aja gue kayak kakak lu sendiri."
"Mbak Raniiiiiiii.. Hikss..Huaaaaa" Gita memeluk mbak Rani sambil menangis sesegukan.
"Git, lo kenapa? Yaampun, pasti lo sedih banget sampe kayak gini. Lo harus cerits sama gue, siapa tau gue bisa kasih solusi buat lo."
"Kak Rama mbak, Kak Rama..... " Gita menangis tersedu-sedu.
"Kenapa sama dia? cerita sama gue"
Gita menceritakan kejadian antara Rama dan dirinya. Gita sangat terluka dan bingung harus bagaimana. Disisi lain ia ingin melepaskan Rama dan mencari kebahagiaan lain, tapi dia jugaխ sangat mencintai Rama dan ingin memiliki seutuhnya, apalagi ketika Gita tahu bahwa Rama menyukainya. Sejujurnya hatinya senang, tetapi dia tak ingin menyakiti hati tunangan Rama.
"Aku harus gimana mbak? Aku gak bisa maksain kehendak buat mencoba jatuh cinta sama Kak Dimas. Rasanya sulit sekali, aku bingung." Gita masih berurai air mata.
"Pertama, gue mau bilang kalo lo hebat bisa naklukin hati Bos Rama. Tapi masalahnya kenapa lo gak bisa tegas sama hati lo. kalo lo suka ya kejar. gak perduli mau dia punya tunangan apa enggak." Tegas Rani
"Aku gak mau jadi penghancur hubungan orang mbak. Aku takut, aku takut ada masalah besar nantinya. "
"Lo tahu kan resiko nya? Sekarang hati kecil lo milih bertahan sama perasaan itu apa lo pergi cari kebahagiaan lain. Gue kasih saran Git sama lu, jangan berhubungan dengan keluarga Bos, orangtunya akan menghalalkan segala cara apapun demi apa yang mereka inginkan."
"Tapi itu sulit mbak, aku gak nyangka cinta bisa serumit ini. Mulutku bisa berkata untuk meninggalkan Rama, tapi hatiku tidak. Ia malah sedih ketika kita sekarang berjauhan. Aku merindukannya kak.." Gita bersedih.
"Gue tau ini berat buat lo. Lo harus bisa lupain dia, biar lo gak sedih terus. Move on Git."
"Bantu aku mbak." Gita memegang tangan Rani
"Always be there for you Git."
Gita merasa lega telah mencurahkan isi hatinya kepada mbak Rani. Ternyata membohongi diri sendiri itu amat menyakitkan. Mengapa aku tak jujur saja kepada Kak Rama waktu itu, mungkin dia akan mencari jalan terbaik untuk kita. Ah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.
- Pantai Sanur, Bali-
"Gila lo Ram. Gak nyangka gue lo bisa nyusul kesini" Ucap Dimas
"Gue pengen nenangin hati dan pikiran gue Dim."
"Kenapa lagi lo?" Jawab Dimas
"Gak apa-apa Dim. Gue pengen liburan aja. Lo ada di Bali ya gue kesini aja. Itung-itung gue nemenin lo liburan"
"Gue vidcall Gita aja kali ya, biar seru" pancing Dimas
"Eh ngapain, lu aja kan lu pacarnya. Jangan bilang gue ada disni"
"Gak apa-apa. Biar seru. Dia pasti kaget bos nya ada disini sama gue.
"Eh, ogah gua malu Dim. Gue bolos ketauan sama dia dong nanti" Rama kikuk.
"Lah elu kan bos, biar aja sih. Kenapa si lu malah gelagapan begitu." Dimas merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Rama ketika nama Gita disebut.
Anggita Nindya "Berdering"
*Tutt..tutt..tuttt..
Kenapa hanya dengan nama "Anggita Nindya" saja. Seperti tak ada yang spesial diantara mereka. -Gumam Rama dalam hati-
*Di kediaman Gita**
Kak, Dimas? Ngajak Vidcall sama aku? Tumben banget. Ada angin apa dia? Ah, mungkin dia kangen sama aku kali ya. Aku harus terlihat semanis mungkin, Aku harus membuka sedikit hatiku untuknya. Aku yakin, aku bisa.
"Hai Gitaku yang cantik.. Apakabar ? Lo kangen gak sama gue?" Senyum lebar Dimas membuat Gita rindu.
"Rindu lah kak. Ciyeee, betah kayaknya ya jadi orang Bali. Kakak kapan pulang sih?" Tanya Gita
"2 hari lagi gue pulang kok. Eh iya Git, lo harus tau siapa yang ada disini. Nih, nih.. Liat Git.. Bos lu bolos kerja udah 3 hari kan? Nih, malah ada disini sama gue. Parah banget kan ya bos ku" Dimas cengengesan sambil menunjukan handphonenya kearah Gita.
Gita kaget. Ternyata Rama tak terlihat beberapa hari ini karena dia pergi ke Bali. Gita malu melihat Rama diseberang sana. Sama halnya dengan Rama, Ia menolak untuk vidcall dengan Gita, ia menutup layar kamera handphone Dimas. Karena ia sungguh malu.
"Eh, ada Pak Rama juga ternyata disitu. Kalian pasti lagi seneng-seneng ya. Asik dong." Ujar Gita.
"Git, lu kesini aja napa. Biar rame liburan kita. Besok kan weekend. Ajakin temen lo. Kita maen dipantai bareng. Ayokkk sini nyusul." Ajak Dimas
"Ih, ogah ah. Aku cape. Emangnya Bali sama Bandung itu jarak yang deket apa" Ujar Gita
"Lo ajak aja temen lo. Ntr gue suruh asisten pribadi gue ngatur keberangkatan lo. " Rama membuka suara.
DEGGG.. Kak Rama bilang lo gue lagi sama aku? huft. Tapi kenapa dia nyuruh aku berangkat ke Bali?
"Ide bagus tuh Git. Ayok sini ajakin temen-temen lo. Kita havefun bareng disini" Dimas menambahkan.
"Cepat kemas barang-barang lo. Aspri gue bakal jemput lo nanti." Rama tegas
*Cihh, apa-apaan ini. Kenapa dia sekarang berubah lagi? Kenapa dia sekarang bersikap seenaknya lagi sama aku? Tapi memang dalam hatiku aku ingin sekali berlibur di Bali, ah yasudahlah terima saja ajakan menarik ini. Toh, aku tidak akan mengeluarkan biaya kan? Akan ku ajak Kak Ajeng, Mbak Rani dan Mbak Intan. Siapa tau mereka mau ikut.
"Yasudah*.. Aku siap-siap dulu. Aku bakal ajak temanku." Gita ketus
"Naaaaah, gith dong peri cantik. Biar kita bisa liburan bareng disini"
Telepon pun terputus. Gita menghubungi ketiga temannya. Mbak Rani dan ajeng tak bisa ikut karena mereka ada acara bersama keluarga masing-masing. Hanya ia dan Intan yang akan pergi ke Bali.
Persiapan pun telah selesai. Intan sudah tiba dirumah Gita. Mereka sedang menunggu Asisten yang ditugaskan Rama datang menjemput mereka.
"Sumpah demi apa lo Git kita bisa berangkat ke Bali gratis gini? Seneng banget gue." Intan sumringah.
"Yaaa.. Aku juga seneng sebenernya. Ini semua berkat Kak, Eh Pak Rama!" Tegas Gita
"Pak Rama? Pak Rama siapa? Direktur kita Git? Ah, yang bener lu? Gila, jiper dong gue." Kaget Intan
"Iya, dia sama kak Dimas yang nyuruh kita liburan bareng kesana" Ucap Gita santai
"Dimas? si Manager cogan itu? Yaampun.. Dewi fortuna keberuntungan gue. Seneng banget gue sumpah. Jadi pengen cepet-cepet ketemu dia. uwwuuuuuu" Intan sumringah.
"Tapi, kak Intan jangan kaget ya. aku jadi pacar pura-pura kak Dimas sementara ini. Tapi tenang kok, ini cuma boongan. Kak Intan gak apa-apa kan?" Gita berterus terang karena ia tahu Intan menyukai Dimas
"Oh ya? kok bisa? Tapi bodo amat lah ntar lo harus ceritain apa yang sebenarnya terjadi. Yang penting gue sekarang bahagia bisa liburan ke Bali." Jelas Intan
Syukurlah kak Intan memahaminya. Aku lega. Tak lama kemudian, asisten yang ditugaskan oleh Rama sudah datang menjemput mereka berdua.
Tanpa perlu menunggu lama, pesawat mereka akan segera take off. Mereka menaiki pesawat VIP. Ternyata Rama mempedulikannya
Kurang lebih dua jam, pesawat yang dinaiki Gita akan segera landing. Gita pun senang sudah sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai. Baru pertana kali ia menginjak tanah Bali. Betapa bahagianya dia dan Intan.
Gita dan Intan menaiki mobil menuju hotel yang diberi tahu Dimas. Gita takut bertemu Rama, Gita tak siap harus menatap muka tampan Rama.
Gita pun sampai di Bali's Hotel and Resort tempat Rama menginap. Gita melihat Rama berdiri dan menatapnya. Hati Gita tak karuan, melihat orang yang ia rindukan walaupun hanya baru beberapa hari tidak bertemu. Gita terpana melihat Rama, sungguh Gita menyadari wajahnya yang rupawan. Gita terpana melihatnya.
Hati kecil Rama sangat bahagia melihat Gita. Tetapi dia sudah berjanji tidak ingin menyakiti hati Gita lagi, dia tak akan mengungkit hal seperti malam kemarin yang membuat Gita menangis.
"Akhirnya kamu datang juga cantik. Siapa ini yang bersamamu Git?" Goda Dimas.
"Ini Kak Intan. teman kerjaku. Kenalin Kak" Gita menjelaskan.
"Yasudah, ayo aku antar ke kamar kalian." Dimas berjalan masuk menuju hotel dan check in segera atas nama Gita"
Rama tak berkata sepatah kata pun, dia menatap dengan tatapan kosong kepada Gita. Dimas dan Intan sudah berjalan masuk menuju hotel. Gita dan Rama masih berdiam diri.
"Ayooo masuk. " Ajak Rama meninggalkan Gita
"Eh, iya kak."
Kenapa dia dingin seperti itu? Kenapa aku sedih dengan sifat dinginnya? Kak Rama? Mengapa kau begitu? Tak bisakah kau bersikap biasa dan melupakan hal yang kemarin?
*Bersambung*
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya