perpisahan kedua orang tuanya itu,membuat seorang gadis bernama Adira Amna (21) sulit untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan laki-laki.
hingga dengan tiba-tiba, Amna dilamar oleh seorang pria yang baru dikenal nya selama beberapa minggu! lalu,apakah Amna akan menerima lamaran dari pria tersebut?
penasaran sama kelanjutan ceritanya? yuk baca👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira amna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Kini Radit dan Amna, sedang mengantri di tukang kebab yang lagi viral. Radit sudah meminta Amna untuk menunggu di mobil, dan dia yang akan memesan nya. Namun calon istri nya itu menolak.
"Tunggu disini sebentar ya sayang, mas beli minum dulu!" ucap Radit, membisikan Amna. Dan setelah Amna mengangguk, Radit langsung berjalan, menuju warung kecil yang ada disana.
Amna terus memperhatikan langkah calon suami nya itu, Radit masih terlihat tampan walau sudah seharian bekerja, beda dengan penampilan Amna sekarang yang terlihat sudah kucel.
"Kenapa sayang?" tanya Radit, saat ia melihat wajah Amna yang di tekuk.
"Mas masih keliatan ganteng padahal udah kerja seharian, beda banget sama amna!" ucap Amna, membuat Radit mengerutkan alis nya heran.
"Ade juga masih cantik.." ucap Radit dengan lembut.
"Sana, mas tunggu di mobil aja" Amna mendorong bahu Radit pelan.
"Sayang kenapa sih, Hem?!" tanya Radit, memegang tangan Amna.
"Mas tuh sadar gak, kalo dari tadi jadi pusat perhatian cewe-cewe genit?!" Kata Amna dengan nada jutek.
Radit langsung memperhatikan sekitar, dan memang ada beberapa perempuan yang sedang melihat ke arah mereka.
"Ade cemburu?" tanya Radit, dengan senyum lebar.
"Engga! Biasa aja." jawab Amna, dan Langsung melengos.
Radit tertawa, lalu menarik kepala Amna untuk ia peluk. Namun wanita itu menolak.
"Malu mas, banyak orang!" tekan Amna, dengan mata yang sudah melotot.
"Yaudah, peluk nya nanti aja kalo udah di mobil" jawab Radit, tersenyum jahil.
Amna tak menanggapi nya lagi. Karna semakin di tanggapi, akan semakin menjadi Radit menggoda nya.
Kini Amna sudah mendapat kan kebab pesanan nya. Ia juga membeli untuk ayah dan kedua adik nya. Tadi saat ia menawari Radit, lelaki itu menolak dan lebih memilih membeli siomay.
"Sayang mau coba, siomay nya?!" tawar Radit, saat kedua nya sudah berada di dalam mobil.
"Mau" jawab Amna semangat.
Amna langsung mengambil alih siomay dari tangan Radit. Dan sekarang lelaki itu justru meminta Amna untuk menyuapi nya, dengan alasan ia sedang menyetir.
"De, lusa mas mau mulai nyebar undangan, Ade gimana?" tanya Radit.
"Amna gak tau mau di sebar kapan, soal nya itu undangan temen nya ayah sama mommy semua." jawaban Amna, membuat Radit mengerutkan alis nya.
"Loh! Ade gak ngundang teman-teman ade?" tanya Radit bingung.
"Ngundang tapi gak banyak, palingan cuma 50 doang. Amna tuh gak punya banyak teman mas, maka nya kemarin sempet bingung waktu mas pesan undangan banyak banget" ujar Amna santai.
Waktu memesan undangan, memang Amna hanya memilih desain nya saja, untuk urusan jumlah Radit yang handle. Tetapi Amna di buat geleng-geleng kepala, saat Radit memesan 1500 undangan. Padahal Amna hanya berniat untuk mengundang 500 saja. Untung nya undangan itu gak mubazir, karna ternyata ayah dan mommy ingin mengundang semua teman dan kerabat nya.
Pernikahan Amna dan Radit akan berlangsung 2 Minggu lagi. Mereka akhir nya sepakat untuk memilih adat Jawa untuk baju nya dan dekorasi yang simple namun tetap terlihat sakral. Dan mengenai seserahan, Amna percaya sepenuh nya pada Tante Erna.
*****
Kini Amna sedang memakan kebab yang ia beli tadi. Sementara Radit, sedang mengobrol bersama ayah di ruang tamu.
Amna membuka ponsel nya, lalu menonton film Drakor terbaru bersama Yaya. Kedua nya begitu serius, hingga tak menyadari kalau Radit sudah duduk di belakang Amna yang sedang rebahan.
"Amna kira, masih ngobrol sama ayah mas di bawah!" ujar Amna, saat merasakan usapan lembut di kepala nya.
"Ayah mau keluar kata nya, ketemu sama teman" jawab Radit yang masih mengusap kepala Amna.
Amna pun langsung mendudukkan tubuh nya, dan menyerahkan hp nya pada Yaya.
"Mas mau makan gak?!" tanya Amna.
"Ade mau makan apa?" Radit bertanya balik, Dan langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
"Pesen ayam geprek aja na!" usul Yaya.
"Boleh kalau mau pesen ayam geprek, tapi sambel nya jangan di makan semua!" tegas Radit pada Amna.
Amna mengambil ponsel Radit, lalu membuka aplikasi gofood. Amna memesan 5 porsi ayam geprek dan juga dimsum.
"Uang Amna gak ke pake, kalo ada mas Radit!" ucap Amna, saat mengembalikan ponsel pada Radit.
"Ya kalo Ade bayar sendiri, uang mas malah yang gak ke pake" jawab Radit lembut.
"Nyebelin" cibir Amna, dan dibalas tawa oleh Radit.
Setelah menunggu selama 40 menit, akhirnya pesanan mereka sampai. Amna turun untuk mengambil piring dan juga gelas. Amna memang lebih suka makan di atas, karna bisa sambil nonton tv.
"Biar mas suapin aja sayang." ucap Radit, mengambil alih piring yang di pegang Amna.
"Padahal gak masalah, kalo Amna makan sendiri..." ujar Amna dengan lirih.
"Nanti tangan ade panas, kalo pegang sambel" kata Radit lembut.
Akhir nya dengan wajah yang di tekuk, Amna pun membuka mulut nya. Jadi sekarang kedua calon pengantin itu, makan sepiring berdua.
Selesai makan, Amna meminta Yaya untuk langsung mencuci piring, dan Altaf kebagian membuang sampah.
*****
Pagi ini Amna bangun seperti biasa. Amna lupa kalo mulai hari ini, ia sudah menjadi pengangguran. Jadi daripada bingung, sehabis solat subuh ia memutuskan untuk ke pasar.
"Yaya..." panggil Amna, sambil mengetuk pintu kamar adiknya itu.
Yaya membuka pintu dan berucap, "Apaan, pagi-pagi udah rusuh aja".
"Ayo, ke pasar!" ajak Amna, yang membuat Yaya mendengus sebal.
"Lu gak liat, sekarang masih jam berapa?!" tanya Yaya kesal.
"Jam 5, apa yang salah?" bingung Amna.
"Gak salah, tapi ini masih terlalu pagi banget buat ke pasar" ucap Yaya, kembali memasuki kamar.
"Justru pagi-pagi begini, semua sayuran masih fresh" ucap Amna, mengikuti yaya ke kamar.
"Nanti ajalah jam 6, kalo jam segini gue mager" jawab Yaya, menutup wajah nya dengan bantal.
Dan sesuai janji nya, jam 6 pagi Yaya mengantar Amna ke pasar. walau di bumbui dengan sedikit perdebatan.
"Lu ajalah yang bawa motor nya!" tolak Yaya saat Amna memberi nya kunci motor.
Amna memutar bola mata nya, "Ntar kalo gue udah nikah, lu bakalan kangen pasti sama gue ya".
"Dih.. pede banget lu" kata Yaya dengan mencibir. Dan Amna tertawa saat melihat wajah kecut Yaya.
Jarak dari rumah ke pasar sebenar nya gak terlalu jauh, hanya saja Amna dan Yaya males kalau harus jalan kaki. Belum lagi nanti, pas pulang nya bawa belanjaan, sebab itu mereka memilih menaiki motor.
Saat sampai di pasar, Amna memarkirkan motor nya di paling pinggir 'biar gampang keluar nya'.
Lalu kedua nya pun memasuki pasar, dengan Yaya yang terus memegangi ujung jaket Amna.'persis bocil yang takut ditinggal emak nya'. Amna terus berjalan mencari semua bahan yang akan ia beli, karna rencana nya, hari ini dia ingin membuat soto ayam.
"Bu ayam seekor berapa?" tanya Amna.
"40 ribu neng, mau beli berapa ekor?" tanya penjual ayam itu.
"Mau 1 aja, di potong 4 ya Bu!" ujar Amna kemudian.
Setelah membeli ayam, Amna lanjut membeli bumbu dan juga bahan lain nya untuk membuat soto.
"Abis ini nyari sarapan na?!" bisik yaya di telinga Amna. Dan Amna hanya menganggukkan kepala saja.
Setelah Amna menyelesaikan belanja nya, mereka langsung menuju ke penjual bubur ayam, yang ada di dekat parkiran tadi. Warung bubur ayam itu selalu ramai jika masih pagi begini, jadi Amna dan Yaya harus menunggu sedikit lama.
"Telpon Altaf na, dia mau nitip sarapan apa engga" perintah Yaya pada sang kakak.
"Gak bawa hp gue!" ucap amna.
Karna kedua nya gak membawa hp, jadi Amna memutuskan untuk membelikan juga, bubur ayam untuk ayah dan Altaf.
*
*
*
*
*
paket lengkap banget si Radit Radit itu Tuhan