NovelToon NovelToon
Jejak Luka Diantara Kita

Jejak Luka Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konflik etika / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Trauma masa lalu
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: sorekelabu [A]

Alya dan Randy telah bersahabat sejak kecil, namun perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka demi kepentingan bisnis membuat hubungan mereka menjadi rumit. Bagi Alya, Randy hanyalah sahabat, tidak lebih. Sedangkan Randy, yang telah lama menyimpan perasaan untuk Alya, memilih untuk mengalah dan meyakinkan orang tuanya membatalkan perjodohan itu demi kebahagiaan Alya.

Di tengah kebingungannya. Alya bertemu dengan seorang pria misterius di teras cafe. Dingin, keras, dan penuh teka-teki, justru menarik Alya ke dalam pesonanya. Meski tampak acuh, Alya tidak menyerah mendekatinya. Namun, dia tidak tahu bahwa laki-laki itu menyimpan masa lalu kelam yang bisa menghancurkannya.

Sementara itu, Randy yang kini menjadi CEO perusahaan keluarganya, mulai tertarik pada seorang wanita sederhana bernama Nadine, seorang cleaning service di kantornya. Nadine memiliki pesona lembut dan penuh rahasia.

Apakah mereka bisa melawan takdir, atau justru takdir yang akan menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sorekelabu [A], isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Di Bawah Tekanan dan Tatapan Dingin Itu

Bab 20 – Di Bawah Tekanan dan Tatapan Dingin Itu

Alya duduk termenung di tepi ranjangnya. Kepalanya terasa berat. Tekanan itu seakan terus menekan dadanya, membuat napasnya terasa sesak. Ia memijat pelipisnya pelan, mencoba meredakan sakit kepala yang mulai menyerang akibat percakapan panjang yang baru saja ia lalui dengan Randy di kantor.

Pikirannya berputar cepat, mengulang kembali setiap kata yang Randy ucapkan saat menjelaskan isi pertemuannya dengan Laras—Mamanya.

"Mama kamu benar-benar serius, Alya. Aku sudah mencoba menjelaskan semuanya. Tapi dia... dia nggak mau mendengar. Mama bilang perjodohan ini adalah jalan terbaik demi masa depan keluarga kita. Dia tidak akan menyerah begitu saja."

Kalimat itu terus menggema di kepala Alya. Ia meraih ponselnya dengan lemas. Pesan dari Randy masuk beberapa menit lalu.

“Maaf, Alya. Aku sudah berusaha, tapi Mama kamu keras kepala. Sepertinya dia benar-benar ingin semuanya berjalan sesuai keinginannya.”

Alya menatap layar ponsel itu lama. Matanya mulai terasa panas, tapi air matanya tak juga jatuh. Mungkin karena ia sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini—dipaksa memilih bukan atas dasar perasaan, tetapi atas dasar kepentingan.

Ia menghela napas dalam-dalam, lalu bangkit. Diteguknya segelas air putih untuk menenangkan diri, tapi tetap saja rasa sesak itu tidak hilang. Rasa seperti dicekik oleh ekspektasi, oleh ambisi orang tuanya, oleh kehidupan yang seakan tak memberinya pilihan selain patuh.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

Calvin.

“Aku di depan apartemen.”

Alya terdiam sejenak. Ia mengerutkan kening. Ia memang pernah mengirimkan share-loc apartemennya pada Calvin beberapa waktu lalu ketika pria itu iseng bertanya di mana ia tinggal. Ia tak mengira Calvin akan benar-benar datang.

Tergesa, Alya berjalan ke pintu. Saat ia membukanya, sosok Calvin berdiri di sana—dengan jaket hitam, tangan diselipkan ke dalam saku, dan tatapan mata yang seperti biasa… dingin dan tajam, tetapi malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam sorot matanya. Seperti seseorang yang diam-diam mengamati retakan hati orang lain, walau tak tahu harus berkata apa.

“Kenapa kamu di sini?” tanya Alya, suaranya serak tapi tetap tenang.

“Cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Alya mengedipkan mata, sedikit terkejut. Kalimat itu begitu sederhana, tapi ada getaran halus di dalamnya. Getaran yang membuat hatinya bergetar… karena ia tahu, Calvin bukan tipe pria yang mudah peduli.

Ia mundur memberi jalan, dan Calvin pun melangkah masuk, duduk tanpa berkata apa-apa. Hening menyelimuti ruang tamu yang temaram.

“Kamu kelihatan kacau,” ujar Calvin akhirnya, dengan nada datar tapi tajam seperti biasa.

Alya tertawa hambar. “Kamu memang nggak pernah basa-basi, ya?”

Calvin mengangkat bahu. “Ngapain basa-basi kalau aku bisa bilang langsung?”

Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Tangannya meremas bantal kecil di sofa, berusaha menahan gejolak emosinya sendiri.

“Banyak pikiran?” tanya Calvin lagi.

“Ya… semacam itu.”

“Masalah keluarga?”

Alya mengangguk pelan, tapi tidak memberi penjelasan lebih jauh.

Calvin mengamati wajahnya. Ia tahu ada sesuatu yang lebih dalam di balik mata itu. Tapi ia tidak mendesak. Ia tahu rasanya saat luka terlalu dalam untuk diceritakan.

“Kamu nggak harus cerita kalau belum siap,” katanya pelan.

Alya menoleh, menatap wajah pria itu. Ia tidak pernah menyangka Calvin bisa punya sisi selembut ini. Selama ini ia hanya melihat sisi dingin dan tak tersentuh dari pria itu. Tapi malam ini… entah kenapa, Calvin terasa lebih dekat. Lebih nyata. Lebih hangat dalam caranya yang tidak biasa.

“Aku cuma lelah,” bisik Alya akhirnya.

Calvin mengangguk sekali, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.

Lagi-lagi hening. Tapi tidak membebani. Justru hening itu terasa menenangkan. Seperti ruang aman yang tak membutuhkan kata-kata.

Alya memejamkan matanya sejenak. Hatinya berdebar tidak karuan. Ia ingin bercerita. Ingin sekali. Tapi ia takut… takut jika Calvin tahu semuanya, ia akan pergi.

Ia membuka mata dan melirik Calvin. “Kamu pernah merasa... seperti hidup kamu sudah ditentukan orang lain sejak awal?”

Calvin menoleh, menatapnya lama.

“Pernah,” jawabnya pelan. “Dan itu menyebalkan.”

Alya tersenyum kecil. Senyum yang pahit. “Aku sedang mengalaminya sekarang.”

“Tapi kamu bisa melawan.”

Alya menggeleng. “Kadang… melawan pun terasa sia-sia.”

Calvin menatapnya dalam. Ada luka di sana. Luka yang tak terlihat tapi terasa begitu nyata. Ia tidak tahu apa yang sedang Alya sembunyikan. Tapi satu hal yang pasti… ia ingin menjadi orang yang tidak pergi. Setidaknya kali ini.

“Kalau kamu butuh tempat untuk bersandar, aku di sini,” ucapnya pelan.

Alya menoleh cepat. Sorot matanya sedikit terkejut.

“Kamu?”

Calvin mengangguk. “Mungkin aku bukan orang yang baik. Tapi aku tahu rasanya jadi seseorang yang terlalu sering dituntut, terlalu sering dipaksa kuat.”

Alya akhirnya menunduk, dan untuk pertama kalinya… air mata itu jatuh, tanpa bisa ia tahan.

Calvin tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan Alya menangis, tanpa menghakimi, tanpa bertanya—hanya duduk di sampingnya, diam, tapi menjadi satu-satunya yang membuat Alya merasa tidak sendiri malam ini.

Dan untuk pertama kalinya… Alya merasa sedikit lebih ringan.

1
🐌KANG MAGERAN🐌
mampir kak, semangat dr 'Ajari aku hijrah' 😊
Cicih Sutiasih
mampir juga di ceritaku, jika berkenan😊
sorekelabu: siap ka
total 1 replies
Cicih Sutiasih
aku sudah mampir, semangat😊
Cicih Sutiasih: jika berkenan, mampir juga di ceritaku
"Tergoda Cinta Mantan", 😊
sorekelabu: terimakasih ka😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!