Iwan Sulistyo, seorang Ojek Online bertemu dengan Gadis bernama Arshiela Paramita.
Iwan menolongnya.
Namun tumbuh cinta di keduanya.
Ternyata Iwan mempunyai dendam kepada papa Shiela.
Sheila akhirnya tahu siapa Iwan.
Dan kemudian Shiela bertekad menyerahkan seluruh hidupnya kepada Iwan.i
Ternyata Iwan seorang yang suka celup sana celup sini dan dijuluki sebagai playboy atau casanova. Hingga banyak yg mengejar Iwan untuk kepuasan birahinya.
Namun siapa sangka, jika Sheila adalah pewaris utama perusahaan. Mengetahui Iwan seorang playboy. Satu persatu, wanita yg sering bersama Iwan dihabisi oleh orang kepercayaan ibunya dahulu untuk membantu Sheila.
Dan Sheila mengurung Iwan serta memasungnya. Agar Iwan sadar, jika Sheila sudah sangat mencintainya.
Bagaimana Akhir cerita. ikuti kisahnya di Mengejar Cinta Mas Ojol. akankah berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si ciprut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Iwan menghela nafas panjangnya, karena perkataan Sheila ini. Apalagi sampai benar benar menyerahkan dirinya kepada Iwan.
" Kenapa lo berbuat demikian..?" Ucap Iwan, kini Iwan mencium kening Sheila. Sheila hanya geleng geleng kepala.
" Gw ga tahu, tapi gw hanya ingin berada didalam dekapan Lo. Gw merasa nyaman seperti saat ini.." Sahut Sheila. Kembali merebahkan kepalanya dibahu Iwan.
" Padahal gw bukan siapa siapa lo. Dari derajat maupun pangkat. Gw hanya orang biasa yg mengais rejeki kesana kemari. Tidak seperti keluarga Lo yg serba ada.." Ucap Iwan perlahan. Sheila hanya geleng geleng kepala.
" Gw cinta mati sama Lo Wan. Gw mau sama Lo. Bukan karena kekayaan atau harta yg berlimpah. Tapi yg gw cari kenyamanan dan kedamaian. Gw merasa damai dan nyaman bersama Lo..!" Sahut Sheila kembali menatap Iwan. Sementara Iwan hanya menatap Sheila.
" Gw tahu Lo!. Selama ini Lo ada dikontrakan, tapi langsung menghilang, karena ngindarin gw kan ?.." Ucap Sheila yakin, kemudian Sheila menyambar bibir Iwan dan melumatnya. Iwan pun membalasnya. Decakan demi decakan pun menggema. Hingga Sheila memberanikan diri membuka pakaiannya. Menuntun tangan Iwan ke arah bukit kembar miliknya.
Iwan pun tak mau kalah, hingga keduanya sama sama tel*nj*ng. Hingga Iwan pun bersiap memasukkan tongkat bisbol miliknya ke surga peraduan milik Sheila.
" Apakah lu rela dengan yg ini..?" Ucap Iwan mengubah panggilannya.
" Gw udah siap Wan, bahkan gw sudah rela menjadi milik Lo selamanya.." Sahut Sheila kemudian menarik tubuh Iwan untuk menyatukan. Kembali bibir Sheila beraksi.
Keduanya pun menyatu. Iwan tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Sheila merasa di awang Awang dan melayang tinggi.
Rasa sakit kini dialami oleh Sheila, walau belum lama bersatu. Iwan menghentikan sejenak. Menatap mata Sheila yg mengeluarkan airmata.
" Lanjutkan sayang.." Ucap Sheila, dan Iwan pun melanjutkan penyatuan itu.
Desahaaann demi desahaaann pun keluar dari mulut Sheila.Tangan Sheila melingkar ke punggung Iwan. Hingga keduanya mengejang, sebagai pertanda keduanya sudah sampai klimaksnya.
Iwan tidak segera mencabut tongkat bisbolnya. Menahannya sejenak, kemudian dilepaskan. Kembali Iwan melumat bibir Sheila hingga keduanya Bermandi keringat dan menghentikannya.
" Apa dengan begini elu puas..?" Ucap Iwan kepada Sheila dipeluknya.
" Iya!, ini sebagai penebus kak Deswita. Selain itu gw juga cinta sama elo Wan..!" Sahut Sheila dalam hati. Sambil menangis Sheila memeluk iwan. Sementara Iwan diam seribu bahasa. Sheila pun mengangguk.
" Gw mencintai lu tanpa alasan. Gw menyerahkannya untuk lu. Dan hanya untuk lu. Walau kita baru beberapa kali bertemu .." Ucap Sheila sambil meneteskan air mata dalam pelukan Iwan.
Iwan mendekap erat Sheila atas perkataanya itu.
" Sepertinya dia salah paham dengan perhatianku itu.." batin Iwan. Kemudian ia memeluk Sheila dengan erat.
" Lalu apa tujuan lu, dengan menyerahkan mahkota lu, kepada gw..?" Ucap Iwan.
Sheila menatap Iwan, kemudian menggelengkan kepala.
" Gw hanya ingin selalu bersama Lo.." Sahut Sheila
" Dengan keadaan gw yg seperti saat ini..?"
" Aku sudah siap, dan akan selalu siap bagaimana keadaan Lo.." Sahut Sheila kemudian mendekap Iwan dengan erat. Iwan kemudian melerai pelukannya.
" Apakah ingin begini terus? Lihatlah darah yg Lo duduki.." Celetuk Iwan, membuat Sheila terjingkat, kemudian berpindah tempat.
Plak.....
" Issss, itu milik gw!, sudah gw serahin ke elo " Ucap Sheila bermanja di lengan Iwan. Iwan tersenyum sambil geleng geleng kepala, melihat Sheila benar benar menyerahkan keperaw*nannya. Kemudian mencium kening Sheila.
" Terima kasih.." Sahut Iwan, tangan kiri Iwan menarik alas kasur miliknya. Kemudian menyingkirkannya.
" Mau diapain itu.." celetuk Sheila sambil menatap spray yg berhasil dilempar Iwan ke pintu kamar mandi.
" Cuci.." Sahut Iwan, kemudian mendekap kembali Sheila. Cup.., Kembali Iwan mencium Sheila.
" Isss, sekarang sukanya cium cium. Ketagihan lho entar.."Ucap Sheila, membuat Iwan gemes karena perkataan Sheila ini. Tangan kanannya mengusap usap kepala Sheila. Kembali Iwan mencium Sheila yg sudah membuatnya candu bagi Iwan.
" Kalau ketagihan elu juga mau kan..?" Tanya Iwan sambil menatap Sheila dalam dekapannya.
" Buatlah gw tidak bisa berdiri lagi Wan, gw ingin merasakannya lagi.." Sahut Sheila kemudian berbalik menyerang Iwan. Iwan yg belum bersiap pun akhirnya terlentang. Sheila berada diatasnya,
Sheila melumat bibir Iwan. Dan Iwan pun tak mau kalah. Keduanya kembali bersatu dengan posisi Sheila diatas. Lenguhan Sheila, ia tahan agar tidak terdengar dari luar kontrakan. Desahaaann desahaaann lembut dari mulut Sheila, membuat Iwan semakin gencar dan membalikkan keadaan.
Kini kembali Iwan memacu kudanya. Mempercepat tempo permainannya. Berbagai cara Iwan lakukan, hingga keduanya benar benar terkulai lemas, setelah berhasil sampai nirwana.
Nafas Iwan dan Sheila tersengal. Namun Sheila justru cekikikan, begitu juga dengan Iwan.
" Masih bisa berdiri Wan?" Ucap Sheila sambil tertawa ditahan. Sementara Sheila memainkan tongkat bisbol Iwan.
" Emang ga makan dulu apa..?"
" Kalau begini terus kayaknya kenyang lho Wan.." Sahut Sheila. Kemudian tangan Sheila memegang adik kecil milik Iwan kembali. Iwan hanya tersenyum memperhatikan tingkah Sheila.
" Isss..berdiri sayang!, aku masih pingin lho. Yuk berdiri yuk.." Ucap Sheila sambil menggoyang goyangkan adik kecil Iwan.
" Istirahat dulu sayang, kita hampir 3 jam begini lho. Sudah jam 9 malam. Kita mandi terus cari makan dulu.." Ucap Iwan, sambil membelai rambut Sheila.
" Ho oh, aku juga mau ambil baju ganti. Temenin ya?, terus nanti tidur disini.." Ucap Sheila, dan Iwan pun setuju. Kemudian Sheila pun berdiri, namun jatuh kembali.
Aduhhhh...
" Kuat berdiri..?" Ucap Iwan, dan Sheila hanya menggelengkan kepala.
" Apalagi kalau lagi ya?" Celetuk Iwan. Kemudian duduk disisi Sheila. Sheila mencubit Iwan.
" Berarti kamu harus gendong sampai kamar mandi.." Sahut Sheila. Tangannya merangkul Iwan untuk berdiri.
" Gendong depan, siapa tahu tongkatnya ingin masuk kandang lagi.." Ucap Iwan sambil senyum-senyum.
" Isss!!, ini aja udah susah berdiri. Sakit ternyata.." Sahut Sheila.
" Tadi nantangin.."
Iwan pun benar memapah Sheila menuju ke kamar mandi didepan. Sheila tersenyum, dan keduanya pun akhirnya mandi bersama.
" Masih sakit..?" Tanya Iwan, karena melihat Sheila merintih kecil saat terkena air.
" Perih dikit!, punya Lo gede sih?. Tapi pingin lagi..!" Sahut Sheila, kemudian menggoda Iwan kembali. Padahal Iwan sudah tidak tahan.
" Otw sayang ."
Akhirnya keduanya bersatu kembali di kamar mandi dengan berbagai posisi. Iwan tidak mau menyudahinya. Hingga akhirnya Sheila melambaikan tangan menyerah. Iwan tertawa, karena ulah Sheila itu. Sementara Sheila cemberut, sebab Iwan tidak udah udah.
Dan keduanya pun selesai mandi serta penyatuannya kembali. Iwan memberikan handuk untuk menutupi Sheila.
" Masih pakai seragam kantor ternyata.." Ucap Iwan, sambil mengambilkan seragam Sheila yg sudah kusut akibat ulah keduanya.
" Begini aja kali ya Wan!, ga usah pakai daleman. Entar ke kontrakan dulu buat ganti.."
" Kontrakan disebelah mana sih Shell ?" Tanya Iwan, karena penasaran.
" Di pertigaan sana depan, ada rumah tingkat tiga, kontrakan ku paling pinggir.." Sahut Sheila.
" Kontrakan pak haji Udin ya..?" Sahut Iwan dan Sheila pun mengangguk.
" Anaknya pak haji Udin kan satu kantor sama gw.." Ucap Sheila sambil membenahi pakaiannya agar tidak terlalu kusut.
" Si Vina..?"
Sheila pun mengangguk, karena memang benar nama tersebut.
" Elo kenal..?"
" Cuma tahu aja sih, ga tahu dia kenal gw apa engga. Kadang dapat orderan food dari si Vina itu.." Sahut Iwan menjelaskan, kebiasaan ojol menghafal pelanggannya.
Setelah selesai, Sheila pun mengajak Iwan menuju ke kontrakan. Walau jalan Sheila sedikit menahan sakit. Iwan agak ragu, khawatir orang akan melihat dan curiga.
...****************...