Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
Mampus gue! Kali ini dia pasti beneran bakal pecat aku dari kehidupan! batin Alin menjerit histeris.
"Ck, sialan!"
Rakha mengumpat habis-habisan sambil memandangi noda merah kental buah naga yang merembes di hoodie hitam mahalnya. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol seperti mau putus.
"Lo becus kerja nggak sih?! Lihat, baju gue jadi basah dan lengket begini gara-gara lo! Pokoknya lo harus tanggung jawab! Baju gue ini limited edition, gaji lo setahun aja kayaknya kagak bakalan cukup buat beli benang jahitnya doang!"
Alin menciut instan, bahunya merosot dalam. "Maaf Mas, saya benar-benar tidak sengaja," cicit Alin sambil menundukkan kepala sedalam mungkin, seolah-olah lantai keramik warung yang berminyak itu jauh lebih menarik daripada ketampanan cowok yang sedang ngamuk di depannya.
"Saya bakalan tanggung jawab, tapi nggak bisa sekarang. Gajian saya masih besok, Mas. Itu juga kalau boleh dicicil seumur hidup... Memangnya harga bajunya berapa ya, Mas?" tanya Alin pelan.
Ia memberanikan diri mendongak, menatap mata elang Rakha. Toh, saat ini ia memakai masker kain hitam, Rakha tak akan tahu kalau dia adalah "gadis yang bertingkah mirip babi" di depan kaca mobilnya tadi siang.
"Cih! Ditagih sekarang aja lo mau pingsan, apalagi denger harganya. Lo nggak bakal mampu bayar!"
Rakha mencibir, matanya memindai penampilan Alin dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
Di mata Rakha, pelayan bermasker ini terlihat lusuh dan menyedihkan.
Padahal tinggal direndam pakai sabun colek juga luntur, pelit amat sih jadi orang kaya! batin Alin dongkol setengah mati.
"Sudah Mas, jangan banyak drama di warteg. Cepat kasih tahu harganya berapa? Saya lagi kerja, takut Bu Sinta ngamuk terus saya dipecat. Kalau saya dipecat, makin nggak bisa bayar cicilannya, kan?!" cecar Alin yang mulai hilang kesabaran. Menurutnya, cowok di depannya ini tipe drama queen yang membesar-besarkan masalah sepele.
"Delapan juta," jawab Rakha ketus, tanpa berkedip.
"Hah?! Delapan juta?!" Mata Alin hampir melompat keluar dari kelopaknya. "Mas nggak salah sebut? Itu baju berbahan benang sutra dari surga atau uang muka motor matic?! Saya kira cuma dua ratus ribuan kayak yang dijual di pasar malam loh, hehe..."
Alin tertawa garing sambil mengaruk kepalanya yang mendadak gatal. Ia celingak-celinguk panik, takut Bu Sinta tiba-tiba muncul memegang ulekan batu.
"Nggak salah!" jawab Rakha pendek, lalu berbalik dengan angkuh hendak pergi dari warung yang bau buah naga itu.
"Sekarang begini aja Mas, daripada Mas masuk angin, pakai saja jaket punya saya dulu," ucap Alin refleks karena kasihan melihat baju Rakha yang basah kuyup.
Ia melepas jaket kebesaran miliknya yang berwarna hijau tahi kuda—warna paling tidak estetik di muka bumi—lalu menyodorkannya pada Rakha.
Rakha terlonjak mundur dua langkah seolah baru saja disodori bom waktu aktif. "Ehh, lo ngapain buka baju segala?! Mau jual diri lo di depan gue, hah?! Percuma, gue kagak tertarik! Lebih mahalan hoodie gue daripada harga diri lo kayaknya!"
Kata-kata pedas Rakha menghunus tepat ke ulu hati Alin.
PLAK!
Alin yang sudah berada di puncak emosinya langsung melemparkan jaket hijaunya tepat ke wajah tampan Rakha. "Heh, jangan kurang ajar ya! Dasar cowok otak mesum! Dikira saya mau jual diri apa?! Kalau ngomong disekolahin dulu dong! Emangnya situ siapa bisa seenaknya menghina saya?!"
Dengan gerakan cepat yang didorong rasa dendam, Alin menyambar selembar kertas pesanan lusuh, mencoretkan nomor ponselnya di sana, lalu meremasnya dan melemparkannya lagi tepat ke dahi Rakha.
"Nih! Hubungi kalau mau nagih! Jangan berani-berani ngehina saya lagi!" teriak Alin sengit. Berbicara dengan cowok modelan Rakha memang tidak butuh sopan santun, melainkan butuh urat syaraf yang kuat.
Rakha yang emosinya sudah macet di ubun-ubun memungut jaket "tahi kuda" dan remasan kertas itu dengan tangan gemetar. Ia segera berlari ke toilet warung karena noda merah di dadanya mulai terlihat menyeramkan seperti bekas luka bacok.
Sepanjang jalan pulang ke kamar kos barunya, Rakha tak henti-hentinya meninju angin malam dengan gaya petinju amatir yang frustrasi.
"Arghhh! Dasar bocil gila! Cewek stres! Sialan, apes banget gue hari ini! Awas aja kalau ketemu lagi, nggak bakal gue kasih ampun!" gerutunya di kegelapan jalan.
****
Waktu berlalu cepat. Pukul delapan malam, Alin baru sampai di kamar kosnya dalam keadaan nyawa yang tersisa lima persen. Ia langsung ambruk di atas kasur busanya yang kempes tanpa sempat mencuci muka atau mengganti baju kerja.
Rasa lapar yang melilit dan kantuk yang berat bertarung di perutnya, dan rasa kantuk menang telak. Alin terlelap dalam hitungan detik.
Tepat pukul 23:45 menjelang tengah malam, perut Alin berdemo dengan suara keroncongan yang merdu. Ia terbangun dengan kesadaran penuh, memaksakan diri untuk mandi demi membersihkan badannya, lalu mengenakan piyama tidurnya.
Sambil duduk di pinggir kasur, ia menyalakan kamera depan ponsel jadulnya.
"Wah... masih cantik. Ternyata kejadian tadi pagi bukan mimpi," gumamnya bangga sambil mengelus pipinya yang sehalus porselen. "Lapar banget... oh iya, di piring lorong kos ada sisa ubi setengah yang tadi pagi."
Alin melangkah gontai keluar kamar menuju meja kecil di lorong kosan. Namun saat matanya tertuju pada piring plastik miliknya, Alin tertegun. Matanya membelalak sempurna.
Piring yang tadinya berisi ubi rebus setengah matang yang aromanya manis mawar, kini mendadak berubah wujud kembali menjadi ubi jalar mentah utuh yang berlumur tanah.
"Lho? Kok berubah lagi? Kemarin kan sudah gue potong dan gue rebus sampai matang? Jangan-jangan ini ubi jadi-jadian?!"
Alin bergidik ngeri. Bulu kuduknya mendadak berdiri tegak.
CLAK!
Tepat di detik itu, seluruh lampu di kos-kosan padam seketika. Gelap gulita menyelimuti lorong sempit tersebut.
"Jangan panik... jangan panik... Alin, tarik napas, hembuskan..."
Alin mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup seperti drum band. Ia meraba-raba area sekitarnya, berjalan mundur masuk ke kamar untuk mencari ponselnya.
"Mana sih?! Nah, ini dia!"
Saat senter ponsel dinyalakan, layar HP-nya berkedip merah memancarkan peringatan horor: Baterai 1%. Dan tepat saat jarum jam dinding berbunyi di angka 00:00 tengah malam, ponselnya mati total. Lengkap sudah penderitaannya malam ini.
CKLEK!
Frustrasi dengan kegelapan, Alin membuka pintu kamarnya lagi untuk mencari udara segar sekaligus memastikan apakah tetangga kosnya yang lain juga mengalami mati lampu. Di saat yang bersamaan, pintu kamar mewah di sebelahnya terbuka.
Rakha keluar dengan perasaan was-was karena AC-nya mati. Dalam kegelapan remang-remang yang hanya dibantu cahaya bulan, ia melihat sesosok makhluk berambut panjang hitam yang berdiri memunggunginya di ujung lorong.
Tubuh Rakha seketika gemetar hebat. Lututnya lemas, hampir saja ia mengompol di celana boxer mahalnya.
Rakha buru-buru menyalakan senter dari iPhone-nya. Cahaya putih terang itu menyorot tepat ke punggung Alin. Merasa ada cahaya, Alin menoleh perlahan ke belakang dengan gerakan dramatis.
"AKHHH! SAITUUUNNNNN!!!!" teriak Rakha histeris dengan suara melengking yang tidak mencerminkan harga dirinya sebagai anak konglomerat. Ia menutup matanya rapat-rapat sambil meracau panik.
"Tolong jangan culik gue! Gue masih polos, belum ternodai! Gue belum lulus sekolah, belum nikah! Gue kurus, daging gue pahit dan alot! Kalau lo nekat makan gue, gigi lo bakal ompong semua! Lo bakal kena muntaber nggak kelar-kelar nyampe tahun depan! Ampunnn... jangan dekat-dekat gue, Setan!"
Alin melongo di tempat. Cowok berbadan gede begini ternyata takut hantu sampai curhat riwayat kesehatan dan tekstur daging tubuhnya sendiri?
"Eh, mata kamu ditaruh di mana?! Aku bukan hantu! Aku manusia!" Alin melambai-lambaikan tangannya di depan sorotan senter Rakha.
Rakha membuka satu kelopak matanya sedikit. "Lo... lo setan daster yang mau numpang tenar, ya?"
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Kan tadi sudah dibilang, aku manusia! Masa cowok kayak kamu nggak bisa bedain setan sama orang cantik jelita kayak gini?" sahut Alin dengan tingkat kepercayaan diri setinggi Monas. Ia benar-benar lupa kalau efek magis ubi itu mungkin saja terikat waktu.
"Ngaca lo, Woy! Jangan ngaco! Bahkan setan di film horor aja penampilannya lebih estetik daripada lo!" ejek Rakha ketus setelah menyadari objek di depannya memancarkan aura manusia, bukan makhluk gaib.
"Maksud kamu apa?! Kamu ngehina aku lagi?! Hari ini sudah banyak orang yang bilang aku cantik, tahu!" balas Alin sengit, tidak terima harga dirinya diinjak-injak untuk kesekian kalinya.
"Cih! Pede banget! Siapa yang bilang lo cantik? Orang-orang sawah atau orang-orangan pengusir burung maksud lo?! Hahaha!"
Rakha tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang kaku, merasa lawakan tetangga kos sebelah ini keterlaluan lucu.
"Kamu keterlaluan... emangnya aku salah apa sih sama kamu?" suara Alin mulai bergetar.
"Lo punya cermin nggak sih di kamar lo? Coba deh ngaca sebelum mengklaim diri lo bidadari! Udah item, dekil, jerawatan menyala begitu, ngaku-ngaku cantik pula. Sadar diri lo, Bocil!"