NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu

Pagi itu, langit Menteng diselimuti kabut tipis pasca hujan semalam. Tepat jam sembilan, raungan sirine dari dua mobil polisi memecah keheningan kawasan elite tersebut, mengawal beberapa truk engkel kosong dan belasan petugas juru sita pengadilan yang mengenakan seragam resmi.

Di seberang jalan, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat berhenti dengan anggun.

Yuda dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Adrian Atmadja melangkah keluar lebih dulu dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Ia kemudian berbalik, mengulurkan tangan kokohnya untuk menyambut jemari Vira Mahendra yang melangkah turun dengan keanggunan seorang dewi. Vira mengenakan terusan hitam formal berpotongan tegas, kacamata hitam besar menyembunyikan kilat matanya, membuat penampilannya tampak seperti malaikat pencabut nyawa bagi keluarga Narendra.

"Apakah kamu siap, Vira?" bisik Adrian, suaranya bariton rendah, sarat akan perlindungan mutlak sembari mensejajarkan langkahnya di samping wanita itu.

"Lebih dari siap, Tuan Adrian," sahut Vira dingin. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat plang penyitaan merah di gerbang Menteng kini mulai dikerumuni oleh petugas yang bersiap mendobrak masuk jika penghuninya menolak keluar.

Di dalam mansion, kekacauan yang sesungguhnya sedang terjadi. Suara gedoran keras di pintu depan membuat Sheila yang sedang tertidur di sofa ruang tamu langsung terlonjak kaget. Perutnya yang buncit terasa melilit akibat stres yang menumpuk semalam.

"Buka pintunya! Kami dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membawa surat perintah eksekusi pengosongan lahan dan bangunan." teriak petugas dari luar menggunakan pengeras suara.

"Mas Arka, Bangun Mas! Mereka sudah datang." jerit Sheila histeris, berlari tertatih menuju kamar.

Arka keluar dengan kaus oblong kusut dan celana kain yang kotor. Wajahnya yang dulu tampan kini tampak kusam dengan janggut tipis yang tidak terurus, matanya merah karena tidak tidur semalaman. Di tangannya, ia memeluk sebuah tas ransel tua berisi beberapa potong pakaian dan kotak beludru hitam berisi kalung zamrud kuno yang berhasil disembunyikan Sheila semalam.

Ketika pintu depan dibuka paksa oleh petugas, Arka dan Sheila hanya bisa berdiri terpaku di ruang tengah saat belasan petugas mulai mengangkut barang-barang yang tidak masuk dalam daftar sita jaminan secara kasar ke dalam truk.

"Tolong berhati-hati, saya sedang hamil." teriak Sheila mencoba memprotes saat seorang petugas menyenggol lengannya. Namun, tidak ada yang memedulikannya. Mereka kini bukan lagi keluarga konglomerat Narendra yang dihormati, melainkan penghuni ilegal yang diusir paksa.

Dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk dalam, Arka menggandeng lengan Sheila, melangkah keluar melewati pintu jati besar mansion tersebut. Namun, begitu kaki mereka menginjak anak tangga semen di halaman depan, langkah Arka mendadak terkunci. Tubuhnya menegang sempurna.

Di dekat gerbang besi yang terbuka lebar, Vira Mahendra berdiri berdampingan dengan Adrian Atmadja. Di belakang mereka, Reno Mahendra melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menghina, sementara Yuda dan beberapa pengawal pribadi Atmadja Group membentuk barikade yang kokoh.

Vira perlahan menurunkan kacamata hitamnya, membiarkan sepasang manik mata indahnya yang sedingin es menatap langsung ke arah Arka dan Sheila yang kini berdiri kepanasan di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat.

"Davira..." bisik Arka, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa bersalah, malu, dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu saat melihat mantan istrinya kini berdiri di tempat tertinggi, disokong oleh pria paling berkuasa di negeri ini.

Sheila yang melihat Vira justru mempererat pelukannya pada tas ransel yang dibawa Arka. Dengan sisa-sisa keberaniannya yang murahan, Sheila berteriak, "Kamu puas, Davira?! Kamu puas melihat kami hancur seperti ini?! Ibu Siska sedang sekarat di rumah sakit, Arka sudah kehilangan perusahaannya, dan aku sedang hamil! Di mana hati nuranimu sebagai sesama wanita?!"

Mendengar makian Sheila, Vira tidak marah. Dia justru melangkah maju beberapa senti, melepaskan lengannya dari genggaman Adrian sekilas untuk mendekat ke arah dua tikus yang telah keluar dari sarangnya.

"Hati nurani?" suara Vira terdengar begitu tenang, namun bergaung mengerikan di halaman mansion yang luas itu. "Di mana hati nurani kalian tiga tahun lalu, Sheila? Di mana hati nurani ibumu saat merancang klausul rahasia pasal 7 untuk merusak fungsi reproduksiku demi harta orang tuaku?"

Deg

Arka mendongak dengan wajah pucat pasi. Sementara Sheila tersentak mundur, tidak menyangka bahwa Vira sudah mengetahui isi dokumen yang baru ia temukan semalam.

"Kalian meracuniku, mengusirku di bawah hujan badai, dan membiarkanku sekarat kehabisan darah di Rumah Sakit Umum Daerah tempat Dokter Sarah berjuang menyelamatkan nyawaku." desis Vira, matanya berkilat tajam bagai belati. "Malam itu, rahimku diangkat total. Kalian merenggut hakku untuk menjadi seorang ibu demi uang sepuluh miliar dan kemewahan palsu ini."

Vira menunjuk ke arah mansion Menteng yang kini sedang dikosongkan. "Rumah ini, Narendra Group, dan seluruh portofolio yang kalian nikmati selama tiga tahun ini adalah darah dan air mata orang tuaku. Hari ini, aku tidak hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku... tapi aku pastikan kalian merangkak di jalanan seperti cacing!"

Reno maju satu langkah, menatap Arka dengan pandangan membunuh. "Tiga tahun lalu aku bersumpah di depan kamar rawat Kak Vira untuk menghancurkan kalian. Dan hari ini, setelah Narendra Group pailit, bersiaplah untuk menghadapi laporan pidana atas percobaan pembunuhan berencana dan pemalsuan dokumen otentik warisan yang sudah kami serahkan ke markas besar kepolisian satu jam yang lalu."

Mendengar kata 'laporan pidana', tas ransel di tangan Arka terlepas, jatuh ke atas tanah aspal. Kotak beludru hitam di dalamnya terlempar keluar, menampakkan kalung berlian bermata zamrud kuno yang berkilauan di bawah sinar matahari.

Mata Vira tertuju pada kalung itu. Seulas senyum dingin terukir di bibirnya. Kalung itu adalah milik almarhumah ibunya yang dulu sering dipakai saat ia masih kecil.

"Yuda, ambil kalung itu. Jangan biarkan tangan kotor pencuri menyentuhnya lebih lama lagi," perintah Adrian Atmadja dengan suara baritonnya yang penuh otoritas mutlak.

Yuda dengan sigap memungut kalung tersebut dan menyerahkannya kepada Vira. Vira menerima warisan ibunya dengan tangan yang stabil, menyimpannya kembali ke tempat yang terhormat.

Adrian kemudian melangkah maju, merangkul pinggang Vira dengan protektif, menatap Arka dan Sheila dengan pandangan menghina dari atas ke bawah. "Waktu kalian di tempat ini sudah habis. Silakan lanjutkan tangisan kalian di sel tahanan."

Arka jatuh berlutut di atas aspal, menumpukan dahinya ke tanah, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang telah berada di titik nadir. Di sampingnya, Sheila menjerit frustrasi sembari memegangi perutnya yang kian melilit, menyadari bahwa pelarian dan kebahagiaan palsu yang mereka bangun di atas penderitaan Davira telah runtuh total menjadi abu.

Dari kejauhan, sebuah mobil polisi lain tampak mendekat ke arah gerbang mansion, bersiap mengeksekusi surat penangkapan resmi untuk Arka Narendra dan Sheila.

Kehancuran dinasti Narendra di mansion Menteng telah selesai dengan sangat epik dan memuaskan.

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!