Novel berpotensi pilihan editor karena menulis novel dalam 1 bulan dengan cerita horor yang mengerikkan dan menggemaskan.
Konon misteri istri pertama Sultan, dipercaya bahwa nantinya pewaris takhta kerajaan bisnis akan kena kutukan. Pangeran Sepna adalah pewaris takhta kerajaan bisnis, adalah putra dari Sultan Sandi.
Bahwa barang siapa yang nantinya dijadikan istri pertama Pangeran, akan mengalami kematian saat malam pengantin yang disebabkan oleh misteri kutukan itu.
Pangeran oleh Ibunya dijodohkan dengan Rani Apriliani. Namun Ibu tirinya Rani, berniat jahat untuk menjodohkan Pangeran dengan Tina.
Dan terjadilah teror hantu wanita misterius yang selalu menampakkan rupanya pada Rani, Tina, dan juga Ibu tirinya Rani.
Lalu siapakah yang akan dinikahi Pangeran?
Diantara Rani dan Tina, siapakah yang cintanya tulus pada Pangeran?
Kisah ceritanya membuat penasaran dan endingnya gak ketebak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irwan Aboy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Sinta dan anaknya pingsan karena melihat hantu di jembatan
Ibu Sinta berjalan ke arah pintu pagar rumah dan dibukanya pagar rumah itu. Dari arah garasi rumah, Tina datang dengan membawa mobilnya. Dan meminta Ibunya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
“Ayo Bunda masuk mobil, apa sudah dibawa tasnya?” tanya Tina dengan memberikan senyuman pada Ibunya.
“Sudah Tina anakku yang calak (cantik), ini tasnya di selempang!” jawab Ibu Sinta seraya masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil.
“Kalau koper baju Bunda mana? Memang tidak bawa koper baju?” tanya Tina dengan hatinya penasaran.
“Oh kalau koper baju Bunda sudah di masukan tadi pagi ke dalam bagasi mobil, saat Tina masih mandi pagi!” jawab Ibu Sinta pada anaknya dengan memberikan senyuman.
“Ya sudah, kita mulai berangkat sekarang!” pungkas Tina dengan memberikan senyuman pada Ibunya dengan hatinya riang.
“Kenapa kamu terlihat gembira, Tina?” tanya Ibu Sinta.
“Iya nih, Tina tidak sabar ingin segera bertemu dengan, Pangeran! Anaknya Ibu Kintan itu, kira-kira rupanya seperti apa dan sikap karakternya juga seperti apa?” jawab Tina seraya memberikan senyuman pada Ibunya itu.
Ibu Sinta mengatakan, “Setahu Bunda sih, saat Pangeran Sepna masih berumur dua puluh tahun, dia anak yang tampan dan juga ramah pada orang yang ditemuinya ... juga sama tetangga desanya!”
Tina menanyakannya dengan hatinya penasaran, “Wah syukurlah kalau Pangeran Sepna, orangnya seperti itu ... kira-kira Pangeran suka tidak ya sama diriku?”
Ibu Sinta menjawab seraya tangan kanannya memegang tangan kirinya Tina, “Tentu saja Tina anak gadisku, kan dirimu anak yang calak (cantik) dan juga seksi!”
Tina pun tersenyum dan berkata, “Mungkin sepertinya, Bunda bisa saja. Ya semoga saja, Pangeran Sepna menyukaiku!”
Ibu Sinta memberikan senyuman seraya menjawab, “Amiin, pasti Pangeran sangat menyukaimu!"
Tina mulai merasa heran karena ke pikiran sesuatu, seraya bertanya, “Bunda, tadi pagar rumah tidak dikunci kan?”
Ibu Sinta menjawab, “Oh tentu tidak, jangan khawatir soal itu? Yang penting pintu rumah di kunci. Di desa kita ini aman dari maling Tina, jadi tak usah di pikirkan!”
Tina menjawab, “Iya juga sih, desa tempat tinggal kita aman-aman saja dari penjahat! Oh iya, sebentar lagi kita mau melewati jembatan perbatasan desa!”
Ibu Sinta langsung merasa merinding mendengar soal jembatan itu, seraya bertanya, “Aduh jembatan perbatasan itu, lumayan angker kan? Apa tidak ada jalan lain ... untuk bisa ke rumah istananya, Pangeran?”
“Oh tidak bisa Bunda, ini kan satu arah. Jadi tidak bisa ke arah jalan yang lain! Tenang Bunda, jangan bikin Tina panik tegang begini!” jawab Tina dengan bulu kuduknya mulai merinding.
“Oke Tina, kamu yang hati-hati menyetir mobilnya karena lihat itu, kita akan segera melewatinya!” pungkas Ibu Sinta seraya mulai menenangkan hatinya Tina.
“Baik Bundaku, kita akan segera masuk ke jalan jembatan perbatasan itu! Doakan aku ya Bun, semoga kita selamat sampai tujuan!” ucap Tina dengan wajah yang mulai gelisah.
“Tentu pasti Bunda doakan, Tina!” ungkap Ibu Sinta dengan tangan kanannya, memegang tangan kiri anaknya.
***
Saat mulai memasuki jembatan perbatasan, tiba-tiba ada kabut asap putih mulai menyelimuti jembatan itu. Hingga saat menyetir Tina menjadi kurang kontrol, karena melihat jalanan menjadi tidak terlihat jelas.
“Tina awas itu, jangan menabrak wanita yang mau menyeberang!” teriak Ibu Sinta pada anaknya.
“Mana Bun, Tina tidak bisa lihat?” tanya Tina dengan merasa heran dengan ucapan Ibunya.
“Itu Tina, awas menabrak! Masa kamu tidak terlihat?” ucap Ibu Sinta dengan wajahnya panik dan pandangan matanya menjadi buram, karena kabut asap menyelimuti jalanan di jembatan perbatasan itu.
“Ah ... iya wanita itu awas!” pungkas Tina dengan menjerit suaranya, karena terkejut apa yang di katakan Ibunya itu benar.
Sosok wanita yang mau menyeberang itu, saat mau mendekati mobil yang mereka berdua tumpangi. Seketika sosok wanita itu, menampakkan rupanya menjadi sosok wanita hantu dengan wajah yang menyeramkan. Dan kedua bola matanya mengeluarkan air mata darah.
“Ah iya wanita itu Bunda ... tapi itu bukan sosok wanita, melainkan sosok hantu!” ucap Tina dengan ekspresi wajahnya ketakutan, hingga tak berani melihat sosok wanita hantu itu di depan kaca mobilnya dan Tina mengerem mobilnya.
“Betul itu Tina ... hantu itu bukan sosok manusia! Kenapa kamu tidak menjalankan mobilnya malah berhenti?" tanya Ibu Sinta dengan menjerit histeris dan menyuruh anaknya untuk menyetir kembali mobilnya.
“Iya Bunda, Tina takut tidak mau melihat ke depan kaca mobil. Apakah sosok wanita hantu itu masih ada kan?” tanya Tina dengan kepalanya menunduk ke bawah dan kedua kakinya gemetar ketakutan.
“Tentu Tina, Bunda juga tidak mau melihat sosok wanita hantu itu, karena sungguh menyeramkan rupanya!” jawab Ibu Sinta seraya tangan kanannya memegang pundak anaknya.
Namun saat Ibu Sinta memegang pundak Tina, tak disangka kalau anaknya itu, ternyata sudah pingsan.
“Tina bangunlah sayang, kumohon jangan pingsan! Bunda sangat takut Tina, tidak berani melihat ke kaca depan mobil!” ucap Ibu Sinta seraya matanya sedikit menoleh melirik ke depan kaca mobil.
Dan menjerit histeris, “Ah ... Tina bangunlah! Sosok wanita hantu itu, ternyata masih ada. Belum pergi menghilang hantu itu, jangan pingsan, Tina! Ayo kamu bangunlah!”
Namun sayang, anaknya benar-benar pingsan tak sadarkan diri. Sedangkan Ibu Sinta kedua tangannya berusaha memegang pundak dan tubuh anaknya untuk membangunkan Tina, supaya dia segera sadar dari pingsannya itu.
Apalah daya yang ada Ibu Sinta malah terus bercucuran keringat dari wajahnya dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
Dan pada akhirnya, Ibu Sinta pun pingsan juga, karena merasa jantungnya berdebar kencang dan merinding ketakutan.
***
Sedangkan Rani dan Pangeran Sepna sedang berjalan di halaman depan istana, Rani mulai terpikir kembali soal mimpi semalam. Kalau Rani bermimpi tentang misteri istri yang akan dinikahi Pangeran Sepna.
Rani pun mulai mengatakan, “Ternyata benar kalau di luar istana, kita bisa menghirup udara yang segar ya! Ada taman bunga di depan halaman istana, ayo kita duduk di ayunan itu!”
Pangeran Sepna pun menjawab, seraya berjalan ke arah ayunan, “Oke Rani, memang kalau di luar istana udara memang segar tidak seperti di dalam istana!”
Rani dan Pangeran pun, akhirnya duduk di ayunan dekat taman bunga.
“Oh iya, Rani mau bertanya soal mimpi semalam cukup menyeramkan jikalau di ceritakan mimpi aneh itu!” ucap Rani seraya berbicara pelan dengan ekspresi wajahnya yang malu.
“Memang semalam, Rani mimpikan soal apa?” tanya Pangeran dengan hatinya penasaran.
“Oh, tidak penting sih!” jawab Rani dengan kedua tangannya gemetar, karena malu mengatakan soal mimpi buruknya itu.