NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GETARAN DI AMBANG SAJADAH

## *BAB 10: IMAM UNTUK HAFIZAH*

Keheningan menyelimuti kamar setelah pintu kamar mandi tertutup. Krek.

Zaid masih mematung di pinggir ranjang. Seperti patung. Seperti orang yang baru ditampar kenyataan.

Jemarinya perlahan menyentuh sprei di mana Khadijah baru saja berbaring. Masih ada sisa kehangatan di sana. Hangat tubuh. Dan aroma mawar yang seolah tertinggal di udara. Aroma sampo Khadijah.

Bayangan wajah Khadijah berputar di kepalanya. Tidak mau hilang.

Mata yang bening sayu karena kantuk. Rona merah di pipi karena malu. Rambut hitam yang terurai sampai ke pinggang. Lesung pipi kecil itu.

Semuanya tercetak jelas di benaknya. Menempel. Menghancurkan sengketa batin yang selama ini ia pelihara. Tembok yang ia bangun setinggi 10 meter.

"Sial," umpat Zaid pelan. Meraup wajahnya dengan kasar. Sampai terasa sakit. "Sialan gue."

Bagaimana bisa ia baru menyadari harta karun di depan matanya sendiri? Selama ini ia menganggap cadar itu sebagai pembatas yang membosankan. Sebagai penghalang. Sebagai tembok.

Namun ternyata itu adalah tabir. Tabir yang melindungi keindahan yang nyaris tak masuk akal. Keindahan yang terlalu suci untuk dunia kotornya.

Suara gemericik air wudhu dari dalam kamar mandi menyadarkan Zaid. Criss... criss...

Ia segera bangkit. Kaku. Mencoba menata detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Duk duk.

Saat pintu kamar mandi terbuka, Khadijah keluar dengan wajah yang basah oleh air wudhu. Tetesan air masih ada di ujung hidung dan dagunya. Tampak semakin segar dan bercahaya. Bercahaya dari dalam.

Ia sudah mengenakan mukena putih bersih. Rapi. Namun ia tidak lagi mengenakan cadar di dalam kamar ini. Sesuai permintaan Zaid. Sesuai perintah yang keluar dari mulutnya tadi.

"Mas Zaid, airnya sudah siap," ucap Khadijah lembut. Pandangannya tetap tertunduk malu. Pipinya masih merah. "Handuknya di situ."

Zaid berdeham kaku. Tenggorokannya kering. "Ya. Tunggu sebentar."

Zaid masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru. Hampir lari.

Air dingin yang menyentuh kulitnya membantu mendinginkan saraf-sarafnya yang tegang. Membasuh wajahnya berkali-kali. Saat berwudhu, ia berkali-kali beristighfar. _Astaghfirullah... Astaghfirullah..._

Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Malu sekali. Selama ini ia mengabaikan shalat. Mengabaikan Al-Quran. Mengabaikan kewajiban. Namun Allah justru memberinya istri sesempurna Khadijah. Seolah Allah bilang: 'Ini. Jaga dia. Dia jalanmu pulang.'

Setelah selesai berwudhu, Zaid keluar dengan handuk di leher. Kemejanya basah sedikit.

Ia menemukan Khadijah sudah membentangkan dua sajadah di atas karpet. Secara sejajar. Namun sajadah makmum berada sedikit di belakang. Sunnah.

Khadijah berdiri menunggu dengan tenang. Tangan bersedekap. Menunggu imamnya.

Zaid menelan ludah. Keras.

Ini adalah ujian yang lebih berat daripada menghadapi keroyokan geng motor. Lebih berat daripada tawuran semalam.

Ia harus menjadi imam bagi seorang Hafizah 30 juz. Ia, yang bacaannya masih sering tersendat. Yang tajwidnya belepotan. Yang hafalannya hanya mentok di surah-surah pendek Juz Amma. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas.

"Zaid?" Khadijah memanggil pelan karena suaminya hanya berdiri mematung menatapi sajadah imam. "Sudah masuk waktu, Mas."

"Aku..." Zaid menoleh. Suaranya serak karena rasa rendah diri yang tiba-tiba muncul. Menghantam. "Bacaan aku nggak sebagus Bang Farhan. Takut salah. Takut..."

Khadijah mendongak sedikit. Menatap punggung Zaid dengan penuh kasih. Tanpa menghakimi.

"Allah tidak menilai seberapa indah suaramu, Mas," kata Khadijah lembut. "Tapi seberapa tulus hatimu menghadap-Nya. Seberapa niatmu untuk memimpin. Jadilah imam saya pagi ini. Cukup bacakan apa yang Mas hafal dengan ikhlas. Saya yang ngikutin."

Kata-kata itu. Sederhana. Tapi meruntuhkan keraguan Zaid. Meruntuhkan tembok terakhir.

Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Berdiri di atas sajadah imam. Di depan.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

"Allahu Akbar..."

Sholat Subuh itu berlangsung dengan khidmat. Sunyi. Hanya ada suara Zaid yang memimpin.

Zaid membacakan Surah Al-Maun dan Al-Ikhlas. Suaranya tidak semerdu Farhan. Nadanya maskulin dan sedikit serak karena kurang tidur. Ada beberapa kali ia lupa panjang pendek.

Namun ada ketulusan yang luar biasa di sana. Ada getar. Ada air mata yang ia tahan.

Di belakangnya, Khadijah mengikuti setiap gerakan dengan sempurna. Dan air mata mulai menetes dari balik mukenanya. Menetes ke sajadah.

Inilah doa yang ia langitkan setiap malam sejak akad. _Ya Allah, jadikan suamiku imamku._

Dan pagi ini, doa itu dikabulkan.

Setelah salam. 'Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah...'

Zaid memutar tubuhnya menghadap Khadijah. Kaku. Canggung.

Ia mengulurkan tangannya secara kaku. Telapak tangan terbuka.

Khadijah menyambut tangan itu dengan kedua tangannya. Mencium punggung tangan Zaid dengan takzim. Dengan hormat seorang istri pada imamnya.

Zaid merasakan aliran listrik halus menyentuh hatinya saat kening Khadijah bersentuhan dengan kulit tangannya. Hangat. Lembut.

Secara impulsif, tanpa pikir, Zaid meletakkan tangan kirinya di atas kepala Khadijah yang tertutup mukena. Mengusapnya pelan. Seperti Abi mengusap anaknya.

Lalu ia membacakan doa pendek yang pernah diajarkan Abinya untuk keberkahan istri. "Allahumma inni as'aluka khairaha..."

Khadijah tertegun. Matanya membesar. Ia tak menyangka Zaid akan sejauh ini. Selembut ini.

Pukul tujuh pagi, suasana di meja makan terasa berbeda. Berbeda 180 derajat.

Umi Syarifah yang sedang menata piring tersenyum lebar sampai ke mata saat melihat Zaid dan Khadijah turun bersamaan dari tangga. Berdampingan.

Zaid tampak lebih rapi dari biasanya. Dengan kemeja flanel biru yang kancingnya tertutup rapi sampai atas. Rambut disisir. Wajah sudah dicuci. Luka memarnya masih ada, tapi ia tidak menutupinya.

Sementara Khadijah sudah kembali dengan cadarnya. Sempurna. Namun ada binar di matanya yang tak bisa disembunyikan. Ada cahaya baru.

"Wah, pagi ini cerah sekali ya, Abi?" sindir Umi sambil melirik Habib Umar. Nadanya penuh kemenangan.

Habib Umar terkekeh sambil melipat korannya. "Sangat cerah, Umi. Matahari terbit dari timur. Sepertinya sofa yang hilang itu membawa berkah."

Zaid hanya bisa mendengus sambil menarik kursi. Tapi lesung pipinya muncul sekilas. Pertanda ia tidak benar-benar marah. Bahkan agak malu.

Ia mulai mengambil nasi goreng sendiri. Dan kali ini, saat Khadijah hendak melayaninya seperti biasa, Zaid justru menahan tangan Khadijah.

Tangan mereka bersentuhan sekilas.

"Duduk saja," ujar Zaid pelan. "Biar aku ambil sendiri. Kamu juga harus makan. Jangan cuma ngelayanin aku."

Umi dan Abi saling berpandangan di atas meja. Saling mengedip. Penuh kemenangan.

Perubahan kecil ini. Sekecil menahan tangan istri agar duduk. Adalah kemenangan besar bagi mereka.

Sesuai janjinya semalam di taman, Zaid mengantar Khadijah sampai ke depan gedung Fakultas Tarbiyah menggunakan mobil Abinya. Alphard hitam.

Saat mobil berhenti tepat di depan lobi, beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul langsung menoleh. Berbisik-bisik.

Zaid Al-Idrus. Sang ketua geng motor yang biasanya liar. Yang biasanya datang naik Ninja.

Turun dari mobil. Dan membukakan pintu untuk seorang wanita bercadar.

"Nanti kalau sudah selesai kelas, telepon aku," perintah Zaid. Suaranya terdengar posesif. Tapi lembut. "Atau kirim pesan. Tunggu di sini. Di lobi. Jangan pulang sendiri. Jangan naik taksi."

Khadijah mengangguk patuh. Matanya berbinar di balik cadar. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Zaid berdiri di samping mobil. Bersedekap. Sampai Khadijah benar-benar masuk ke dalam gedung dan menghilang di balik pintu. Baru ia masuk mobil.

Dari kejauhan, Sherly yang sedang berkumpul dengan teman-temannya menatap pemandangan itu dengan penuh kebencian. Dengan api cemburu.

Zaid kembali ke mobil dan menuju fakultasnya sendiri. Fakultas Teknik.

Di parkiran, Rian dan Haikal sudah menunggunya. Bersandar di motor.

Rian langsung menghampiri Zaid dengan tatapan menyelidiki. Mengendus. "Woy! Muka lo kenapa, Zaid? Kok berseri-seri gitu? Kayak abis nemu duit. Memar semalam udah sembuh?"

Zaid hanya tersenyum tipis. Senyuman yang jarang sekali terlihat. Senyuman tulus. "Memar di muka bisa sembuh, Yan. Pakai salep."

"Terus?"

"Tapi ada yang nggak bisa hilang di kepala gue," kata Zaid. Matanya menerawang.

"Apaan tuh?" Rian mengernyit.

Zaid menoleh. Menatap gedung Tarbiyah dari jauh.

"Bidadari," jawab Zaid singkat. Tegas. Lalu melenggang pergi meninggalkan Rian yang melongo dan Haikal yang tersenyum penuh syukur sambil menengadah ke langit.

Haikal menepuk bahu Rian. "Sudah kubilang, Khadijah itu obat. Obat paling mujarab. Dan sepertinya, Zaid mulai ketagihan obatnya."

Namun, di tengah kebahagiaan yang baru mekar itu. Di tengah hati Zaid yang mulai hangat.

Ponsel Zaid di saku celana bergetar. _Vrrr... vrrr..._

Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk. Nomor baru.

Isinya:

“Jangan senang dulu, Zaid. Syarifahmu itu terlalu suci untuk bajingan sepertimu. Lihat saja nanti.”

Rahang Zaid mengeras. Seketika. Matanya menjadi tajam.

Ia tahu. Ia sangat tahu. Perjuangannya menjaga Khadijah bukan hanya soal meluluhkan hati istrinya.

Tapi juga melindungi wanita itu dari masa lalunya yang kelam. Dari orang-orang yang tidak suka melihatnya bahagia.

Dan badai itu... baru saja mulai.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!