Jessie seorang single mother yang sangat menyayangi anaknya. Di asingkan oleh keluarga saat mereka mengetahui bahwa dirinya hamil. Lalu terpaksa harus diam dan tidak memberi tahu pria yang sudah membuatnya hamil, lantaran pria itu adalah suami orang, yang juga akan memiliki anak dari istri sah nya.
Menceritakan kehidupan Jessie bersama anaknya, Lauryn. Umurnya masih 5 tahun, sedang sibuk-sibuknya bermain sambil sekolah. Pekerjaan Jessie yang hanya seorang seorang pembuat kue di sebuah kedai, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melangkah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon auzuzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 11
...Author point of view....
Asap hangat yang keluar dari secangkir teh panas menguap, membaui ruangan dengan harumnya yang ringan, namun sangat menghangatkan. Salah seorang wanita berdiri diam disana, di samping dinding kokoh rumah besar seharga milyaran us dollar.
“Nyoya, sudah disiapkan teh nya. Silahkan di nikmati.” bukannya mengangguk, ia hanya menatap pembantu yang telah ada sejak saat berdirinya rumah ini dengan sendu.
“Tidak apa-apa Nyonya, saya akan bawakan kembali teh nanti. Jika anda tidak ingin menikmatinya sekarang.” ujar pembantu itu dengan sangat santun.
Wanita yang tak lain adalah Efsun tersenyum tipis, bibirnya merah, namun kering. Dan agak pucat. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Benar-benar sangat dalam, hingga tatapannya bahkan memancarkan kekosongan.
Efsun melangkah dengan sangat pelan, mendekati sebuah pintu besar, yang terkunci sangat rapat. Entah di mana pemegang kuncinya itu berada. Efsun kewalahan mengingat segala memori naas yang seharusnya dilupakan. Namun malah membekas jelas di hatinya.
“Sebanyak apapun kebahagian dan kasih sayang yang kau berikan. Aku tetap tidak akan bisa menggapai hatimu. Ragamu memang bersamaku. Namun semuanya menjadi hambar sejak saat perempuan itu datang kembali, bukan?” batin Efsun berbicara begitu dalam.
Jujur, Efsun sangat tidak kuat menyimpan ini semua sendiri. Hanya Nessie yang menjadi alasannya bertahan tinggal dirumah besar ini. Bahkan pria yang sejak awal sampai sekarang ia cintai, belum tentu bisa menjaga dirinya untuk tetap menetap bersama di satu atap rumah yang sama.
Efsun kembali ke kamarnya, ia berbaring pelan dengan tubuhnya yang lesu. Jika saja kebodohannya karena kekecewaan yang mendalam terhadap Troy bisa terulang kembali. Maka Efsun akan mengakhiri hidupnya. Agar tetap bisa bersama anak kandungnya yang sudah kembali ke dalam pangkuan tuhan, sebelum bisa melihat keindahannya dunia.
“Menjadi jahat bukanlah tujuanku. Namun tetap mempertahankan Nessie sebagai anakku, adalah kewajibanku.”
...★★★...
Disisi lain terdapat dua pasangan berbeda jenis kelamin saling berpelukan. Tidak. Lebih tepatnya, sang pria yang sekarang memeluk erat punggung perempuan itu dengan satu tangannya yang bebas.
Siapa lagi jika bukan Troy, pria yang sudah mati rasa akan kebeneran yang sebentar lagi akan terungkap. Ketakutannya akan pandangan Jessie yang sangat khawatir hampir tidak bisa membuatnya berpikir. Troy mengeluarkan ponselnya, beruntung ponsel mahalnya itu masih bisa menyala, di tengah kebasahan yang melanda.
Mobil pun akhirnya datang, Jessie terlebih dahulu masuk, di ikuti oleh Troy setelahnya. Di masing-masing pelukan mereka terdapat anak yang bahkan saling kebingungan. Saling berpandangan satu sama lain. Seolah sedang berkaca bak pinang di belah dua.
Sampai di dalam mobil, Troy meluruskan pandangannya, tidak dengan Jessie yang membuang pandangannya ke arah jendela. Hatinya terasa sakit. Tanpa butuh penjelasan, ia sendiri tahu, bahwa hal yang ia lihat adalah nyata. Anaknya memiliki kembaran.
Yang adalah, darah dagingnya sendiri.
Jessie dapat merasakan keterbingungan anak di pangkuannya, bertahun-tahun anak ini tak dapat mengenalnya. Untuk menoleh menatap Lauryn saja Jessie tak kuat. Ia merasa sudah mempermainkan hidup anaknya. Ulah dari Troy, si keparat yang benar-benar licik di matanya.
“Pak.”
“Apa?”
Suara bariton itu memecahkan keheningan. Sang supir pun dapat merasakan ketegangan di antara mereka. Garis rahang Troy yang keras semakin menegas dan bibirnya yang tipis semakin menipis.
“Hotel.” satu kalimat yang keluar dari bibir Troy nyaris membuat dada Jessie semakin sesak. Ia sadar diri betul kalau dirinya tak pantas bertemu istri Troy yang pastinya sedang menunggu kepulangan Troy sekarang.
Yang Jessie inginkan hanya kedua anaknya, dan banyak hal yang ia belum ia ketahui, namun seolah sudah terjawab dalam satu situasi yang kini sedang terjadi.
...★★★...
Lauryn dan Nessie memasuki kamar hotel dengan bodyguard yang langsung menggendong mereka, Jessie berhenti di depan kamar hotel, bersama dengan Troy yang memunggunginya. Troy bersedekap dada, masih membelakangi Jessie, tanpa ada niat untuk berbalik arah.
“Dia.” udara seoalah menggantung di tenggorokan Jessie, membuat rasa tercekat menghalanginya untuk melanjutkan perkataan yang belum selesai.
Mata Jessie menatap nyalang kepala Troy dari arah belakang, beberapa menit kemudian, Troy memutar tubuhnya. Dengan tangan yang tidak lagi bersedekap, namun sudah jatuh menjuntai di samping sisinya.
Tatapan mereka saling berpandangan, dengan tatapan penuh pengabdian dari Troy terhadap Jessie, namun tatapan Jessie justru mengibarkan bendera permusuhan di antara keduanya.
“Jelaskan atau akan ku bunuh kau sekarang.” dengan nada penuh kekecewaan, Jessie berkata secara tercekat, Troy menelan ludahnya kasar.
Wajah Troy berubah pias, mengingat kenangan lima tahun yang lalu, yang benar-benar sangat buruk untuknya.
“Tuhan akan segera mengutukmu Troy. Atas segala kebohongan yang kau lakukan.” ucap Jessie tajam, melayangkan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk tepat di depan dada Troy.
...Author point of view off....