NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Belas

Setelah kembali dari mushola rumah sakit, aku mengecek WhatsApp, ternyata ada dua panggilan tidak terjawab dari nomor baru. Akhirnya aku membuka bagian pesan masuk dan memilih untuk melihat yang dari nomor asing tersebut.

[Assalamualaikum, Mbak Dira. Ini ibu, Mbak. Nanti InsyaAllah kami mau ke rumah sakit, mbak Dira jangan beli sarapan di luar ya, sukanya apa ya mbak Dira kalau sarapan?]

Aku tersenyum geli, ternyata Ibu Basuki ini tidak hanya pintar berbicara di dunia nyata saja, tapi juga pandai berbicara via pesan seperti ini.

"Ada apa, Mbak?" tanya Narendra begitu keluar dari kamar mandi.

Aku menoleh ke arah Narendra yang masih berdiri di dekat ku, wajah basah rambutnya juga masih basah.

"Ibu kirim pesan, kata beliau mau kesini pagi ini." jawabku santai namun ternyata Narendra justru panik.

"Kalau mbak nggak kasih izin, bilang saja sama ibu, Mbak. Nggak papa kok."

Aku tersenyum, "Nggak papa, Ren. Kamu mau sholat?"

"Iya, Mbak."

"Bawa sarung atau pakaian serep di mobil nggak?" tanyaku mengingat baju yang Narendra pakai, bisa jadi adalah baju yang sudah di gunakan sepanjang hari kemarin.

"Alhamdulillah ada kok mbak di mobil, sama perlengkapan mandi juga. Terus ada laptop juga."

Aku mengangguk pelan, beranjak dari tempat dudukku pindah ke samping Almeera.

"Saya ke musholla dulu, Mbak." pamit Narendra yang ku balas dengan anggukan kepala.

"Sayang, Assalamu'alaikum. Sayang belum mau bangun ya? Mama sudah kangen sekalii. Jangan lama lama tidurnya, Dek. Biar om Narendra tidak terlalu lama di sini." Bisikku pelan sambil tertawa.

Aku memutuskan untuk mencoba membiasakan diri dengan semua kondisi ini, jika memang dengan kehadiran Narendra bisa menjadi lebih baik untuk Almeera, aku mencoba menerima. Toh, Narendra sepertinya memang tulus menyayangi Almeera.

"Assalamu'alaikum," salam Narendra begitu membuka pintu kamar rawat inap Almeera.

"Waalaikumsalam."

Narendra dengan cekatan meletakkan tas kerjanya di atas meja. Kemudian melangkah ke arah sebelah sisi lainnya.

"Mbak butuh kopi atau teh?" tanya Narendra tulus.

Aku hanya menggeleng pelan, Air putih tadi sudah cukup bagiku.

"Selamat pagi Kesayangan. Belum mau bangun ya? Adek masih ngambek?" Bisik Narendra pelan sekaligus lembut, tanganya yang kokoh mengusap lembut rambut putriku.

Aku mencoba untuk tidak terpaku dengan setiap tindakan yang di lakukan oleh Narendra, mencoba untuk terbiasa dengan hal kecil namun begitu manis bagi sisi feminim yang aku miliki.

"Mbak? mbaak. Coba panggil dokter, Mbak. ini Almeera menggenggam tangan saya, Mbak." Sahut Narendra keras.

"Alhamdulillah Ya Allah, iya Ren."

Panik sekaligus bahagia, lega sekaligus terasa menyakitkan. Dada ini remuk, Jantung ini seakan di genggam erat. Aku mulai menangis. Bagiku ini adalah tanda bahwa putri kecilku yang begitu tangguh selama ini memang sangat rindu dengan kehadiran sosok Ayah.

Kalimat yang diucapkan Narendra tadi sebelum subuh dan reaksi yang di berikan Almeera membuatku terpana, meskipun usiaku tidak muda lagi, nyatanya aku sekarang mengalami fase di mana hatiku dan pikiranku tidak selaras. Gundah gulana, baper sekaligus galau.

"Alhamdulillah keadaan Almeera membaik, Bu Dira. Sudah melewati masa masa yang menegangkan." Ucap Dokter Widi dengan senyum bahagianya.

Aku mengangguk, saat mulutku terbuka ingin mengucapkan sesuatu, Narendra sudah terlebih dahulu mengucapkan Terima kasih kepada dokter Widi.

Aku memeluk tubuhku sendiri, saat Narendra kembali mengambil peran sebagai orangtua Almeera. Mengantarkan dokter Widi hingga pintu kamar dan kembali memegang tangan Almeera erat.

Mencium tangan putri kecilku. Membisikkan kata kata penuh semangat dan kata kata yang jelas sekali meyakinkan bahwa kami semua membutuhkan Almeera bangun secepatnya. Menjanjikan banyak hal untuk putri kecilku ini.

Aku masih terpaku membisu, menatap seolah semua ini hanya khayalan yang muncul di otakku. Hingga suara pintu terbuka dan suara salam membuatku kembali ke alam sadar.

"Ada apa?" tanya ibu Basuki setelah aku dan Narendra salim kepada beliau.

"Alhamdulillah tadi Almeera sudah mulai membaik, Bu." Jelas Narendra setelah menatap ke arahku yang masih mencoba menata kembali kesadaranku.

"Dira? Ludira?" sapa bapak begitu kami duduk di sofa.

Aku yang masih terpukul dengan semua kenyataan ini, terkejut dengan panggilan mendadak dari Pak Basuki, padahal ibu dan Narendra dengan ngobrol tentang Almeera di sebelah putriku itu.

"Maaf, Pak. Saya kurang fokus." jawabku singkat. Mencoba untuk tersenyum kepada beliau.

"Jangan pernah merasa kehilangan peran karena Narendra, Dira. You are the best, kamu terbaik dari yang terbaik." ucap Pak Basuki sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat yang di bawakan beliau dan istri beliau.

Aku tersenyum kecut. Mungkin ini yang membuatku sempat galau baper tidak menentu, mungkin karena aku terbiasa menjadi satu satunya dunia bagi Almeera dan kini putriku membiarkan orang lain selain diriku masuk ke kehidupannya, begitu cepat mengambil peran penting yang biasa hanya aku yang melakukannya.

"Terima kasih, Pak." ucapku tulus.

"Terkadang kita merasa tidak di harapkan hanya karena ada orang lain yang secara tidak sengaja mengambil peran kita." Sahut Bapaknya Narendra penuh makna.Aku tersenyum malu, membenarkan apa yang beliau ucapkan.

Aku meneguk cairan hangat yang terasa pahit itu sambil menatap ke arah yang di tatap oleh pria Sepuh penuh wibawa ini.

"Saya bersyukur kepada Allah Swt dan juga berterima kasih kepada mbak Dira karena telah mengizinkan Narendra mengenal kalian lebih dekat." bisik beliau pelan.

"Narendra membuat dirinya sendiri selama ini seperti robot yang di ciptakan begitu sempurna tanpa kesalahan sedikitpun, saya bukannya bangga dengan semua itu, Mbak. Saya justru miris, karena saya tahu betul bahwa semua itu hanya untuk menutupi luka yang mengangga di jiwa Narendra. Saya ingin Narendra memiliki emosi yang normal, kacau misalnya. setelah bertahun tahun lamanya, baru ini saya kembali melihat Narendra mengizinkan dirinya sendiri untuk merasa kacau dan tidak teratur." Lanjut pak Basuki sambil terus menatap nanar ke arah putra bungsunya itu.

"Narendra seperti itu, Mbak. Dia mencoba melakukan semua hal baik demi membuktikan kepada kami bawa dia baik baik saja. Namun saya sebagai orang tuanya justru merasa tersiksa setiap kali kami memergoki matanya kosong tanpa sinar kebahagiaan."

Ah, kenapa sekarang Narendra jadi terdengar seperti Almeera. Kebetulan seperti apa lagi ini?

"Mbak Ludira, Ayo bubur ayamnya di coba. Itu ibu yang bikin sendiri lo." sahut Bu Basuki memecahkan kesunyian di antara aku dan suaminya.

Aku mengangguk pelan setelah mengiyakan kalimat bu Basuki yang terdengar sangat manis di telingaku.

Ada dua porsi bubur ayam, sebenarnya aku cukup ragu menyiapkan porsi yang satunya untuk Narendra, kamu saat pak Basuki tersenyum penuh harap ke arahku, tanganku seperti bergerak secara otomatis menyiapkan sekaligus menyerahkan bubur ayam itu ke pada Narendra.

"Kesukaan Om." Bisik lemah suara di sampingku.

Aku menangis, menatap Almeera yang kini terbangun. Tersenyum manis sekali kepada ku.

"Mama"

"Oh sayaang."

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!