Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Hesti ikut tertawa terbahak-bahak, "Tampang pura-pura polos kayak gini biasanya paling jago godain laki-laki, pasti udah nggak perawan lagi. Kasihan ya, demi bayaran murah dari hidung belang, rela ngejual harga diri yang tersisa," tuduhnya.
Roy yang berada di antara mereka hanya bisa mengepalkan tangannya di atas paha, wajahnya merah padam antara rasa malu dan rasa bersalah. Namun, ia terlalu pengecut untuk membela Nadia di depan Tamara yang memegang kendali atas koneksi dan kekayaannya. Roy memilih mengalihkan pandangan, menatap ke arah dinding seolah Nadia tidak pernah ada di sana.
Kata-kata kasar itu meretas udara ruangan, menghantam tepat di ulu hati Nadia. Hinaan tentang kesuciannya, tuduhan bahwa ia seorang pelac*r, terasa jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Jemari Nadia meremas kuat pinggiran nampan besi di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih, rasa panas yang membakar kembali merayap di balik matanya, memanggil air mata yang berusaha keras ia tahan.
'Jangan menangis, Nadia. Jangan biarkan mereka melihatmu hancur,' batin Nadia.
Nadia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang melalui hidungnya dan menghembuskannya secara perlahan. Masalahnya dengan Anjas masih sangat berbekas di ingatannya, hukuman bekerja sebelas jam nonstop hingga jam tujuh pagi sudah cukup menguras seluruh tenaga fisiknya.
Nadia tidak boleh terpancing emosi. Satu kesalahan kecil lagi di tempat ini, maka Pak Johan tidak akan segan-segan memecatnya dan melemparkannya ke jalanan tanpa sisa gaji sedikit pun.
Nadia membuka matanya kembali. Tatapannya tetap jernih, tenang dan tidak memancarkan dendam sedikit pun.
Dengan tangan yang stabil, Nadia merapikan sisa botol minuman di atas meja kaca, memastikan semuanya tertata sempurna. Setelah itu, Nadia menegakkan tubuhnya kembali dan mengatupkan kedua tangan di depan dada, menyatukan jemarinya, lalu memberikan bungkukan badan yang sangat dalam dan sopan kepada Tamara, Roy, serta seluruh tamu di ruangan itu.
Sebuah senyuman ramah dan manis terukir di bibirnya, senyuman profesional seorang pekerja yang tidak tersentuh oleh kehinaan kata-kata mereka.
Nadia kemudian berbalik dengan tenang dan melangkah keluar dari ruangan tersebut tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Tamara yang mendadak terdiam karena kesal reaksinya sama sekali tidak berhasil meruntuhkan mental Nadia.
Di luar ruangan. Begitu pintu itu tertutup rapat, ketegaran Nadia perlahan goyah. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang dingin, napasnya tersengal pelan dan satu tetes air mata bening akhirnya lolos menetes membasahi pipinya yang pucat.
Namun, Nadia segera mengusap air matanya. Ia tidak boleh meratapi nasibnya dan memilih melangkah menyusuri lorong berkarpet merah menuju pantry untuk mengembalikan nampan kosong.
Namun, baru beberapa langkah Nadia berjalan, pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan oleh sebuah genggaman erat dari arah belakang. Nadia terkejut dan refleks menarik tangannya, membalikkan badan dengan cepat. Matanya membelalak saat melihat sosok yang menahannya.
Itu Roy, pria itu berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi kecemasan dan rasa bersalah. Ia sempat melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada rombongan Tamara atau staf klub lain yang memperhatikan mereka di lorong remang-remang itu.
"Nadia... tolong jangan pergi dulu," bisik Roy dengan suara yang tertahan dan penuh kepanikan.
Nadia menatap Roy lurus-lurus, pandangannya tidak lagi memancarkan rasa hangat seperti saat di kampus dulu, melainkan tatapan dingin dan kecewa. Nadia menggerakkan tangannya, menarik pergelangan tangannya kembali hingga genggaman Roy terlepas.
"Nadia, aku mohon dengarkan aku sebentar," ujar Roy dengan nada memelas, wajahnya yang biasa dipandang berwibawa kini tampak begitu menyedihkan.
"Aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf karena tadi cuma bisa diam saat Tamara dan teman-temannya menghina kamu. Aku tahu aku pengecut, tapi aku nggak punya pilihan lain, Nad."
Nadia meraih buku kecil di dalam apronnya. Dengan gerakan jemari yang cepat namun bergetar, ia mengetik sesuatu lalu mengarahkannya ke depan dada Roy.
[Kamu nggak perlu minta maaf, aku paham posisi saya di sini hanya seorang pelayan.]
Membaca tulisan itu, ia menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh penyesalan. "Bukan begitu, Nadia! Kamu nggak mengerti...," Roy mendekat satu langkah dan mencoba meraih jemari Nadia kembali, namun Nadia mundur satu langkah untuk menjaga jarak.
"Aku dan Tamara... kami sudah dijodohkan," ucap Roy dengan suara sepelan mungkin.
"Bisnis ayahku sedang di ujung tanduk dan keluarga Tamara bisa menyelamatkannya. Perjodohan ini syarat utamanya, Nad. Aku nggak punya keberanian buat menolak Tamara di depan publik. Kalau aku membela kamu tadi, Tamara bisa batalkan investasi itu dan keluargaku hancur," jelas Roy.
Roy menatap mata Nadia dengan lekat, mencoba mencari titik simpati di sana. "Tamara dan teman-temannya yang ngajak aku ke klub ini dan aku sama sekali nggak tahu kalau kamu kerja di sini. Demi Tuhan, Nad... aku nggak ada maksud buat mempermalukan kamu," ucap Roy.
Nadia memandangi pria di hadapannya, kebenaran yang baru saja terungkap itu terasa ironis. Pria yang dulu dielu-elukan sebagai sosok pemimpin yang idealis dan berintegritas tinggi di kampus, ternyata hanyalah seorang pria yang tunduk pada harta dan tak berdaya di bawah ketiak kekuasaan keluarga Tamara.
Nadia tidak marah, rasa kecewanya perlahan berganti menjadi rasa iba yang mendalam pada Roy. Pria itu mungkin memiliki kebebasan fisik dan harta, tetapi jiwanya terbelenggu oleh ketakutan dan kepalsuan.
Nadia kembali memegang papan tulisnya dan mengetik kalimat terakhir untuk Roy.
[Perjodohan atau alasan apa pun itu hak kamu Roy, tapi membiarkan orang lain merendahkan harga diri seorang wanita demi aman posisi sendiri adalah pilihan. Tolong kembali ke ruangan, sebelum Tamara mencarimu.]
Setelah Roy membaca tulisan itu, Nadia menurunkan bukunya. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memberikan bungkukan badan yang singkat namun sopan lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Roy lagi.
Roy berdiri terpaku di lorong yang dingin itu, ia memperhatikan punggung ringkih Nadia yang melangkah pergi dengan tegak dan tenang. Di dalam hatinya, Roy tahu bahwa malam ini, ia telah kehilangan seluruh rasa hormat dari wanita paling tulus yang pernah ia kenal.
Nadia melangkah masuk ke ruang pantry dengan napas yang teratur, ia menaruh nampan besi di atas meja stainless steel lalu membasuh wajahnya di wastafel, air dingin menyegarkan kulitnya yang pucat dan menghalau rasa kantuk yang mulai menyerang.
Waktu menunjukkan pukul dua pagi, tempat itu mulai berangsur sepi. Beberapa tamu VIP bertahap meninggalkan ruangan mereka, termasuk rombongan Tamara dan Roy. Dari kejauhan di balik kaca pantry, Nadia sempat melihat Tamara berjalan gelayutan di lengan Roy yang tampak lemas dan berpura-pura tersenyum, Nadia hanya menarik napas panjang dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Bersambung.....