Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Dilamar Sagara
Setelah berpamitan dengan Pak RT, Sagara dan Nara menuju ke rumah Pak Bagja yang cukup jauh karena berada di pinggiran desa dekat dengan bukit perkebunan teh.
Sampainya di sana, keduanya di sambut oleh anak Pak Bagja yang langsung masuk untuk memanggil ibunya karena ada yang datang. Keduanya saling pandang, karena tidak mendapati keberadaan Bagja.
"Ehh, ada Neng Nara, ya. Ada yang bisa Ibu bantu?" Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah istri Bagja—menyambut keduanya dengan sopan seraya mempersilakan mereka duduk.
"Ini, Bu Marni. Kedatangan kami ke sini mau bertemu dengan Pak Bagja. Tepatnya sih, dia yang mau bertemu dengan beliau." Nara menunjuk Sagara.
"Iya, Bu. Saya yang ingin bertemu dengan Pak Bagja. Ada yang ingin saya bahas dengan beliau, kemarin sudah dikasih nomornya. Tapi pas saya hubungi, nomor tersebut tidak aktif," jelas Sagara.
"Yang ampun, ini Den Sagara ya. Yang dari kota?" tanya Marni saat mendengar penjelasan pemuda di depannya.
"Benar, Bu. Tapi jangan panggil Den Sagara, nggak enak saya. Panggil Saga saja," pinta pria itu.
"Aduh, ndak berani saya atuh. Kalau begitu, saya panggil A Saga saja," ujar Marni, wanita itu tahu, seseorang dihadapannya ini adalah orang penting yang dikatakan suaminya.
"Hp-nya akang, maksudnya suami saya. Baru-baru ini jatuh ke sungai, basah, tidak bisa nyala lagi. Makanya A Saga telpon, nomornya tidak aktif," beritahunya, Sagara mengangguk mengerti.
"Pantas kalau begitu, Bu," balas pria itu.
"Akang Bagja juga sudah cerita, A Saga akan datang dalam waktu dekat. Tapi waktu pastinya akang tidak tahu, eh, ternyata hari ini." Cerita wanita itu.
"Iya, Bu. Dan kalau boleh tahu, Pak Bagja sekarang ada di mana, ya?" tanya Sagara untuk mempersingkat waktu, karena hari sudah hampir siang.
"Akang sedang di kebun teh sekarang, biasanya pulang sekitar pukul 12 siang," beritahu Bu Marni akan kebiasaan suaminya.
Sagara melirik jam dipergelangan tangannya, sekarang jam 10 lewat. Akan lama jika harus menunggu dan tentu membuang waktu juga.
"Hmm, kamu tahu lokasi kebun tehnya?" tanya Sagara pada Nara yang hanya menyimak sejak tadi, gadis itu mengangguk.
"Tuhhh ...." Nara membalikkan badannya lalu menujuk kebun teh yang tampak hijau sepanjang mata memandang.
"Eh, ternyata dekat ya," kata pria itu.
"Aduhh, keliatannya aja yang dekat itu A. Aslinya lumayan jauh karena harus mendaki bukit, tapi bisa pake motor. Ada jalannya, cuman belum di aspal," ujar Marni, Nara ikut mengangguk setuju.
"Ya sudah kalau begitu, Bu. Kami pamit untuk menyusul Pak Bagja ke sana." Sagara undur diri bersama Nara.
"Iya, A Saga sama Neng Nara hati-hati. Ini cuaca mulai mendung, takut hujan. Jalannya akan licin dan penuh lumpur."
Nara dan Sagara mengangguk akan peringatan Marni, motor hitam itu pun kembali melaju menuju kebun teh.
Sedikit demi sedikit jalanan mulai menanjak, tidak datar lagi seperti sebelumnya. Nara mencengkeram kuat kedua sisi jaket Sagara, tetapi tetap saja tubuhnya condong ke belakang.
"Peluk saja, tidak apa-apa. Dari pada kamu jatuh nanti," peringat pria itu merasa gadis dibelakang tengah kesulitan.
"Kamu sih, kenapa harus bawa motor yang ini? Mana nggak ada pembatasan," dumbel Nara, takut pantatnya meluncur kebelakang karena tidak adanya pembatas besi seperti di motor meticnya.
"Makanya aku bilang peluk saja jika kamu masih sayang nyawa, lihat ke depan. Kita terus menanjak." Di belakang Sagara, Nara tengah bimbang. "Lagi pulang apa lagi yang kamu pertimbangkan? Dilihat orang? Hais, peduli setan! Nyawa lebih penting."
Dalam hati, Nara menyetujui perkataan pria itu. Dengan perlahan, tangannya pun mulai melingkar di pinggang Sagara. "Ini karena aku sedang terdesak, jadi terpaksa. Kamu jangan salah paham."
Sagara mendengus. "Siapa juga yang salah paham, kalau pun ada yang salah paham. Biar saja lah, Pak RT juga sudah tahu kita ini calon suami istri," kata pria itu enteng.
Nara membulatkan matanya, teringat akan pengakuan sepihak Sagara. "Itsh, kamu ini kenapa sembarang bilang begitu tadi." Nara refleks mencubit perut Sagara karena terlampau jengkel. Mengatakan seenak jidatnya saja, tidak mempertimbangkan akibatnya.
Walaupun awalnya ia berterima kasih karena dibela dari hinaan Nurlela. Tapi sepertinya akan lebih baik jika ia mendapatkan hinaan itu saja, ketimbang bagaimana ujungnya nanti yang bisa saja menimbulkan masalah besar karena pengakuan Sagara yang adalah calon suaminya.
Sagara sedikit mengaduh karena cubitan tersebut. "Kamu ini suka sekali main tangan, ya. Belum juga kita menikah, kamu sudah KDRT saja!"
"Sudah deh, aku sedang serius!" Kesal Nara.
Sagara dapat melihat raut kekhawatiran Nara dari kaca spion motornya. "Bagaimana jika kabar ini sampai di dengar oleh ibu? Mulut Bu Nurlela itu kaya ember bocor, belum lagi dia yang tukang gosip sana sini. Pasti berita kamu yang adalah calon suamiku akan meledak lagi ke seluruh penjuru desa. Huftt!" desah gadis itu, merasa putus asa sekaligus bingung.
"Memang kamu pernah viral karena berita dari Bu Nurlela?" tanya pria itu, penasaran.
"Bukan viral lagi, apa dah namanya. Mendadak jadi artis aku sejak kedatangan dua bulan lalu, disapa sana sini sama ibu-ibu. Jika artis di sapa untuk say hello, aku malah disapa untuk ditanyai kapan nikah? Kenapa belum nikah-nikah? Kamu tidak takut jadi perawan tua? Macam-macam pokoknya pertanyaan mereka," risih, tentu saja sudah pasti. Membuat Nara menjadi betah di rumah tidak kemana-mana selain ke warung makan dan ke pasar untuk berbelanja. Tetapi justru dikedua tempat yang tidak bisa ia hindari itulah yang menjadi sarang perkumpulan ibu-ibu rempong tersebut.
"Aku hanya tidak ingin ibu menjadi banyak berharap yang nantinya membuat beliau kecewa." Wajah Nara kian murung.
Sagara yang melihatnya menjadi tidak tega, lalu ide gila pun muncul di kepalanya. "Kamu belum punya kekasih berarti?" tanya pria itu.
"Hm," angguk Nara dengan lemas, sekalinya punya langsung diselingkuhi. Padahal ia sudah berkorban banyak. Waktu, tenaga dan uang. Dan pria brengsek itu seenak jidatnya saja berselingkuh, menumpu dan meniti beratkan semua kesalahan pada dirinya.
Dirinya yang biasa saja, tidak menarik, tidak pantas bersanding dengannya. Ia kaku, kolot, karena tidak memberikan keinginan pria itu. Hah! Dasar buaya, belum nikah sudah mau mengajak naninu. Di kira aku nggak punya harga diri apa! rutuk Nara dalam hati, mengingat pria brengsek itu.
"Hallooow, Nara ... astaga, kenapa suka sekali melamun?" Sagara menepuk tangan Nara yang bertengger di perutnya.
"Hm, ya, ada apa?" tanya gadis itu ketika tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana, kamu mau menerima tawaran ku?" Sagara malah balik bertanya.
Nara mengernyit karena ia sama sekali tidak mengetahui maksud dari pertanyaan pria itu. "Tawaran apa?" tanyanya lagi.
Sagara menghela napas, rupanya sejak tadi ia berbicara sendiri saat gadis ini melamun, entah merenungi apa. "Kamu belum punya kekasih, aku juga belum punya. Jadi, bagaimana kalau kita menjadi calon suami-istri sungguhan saja?"
"Hah?"
***
Bersambung ...