NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Cacat Meizura

Rahasia Suami Cacat Meizura

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:809.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: emmarisma

Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.

"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.

William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.

Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Gelisah

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi, tapi sialnya mata Meizura belum terpejam sama sekali. Ciuman singkat dari William tadi mampu memporak-porandakan hatinya. Gadis itu gelisah setelah ciuman pertamanya diambil oleh William.

"Arghh!! Tidurlah, Mei. Atau besok kau akan berangkat dengan mata panda." Batin Meizura terus berteriak. Dia lantas melemparkan tatapannya pada William yang justru malah tidur dengan nyenyak seperti tak memiliki kesalahan.

"Bisa-bisanya dia tidur nyenyak setelah menciumku."

Meizura berkali-kali mencoba menetralkan degup jantungnya. Setiap adegan yang terlintas di ingatannya mengenai peristiwa tadi, jantung Meizura selalu berdebar tak karuan.

Meizura langsung bangun, Dia akan mengambil air minum saja di dapur. Siapa tahu setelah minum dia akan tertidur dengan sendirinya. Meizura mengendap-endap keluar dari kamar William. Saat berada di luar, suasana begitu gelap. Di luar rumah, suara derasnya rintik hujan masih terdengar. Suhu di ruangan itu terasa dingin menusuk. Meizura bergegas mengambil air dan segera kembali ke kamar.

Saat masuk ke kamar. Meizura hampir berteriak kaget. William duduk di sisi ranjang dan menatapnya tajam. Apalagi kamar yang ditempati oleh Meizura dan William hanya diterangi lampu tidur.

"Dari mana?"

"A_aku haus, Liam. Apa kau perlu sesuatu?" Meizura tampak gelagapan melihat William. Entah kenapa bayangan ciuman semalam terlintas lagi di pikirannya hingga membuat wajah Meizura bersemu merah.

"Bantu aku, aku ingin ke kamar mandi. Perutku sakit."

Meizura tertegun sesaat. Bisa-bisanya dia terlihat sangat santai setelah berhasil mengobrak abrik hatinya. Namun, saat tersadar dari lamunan sesaatnya, Meizura segera meletakkan botol minumnya dan mendekati William. Dia membantu William pindah ke kursi roda. Jantung Meizura berdebar kencang. Sangking kencangnya dia malah khawatir William dapat mendengarnya. Meizura bergerak dengan cepat karena takut berlama-lama dengan William. Dia lantas mendorong kursi roda William hingga ke dalam kamar mandi. Sekali lagi, Meizura membantu William untuk duduk di atas kloset.

"Apa aku sangat menyusahkanmu?" tanya William, sejujurnya sejak tadi William dapat mendengar degup jantung Meizura. Akan tetapi, William lebih memilih diam karena tak ingin membuat Meizura malu. Meizura tak dapat melihat ekspresi wajah William, karena pria itu terus menunduk.

"Apa yang kau katakan? Kau itu suamiku, sudah sepantasnya aku membantu dan merawatmu di saat kamu sedang dalam kondisi seperti ini."

"Tapi ini pasti sangat melelahkan untukmu." Meizura justru tersenyum mendengar ucapan William. Rasa canggung yang tadi sempat muncul perlahan menghilang saat melihat William seperti ini. Pria itu seperti sedang mengalami krisis percaya diri.

"Aku tahu, keadaan seperti ini bukan kamu yang meminta. Takdir yang mendatangimu. Namun, tidak bisakah selain mengikuti arus takdir. Kamu juga tidak usah berpikiran yang macam-macam. Itu akan semakin membuatmu terpuruk sendiri." Meizura mengusap bahu William. Dia harap dengan begini William bisa merasa lebih tenang dan tidak berpikir yang macam-macam.

"Aku tunggu di luar. Jika sudah, panggil aku," lanjut Meizura.

Meizura akhirnya keluar, meski sedikit lebih tenang, tapi Meizura tak bisa berlama-lama di dekat William untuk saat ini. Namun, sudah cukup lama Meizura menunggu. Akan tetapi William tak kunjung memanggilnya. Meizura cemas, dia akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi.

"Liam, apa kau sudah selesai?"

"Sudah." Meizura segera masuk dan membantu William. Meizura sebenarnya merasa sangat lelah. Namun, dia juga tidak mungkin membiarkan William melakukan apa-apa sendirian.

"Tidurlah!" ucap Meizura. Dia membantu William menarik selimut William.

"Terima kasih."

Meizura kembali ke sofa. Dia menguap dan merenggang ototnya sebelum kemudian dia tidur.

***

Beberapa hari kemudian, Meizura mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan yang biasanya William kerjakan. Sesekali Armano melibatkan Meizura untuk mengikuti rapat. Semua itu bertujuan agar Meizura semakin terbiasa dengan suasana yang akan dia hadapi kedepannya.

Seperti saat ini, Meizura datang lebih pagi untuk mengikuti rapat. Namun, Armano tidak menemaninya, dia datang hanya bersama Elliot.

Beberapa dewan direksi yang ikut merasa kaget dengan ketidak hadiran Armano, Bahkan kursi kebesarannya pemegang saham Davies company, kini terisi oleh Meizura.

"Asisten El, di mana ketua?"

"Ketua tidak bisa hadir. Beliau melimpahkan semua urusan perusahaan ini pada Nona Meizura. Kelak kedepan Nona Meizura akan menggantikan posisi CEO dan Tuan Armano akan segera pensiun.

Suasana rapat yang semula adem ayem menjadi ricuh. Banyak yang mengajukan protes. Bagaimana bisa seorang gadis yang entah dari mana datangnya tiba-tiba jadi CEO.

"Kau pasti bercanda, kan asisten El?"

"Tidak sama sekali, Tuan Ramsey. Lusa, Tuan Armano sendiri yang akan mengumumkan pergantian itu."

Banyak dewan yang mulai keberatan. Namun, mereka tak berani menyuarakan keberatannya di depan Elliot. Meizura berdehem mencoba mengalihkan atensi para peserta rapat agar menatap ke arahnya.

"Mohon maaf, mungkin banyak dari kalian yang meragukan kinerja saya. Karena saya baru di sini. Akan tetapi, saya tidak akan mungkin duduk di sini jika saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengelola perusahaan ini. Jadi saya harap kalian bersedia bekerja sama dan kalian boleh menilai saya nanti," kata Meizura dengan lugas.

Beberapa dari mereka cukup terkesan dengan keberanian Meizura. Namun, tidak sedikit yang masih menatapnya sebelah mata. Setelah perkenalan Meizura dengan beberapa dewan. Meizura langsung memimpin jalannya rapat pada hari itu. Wanita yang tadinya diragukan kemampuannya. Mulai bisa menunjukkan betapa dia memang layak duduk di kursi CEO.

Memang setelah kabar kematian William tersiar, Armano lah yang duduk di singgasana itu. Namun, mereka semua sekarang sedang menerka siapa gerangan Meizura ini? Apa jangan-jangan dia adalah istri kedua Armano. Segala spekulasi mulai bermunculan. Berita miring mulai berembus digrup karyawan perusahaan.

Meizura memijat pelipisnya. Setelah rapat tadi, dia merasa pusing. Pagi tadi memang dia belum sempat sarapan karena terburu-buru berangkat.

"Nona." Elliot masuk membawa beberapa box makanan. "Ini ada kiriman dari nyonya besar." Elliot memperhatikan wajah pucat Meizura.

"Apa anda sakit, Nona?"

Meizura menatap Elliot dengan tatapan sayu. "Kepalaku sakit, Elliot. Bisakah kau mencarikan aku obat sakit kepala."

"Saya akan ambilkan obatnya. Nona silahkan makan. Saya akan segera kembali."

Elliot merogoh ponselnya dan menghubungi William. Dia memang ditugaskan selain untuk membantu istri dari bossnya juga harus memberikan laporan apa saja yang Meizura kerjakan.

"Tuan."

("Ya, apa ada sesuatu? Aku melihat tadi banyak yang tidak begitu menghormati istriku.")

"Nyonya muda sakit. Wajahnya tadi pucat." Elliot mengubah panggilan Meizura jika berbicara dengan William.

("Apa?") Nada suara William terdengar cemas.

"Apa sebaiknya saya suruh nyonya muda pulang?"

("Ya, sebaiknya suruh dia pulang sekarang, Elliot.")

...****************...

1
Rina Arie
good book
dinata
bagus
Fitri
/Kiss/
Endang Sulistia
bagus
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Irene
bagus ceritanya
Nai Naida
niceeeee
Tyaz Wahyu
perfect thor ☕
Tyaz Wahyu
titis bngt si liam lngsung hamidun deh
Tyaz Wahyu
pst dari abraham pebinor wuakkkkkkkk kasihan cintanya bertepuk sebelah tangan
Tyaz Wahyu
pasti si lusianah itu bkn putri kandung si joseph.. malahan mei yg anak kandungnya.. Joseph bodoh sbnrnya kamu yg diperalat oleh stella n lusianah..kayaknya sih..hnya menebak sajo wuakkkkkkkk
Santimehasari Nst
Luar biasa
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
tahniah Meizura dan William buat kelahiran baby boy nya... bahagia selalu....
Yunerty Blessa
betul sekali....tapi bagi mereka yang mampu saja...
Yunerty Blessa
perlengkapan bayi sudah tersedia....
Yunerty Blessa
ibu mertua yang begitu perhatian sekali.... beruntung Meizura mendapatkan mertua yang baik hati....
Yunerty Blessa
untung Meizura ikut mesyuarat dan menyedari kebusukan Yavis....
Yunerty Blessa
beruntung William datang cepat...
Yunerty Blessa
bisa² nya tertidur....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!