kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketukan palu hakim
Suasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa hening, hanya terdengar suara dengungan kipas angin langit-langit yang berputar pelan, dan detak jam dinding yang seolah menghitung detik-detik berakhirnya sebuah ikatan yang sempat diharapkan abadi.
Di kursi penggugat, Seraphina Anastasya meremas ujung blouse krem yang ia pakai, jemarinya dingin meski keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Di seberang meja, Dikta Rey Ibrahim duduk tegak, tatapannya kosong menatap lantai ubin putih yang mengkilap, seolah tak sanggup menatap wajah perempuan yang selama dua tahun ini sah menjadi istrinya namun tak pernah benar-benar menjadi pendamping hidupnya.
Hakim yang duduk di kursi kehormatan menatap keduanya dengan pandangan penuh pengertian namun tegas.
Setelah mendengar seluruh keterangan, saksi, serta upaya perdamaian yang tak kunjung membuahkan hasil selama berbulan-bulan, ia menarik napas panjang.
Krak!
Satu ketukan palu yang tegas namun tak berlebihan menggema di seluruh ruangan.
"Demi Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sidang ini memutuskan sah perceraian antara Saudara Dikta Rey Ibrahim dan Saudari Seraphina Anastasya. Ikatan pernikahan yang telah berlangsung selama dua tahun ini putus karena talak satu suami, terhitung mulai hari ini, detik ini juga," ucap hakim dengan suara yang tenang namun pasti.
Seraphina merasakan lututnya melemas.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, bukan karena tangis kehilangan cinta yang mendalam tapi karena sejak awal mereka berdua tahu, pernikahan itu hanyalah persetujuan orang tua yang memaksakan dua hati yang tak saling mengisi, melainkan rasa lega yang bercampur sedih.
Dua tahun yang penuh kekosongan, tinggal dalam satu atap namun bagaikan orang asing yang berbagi jalan, hingga akhirnya usai. Cinta suami yang tak pernah dia dapatkan karena dihati Dikta telah dihuni oleh nama perempuan lain.
Dikta mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya bertemu dengan mata Seraphina sejenak.
Tak ada amarah, tak ada dendam. Hanya ada rasa bersalah yang mendalam di hati laki-laki itu karena tak bisa memberikan apa yang pantas diterima oleh perempuan sebaik Seraphina.
Ia bangkit berdiri, lalu membungkuk sedikit dengan sopan.
"Maafkan aku, Seraphina. Aku tak pernah bisa menjadi suami yang kau butuhkan," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi.
Seraphina mengusap air matanya, mencoba tersenyum walau terasa getir. "Aku juga minta maaf, Dikta. Mungkin memang takdir kita hanya sampai di sini. Semoga kelak kau berbahagia bersama Delara dan aku pun bisa menemukan jalan bahagiaku sendiri."
Dan entah kenapa ketika Sera mengucapkan kalimat tersebut, ada rasa tak rela dihati Dikta.
Dibelakang Dikta, ibu mertua terus saja menangis tak rela jika menantu sebaik Sera kini bukan lagi bagian keluarga mereka.
"Sera... Mama minta maaf jika selama mama jadi mertua kamu, mama pernah buat salah... " tangis Gina pecah sudah.
"Mama jangan ngomong gitu... Mama adalah mama mertua yang paling baik yang pernah Sera miliki... Mama mengajarkan banyak hal pada Sera yang selama ini tak pernah merasakan kasih seorang ibu.. Sera yang harusnya minta maaf jika selama Sera jadi menantu, Sera banyak kurangnya... Maafkan Sera ma, pa... Adel... Maafkan kakak ya..." ucap Sera kepada keluarga Dikta.
Adel, adik perempuan Dikta yang berusia 15 tahun itu terus saja menangis tersedu-sedu. Dia bahkan sengaja izin bolos sekolah hanya karena ingin melihat langsung proses ketuk palu Sera dan Dikta.
"Kak Sera adalah kakak yang baik... Cuma laki-laki b*go yang telah menyia-nyiakan kakak... Adel berdoa, kelak kakak dapat laki-laki yang baik, yang cintanya besar untuk kak Sera dan tak pernah selingkuh sama ondel-ondel Kemayoran" kalimat sindiran cukup membuat Dikta memandang tajam kepada adiknya.
Sera hanya bisa meringis.
Bukan rahasia umum di keluarga Ibrahim jika putra sulung mereka masih menjalin hubungan dengan kekasihnya meski dirinya sudah menikah.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪