Memiliki kecantikan dan kepintaran saja tidak cukup untuk membuat ibu mertuanya senang padanya. Elleana Bella, seorang wanita karier dan juga ibu yang baik untuk putranya.
Namun ia selalu di cap sebagai menantu yang buruk oleh ibu mertuanya, bahkan suaminya pun selalu memojokan dan menyalahkan dirinya dalam segala hal dan selalu membenarkan kata-kata ibunya.
Bagaimana cara Bella menghadapi sikap toxic ibu mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Bagas mendengar semua percakapan Bella dengan suaminya di telepon, ia pun mengerutkan keningnya menatap wajah Bella yang kini nampak murung dan sedih. Namun Bagas tak berani menanyakan apapun pada temannya karena itu adalah masalah pribadi Bella.
Bella pin lebih memilih kembali bekerja dan melupakan makan siangnya yang belum ia sentuh sedikit pun.
"Kasihan sekali Bella." Gumam Bagas yang kini hanya berdiri mematung menatap sahabatnya yang terlihat sangat murung.
"Haruskah aku membantunya lagi? tidak, tidak! dia tidak akan senang dengan hal ini." Bagas pun pergi meninggalkan Bella yang pokus dengan pekerjaannya.
***
Meskipun Bella menolak dan melarang mobilnya untuk di jual, namun Abimana tetap menjual mobil milik istrinya walau tanpa persetujuan Bella sekali pun. Bella yang merasa sangat sedih dan kecewa pun hanya diam saja tak ingin memperpanjang masalah tersebut.
Karena Bella berpikir itu hanyalah barang dan masih bisa di beli dan di cari dengan mudah, ia bersikap setenang mungkin seperti tak ada masalah apapun di antara mereka.
Namun kediaman Bella selama beberapa hari ini membuat ibu Maya merasa gatal, ia merasa tak ada hiburan di rumah itu. "Aku sangat bosan sekali." Ibu Maya pun melangkahkan kakinya melihat menantunya yang baru saja selesai mencuci piring.
Kini ibu Maya tersenyum menyerinyai dan mulai berulah lagi, membuat pertengkaran dan perselisihan di antara Bella dan suaminya kembali terjadi dengan permasalahan yang Bella sendiri pun tak mengerti.
Pertengkaran besar pun terjadi karena ibu Maya mengadukan hal yang tidak pernah Bella lakukan sama sekali. Karena rasa lelah seharian bekerja membuat Abimana tak bisa berpikir jernih terlebih saat melihat ibunya menangis pilu.
Dengan api kemarahan yang membara, kini Abimana pun menarik ikat pinggangnya dan melabuhkannya tubuh sang istri. Bella menerima semua perlakuan kasar itu dengan wajah dinginnya.
"Apa kamu sudah puas mas?" Tanya Bella lirih tanpa melihat ke arah suaminya.
"Jika belum, puaskan dulu hatimu, aku akan diam dan menerima nya." Ucap Bella kembali, membuat Abimana semakin marah karena merasa jika Bella terus saja menantangnya.
Abimana berpikir bahwa sikap Bella saat ini sangatlah keterlaluan dan semakin kurang ajar pada padanya maupun pada ibunya.
"Kamu memang pantas menerima semua ini Bella!" Teriak Abimana yang terus mengayunkan ikat pinggangnya tanpa perasaan sedikit pun.
Cambukan demi cambukan Bella terima, kini ia pun mulai mengepalkan tangannya saat melihat senyuman bahagia di wajah ibu mertuanya.
"Inikah yang membuat mu senang bu?" Bella menatap nanar wajah tua itu, ia sungguh tak menyangka jika ibu mertuanya memiliki kebencian yang begitu dalam padanya.
"Sampai saat ini aku masih belum mengerti mengapa kau membenciku? padahal dulu kau selalu bersikap baik dan ramah padaku." Bella pun mengingat masa-masa indah kedekatan di antara mereka saat itu.
Namun ibu Maya berubah saat ia mulai ikut tinggal bersama dengan mereka, sikap ibu Maya yang tak suka pada Bella pun semakin hari semakin terlihat. Bahkan ibu Maya semakin menyiksa jiwa menantunya dan membuat Abimana juga ikut membenci istrinya mendukungnya yang melakukan KDRT.
"Mama..." Zayn berteriak dan menangis menghampiri sang mama, membuat Abimana tersadar dari apa yang sudah di lakukannya.
"Papa! kenapa papa melakukan hal ini pada mama." Zayn memeluk sang mama dengan sangat erat.
"Zayn," Abimana membuang ikat pinggangnya kesembarang arah saat meli
Melihat putranya menangis.
Dengan rasa sakit yang ada di seluruh tubuhnya, Bella pun mengangkat tubuh putranya dan pergi meninggalkan Abimana yang kini mulai menyesali perbuatannya.
"Papa jahat! Zayn benci papa!" Teriak Zayn yang kini berada di dalam gendongan sang mama.
"Zayn," Abimana ingin mengejar anak dan istrinya yang kini sudah masuk ke dalam kamar putranya.
"Zayn maafkan papa nak, papa khilaf. Bella buka pintunya aku minta maaf." Abimana terus mengetuk pintu kamar putranya namun Bella tak berniat membuka pintu tersebut dan membiarkan Abimana berteriak meminta maaf padanya.
"Bella! buka pintunya." Abimana merasa sangat menyesal sudah memperlakukan istrinya dengan sangat kasar.
Namun ibu Maya datang menghampiri putranya untuk membujuk putranya pergi. "Sudahlah Abi, Zayn masih kecil dan belum mengerti apapun masalah orang dewasa, jika bukan Bella yang mengajarkan nya seperti itu. Sekarang lebih baik kamu istirahat, kamu sudah terlihat lelah biarkan saja Zayn marah padamu sekarang, besok pagi ibu akan membujuknya agar tidak marah lagi padamu." Ucap Ibu Maya yang membujuk putranya agar pergi ke kamarnya.
"Tapi bu,"
"Abi percayalah pada ibu, Zayn tidak akan marah terlalu lama padamu." Ibu Maya mendorong tubuh putranya agar pergi ke kamarnya.
Sedangkan di dalam kamar Bella masih memeluk dan menenangkan putranya yang tengah menangis pilu. "Cupp... Jangan menangis sayang, jagoan mama. Zayn anak hebat maafkan mama sudah membuat Zayn sedih." Lirih Bella dengan wajah sendu nya.
"Mama tidak salah, papa yang salah sudah jahat pada mama, Zayn benci papa!" Ucap Zayn di sela isak tangisnya yang begitu pilu menyayat hati Bella.
Sungguh, tak ada hal yang paling menyakitkan bagi Bella saat melihat putranya menangis karena pertengkaran di antara ia dan suaminya. Hal yang begitu Bella takutkan pun akhirnya terjadi.
"Aku sudah berusaha untuk mengatakan hal ini sebelumnya mas, tapi kamu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan padamu. Sekarang, inilah buah yang harus kamu petik dari perbuatanmu. Putramu mulai membencimu dan aku tidak bisa mencegah nya lagi, sekarang aku hanya memikirkan mental putraku, aku takut jika suatu hari berdampak buruk terhadap pertumbuhan putraku." Berkali Bella mencoba bertahan dan menahan tangisnya, namun tangisan itu kesedihan hatinya tak cukup kuat untuk menahannya.
Air mata Bella pun luruh begitu saja tanpa ingin berhenti mengalur. Hatinya sangat rapuh jiwanya pun terluka luar dalam.
Setelah lama dalam posisi yang sama kini ia pun menidurkan putranya yang sudah tertidur pulas karena kelelahan menangis.
"Mama harap kamu melupakan apa yang kamu lihat sekarang nak." Gumam Bella yang kini melabuhkan kecupan sayang di puncak kepala putranya.
Bella yang merasa sangat sedih dan terluka pun sudah tak sanggup lagi untuk terus bertahan bersama suami dan ibu mertuanya . Sudah cukup rasa sabar Bella menghadapi sikap arogan suaminya dan sikap toxic ibu mertuanya selama ini.
"Sudah cukup lama aku bersabar mas, tapi kamu semakin keterlaluan padaku. Aku lelah! aku capek! aku tidak ingin terus terbelenggu di rumah ini. Aku menyerah!" Kini Bella pun membuka kain yang membungkus tubuhnya.
Bella melihat seluruh tubuhnya terdapat bekas cambukan dari suaminya. Perlahan ia pun mulai mengobati seluruh luka nya yang ada di tubuhnya.
"Kalian sungguh sangat keterlaluan! rasa hormat dan kesabaranku selama ini bagaikan petamorgana yang tak pernah di anggap nyata." Kini Bella mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Bersambung