JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Marco menghempaskan tubuhnya ke pintu depan, menutupnya dengan bantingan yang cukup keras hingga gema suara kayu beradu dengan kusen mengguncang suasana mansion yang tenang. Namun, belum sempat ia menarik napas lega, sebuah suara berat yang penuh otoritas memotong langkahnya dari arah ruang tengah.
"Dari mana saja kamu, Marco?!"
Marco memutar bola matanya malas. Di sana, Andi Permana duduk di sofa dengan tablet di tangannya, sementara Anggun, ibu tirinya, berdiri di sampingnya dengan segelas air hangat, menatap Marco dengan sorot mata yang seolah menilai Marco sebagai hama yang baru saja masuk ke rumah.
"Abis main, Pa," jawab Marco singkat, suaranya datar dan tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Andi bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah pakaian Marco yang agak kotor karena sisa debu jalanan dan bekas ganti ban mobil tadi. "Main? Kamu ini sudah mahasiswa! Bukannya belajar atau mengerjakan tugas, kamu malah keluyuran tidak jelas sampai larut malam. Kamu pikir rumah ini apa? Tempat untuk singgah saja?"
Marco tertawa, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Kenapa, Pa? Mau ceramahin aku lagi? Mau bandingin aku sama Chelsea yang dari tadi pasti lagi belajar di kamarnya, kan? Silakan, lanjutin aja. Aku udah hafal skenarionya."
Anggun melangkah maju, suaranya melengking namun dibuat lembut. "Marco, Papa kamu bicara begitu karena peduli. Kamu jangan keras kepala. Chelsea saja yang masih SMA bisa mengerti tanggung jawab, masa kamu yang mahasiswa tidak bisa?"
Marco menoleh ke arah Anggun, tatapannya dingin menusuk. "Tante, bisa tolong diam? Urusan aku sama Papa bukan urusan Tante. Dan jangan pernah bawa-bawa nama anak emas Tante itu di depan aku. Kita semua tahu, Chelsea bukan mau belajar, dia cuma mau terlihat pintar biar Papa makin sayang."
"Marco!" Andi berteriak, wajahnya merah padam. "Jaga bicaramu terhadap ibumu!"
"Ibu?" Marco tertawa makin keras. "Dia bukan ibu aku. Dan Papa juga sudah bukan Papa yang aku kenal dulu. Papa sudah terlalu sibuk membangun keluarga baru sampai lupa kalau Papa punya anak yang butuh dihargai, bukan cuma sekadar diatur."
"Aku sudah capek, Pa. Terserah Papa mau bilang apa, mau potong uang jajan, atau mau usir aku dari rumah ini. Aku nggak peduli. Hidup aku bukan milik Papa lagi."
Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Marco melangkah cepat menaiki tangga. Ia mendengar Andi berteriak di bawah, memerintahkannya untuk berhenti, namun Marco lebih memilih untuk menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya.
Di dalam kamar yang gelap, Marco menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya terengah-engah karena marah. Ia meraih ponselnya yang bergetar di saku jaket dan tanpa pikir panjang menekan tombol panggil ke Arlo.
"Halo, Lo," suara Marco terdengar parau.
"Woi, baru nyampe rumah lo? Gila, tadi bokap lo teriak-teriak sampe sini kedengeran, Co," suara Arlo di seberang sana terdengar santai, khas Arlo yang memang selalu tenang.
Marco mendengus, ia berjalan menuju balkon kamarnya dan menatap lampu kota Jakarta yang tampak samar dari ketinggian. "Biasa, drama keluarga. Gue tadi abis kena sial, Lo."
"Sial kenapa lagi?"
"Gue tadi jalan kaki pas pulang, terus ketemu tante-tante galak di jalan. Masa dia kira gue ini mau minta sumbangan? Sialan banget, bener-bener harga diri gue diinjak-injak sama dia," curhat Marco dengan nada yang masih kesal.
Arlo tertawa terbahak-bahak di seberang sana. "Haha! Serius lo? Siapa tuh tante-tante? Lo dipalak dia balik?"
"Gue nggak tahu, Lo. Gue nggak pernah liat mukanya di kampus. Dia judes banget, gayanya sok kaya, tapi mobilnya mogok di jalan sepi. Gue bantuin ganti ban, malah dikasih duit receh. Sumpah, gue hampir aja nampar dia kalau dia nggak cantik."
"Dih, dasar cowok haus validasi," ledek Arlo.
Tiba-tiba, dari arah seberang telepon Arlo, terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar, namun nadanya jauh lebih tajam daripada yang pernah Marco dengar sebelumnya.
"Arlo!!!! Kamu kalau habis nyemil apa-apa itu diberesin! Jangan sampai aku lihat remah-remah di karpet ruang tengah. Aku nggak mau rumah ini kotor karena kebiasaan jorok kamu!"
Suara itu... suara yang sangat dominan, sangat tegas, dan memiliki intonasi yang membuat bulu kuduk berdiri.
Marco mematung di balkon. Ia mengenali suara itu. Suara yang baru saja mencaci-makinya di pinggir jalan satu jam yang lalu.
"Ar," panggil Marco dengan suara rendah, matanya menyipit ke arah ponselnya.
"Ya, kenapa, Co? Tadi si Kevin baru aja ngirim foto..."
"Itu suara... siapa?" potong Marco, suaranya kini penuh kewaspadaan.
"Oh, itu? Tante gue, kenapa emangnya, Lo?" jawab Arlo santai.
Marco terdiam. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Tante Arlo? Itu berarti... wanita yang ia bantu ganti ban tadi... wanita yang ia tantang di pinggir jalan... adalah keluarga dari sahabatnya sendiri?
"Tante lo..." Marco mengulang kata itu perlahan. "Kenapa suara dia cempreng banget?"
"Hah? Cempreng?" Arlo tertawa lagi. "Ya ampun, Co, Tante Haura itu emang paling nggak bisa kalau rumahnya kotor dikit. Emang, gue tahu kok dia emang galak. Kenapa? Lo takut?"
"Takut? Gue?" Marco mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang berbahaya. "Enggak, Lo. Gue justru baru sadar satu hal."
"Apaan?"
"Dunia ini emang beneran sempit," jawab Marco, menatap kegelapan malam dengan mata yang kini berkilat penuh ambisi. "Dan sepertinya, rencana gue buat ketemu dia lagi bakal lebih cepet dari dugaan gue."
Arlo mengerutkan kening di seberang sana, meskipun ia tidak bisa melihat wajah Marco. "Lo ngomong apaan sih? Tante gue itu nggak main-main orangnya. Jangan macem-macem lo, Co."
"Tenang aja, Lo," sahut Marco dengan nada yang tenang namun penuh rencana. "Gue cuma... punya urusan bisnis yang belum kelar sama dia. Besok, gue bakal mampir ke rumah lo. Siap-siap aja."
Marco mematikan sambungan telepon. Ia membuang ponselnya ke kasur dan menatap cermin di sudut kamar. Wajahnya yang tampan kini terlihat lebih bersemangat. Jika Haura Widjaja adalah tante dari sahabatnya, maka akses untuk mendekati wanita itu jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan.
Andi Permana ingin ia menjadi pebisnis? Baiklah, dia akan menjadi pebisnis—tapi bukan di perusahaan ayahnya. Ia akan menjadi "pebisnis" yang menaklukan hati wanita paling angkuh yang pernah ia temui.
"Tante Haura," bisik Marco pada bayangannya sendiri di cermin. "Malam ini lo mungkin menang karena berhasil bikin gue nunggu, tapi besok... besok lo bakal ngeliat seberapa jauh gue bisa bikin lo ngerasa terganggu dengan kehadiran gue."
Malam itu, Marco tertidur dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan kemarahan ayahnya. Ia hanya memikirkan tatapan tajam dan suara tegas wanita itu. Marco Permana baru saja menemukan "mainan" baru, dan ia tidak akan berhenti sampai mainan itu benar-benar menjadi miliknya.
semangattt