Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Hitam?
Mentari yang tadi mendaki di atas langit sana sudah mulai perlahan bergeser ke penjuru Barat. Suratan niscaya jingga itu membentuk berbagai selembayung yang indah dengan ukiran awan terasa mulai dingin.
Lampu-lampu di jalanan sudah menyala tapi kesibukan masih sama exstranya. Bahkan, sejak Mentari menjulang tadi Siang dan ingin mendarat Sore ini begitulah lamanya Maxwell memandangi sosok imut menggemaskan yang sekarang tengah menguasai Tiga meja bulat Resto yang di satukan hanya untuk menampung semua Piring-piring makanan yang hanya tinggal setengah karnanya.
Kuah dan Saos itu belepotan di mulutnya yang masih sanggup mengunyah Pasta dan Stik Daging yang sudah di sajikan begitu lezat masuk kedalam perut yang sudah membuncit.
"Minum!"
Jirome memberikan gelas lemon kedua ke bibir merah Evelyne yang terlihat menegguk tandas semuanya. Mereka sampai begitu terkejut dan heran. Dengan ukuran tubuh sekecil ini Evelyne mampu menguasai setengah hidangan Utama.
Bahkan. Ia masih sanggup memakan Sandwich yang hanya tersisa satu potong bekas gigitannya tadi. Maxwell hanya menatapnya dengan Wine yang sudah habis setengah botol karna begitu asik melihat Bocah ini makan begitu lahap.
"Daddy Mau?" tawar Evelyne dengan mulut penuh bahkan pakaiannya sudah habis terkena jipratan kuah dan Saos yang ada di atas Meja.
"Habiskan!"
"Daddy hanya minum," gumam Evelyne begitu penasaran dengan air yang sedari tadi di Minum oleh Maxwell. Ia ingin mencobanya tapi Makanan ini membuat niatnya tertunda.
"Tambah makananya!"
"Tuan!" gumam Jirome terperanjat. Pasalnya Evelyne tampak sudah cukup dengan hidangan sebesar ini tapi dengan sadisnya ingin membuat perut bocah ini meledak.
Bukannya mengerti Maxwell menatap tajam Jirome yang seketika mengambil nafas dalam.
"Tuan! Bukan aku ingin mengaturmu tapi jika sampai terjadi sesuatu padanya maka semuanya akan kacau. Jika dia mati kita akan sulit mencari yang lain," imbuh Jirome memelankan suaranya tapi Maxwell mendengar dengan jelas.
Tatapan tak bersahabat itu masih mengurung Evelyne dalam kedinginan hakiki tapi tetap saja bocah ini selalu meluruskan niat Maxwell untuk membuatnya kekenyangan.
"Dad! Leen kenyang."
"Habiskan!" titah Maxwell menegguk gelas terakhirnya kala melihat tersisa satu piring Sandwich lagi.
Evelyne diam sejenak dengan nafas sudah sesak dan perut begitu besar dan tegang. Tapi, nafsu makannya memang besar hingga meraih Piring itu lalu membawanya ke atas paha yang di buka lebar mempermudah ia bernafas.
"Sudah. Jangan di makan lagi!" cegah Jirome tapi Evelyne tetap memakannya sampai mulut kecil itu membesar dengan susah payah mengunyah sampai jatuh beberapa kali dan Evelyne tak menyisakannya.
Para Pelayan disini sampai menelan ludah ikut sesak melihat bagaimana lahapnya bocah ini makan dengan ukuran tubuh yang tak masuk akal.
Apa dia manusia? Pikir mereka kompak menggerutu
Dalam waktu beberapa menit saja Evelyne sudah menyelesaikan semuanya dan Maxwell juga sudah menghabiskan satu botol Wine yang mengisi rongga perutnya.
"Sudah! Leen sudah kenyang!"
"Hm," gumam Maxwell berdiri lalu melenggang pergi dengan begitu angkuh. Evelyne yang sudah sesak ingin turun terburu-buru hingga tak ada pilihan lain hingga Jirome langsung menggendongnya.
"Jangan sampai kedatangan Tuan Muda tersebar kemana-mana."
"Tidak akan. Tuan!" jawab Manajer yang sudah mendapat bayaran begitu besar bahkan mereka bisa membuka Resto baru.
Jirome membawa Evelyne keluar tapi tetap menjaga jarak aman karna tubuh Evelyne tengah dalam keadaan kotor dan belepotan.
"Daddy!!"
"Berhenti menguji kesabaran. Tuan!" ucap Jirome membuat Evelyne diam tapi ia memandangi Maxwell yang sudah masuk ke Mobil dengan suasana angin sore terasa membelai kepala Evelyne yang mulai merasa kantuk berat itu datang.
"Uncle! Leen duduk di sebelah Daddy!"
"Jangan mencari mati," tukas Jirome membuka pintu depan hingga ia mendudukan Evelyne di dalamnya. Saat ia sudah menutup benda itu dan bersiap ke Kursi kemudi tiba-tiba saja Evelyne langsung turun dari kursinya lalu mendekati Maxwell yang seketika waspada.
"Kau mau apa?"
"Daddy!" gumam Evelyne mendekat dengan kedua tangan yang masih kotor karna Saos dan bekas makanan itu langsung memegang kaki Maxwell yang seketika mengeraskan wajahnya.
"Kauuu!!!"
"Daddy!" gumam Evelyne tak mau lepas. Ia memanjat paha Maxwell yang benar-benar menepis tangannya tapi jelas bekas makanan yang ada di sekujur tubuh Evelyne menempel padanya.
"Menyingkiiir!!"
"Leen mau tidurr!!" pekik Evelyne menarik Dasi Maxwell yang juga menariknya hingga tubuh mungil Evelyne sudah naik ke atas Pahanya.
Maxwell bertambah mendidih mencengkram tengkuk kecil Evelyne untuk membuangnya ke depan tapi Jirome segera angkat bicara.
"Tuan! Ingat tujuanmu!"
Maxwell diam dengan dada naik turun menahan emosi. Ia mencengkram tengkuk Evelyne kuat sampai ringisan kecil ini meruak tapi ia tetap tak mau lepas dari Maxwell yang begitu ingin membunuhnya.
"Daddy!"
"Cih." umpat Maxwell akhirnya meredam emosi. Ia membuang wajah keras itu dengan cengkraman terlepas menyisakan bekas merah di tengkuk Evelyne.
Jirome menghela nafas lega kala pertengkaran ini tak berlanjut lebih panas. Ia menghidupkan Mesin Mobil lalu mulai melajukan benda ini keluar dari area Resto.
"Kondisikan tanganmu!!!"
"Leen ngantuk," gumam Evelyne memeluk perut keras atletis Maxwell hingga bekas sisa makanan di tubuhnya mengotori Kemeja hitam yang di pakai Maxwell.
Bahkan aroma ikan dan daging itu sudah membaluri tubuhnya seperti Seafood panggang.
"Ntah kesialan apa yang ku lakukan sampai bertemu denganmu," umpat Maxwell menaikan kedua tangannya ke atas Kursi di dekatnya tak ingin menyentuh Evelyne yang sudah berkoala dengan memeluk erat perutnya.
"Mamma!"
"Aku bukan Mamamu!" ketus Maxwell menjawab kasar.
"Daddy!"
"Juga bukan Daddymu!"
"Da..ddy!" lirih Evelyne terputus-putus karna ia tengah dilanda kantuk berat. Ia membenamkan wajahnya ke dada Maxwell yang hanya membisu tak mau bicara lagi.
Dalam beberapa saat tak ada lagi suara racauan Evelyne hingga Maxwell melirik ke bawah. Dari kaca mata elang itu ia bisa melihat Evelyne sudah tidur dengan nafas stabil tapi sedikit sesak.
Wajah belia Evelyne begitu damai tak semenyebalkan itu. Amarahnya yang tadi tengah mendidih perlahan reda karna memang Evelyne begitu lugu dan sangat keras kepala.
"Cari semua datanya! Aku ingin semuanya ada di mejaku malam ini."
"Baik. Tuan!" jawab Jirome menjalankan misi yang Maxwell berikan.
Ntah setan apa yang membuat Maxwell tergerak untuk mengeluarkan Sapu tangannya membersihkan mulut dan wajah Baby Evelyne yang sudah tak sadar akan dunia.
Ia mengelap tangan mungil ini dan begitu juga bagian leher sampai Maxwell terdiam kala melihat ada sesuatu di bahu bagian bawah Evelyne.
"Bintang hitam?"
Batin Maxwell melihat ada tanda lahir seperti bintang berwarna hitam. Ia perlahan menyentuhnya untuk melihat lebih detail tapi respon Evelyne terlihat gelisah dan kesakitan, alhasil Maxwell tak menelisik lebih dalam dulu.
"Ada apa? Tuan!" tanya Jirome kala melihat Maxwell terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak ada."
"Anggota di Rumah Sakit mengatakan jika Nona Violet sudah pulang ke Kediaman," ucap Jirome juga baru mendapatkan pesan.
Maxwell diam tak mengalihkan pandangan dari wajah damai Evelyne yang selalu membuatnya bertanya-tanya. Misteri apa yang tengah bersarang di tubuh mungil ini?!
"Dia juga mengatakan akan mengadakan Makan malam di Kediaman. Tuan!"
"Terserah padanya," gumam Maxwell tengah tak memikirkan Violet. Ntah apa lagi yang wanita itu lakukan untuk mengusik kedamaian dunia hitamnya.
...
Vote and Like Sayang..