Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terhina
Krukk Krukk
perut Dion berbunyi tengah malam saat sedang asik merebahkan badannya diatas kasur.
"Go, suruh segera siapkan pelayan makanan untukku!" teriak Dion tanpa sadar.
"eh", Dion clingak clinguk melihat sekeliling.
"astaga, aku kan sedang di jalur tempur ( rumah Kiko ) arrrggghhh", menepuk dahinya pelan.
"baru kali ini aku merasakan kelaparan sampai seperti ini, masakannya pun pas pasan, sungguh aku menderita",
Dion bergumam dan menceloteh tak karuan sambil mengelus perutnya yang lapar hingga ke ruang dapur, lalu membuka lemari pendingin untuk meneguk minuman dingin.
"eh, ada Kue", Dion mengambil Kue milik Kiko, "kebetulan sekali belum dimakan dan aku lapar"
"hei mesum, Kue mu aku makan ya?" teriak Dion meminta ijin.
Kiko yang sedari tadi tengah tenggelam dalam mimpinya langsung terbangun begitu saja jika menyangkut soal makanan.
Kiko beranjak dan berlari hingga membanting pintu kamarnya untuk buru buru mencegah Dion menyentuh kue miliknya.
"jangan di S E N T U H!" teriak Kiko ketika Dion sudah membuka mulutnya bersiap untuk menggigit kue yang beli.
Dion menoleh kepada Kiko sempat menghentikan rencananya tapi begitulah jahilnya.
walaupun Kiko sampai berteriak untuk tidak disentuh, maka Dion pun menggigit Kue milik Kiko tepat dihadapan nya agar Kiko menjadi kesal.
"Aaaaaaa kok di gigit sih, kan aku sudah bilang jangan disentuh!", Kiko merengek layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya, "Huaa kamu jahat!"
"ha ha astaga, aku kan hanya menggigitnya sedikit"
"kan aku sudah teriak jangan, ya j a n g a n!", Kiko tetap merengek, "ada bekasmu disana"
"ya Ampun, kita kan sudah pernah saling menyentuh ke dua mulut sebelumnya" sahut Dion membuat kedua pipi Kiko merah merona karena malu.
"bukan, bukan seperti itu"
"lalu? kan kau masih bisa memakannya, kue nya kan cuma ku makan sedikit di ujung"
"aku tidak bisa memakannya lagi", sahut Kiko menjadi agak canggung pada perkataan yang akan dilontarkannya, "aku J I J I K tahu!"
"apa? j i j i k?", Dion kaget sambil mengelus dadanya yang dirasa mau meledak, "aku merasa terhina, kau tahu tidak? banyak perempuan diluar sana yang ingin menyentuhku, ingin mencium ku bahkan rela ingin ku tiduri. masa hal sepele seperti ini kau merasa jijik kepadaku?"
"aku benar benar j i j i k, aku tidak bisa bersentuhan dengan laki laki"
"lalu selama ini apa? kau sering menyentuhku bahkan waktu kecelakaan itu kau bahkan memberi nafas buatan kepadaku"
"itu kan karena kau bukan seorang pria!", Kiko gugup dengan perkataannya, "maksudku, kau kan bukan benar benar seorang pria"
"bunuh saja aku, b u n u h!" teriak Dion kesal
kenapa pria ini galak sekali, aku kan hanya coba untuk jujur
****
Dion semalaman tidak bisa tidur memikirkan apa yang dikatakan oleh Kiko hingga membuatnya frustasi juga kelaparan. karena hal itu juga Dion hingga tampak lesu, pucat bahkan ada lingkar hitam disekitar bola matanya.
"Tuan, Anda baik baik saja?" Kiko bicara formal.
Dion membuang muka, masih merasa kesal kepada Kiko.
"saya sudah menyiapkan makanan untuk Tuan!"
Kiko bangun lebih awal memasak macam macam sayuran serta olahan daging agar Dion memaafkannya, karena semenjak pembicaraannya tadi malam. Dion tidak bersikap selalu jahil seperti biasanya.
Dion pun duduk di meja makan, melihat makanan sudah tak ada selera sama sekali.
"makanan apa ini? tidak enak sama sekali" cetus Dion sembari membuat mimik wajahnya begitu tak enak dipandang.
"hanya ini makanan yang bisa saya buat, enak kok!"
Kiko mengambil beberapa menu lalu dicampur ke dalam satu piring lalu mengaduknya dan membuka mulutnya lebar lebar.
"hemmm enak!" ucap Kiko sambil tersenyum
Glekk
melihat Kiko makan dengan begitu lahap membuat Dion mengingat kembali rasa laparnya, tapi karena dia sudah terlanjur mengatakan yang dibuat Kiko tak enak maka akan sangat memalukan jika dia menelannya kembali.
"aku ke kamar dulu, aku tak berselera makan" ucap Dion beranjak dari duduknya dan kembali memasuki kamarnya kembali.
"dia kenapa sih kok sensi sekali?" gumam Kiko.
****
"Tuan, saya pergi keluar dulu ya mau jalan dengan Nina" pamit Kiko.
"pergi saja! aku tak peduli" sahutnya ketus.
"ih masih menyebalkan" gumam Kiko
saat Kiko melangkah keluar rumah, Dion pun keluar mengendap ngendap dari kamarnya.
"ada dia sudah pergi ya?" gumam Dion
Dion mengintip lewat jendela depan melihat Kiko yang sudah melangkah pergi. membuat Dion senang kegirangan.
"Y E S! akhirnya aku makan"
Dion langsung mengambil beberapa menu makanan yang masih tersisa, menirukan Kiko mencampur jadi satu lalu menyantapnya dengan lahap.
Aemm Aemm
"yaaaah akhirnya perutku terisi" gumam Dion masih dengan kunyahannya
KRIEKK!
"eh Tuan, lagi makan ya?" sapa Kiko tiba tiba membuat Dion kaget dan tersendak.
Uhukk Uhukk
dengan sigap Kiko menepuk punggung Dion pelan.
"makannya pelan pelan, Tuan!"
tadi bilangnya tidak enak tapi dimakan juga hehe
"huh, aku sudah kenyang!" ucap Dion kemudian ingin melangkah pergi tapi Kiko menahannya dengan merangkul lengannya.
"Tuan, ikut saya keluar yuk!"
"katanya kau akan pergi dengan Nina?"
"bertiga lebih seru", Kiko memasang senyum masing membuat Dion semakin gugup setelah dirangkul, "bagaimana?"
"ba..baiklah jika kau memaksa" sahut Dion setengah bergumam karena sedang menutup mulutnya karena rasa malu.
sekelibat Kiko melihat pipi Dion yang tengah memerah.
"apa Tuan tidak enak badan?", Kiko meraba kening Dion membuat Dion semakin gugup, "tidak panas, tapi wajah Tuan kenapa merah sekali?"
"hah?", Dion semakin gugup dan langsung memalingkan wajahnya, "aku tidak apa apa, cuma cuacanya sedikit panas"
Kiko mengangguk mencoba mengerti
"Ooh begitu, yuk kita jalan!"
****
Terlihat Nina sudah berdiri di depan gerbang sebuah taman wahana.
"hei Nin", sapa Kiko sembari berteriak menyapa Nina diseberang
"kenapa kau tidak bilang jika kita akan kesini?" tanya Dion kesal
"he he kan kejutan Tuan, lagian asik kok. saya sudah lama tidak bermain disini"
Dion hanya menyunggingkan bibirnya kesal, Kiko harus menariknya agar Dion mau berjalan mendekati Nina yang sudah lama menunggu.
dengan langkah berat akhirnya Dion, Kiko dan Nina masuk kedalam keramaian taman hiburan.
"whoa keren", Nina melirik wahana permainan kereta luncur dengan kecepatan tinggi atau dikenal dengan nama roller coaster
"wah iya keren", sahut Kiko, "yukk kita coba naik itu, yukk!"
Nina dan Kiko pun akhirnya memesan tiket untuk tiga orang dan sangat senang, berbeda dengan Dion yang sudah pucat tergambar di wajahnya, pasalnya dia takut ketinggian tapi tidak berani menolak.
astaga, kenapa aku harus berakhir disini?
jika aku menolak dan mereka tahu aku takut ketinggian maka mereka berdua pasti akan menertawaiku. Tuhan, tolong aku hiiiksss
****
sempatkan like atau komen ya agar Author bisa rajin UP nya. Terimakasih sudah membaca karya saya yang tidak seberapa ini.
****