Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinas Rasa Liburan
Sudah kerja nggak becus, masih saja bangkang, pakai mau bantu segala. Heh! pikir Keagan.
Tidak terlalu mengambil pusing sikap Dania, Keagan mulai menyelesaikan revisi proyek yang akan diserahkan ke divisi design.
Beberapa jam berlalu. Keagan mulai meregangkan tubuhnya yang terasa kaku di sana-sini. Jari-jari tangannya melepaskan dasi yang sedari tadi terpasang erat di kerah bajunya. Membiarkan tubuhnya bernafas setelah seharian bekerja seperti kuda pacu yang dipecuti.
Kantor kini sudah mulai lengang. Beberapa karyawannya pun sudah pada pulang.
Dia mengambil jas dan memasukkannya ke backpack. Keagan berencana pulang lebih awal dari jadwal lembur yang biasanya dia lakukan beberapa hari terakhir ini karena perjalanan dinasnya besok membutuhkan kurang lebih tiga jam dua puluh menit tanpa transit. Belum lagi jadwal penerbangannya jam 09.40 pagi, jadi dia sudah harus mengemas barang mulai malam ini.
Ketika melewati pantry, Keagan melihat Dania sedang bersantai sambil makan.
Makan saja kerja anak itu. Pikir Keagan.
Kalau saja Keagan tidak menyelamatkan Dania dari presentasinya, dia yakin bahwa Dania hanya akan mempermalukan dirinya sendiri saat presentasi pagi tadi dan bisa dipastikan juga Dania tidak akan makan selahap ini.
Keagan berhenti di depan pintu pantry. Tangannya bersandar di pinggir pintu.
“Cepat pulang. Flight jam 09.40. Kita harus di bandara jam 08.00,” perintah Keagan.
Dania mengangkat kepalanya dari piring makan malamnya. Sambil melihat Keagan dia bertanya “Berangkat dari mana, Pak?” mulutnya dipenuhi 'pho', mie berkuah sapi khas vietnam yang telah di-delivery-nya.
“Kita langsung berangkat dari apartemen. Jadi cepat pulang!” perintah Keagan lagi.
Pilihan berangkat dari apartemen merupakan pilihan terbaik, mengingat mereka tinggal di gedung apartemen yang sama sehingga hal itu dapat menghemat waktu perjalanan ke bandara.
“Yes, sir!” ucap Dania cepat.
Uwuwu, disuruh cepat pulang, pikir Dania sambil cengar-cengir.
“Nyengir saja kerjamu. Kamu pikir cengiranmu enak dilihat?” ucap Keagan dengan mata jenaka dan nada khas sarkastiknya.
Melihat Keagan membuat Dania langsung hilang kendali saat makan. Alhasil, mie yang dia seruput terpental ke wajahnya.
“Ajdhjkahiksjsksk!!!”
Dengan spontan Dania menyumpah-serapahi kejadian itu yang mau tidak mau harus kena sensor.
Dasar cicak gurun. Pikir Keagan sambil berlalu meninggalkan Dania yang sibuk mengelap wajahnya yang belepotan.
🍃
Dania mempersiapkan barang bawaannya. Dia hanya membawa beberapa pakaian kasual dan tiga setelan resmi yang dimasukkan ke koper berukuran mini, serta beberapa perlengkapan kosmetik dan beberapa barang untuk kebutuhan hariannya. Di sebelah koper terdapat sebuah ransel denim dan small sling bag untuk barang-barang kecil yang sangat penting, seperti : dompet, paspor, headset dan smartphone.
Kunjungan kali ini merupakan perusahaan cabang di Jakarta.
Sayang sekali, kenapa yang bermasalah bukan cabang perusahaan yang di Bandung aja sih.
Dengan begitu Dania bisa sekalian mengunjungi ayahnya.
Gaun perlu nggak ya?
Merasa bingung. Dania mengambil smartphone-nya dan memutuskan untuk menghubungi Keagan.
Dia mengirim pesan singkat pada atasannya.
Dania : Perlu bawa gaun nggak, Keagan?
Dania cekikikan karena baru kali ini dia memangil nama managernya. Salahnya sendiri bilang kalau di luar nggak perlu panggil ‘pak’ pikirnya iseng.
Tidak butuh lama Keagan membalas dengan jutek.
Keagan : Apa kamu pikir kita mau ke pesta?
Dania mencibir membaca pesan Keagan yang mengisyaratkan tidak perlu membawa gaun. Dia melihat barangnya sekilas. Melihat list di buku catatannya dan melihat sunblock belum tercentang. Dania mengirim pesan lagi.
Dania : Sunblock?
Sambil menunggu balasan, Dania menuju kasurnya. Membenamkan wajah pada bantal bekas ilernya. Dania menoleh, melihat layar smartphone-nya masih gelap. Pertanda belum ada balasan dari Keagan.
Dia membenamkan wajahnya lagi. Namun tak berapa lama, dia mulai bosan menunggu. Dania berjalan mengenakan cardigan jingganya dan keluar dari apartemen.
Hanya butuh beberapa langkah, Dania sudah berada di depan pintu apartemen Keagan. Menekan belnya berkali-kali tanpa jeda yang lama. Pintu apartemen Keagan pun terbuka lebar. Tangannya menahan daun pintu.
Dewa Yunani itu menggunakan kaos hitam polos berlengan pendek dan celana piyama biru motif polkadot putih. Baru kali ini Dania melihat pakaian santai Keagan. Kaos hitam polos itu menambah ke-maskulin-an managernya.
“Apa?” tanya Keagan dengan mata setengah mengantuk dan rambut acak-acakan ketika membuka pintu.
“Perlu bawa sunblock gak?” tanya Dania lagi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Keagan mendengus. “Kamu pikir kita mau piknik!” bentaknya sambil membanting pintu. Meskipun tahu bahwa pintu itu pintu otomatis yang tidak bisa dibanting.
Dania cemberut dan kembali ke apartemennya.
Bisa saja kan Jakarta lagi terik dan perlu sunblock. Emangnya sunblock buat ke pantai aja! Dasar laki-laki.
🍃
Pukul 07.55 Dania memencet bel apartemen Keagan. Dia sudah memesan taksi. Artinya dalam waktu dekat bapak taksi akan menjemput mereka.
“Pak, udah jam delapan. Ayo berangkat!” bisik Dania setengah berteriak sembari mendekatkan wajahnya ke celah pintu apartemen.
Keagan bergegas keluar. Saat pintu terbuka, wajah Dania terpampang jelas di pinggir pintu apartemennya. Keagan terkejut dan mundur selangkah, kemudian mendorong wajah Dania yang tidak lebih besar dari telapak tangannya agar menjauh.
Keagan membawa satu koper berukuran kecil dan tas backpack hitam. Sama seperti Dania. Hanya saja Dania membawa tambahan small sling bag kesayangannya.
Keagan mengenakan pakaian kasual. Kaos bewarna putih yang dilapisi sweater bewarna biru navy untuk perjalanan dinas kali ini. Penampilan Keagan yang tidak biasanya sukses membuat perut Dania bergejolak tak karuan.
Belum buang air besar gara-gara terlalu semangat, nih.
“Saya udah pesan taksi,” ucap Dania disertai anggukan Keagan.
🍃
Selama ini, Keagan terbiasa melihat Dania mengenakan pakaian formalnya di kantor. Meski selalu rapi, hari ini pakaian Dania terlihat lebih nyaman ketika dia memakainya. Keagan pun melirik jaket hoodie jingga itu. Sementara dibaliknya, kaos bewarna kuning mengintip dari ceruk leher Dania.
Dania terlihat cemas selama di dalam taksi.
“Pak, bisa nyetir agak cepat nggak?” tanyanya pada pak sopir yang langsung menginjak pedal gas menambah kecepatan.
“Check in masih lama,” ucap Keagan melihat arlojinya.
“Bukan gitu, Pak, aduh, biasa. Cewek,” kata Dania panas dingin. Dia pun membuka jaket hoodie-nya karena merasa kepanasan menahan ta* yang di ujung tanduk.
Begitu sampai bandara Tan Shot Nhat Internasional yang ada di Ho Chi Minh, Dania langsung lari tepat setelah taksi berhenti.
“Pak, saya kebelet! Entar tunggu di boarding pass ya!” teriaknya meninggalkan semua barang-barangnya kecuali small sling bag nya.
Keagan hanya mencelos. Terpaksa dia yang membawa semua barang bawaan mereka.
Kayak bawa anak PAUD saja, pikir Keagan senewen. Keagan menyampirkan hoodie milik Dania di pundaknya. Tercium aroma lemon dari hoodie jingga itu. Keagan berjalan santai memasuki bandara.
🍃
Dari kejauhan, di antara semua orang yang duduk di kursi tunggu, Dania bisa menebak Keagan duduk di mana. Setelah check in, Dia pun menghampiri Keagan yang sibuk memainkan smartphone-nya.
“Pak!” panggil Dania.
“Oh, ya. Duduk.” Ucapnya pada Dania sambil memberikan hoodie-nya kembali disambut Dania yang langsung mengenakannya.
Dia langsung duduk tepat di sebelah Keagan. Menuruti perintah managernya dan melihat orang berlalu-lalang. Keheningan mereka sungguh terasa nyaman. Ketika Dania sibuk melihat-lihat, seseorang yang dia kenal melewatinya.
Kevin!
Spontan Dania berdiri hendak mengejar sosok Kevin, mantannya. Namun langkahnya terhenti dengan genggaman kuat Keagan tepat di pergelangan tangannya.
“Mau kemana kamu?” ucapnya tanpa Dania sadari Keagan tahu siapa dan kemana tujuan anak buahnya ini.
Dania tidak menjawab apa-apa. Hanya ada wajah bingungnya.
“Duduk.” Tegas Keagan setengah menarik Dania untuk duduk. Keagan lalu menarik topi hoodie Dania dan langsung menyerutkan talinya. Menutupi sebagian wajah Dania dan hanya menyisakan batang hidungnya saja.
🍃
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀