NovelToon NovelToon
Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Zombie / Sistem
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: miichi

Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.

Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Warisan Darah

Udara di dalam ruangan bawah tanah itu terasa semakin tipis, seolah oksigen telah disedot keluar oleh kejutan yang baru saja menghantam mereka. Elena masih menatap layar hitam tablet kuno itu, matanya kosong, mencoba mencerna kata-kata terakhir pria berambut perak tersebut.

Subjek Alpha-01.

Didesain sejak lahir.

Kata-kata itu bergema di kepalanya, bertabrakan dengan ingatan-ingatannya sendiri. Masa kecilnya di peternakan. Ayahnya yang kasar namun penyayang. Ibunya yang lembut dan sering sakit-sakitan. Suaminya, Mark, yang meninggal karena penyakit misterius sebelum kiamat benar-benar pecah. Apakah semua itu nyata? Atau hanya skenario yang ditulis oleh seseorang di balik meja laboratorium steril?

"Elena," panggil Whitlock pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Ia menurunkan senapannya sedikit, meski kewaspadaannya tidak berkurang. "Kita harus pergi dari sini. Tempat ini... tempat ini terasa salah."

Dr. Voss tidak bergerak. Matanya terpaku pada tablet, jari-jarinya gemetar saat ia mencoba menghidupkan kembali layarnya. "Ini tidak mungkin," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Aegis Corp dibubarkan karena skandal etika. Mereka dituduh melakukan eksperimen ilegal pada manusia. Tapi tidak ada bukti konkret. Semua data dihancurkan. Atau... atau disimpan di sini."

Elena menarik napas dalam-dalam, memaksa kakinya untuk bergerak. Ia mendekati meja tempat tablet itu berada. Di samping tablet, terdapat sebuah laci kecil terkunci. Tanpa berpikir dua kali, ia menyentuhnya. Kotak cahaya Gudangnya berdenyut, dan sebuah kunci logam tua melayang keluar, mendarat di telapak tangannya.

[Item Ditemukan: Kunci Arsip Aegis]

[Catatan: Membuka rahasia yang mungkin lebih baik tetap terkubur.]

Elena mengabaikan peringatan sistem. Ia memasukkan kunci itu ke dalam laci. Dengan klik mekanis yang memuaskan, laci itu terbuka.

Di dalamnya, hanya ada satu folder berkas berwarna cokelat kusam. Elena mengambilnya, debunya berterbangan di udara lampu senter. Ia membuka folder itu.

Halaman pertama adalah foto bayi. Bayi perempuan dengan mata besar dan rambut halus. Di sudut foto, tertulis: Subjek Alpha-01 - Tanggal Lahir: 12 Mei 1995.

Tanggal lahir Elena.

Halaman berikutnya adalah grafik genetik. Diagram DNA yang rumit, dengan bagian-bagian tertentu yang ditandai dengan warna merah menyala. Label di sampingnya membaca: Modifikasi Genetik CRISPR-Cas9 Tahap Lanjut - Integrasi Reseptor Energi Kinetik.

"Tuhan..." bisik Voss, yang kini berdiri di samping Elena, membaca dokumen itu dengan ngeri. "Mereka memodifikasi genommu. Mereka menyisipkan gen sintetis yang memungkinkan tubuhmu menyerap dan menyimpan energi anomali. Itu sebabnya kau bisa berinteraksi dengan Fragmen. Itu sebabnya Gudang itu meresponsimu. Kau bukan pengguna acak, Elena. Kau adalah wadah yang dirancang khusus."

Elena merasa dunia berputar. Perutnya mual. Selama ini, ia mengira kemampuannya adalah anugerah misterius, atau mungkin mutasi akibat paparan radiasi kiamat. Ternyata, itu adalah produk rekayasa. Dia adalah senjata hidup yang diciptakan sebelum dunia hancur.

"Dan Mark?" tanya Elena, suaranya serak. "Suamiku? Apakah dia juga...?"

Ia membalik halaman. Ada foto Mark. Di bawahnya, catatan medis: Pasangan Kontrol Subjek Alpha-01. Dipilih untuk stabilitas emosional. Monitor respons stres.

Elena menutup folder itu dengan keras, napasnya memburu. Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya.

"Mereka mengawasinya," desisnya, giginya terkunci rapat. "Mereka memilih Mark untukku. Mereka memantau pernikahan kami. Mereka... mereka mungkin bahkan menyebabkan kematiannya untuk melihat bagaimana aku bereaksi terhadap trauma."

Whitlock meletakkan tangan beratnya di bahu Elena. "Elena, dengarkan aku. Tidak peduli apa kertas-kertas tua ini katakan, kau adalah siapa yang kau pilih untuk menjadi. Kau menyelamatkan Grace. Kau menyelamatkan kami. Kau menyelamatkan dunia. Dokumen ini tidak mengubah kebaikan hatimu."

"Tapi itu mengubah asal-usul ku," balas Elena tajam. "Jika aku diciptakan untuk menjadi alat, apakah kebebasanku nyata? Apakah cintaku pada Grace nyata, atau hanya program biologis?"

"Cintamu nyata karena kau merasakannya," kata Voss tegas, meskipun wajahnya pucat. "Biologi mungkin menyediakan wadahnya, tapi jiwamu... jiwamu adalah milikmu sendiri, Elena. Lihatlah apa yang kau lakukan dengan Grimes. Mesin tidak akan menunjukkan belas kasihan seperti itu. Hanya manusia yang bisa."

Elena menatap Voss, lalu ke Whitlock. Ia melihat ketulusan di mata mereka. Mereka tidak melihatnya sebagai monster atau eksperimen. Mereka melihat Elena.

Tiba-tiba, lantai di bawah mereka bergetar. Bukan getaran kecil, tapi guncangan kuat yang membuat debu berjatuhan dari langit-langit beton.

Lampu darurat di ruangan itu berkedip merah. Suara alarm berbunyi nyaring, berbeda dari alarm fasilitas di atas. Ini adalah alarm keamanan tingkat maksimum.

"Peringatan. Intrusi Terdeteksi. Protokol Penghancuran Diri Diaktifkan. Waktu Hitung Mundur: 5 Menit."

"Mereka tahu kita di sini!" teriak Whitlock. "Sistem ini mendeteksi kehadiran kita sebagai ancaman!"

Voss panik, melihat ke sekeliling. "Penghancuran diri? Struktur ini tertanam tiga kilometer di bawah tanah! Jika ini meledak, seluruh fasilitas Prometheus di atas akan runtuh! Elena akan terjebak! Grace akan mati!"

Elena merasakan dingin merambat di punggungnya. Ini adalah perangkap. Bukan hanya untuk mengungkap kebenaran, tapi untuk menjebak mereka dan menghapus bukti sekaligus membunuh "eksperimen" yang mungkin sudah dianggap gagal atau terlalu berbahaya oleh sisa-sisa faksi Aegis.

"Kita harus keluar. Sekarang!" perintah Elena, suaranya kembali mendapatkan nada komando yang dingin.

Mereka berlari menuju pintu bulat. Tapi pintu itu sudah tertutup rapat. Lampu biru di panel identifikasi berubah menjadi merah menyala.

"Akses Ditolak. Karantina Aktif."

"Sialan!" geram Whitlock, menembaki panel kontrol dengan senapannya. Peluru-peluru memantul tanpa bekas. Pintu itu terbuat dari baja campuran yang jauh lebih kuat dari apa pun yang dimiliki senjata konvensional.

Voss memeriksa konsol di dinding sebelah kanan. "Ada jalur ventilasi darurat! Tapi itu sempit, dan mengarah ke shaft pembuangan limbah panas. Kita bisa terbakar hidup-hidup!"

"Pilihan yang buruk," kata Whitlock, "tapi lebih baik daripada meledak."

Elena menatap kotak cahayanya. Ia butuh sesuatu yang bisa membuka pintu baja setebal itu, atau menciptakan jalan keluar alternatif.

Gudang, beri aku alat pemotong plasma!

Tidak ada respons. Gudang diam.

Elena, sistem Gudangmu diblokir di area ini, bisik suara Prometheus Prime di kepalanya. Medan pengganggu sinyal Aegis sangat kuat. Kau harus mengandalkan kekuatan fisikmu dan kreativitas timmu.

Elena mengerutkan kening. Diblokir? Untuk pertama kalinya sejak aktivasi, ia benar-benar sendirian tanpa bantuan ajaib.

"Lihat itu!" tunjuk Voss ke arah sudut ruangan. Ada pipa besar berkarat yang mengalirkan cairan pendingin dari reaktor nuklir mini di bawah sana. Jika mereka bisa memecahkan pipa itu, tekanan cairan super-dingin mungkin bisa membekukan engsel pintu baja, membuatnya rapuh dan mudah dihancurkan.

"Itu gila," kata Whitlock. "Cairan itu bersuhu minus 200 derajat. Sentuhan singkat saja bisa membekukan darah kita."

"Tapi itu satu-satunya cara," kata Elena tegas. Ia melihat sekeliling, mencari benda yang bisa digunakan sebagai proyektil atau palu. Matanya tertuju pada tabung pemadam api tua di dinding.

"Whitlock, ambil tabung itu. Voss, hitung waktu ledakan. Aku akan mengarahkan aliran cairan itu ke engsel pintu begitu pintunya terbuka sedikit."

"Bagaimana caramu membuka pintunya sedikit?" tanya Voss bingung.

Elena tersenyum tipis, meski keringat dingin membasahi dahinya. Ia mengangkat tangan kanannya, bukan untuk memanggil Gudang, tapi untuk mengumpulkan energi residual dari fragmen yang masih menempel di auranya.

"Aku tidak butuh Gudang untuk menjadi kuat," katanya. "Aku punya darah Alpha."

Ia memusatkan seluruh energinya ke telapak tangan, menciptakan bola cahaya ungu yang padat dan berdenyut kencang. Dengan raungan usaha, ia melemparkan bola energi itu ke arah engsel pintu baja.

BOOM!

Ledakan kecil terjadi. Asap mengepul. Engsel pintu itu retak, sebagian meleleh.

"Sekarang, Whitlock!" teriak Elena.

Whitlock memukul tabung pemadam api ke arah pipa pendingin yang sudah retak karena getaran ledakan. Pipa itu pecah. Semburan cairan nitrogen cair menyembur keluar, langsung mengenai engsel pintu yang sudah lemah.

Baja itu membeku seketika, berubah warna menjadi abu-abu pucat dan rapuh.

"Terobos!" perintah Elena.

Whitlock menendang pintu dengan kekuatan penuh. Baja beku itu hancur berkeping-keping seperti kaca.

Mereka menerobos masuk ke koridor gelap di balik pintu, tepat saat hitungan mundur mencapai sepuluh detik.

"Sepuluh... Sembilan... Delapan..."

Mereka berlari sekuat tenaga menaiki tangga spiral, napas mereka tersengal-sengal, jantung berdebar hampir meledak. Di belakang mereka, suara ledakan besar terdengar, diikuti oleh gelombang panas yang mendorong mereka ke atas.

Tanah berguncang hebat. Debu dan batu berjatuhan.

Tapi mereka terus berlari. Menuju cahaya. Menuju Grace.

Ketika mereka akhirnya mencapai pintu keluar ke ruang bawah tanah fasilitas utama, mereka ambruk kelelahan. Di atas mereka, lampu-lampu fasilitas berkedip liar, tapi struktur utamanya masih berdiri kokoh.

Elena terbaring di lantai logam, menatap langit-langit. Ia selamat. Tapi pikirannya masih terjebak di ruang bawah tanah itu.

Ia bukan sekadar korban keadaan. Ia adalah produk desain.

Dan sekarang, ia harus mencari tahu siapa "Pria Berambut Perak" itu, dan mengapa ia ingin Elena mati hari ini.

Grace berlari mendekat, wajahnya basah oleh air mata. "Ibu! Ibu!"

Elena memeluk putrinya erat-erat, menghirup aromanya yang murni dan tidak tercemar oleh kebohongan masa lalu.

"Aku di sini, Grace," bisiknya. "Ibu di sini."

Tapi di dalam hatinya, pertanyaan baru telah terbentuk. Jika ia adalah senjata, siapa yang memegang pelatuknya sekarang? Dan apakah ia akan pernah bisa melepaskan diri dari rantai tak terlihat yang telah mengikatnya sejak sebelum ia dilahirkan?

1
Dorinaanakjunny Dorinaanakjunny
bodoh buat apa bilang ada kekuatan
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!