NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Poligami / POV Pelakor / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Vey Vii

WARNING ***
HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!

Menjadi istri kedua bukanlah cita-cita seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun bernama Anastasia.

Ia rela menggadaikan harga diri dan rahimnya pada seorang wanita mandul demi membiayai pengobatan ayahnya.

Paras tampan menawan penuh pesona seorang Benedict Albert membuat Ana sering kali tergoda. Akankah Anastasia bertahan dalam tekanan dan sikap egois istri pertama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Pertama

Sesaat, Ben terdiam. Ia memperhatikan Ana yang tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan gadis itu semakin menutupi wajahnya dengan rapat.

Sambil mengulum senyum, Ben mendekat. Ia membungkuk di samping Ana dan berbisik pelan di telinga gadis itu.

"Aku memintamu melihat isi kotak hadiah, bukan melihat isi dibalik handuk yang kupakai," bisiknya.

"Apa?" Ana menyingkirkan tangan dari wajahnya dan menatap wajah Ben yang berada tepat di sisi kanan wajahnya.

"Ini milikmu, hadiah dariku." Ben sedikit mundur dan menyerahkan kotak yang sedari tadi ia letakkan di samping Ana.

Menyadari dirinya telah salah sangka dan berpikir yang tak seharusnya, Ana merasa malu. Gadis itu gugup, ia gemas pada pikirannya sendiri karena harus berpikir sejauh itu.

"Aku pasti sudah gila," batin Ana. Ia memejamkan mata beberapa saat sambil menarik napas dalam-dalam.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ben.

"Ya, maaf."

"Baiklah, cepat buka hadiahmu dan katakan padaku apa pendapatmu."

Ana meraih kotak berwarna putih dan menarik pita merah di atasnya. Saat membukanya, gadis itu terkejut melihat ponsel layar sentuh dari merek terkenal yang ia ketahui berharga mahal.

"Kau suka?" tanya Ben.

"Kenapa kau harus memberiku hadiah?" tanya Ana. Ia benar-benar dibuat tidak mengerti, mengapa sikap Ben begitu baik dan perhatian padanya. Ana tidak mau terlalu percaya diri, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada laki-laki itu.

"Karena kau istriku," jawab Ben. "Aku menulis nomor ponselku di daftar kontakmu. Pastikan kau menghubungiku jika membutuhkan sesuatu," lanjutnya.

Jawaban Ben tersebut membuat Ana tidak bisa memahami, hubungan apa yang sebenarnya Ben harapkan darinya?

"Apakah Kak Rose tidak marah jika mengetahui hal ini?" tanya Ana.

"Dia menginginkan aku menikah lagi, artinya dia harus siap berbagi segalanya, termasuk perhatianku."

"Aku tidak ingin menyakiti perasaan Kak Rose. Aku tidak bisa menerima hadiah ini," tolak Ana.

"Anastasia! Kau sungguh tidak menghargai pemberianku!" seru Ben. Ana terdiam, ia berada dalam situasi sulit.

"Maaf," gumam Ana lirih.

"Aku tidak ingin mendengar penolakan apapun darimu. Gunakan ponsel itu, kau tidak perlu mengatakan apapun pada Rosalie untuk hal-hal seperti ini," ungkap Ben.

Ana tidak punya pilihan lain selain diam dan menerima. Berdebat dengan Ben hanya akan membuatnya semakin tersudut.

Setelah Ben selesai berpakaian, ia mengajak Ana keluar kamar. Mereka berjalan bersama menuju ruang makan.

Di meja makan, Ana hanya duduk berdua bersama Ben. Sementara para pelayan sudah kembali ke dapur setelah menata semua hidangan di atas meja.

"Makanan apa yang kau sukai?" tanya Ben pada Ana.

"Aku bukan tipe pemilih, aku suka makan apa saja," jawab Ana. Gadis itu memperhatikan Ben yang hanya duduk dan membiarkan piring di depannya tetap kosong.

"Ah, baguslah. Itu bagus," ucap Ben.

Ana bangkit dari kursinya, gadis itu mengambil piring Ben dan mengisinya dengan nasi juga lauk pauk. Selama bekerja di rumah ini, sedikit banyak ia tahu tentang makanan favorit Ben dari pelayan dapur, sementara Rosalie, Ana bahkan tahu segalanya karena mereka tumbuh bersama saat kecil.

"Kau perhatian sekali. Terima kasih," ucap Ben saat menerima piring dari tangan Ana.

"Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri," jawab Ana singkat. Ia pun mengabaikan tatapan mata Ben dan fokus untuk menghabiskan isi piringnya.

Duduk berdua di meja makan seperti ini membuat Ana merasa tidak nyaman. Ia tahu rumah ini pasti memiliki banyak CCTV di setiap ruangannya, dan Ana khawatir jika Rosalie berpikir buruk tentangnya.

Setelah makan siang, Ben mengantar Ana ke kamarnya, laki-laki itu mengatakan pada Ana jika ia harus pergi menemui seseorang. Ana tidak terlalu ingin tahu, gadis itu hanya mengatakan hal seperlunya tanpa banyak bertanya.

"Aku akan berusaha pulang sebelum malam. Jika aku dan Rosalie pulang larut, pastikan kau tidak terlambat makan malam meski sendirian," ujar Ben.

"Baik." Ana mengangguk. "Ah, ya. Terima kasih, aku menyukai hadiahnya," lanjut Ana dengan senyum yang tersamar.

Ben memperhatikan gadis yang berdiri di depannya. Gadis dengan wajah polos dan penampilan apa adanya itu sukses membuat Ben kesulitan menahan diri setiap kali menatapnya.

Mungkin ini karena Ana adalah gadis muda yang begitu menarik dengan lekuk tubuh yang menggoda, atau hanya karena Ben terlalu lama tidak merasakan nikmatnya bercinta. Ben tidak tahu pasti, ia hanya merasa sangat ingin melakukannya.

Ben melangkah perlahan mendekati Ana, sorot mata tajam seakan membidik gadis itu tepat di hatinya. Lagi-lagi Ana menjadi gugup, gadis itu mundur perlahan hingga punggungnya membentur tembok.

"Kau menghindar dariku?" tanya Ben dengan sedikit berbisik. Kini laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Ana.

"Tidak. Aku hanya ...."

"Hanya apa? gugup?" sela Ben. Ana mengangguk cepat.

Ben tersenyum samar. Ia bersandar pada tembok di depan tubuh Ana dengan sebelah tangan, lalu tangan yang lain membelai rambut Ana.

"Rambut yang indah," bisik Ben.

Tangan itu perlahan turun, mengusap pundak hingga ke pinggang. Ana terdiam, ia terpaku, seakan Ben menghipnotisnya. Gadis itu tidak bergerak, juga tidak menunjukkan penolakan, hanya keringat dingin dan tangan gemetar yang ia rasakan.

Tangan Ben terus bergerak turun, perlahan tapi pasti, kini tangan itu telah menyentuh hingga ke ujung dress Ana. Laki-laki itu sedikit menunduk dan perlahan mengangkat kain itu dengan meraba lembut paha istrinya.

Ana menggertakkan gigi, kepalanya menggeleng samar dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Gadis itu benar-benar tidak berdaya.

Drrrtt ... Drrtt ....

Suara ponsel di saku celana Ben terus bergetar. Laki-laki itu segera melepaskan Ana dan menerima telepon seseorang yang sudah mengganggu kesenangannya.

"Ah, ini sangat menyebalkan," gerutu Ben setelah menerima telepon.

"Anastasia, aku akan pergi sekarang. Anggap ini pemanasan, aku ingin kau lebih berani dari perkiraanku," ujar Ben sebelum keluar dari kamar. Laki-laki itu terlihat tergesa-gesa setelah menerima telepon. Jika bukan suatu hal yang penting dan mendesak, ia pasti lebih memilih Ana karena sudah memulai aksinya.

Sepeninggal Ben, Ana merosot di lantai. Gadis itu memegang dadanya. Jantungnya berdetak cepat dengan napas yang memburu. Hampir seluruh tubuhnya terasa membeku dan seluruh bulu kuduknya meremang.

"Ya Tuhan, hampir saja," gumam Ana. Ia bangkit dan meneguk segelas air putih. Gadis itu hampir kesulitan bernapas, ia hampir kehabisan oksigen.

Bagaimanapun, hal ini pasti akan terjadi. Ana tidak mungkin dan tidak akan bisa menolaknya. Karena inilah alasan mereka menikah. Hanya saja, Ana masih merasa asing dengan sikap Ben, juga dengan tatapan dan sentuhan laki-laki itu.

"Haruskan aku memberanikan diri? Bersikap agresif seperti yang dia inginkan?" tanya Ana pada dirinya sendiri.

🖤🖤🖤

1
Sandisalbiah
hah.. harusnya dr awal Ana tdk berasa di antara mereka.. mungkin akan lebih baik jika Ana pergi krn sepertinya Rose tdk yakin dgn apa yg dia inginkan.. ingin ank tp dia tak bisa melahirkan, memperoleh ank dr wanita lain tp dia tak ingin berbagi suami...
Sandisalbiah
nyatanya Ben sendiri telah membelah hatinya utk Ana, Rose.. itu fakta menyakitkan yg tak bisa kau hindari... Ben terlalu lama merasakan dahaga dan kau memberinya obat utk dahaganya itu.. jd ini salah siapa ?
Sandisalbiah
hah.. berasa jalan di antara semak berduri hidup Ana dan Rose sekarang.. semoga tdk saling menyakiti walau tetap akan ada yg tersakiti
Sandisalbiah
Ana sibuk memikirkan perasaan Rose tp sebaliknya Rose sibuk dgn egonya mengingatkan Ana kan segala batasan dan larangan dr nya... belum lewat sehari tp hatimu sudah penuh dgn rasa curiga.. sakit kau rasa padahal duri itu kamu sendiri yg membawa meletakan dgn posisi yg kamu atur sedemikian rupa tp tetap kau yg tersakiti krn ulah mu sendiri Rose, jgn jd kan Ana sebagai kambing hitam di kemudian hari..
Sandisalbiah
memanfaatkan kelemahan Ana utk menutupi kelemahanmu Rose.. kau egois hanya memikirkan keinginanmu tanpa memikirkan perasaan org lain, bukan hanya hidup Ana tp perasaanya pun kau jajah dgn sengaja dan secara sadar.. jgn harap kau akan menemukan kebahagiaan dlm ego mu itu
Sandisalbiah
semoga nantinya tdk ada drama dr Roseline.. yg merasa tersakiti dan menuduh Ana sebagai pihak ke tiga merusak rumah tangganya krn hadirnya Ana di antara mereka justru krn keinginan Rose itu sendiri
Sandisalbiah
harusnya mereka tdk tinggal serumah.. utk menjaga perasaan masing³.. ada dua hati wanita yg nantinya akan tersakiti.. bukan perkara gampang berbagi suami apa lagi kalau sudah melibatkan hati
Sandisalbiah
lalu bagaimana dgn Ana, masa depannya setelah melahirkan dan pernikahan kontrak nya berakhir..? bagaimana dia melanjutkan hidupnya... ?
Habibah Habibah
bagus karyanya ,ceritanya mudah dipahami
Martha Bani Pertiwi
cinta tumbuh karena saling membutuhkan.
Siti Sofiah
suka ceritnyà..happy ending
Rismawati Damhoeri
mau sehat, mau sakit umur itu tak bisa di perpanjang, kalau udah ajal ya mati aja. walaupun sehat
wkwkwkwkw jalu
suka ceritanya
wkwkwkwkw jalu
ceritanya bagus...sayang gk ada bonchap nya...
wkwkwkwkw jalu
sebenarnya kasihan rosalie...dia sakit..tapi dengan cara memasukkan perempuan lain ke rumahnya...sama saja dengan menggali sakitnya lebih parah
wkwkwkwkw jalu
baru baca...sukkaa
Healer
dlm novel tiada yg salah baik rose/Ben/ana...cuma rose nmpk jahat sikit tapi cuba la fahami watak rose itu sendiri......intinya jujur dgn pasangan dan keluarga itu penting dan sbg peringatan utk diri sendiri dan kaum wanita jgn membawa wanita lain ke rumah tangga mu jika tidak mau stress dan mkn hati berulam jantung kerana hati manusia bole berbagi terutamanya lelaki
Healer
kasihan jg ya si rose terlalu berat ujian nya
Nani Krisnawati
mungkin ana hamil
Rika
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!