Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mr Charming
Mencari Daddy Bag. 12
Oleh Sept
Rate 18 +
Tidak punya tempat untuk ditinggali, sepeser uang pun Kanina tidak punya. Lalu apa ia harus hidup terlunta-lunta di jalanan? Sedangkan kini ia sedang berbadan dua. Keluar dari rumah sakit, Kanina memutuskan menerima tawaran dari pria yang sepertinya tulus membantu dirinya itu. Karena ia memang tidak memiliki tujuan sama sekali.
***
Sebuah rumah dengan tiga kamar, bau cat masih menyengat, halaman berukuran sedang, setidaknya muat untuk parkir dua mobil. Lumayan sih, tapi pagar masih belum terpasang. Sepertinya rumah itu masih dalam tahap renovasi.
"Adem kan di sini?"
Terdengar suara Gara saat keluar dari rumah itu. Ia berjalan ke teras dengan membawa secangkir teh hangat untuk Kanina. Rumah itu memang sangat asri. Karena dikelilingi beberapa pohon mangga, dan di lahan paling sudut ada pohon klengkeng juga yang sedang berbunga. Benar-benar rumah yang teduh dan sangat asri.
"Minum ini, lumayan untuk menghangatkan tubuhmu," sambung Gara sambil duduk di sebelah Kanina. Ia terlihat menikmati suasana yang tenang dan damai di sana. Masih sepi, karena sebagian rumah di sekitar sana masih dalam pengerjaan. Belum terlalu banyak yang dihuni.
Rencana awalnya, ini adalah rumah untuk ia tinggalin bersama sang istri kelak. Malah sempat mau dirobak besar-besar sesuai permintaan bu Sadewo, ibunda Gara. Mau dibuat lantai tiga. Tapi, Gara belom terlalu mengurusinya. Sibuk dengan banyak proyek. Menikah saja ia sampai lupa.
"Terima kasih," suara Kanina yang pelan memecah sunyi yang sempat tercipta di antara mereka.
Kanina masih menundukkan wajahnya. Bagaimana pun juga ia masih merasa kurang nyaman berhadapan dengan orang asing. Mungkin juga rasa trauma masih mengerogoti hati gadis tersebut.
***
Di kota yang sama
Alung sudah sudah memakai setelah jas rapi, kemeja biru muda dan dasi navi.
"Nah ... kalau begini kan kamu cakep, Lung!" celetuk Mei.
"Ish!" Alung langsung memasang muka masam. Mana mau dia diboyong ke sana-ke mari untuk acara formal seperti ini. Katanya cuma bansos. Ternyata, sang kakak mengajak Alung menemui beberapa klien untuk membicarakan masalah kerja sama.
Ini semua karena Meichan sayang pada adiknya, ia ingin Alung jadi orang. Bukan main terus kerjanya, makanya sekarang ia agak sedikit keras. Ia punya kewajiban menekan adiknya tersebut. Sebab, sang mama dan papa sudah angkat tangan.
Alung berontak pada keduanya. Kalau Meichan, ia lebih seperti teman. Bagaimana pun caranya, ia membujuk adiknya itu. Kasih pengertian dan sedikit ancaman. Beda kalau dengan kedua orang tuanya. Alung kalau sudah debat, langsung perang pakai otot.
Meichan tidak mau cara seperti itu, ia lebih mendekati Alung dari hati ke hati. Meskipun ujung-ujungnya pasti maksa. Tapi adiknya itu kalau Mei sudah gentol, ia akhirnya menyerah. Seperti sekarang, Alung merasa sudah dijebak oleh kakaknya.
Sejak tadi Alung nampak tidak bersemangat ketika melihat seorang wanita berpakain sopan dan rapi membacakan presentasi.
Pria yang belum dewasa sepenuhnya itu malah asik main game di saat meeting berlangsung. Alung sibuk main game on-line. Dan Meichan tahu akan hal itu. Dengan gemas, Mei menginjak sepatu adiknya.
"Aduh!"
Semua mata langsung menatap Alung dengan tatapan penuh tanya.
"Ah ... maaf, silahkan diteruskan," ucap Alung sambil menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian
"Kamu ini! Emang ya!"
"Hemmm!"
Seolah tidak peduli bahwa sang kakak sedang kesal padanya, Alung malah main ponsel lagi.
"Mau sampai kapan kamu begini?"
"Apa sih, Mbak!" Alung tidak terima karena Mei merebut ponselnya dengan paksa.
"Kamu mau nyusahin kita semua sampai kapan? Kamu gak kasihan sama Mbak? Sana mama papa?" sentak Meichan yang sudah tidak tahan lagi melihat betapa tidakdewasaanya sang adik.
"Kasihan? Mbak sudah memiliki segalanya? Apanya yang butuh dikasihani?" sindir Alung dengan sinis.
"Bagaimana kalau Mbak pergi? Apa kamu tetap seperti ini?" tanya Meichan dengan lirih dan wajahnya berubah sendu.
***
Rumah Gara
Semalam Kanina dapat tidur dengan nyenyak, rumahnya ternyata sangat nyaman. Ia tidur sendirian di sana. Sedangkan Gara, pria itu pulang saat sudah jam tujuh malam. Meninggalkan Kanina seorang diri di rumah itu.
Ting tung
"Siapa itu?" batin Kanina saat selesai mandi. Ia mengintip, ternyata pria pemilik rumah.
Ceklek
"Pagi ...!"
"Pagi." Kanina menundukkan wajah.
"Ayo ikut dengan saya."
"Maaf, mau ke mana, Mas?"
Kanina terlihat ragu.
"Ke mall, cari baju ... dan apapun kebutuhan kamu." Gara melihat Kanina yang tidak punya pakaian ganti, dan memakai sendal sepit yang ada di rumah itu. Yang biasanya ia pakai di kamar mandi.
"Tidak ... terima kasih."
"Anggap saja saya abang kamu, ayo ... lagian kamu butuh pakaian ganti."
Kanina nampak ragu. Namun, Gara langsung berbalik dan membuka pintu mobil. Mau tidak mau, Kanina pun mengikuti pria tersebut.
Di dalam mobil, mungkin AC nya terlalu dingin, atau karena Kanina yang masih kurang sehat, dengan perhatian Gara melepas jaket kulit yang semula ia kenakan.
"Pakai ini!"
Gara mengulurkan jaket miliknya.
"Tidak, terima kasih."
"Pakai saja!"
Chitttt
Gara menginjak pedal rem, dan berhenti di pingir jalan.
"Biar tidak dingin!"
Dengan terpaksa, Kanina menerima jaket pemberian Gara. Jaket yang perlahan mulai menghangatkan tubuhmu ... bagaimana dengan hatinya? Apa juga ikut menghangat? Bersambung.