NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Romansa / Dokter / Tamat
Popularitas:297.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mey Meyra

Khanza, gadis yatim piatu yang tinggal hanya bersama neneknya. Suatu hari, Arum, bibinya memaksa Khanza menikah dengan Surya. Anak orang kaya, namun tak beradab.

sontak nek Sumi yang mendengar itu langsung menolak keinginan putrinya.
karena nek Sumi membela cucunya, hingga terjadilah persitegangan di antara mereka yang membuat nek Sumi harus masuk rumah sakit.

dan di sanalah nek Sumi bertemu Idris, seorang dokter muda yang baik hati. kagum dengan sang dokter, membuat nenek memintanya menikahi Khanza cucunya.

bersediakah dokter Idris menikahi Khanza. dan bagaimanakah perasaan Khanza ketika sang Nene memintanya menikah di usianya yang masih muda, dan dengan orang yang baru ia kenal.

serta apa alasan sang nenek meminta Khanza menikah secepat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey Meyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mari jalani

Aku lelah dengan perasaan ku dok!, aku takut jika semakin lama hidup dengannya aku akan semakin jatuh cinta, sedang dokter ... tidak.

Aku cukup sadar diri, jika diri ini tak layak membersamainya. Ia lelaki sempurna. Sedang aku ... Hanya anak yatim piatu, dan bahkan sekarang harus menjadi sebatang kara, karena Nenek yang selama ini merawatkupun harus pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Aku takut ia terpaksa menjalani ini, dan ia hidup tanpa ada rasa cinta untukku. Sedang di sini, aku dan perasaanku telah menggebu luar biasa.

"Tentang pesan Nenek ... Tidak apa kok, dok, saya yakin Nenek di sana pasti juga mengerti.". dengan tertunduk Za berbicara lagi.

Idris letakkan kopi ke atas meja. Lalu ia tersenyum hambar.

Ia lupa jika wanita di hadapannya kini masih sosok remaja, mungkin baginya memegang amanah seperti memegang air, tak dapat di genggam. walau jelas berbekas setelahnya, namun bekas itu akan hilang dengan sendirinya. mungkin seperti itu fikirnya.

Namun, bagiku, amanah adalah amanah. sesuatu yang harus benar-benar ku jaga dan ku laksanakan, dan tidak untuk di permainkan. Atau jangan-jangan dia ....

"Kamu punnya pacar?" Idris bertannya, seraya menghadapkan wajahnya pada Za.

sedikit terkejut dengan pertanyaan Idris, Za angkat kepalannya dan memberanikan diri menatap Idris.

"Tida dok!" seraya menggelengkan kepalanya.

"Punya temen?, ya, temen deket gituh?"

Za menggeleng.

"Kamu ... Tidak nyaman dengan saya?"

Segera Za menggeleng lagi.

"Tentu tidak dok!, malah saya yang takut membuat dokter tidak nyaman, dan terbebani dengan tanggung jawab dokter atas saya.!"

"Terus, kenapa ingin di lepas?, dan kalau kamu hidup seorang diri, emang kamu akan aman?. Za, ingat! kamu lulus sekolah aja belum genap setahun, gak punya temen deket, nanti siapa coba yang jagain kamu"

"Za, pasti bisa jaga diri, kok, dok. Dan nanti Za juga bisa cari kerja ...." belum selesai Za mengatakan kalimat nya, Idris langsung memotong ucapannya dengan sedikit kesal.

"Kamu pikir cari kerja itu mudah!. Nggak, Za!, dunia luar itu keras!."

"Tapi saya merasa menjadi beban buat dokter, dokter juga pasti punya rencana hidup sendirikan?, saya nggak enak sama dokter!." sambung Za.

Nggak enak dok!, emang gak enak!, memendam perasaan di saat orang yang kita cinta ada dan jadi milik kita, namun ia dingin seolah tak ada rasa. Yah, aku masih remaja dok, dan baru mengenal cinta saat bertemu dengan mu, saat kau begitu perhatian, jujur aku terlena, hingga tanpa ku sadari rasa itu tumbuh dengan sendirinya, secepat itu, sedang ku lihat diri ini. Begitu tak layak denganmu. Dok!, aku harus bagaimana?.

"Za! dengarkan saya!. Sejak pertama kali saya menerima tawaran Nenek, sejak saat itu saya menyerahkan takdir saya pada Allah. Dan ketika saya sudah memutuskan sesuatu, saya tidak akan bermain-main menjalankannya." Idris menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Jadi tolong! jangan berfikir yang tidak-tidak. Kita jalani pernikahan ini, aku tidak ada sedikitpun niatan untuk melepasmu." ucapnnya lagi.

"Dan maaf jika akhir-akhir ini aku sering pulang larut, karena memang aku sibuk Za, bukan karena ingin menghindar dari hubungan kita."

Idris menatap Za dan menggenggam tangannya.

"Za, maukah kamu menjalani pernikahan ini dengan ku?."

Za mengangkat wajahnya, ia tatap wajah suaminya, ada bulir bening yang mengalir di pipi Za. sesak, dadanya semakin sesak, hingga ia tak dapat lagi membendung haru. Za menangis hingga bahunya terguncang.

Idris peluk Za, dan berusaha menenangkan istrinya itu, namun, semakin erat Idris memeluknya, Za semakin sesegukan.

Tentu Za tak menyangka jika Idris akan bicara seperti itu. Menjalani. Benarkah itu, dan apakah rasa itu akan hadir juga di hati suaminya.

****

Idris tidak mungkin meninggalkan Za, bukan hanya karena amanah sang Nenek, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Za terlantar hidup sebatang kara.

Teringat kejadian di waktu tahlilan Nek Sumi, di sela-sela tahlilan yang sedang berlangsung, tanpa sengaja Idris melihat Bi Arum meminta sesuatu pada Za dengan cara memaksa.

Flashback

"Di mana Za?" tanya Bi Arum pada Za.

Sedang mereka berada di dalam kamar Za, sementara orang-orang yang ikut tahlil berada di luar, di teras rumah Za.

"Apa Bi?" Za tak paham dengan pertanyaan Bi Arum.

"Sertifikat!, di mana kamu taro sertifikat rumah ini?" Za mengernyitkan alis masih tak faham dengan ucapan bibinya. Sertifikat, untuk apa Bi Arum menanyakan sertifikat rumah ini. batin Za.

"Cepat jawab Za!!" suaranya naik beberapa oktaf.

Tak sabar menunggu jawaban Za, Bi Arum menggeledah lemari Za. Tak ia temukan di sana, ia beralih ke kamar Nek Sumi, sedang Za mengekori sang bibi sambil berusaha menenangkannya.

"Di mana Za!, kamu taro di mana, hah!"

"Za, tidak tahu soal sertifikat itu Bi"

"Jangan bohong kamu!"

"Demi Allah,Bi!, Za tidak tahu, Nenek tidak pernah menitipkannya pada Za!"

"Memang untuk apa sertifikat itu Bi" Za memberanikan diri untuk bertanya.

"Perusahaan mengalami kerugian, dan bibi butuh sertifikat itu untuk menutupi kerugian perusahaan" ucap Bi Arum tanpa ada yang ia tutup-tutupi.

"Bi Arum, mau menjual rumah ini!" tebak Za.

"Ya." Jawab Bi Arum, santai.

Za terkejut, dengan pengakuan Bibinya itu. Ia memohon pada sang Bibi untuk tidak menjual rumah ini, karena bagi Za rumah ini sangat bersejarah.

"Za mohon Bi!, jangan jual rumah ini!. Rumah ini satu-satunya kenangan Za dengan Nenek, dengan ayah dan ibu Za."

"Posisi kamu hanya cucu di sini, sedang saya adalah anak dari Nenek kamu, jadi, saya lebih berhak atas rumah ini!. Lagian kamu juga sudah punya suami, cari saja tempat tinggal dengan suami mu itu." ucap Bi Arum dengan penuh penekanan.

"Ini juga karena kamu yang gak mau nikah sama Surya, malah nikah sama orang yang gak jelas, pekerjaannya juga gak jelas lagi!" sampai saat ini Bi Arum belum tau jika Idris adalah seorang dokter.

Dan pantas saja bi Arum sangat ingin menjodohkanku dengan Surya, ternyata Bi Arum memiliki rencana lain.

"Katakan Za!, kamu sembunyikan di mana sertifikasi itu?"

"Demi Allah, Bi, Za tidak tahu" Za berucap dengan sangat yakin.

"Awas kalau kamu bohong!" ancam Bi Arum, lalu ia pergi meninggalkan Za.

Tanapa mereka sadari jika sedari tadi perbincangan mereka di dengar oleh Idris. Idris menghela nafas menatap Za yang sedang terduduk di ujung ranjang dengan wajah berurai air mata. Ingin rasanya Idris menghampiri, memeluknya dan menenangkan Za dalam pelukannya. Namun, kakinya tertahan, ia berfikir jika ia belum saatnya ikut campur masalah keluarga Za, Za juga belum bercerita apa-apa tentang keluarganya.

****

Mengingat kejadian itu, Idris jadi mengerti, kenapa Nek Sumi ingin segera menikahkan nya dengan Za. Ia ingin menitipkan Za padaku, ia mempercayai ku, dan aku bukan lelaki pengecut yang lari dari amanah.

Insyaallah, Nek, aku akan menjaga Za, dan berusaha mencintainya dengan segenap jiwa ragaku. Aku ... Idris Al Kaf, dan ini janjiku Nek.

bersambung.....

1
𝚉𝚊𝚑𝚛𝚊...
kok ngak ada sih kak novel dg judul " Dokter Sam"?
Linda Liddia
Kok ada ya ortu kayak gini..Egois bgt..Ortu selalu berdoa utk kelanggengan rmh tangga anak2nya lah ini mau anaknya cere sm istrinya..Hei nyonya gak ada manusia yg sempurna di dunia termasuk anda sendiri
Omah Tien
bodoh bukan di dengarin jawab aja
Omah Tien
felem gratisan meding nover g lihat kasar atau apa lah muka jg sekarang jelek2.g kaya dl
Omah Tien
bigung cerita nya punya rumah orang tua semua mau di kuasin kan aneh bego g tegas kenapa prerusaan g di aambil dasar bego sih bukan cari siapa tau ada wasiat goblok
Omah Tien
buka kaya jg belagu mama nya
Akhi Jemmy
aq dulu kuret, usia kandungan ku masih 8 minggu,
Nurjana Bakir
mantap
Ratna Fatmawati
namanya juga laki laki
Rea
nenek tulisannya, jgn nene biar enak bacanya
Khairunnisa Hassan
mengalah lah Bu Maryam saya pernah mengalaminya nyata sampai sekarang kalau baik ada maunya saja
Khairunnisa Hassan
mantap rencananya dr idris
arfan
jos
Suryamah
bagus
Susantiafria 0304
cantik end ganteng
Oktavia
katanya pergi tapi msh ddekat…. hahahahhah
Oktavia
ternyata cuma sebatas rasa bersalah, benar kan seh cinta salam salma. salma juga kabur tpi kembali lgi dgn salim. itu dia munakfik
Oktavia
baik ya ibu ini, tdk seperti salma dan salim… munafik
Oktavia
munafik, tapi tetap aja jd istrinya pak salim… dgn alasan anak pasti sekarng.
Oktavia
nah kan katanya cinta sama istrinya… tapi apa ? bisa luluh juga kan
Vega Viilia: iye.. benci q
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!