Dara anak seorang pembantu di jodohkan dengan seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan karena sebuah rahasia yang tertulis dalam surat dari surga.
Dara telah memilih, menerima pernikahannya dengan Windu, menangkup sejumput cinta tanpa berharap balasannya.
Mampukah Dara bertahan dalam pernikahannya yang seperti neraka?
Rahasia apa yang ada di balik pernikahan ini?
Mampukah Dara bertahan dalam kesabaran?
Bisakah Windu belajar mencintai istrinya dengan benar? Benarkah ada pelangi setelah hujan?
Ikuti kisah ini, dalam novel " Di Antara Dua Hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 SEDIKIT BERSABAR
Dua minggu setelah peristiwa malam di mana Windu meminta persetujuan untuk menikah lagi, Dara tak pernah mau berbicara dengan Laki-laki yang di anggapnya tidak berperasaan itu.
Setiap kali Windu mencari kesempatan untuk berbicara, Dara selalu menghindar dengan terang-terangan.
Semua hal yang biasa dikerjakan Dara yang berhubungan dengan Windu, termasuk mengurus semua kebutuhannya di serahkan oleh Dara kepada Fitri, seorang asisten rumah tangga di rumah itu. Dara telah mengajari keponakan mbak Parmi itu dari mengurus pakaian sampai membersihkan kamar Windu secara berkala.
Dara sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan menginjakkan kakinya lagi di dalam kamar di mana Windu telah menuduhnya menjebaknya itu.
"Aku harus mempersiapkan seseorang yang memang bisa mengurus Windu dengan baik, saat aku tak ada lagi. Setidaknya dengan begitu aku tidak merasa bersalah kepada nyonya besar, yang telah mempercayakan aku menjaga Windu."
Begitu polosnya fikiran Dara, meskipun dia berkeputusan segera bercerai dalam waktu tiga bulan, dia tetap mencemaskan semua hal tentang laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu.
Di meja makan adalah pertemuan yang paling tak bisa di elakkan, karena Dara harus bertemu dengan mertuanya tuan besar Danuar, dan kadang-kadang Windu juga ada di sana, entah saat breaksfast maupun makan malam.
Dara bersikap normal meskipun tak banyak bicara, senyum manisnya selalu menghiasi bibirnya, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu dengannya.
Windu kadang tercengang dengan sikap Dara yang sungguh bertolak belakang pada saat yang berbeda. Tapi Dara sedikitpun tak pernah mau berbicara jika berada pada kesempatan hanya berdua dengan Windu.
Dara benar-benar berubah total, dia tak lagi Dara yang polos yang dulu di kenal Windu.
"Dara, kita harus bicara."
Akhirnya Windu tak tahan lagi dengan sikap Dara.
Saat Dara sedang berada di dapur, tampak sedang sibuk mengadon sesuatu.
Ya, Dara sekarang lebih banyak menyibukkan diri di dapur, membuat makanan atau sesuatu, sekedar untuk menghilangkan jenuhnya. Menyelesaikan waktu tiga bulan pernikahan, sekedar memenuhi janji untuk menunggu layu bunga di pusara mertuanya yang baik itu.
"Kalian keluarlah!" Windu mengusir seorang koki dapur dan seorang pelayan yang bersama Dara di dalam dapur besar milik keluarga Danuar.
Dengan agak takut dan bingung, koki dan pelayan itu keluar. Pintu penghubung ke ruangan lain semua di tutup Windu.
"Apa yang bisa ku bantu, tuan muda?" Tanya Dara dengan raut tanpa ekspresi, tangannya berlepotan dengan tepung, dia sedang memipihkan adonan tepung menggunakan pin rolling.
"Jangan bersikap seperti ini! Kamu sepertinya sedang mempermainkan aku." Windu mendengus kesal. Dia benar-benar sudah tak tahan dengan sikap Dara.
Ketika bertemu di meja makan tadi pagi dia begitu manis,
"Kak Win, rotinya di oleskan selai apa?" Senyum maha manis bertengger di bibir Dara, menawarkan roti padanya di depan papa Windu, seolah mereka adalah sepasang suami istri yang normal-normal saja.
Dan saat bertemu tadi siang, dia pulang dari kantor, Dara bertemu dengannya di depan ruang keluarga, dengan muka seolah tak melihat kedatangan Windu, perempuan itu membuang muka dan berjalan dengan acuh tanpa bicara.
"Aku tidak sedang mempermainkan siapa-siapa." Jawaban Dara yang santai itu membuyarkan semua momen sikap Dara akhir-akhir ini yang berlompatan di kepala Windu.
"Tapi, kamu membuatku seperti orang bodoh!" Hardik Windu, dia mendekati Dara yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari adonan di depannya.
"Kapan?"
"Jangan bersikap seolah-olah kamu tidak tahu apa-apa! Apa maksud semua tingkahmu akhir-akhir ini?" Windu mengepalkan tangannya menahan jengkel melihat sikap Dara.
"Aku bertingkah laku baik, bukan? Apa ada yang salah? bagian mana yang kurang baik dari sikapku tuan muda?" Dara tetap di posisinya menggerakkan rolling spinnya maju mundur menggilas adonannya.
"Hentikan ini! Dan lihat aku!" Windu mencengkeram pergelangan tangan Dara dengan muka merah.
Dara secara reflek menghentikan pekerjaannya. Kepalanya perlahan terangkat, dahinya yang sedikit ternoda tepung tampak berkilat, rambutnya yang pendek itu di ikat seadanya, membuat beberapa anak rambut bertebaran di sana.
Gadis sederhana ini terlihat begitu alami dan cantik dalam rupa seadanya itu.
"Aku melihatmu untuk apa?"Tantang Dara, mata bulatnya tak berkedip menatap Windu.
"Kamu bersikap seolah-olah aku barang mainanmu." Windu menggeram.
"Aku tidak sedang mempermainkanmu, tuan!"
Dara menepis cengkeraman Windu, tapi Windu menggenggamnya dengan kuat.
"Lalu apa?" Windu mendekatkan wajahnya pada wajah Dara, seakan ingin menunjukkan dia sedang marah.
Dara tidak seincipun memundurkan wajahnya, sehingga jarak wajah mereka tak lebih hanya dua jengkal, bahkan hembusan nafas Windu dan Dara seolah bersahutan, dengan degup jantung yang tak kalah cepat dan beraturan.
"Aku sedang bekerjasama denganmu." Desis Dara dengan suara dingin.
"Bekerjasama?" Windu memicingkan matanya, masih dengan raut yang tidak suka.
"Ya, bekerjasama untuk memuluskan perceraian kita, supaya kamu dapat segera menikahi kekasihmu itu!" Dara menjawab, lalu dengan sengaja melepaskan pin rolling dari genggamannya, jatuh menimpa buku kaki Windu.
Dengan otomatis Windu melepaskan cengkeramannya, meringis kesakitan ditimpa kayu yang cukup berat itu. Sumpah serapah keluar dari bibirnya sambil menjauh dari Dara, yang tak bergeming di tempatnya berdiri. Seulas senyum tipis tergurat di sudut bibir Dara.
"Sakit hatiku, jauh melebihi sakit kakimu yang ditimpa kayu itu." Bathinnya dengan puas melihat wajah yang masih saja meringis itu.
"Jangan menggangguku, untuk pertanyaan-pertanyaan yang lain tuan muda..."
"Tuan muda-tuan muda! hentikan kalimat sarkasmu itu, membuat kupingku gerah mendengarnya!" Bentak Windu.
"Aku harus memanggilmu apa? Suamiku? aku sebentar lagi bukan istrimu, jadi panggilan itu tidak pantas bukan? Atau ku panggil sayangku? Nanti kamu akan marah sampai ke ubun-ubun jika memanggilmu demikian! Atau memanggilmu Kak Windu? bukankah kita tidak selevel dalam segala hal? Memanggilmu seperti itu hanya bisa kulakukan terpaksa di depan ayahmu, karena jika tidak, akan ada masalah untukmu jika aku tiba-tiba berubah drastis di depannya. Bukankah begitu, tuan muda?" Dara menyelesaikan kalimat panjang yang dingin dan tenang itu seperti dia sedang tak merasakan bersalah apa-apa pada Windu.
Windu sekarang tercengang menatap ke arah Dara, begitu banyak gadis ini berubah hanya dalam hitungan tak sampai sebulan.
Apa yang telah dilakukannya, tak disadarinya telah membuat gadis lugu dan polos itu menjelma menjadi seorang perempuan yang acuh dan dingin bahkan tak merasa takut lagi padanya.
"Bersabarlah sebentar lagi, aku sedang belajar membuat draft untuk perceraian kita. Karena aku bodoh dan tidak berpendidikan tinggi seperti tuan muda, aku harus melakukannya dengan pelan-pelan." Dara melepaskan celemek yang membalut dadanya, menyeka anak rambut yang jatuh di dahinya dan menepuk-nepuk tepung kering dari tangannya.
"Aku berharap, kekasih tuan muda bisa mengerti, menjadi sabar sedikit tak ada salahnya..." Ucapnya sebelum kemudian berlalu menuju pintu, meninggalkan Windu yang kehilangan kata-katanya.
(Akhirnya, bisa double Up hari ini untuk meluluskan permintaan readers kesayangan😂
Jangan lupa vote, like dan komen, yaaa🙏😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
Terimakasih
Rangkaian katanya indah tapi mudah dimengerti.
Karakternya tokoh2nya kuat,
Alurnya jelas, jadi tidak melewatkan 1 kalimatpun,
Sekali lagi Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
author pandai merangkai kata.
tapi tak pandai memilih visual windu, ga cocok tor sama dara haha maap ya tor 🙏