Penyakit kanker yang diderita, membuat Kiara memaksa suaminya, Tama, untuk berpoligami. Dia rela melakukan itu agar suaminya bisa memiliki keturunan.
"Aku menikah denganmu tidak semata karena aku ingin memiliki keturunan. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Jadi, jangan paksa aku untuk menikah lagi!" tukas Tama saat Kiara memintanya untuk berpoligami.
"Jangan membuatku merasa bersalah dengan kekurangan yang aku miliki! Jika kamu mencintaiku, maka menikahlah!" ~ Kiara.
Bagaimana nasib rumah tangga Tama dan Kiara selanjutnya? Yuk, ikuti kisah mereka dalam ISTRI UNTUK SUAMIKU.
Jangan lupa, rate bintang 5, like, komen dab votenya ya. Salam sayang dari otor ter KETCE.
Follow akun author ya🤗
Ig: Samudra_Lee_19
fb: Samudra Lee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#IUS Bab 12
Akhirnya Kiara memilih pengobatan dengan Radical trachelectomy, karena dengan melakukan prosedur itu, ada kungkinan dia bisa memiliki anak dikemudian hari.
"Baiklah, minggu depan kita akan melakukan itu. Jadi, jaga kondisi kesehatanmu. Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Pikirkan saja hal yang membuatmu semangat untuk melakukan itu!" Louis memperingati Kiara.
"Kau dengar itu, jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi!" Tama ikut mengulang peringatan yang diberikan oleh Dokter Louis.
"Iya, aku tahu." Kiara menjawab dengan berpura-pura memasang wajah kesalnya.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan hal-hal ringan. Dan setelah hampir satu jam mereka mengobrol, akhirnya Tama berpamitan kepada Dokter Louis untuk membawa istrinya ke kamar.
"Lou, terima kasih atas penjabaran yang kamu berikan. Aku harus membawa istriku kembali ke ruang rawatnya. Permisi, Lou!"
Tama mendorong kursi roda yang di duduki oleh Kiara keluar dari ruangan dokter Louis. Dia ingin membawa istrinya itu kembali ke ruang rawatnya. Namun, sebelum sampai di ruang rawatnya, tiba-tiba Kiara menginterupsi langkah suaminya.
"Stop, Mas!"
"Ada apa, sayang?" tanya Tama.
"Aku ingin berjalan-jalan ke taman yang ada di depan rumah sakit. Kamu maukan mengantarku ke sana?"
"Tapi, sayang, bukankah kamu harus beristirahat?"
"Mas, aku bosan di kamar terus. Aku ingin melihat suasana luar sebentar!" pinta Kiara dengan raut wajah penub harap.
Tama menghela napas panjangnya. Dia tahu, istrinya juga membutuhkan sedikit hiburan untuk menghilangkan perasaan jenuh yang mulai menghinggapinya. "Baiklah, kita ke taman sebentar."
"Terima kasih ya, Mas," ucap Kiara yang kemudian tersenyum.
Cukup lama Tama menemani Kiara di taman. Tama begitu bahagia karena melihat senyum yang sempat hilang dari bibir istrinya itu kembali lagi. Sejak mengetahui dirinya terkena kanker, Kiara jarang tersenyum. Bahkan saat bersama dengan Tama pun, hal yang dia bicarakan selalu topik yang sama. Yaitu topik tentang poligami dan anak.
Tama sedikit heran melihat raut wajah istrinya itu berubah tiba-tiba.
"Kia, ada apa?" tanya Tama kepada sang istri. Dia ikut melihat sesuatu yang sedang menjadi pusat perhatian istrinya saat ini. Di seberang taman, tampak sepasang suami istri yang usianya tidak terlalu tua sedang berjalan dengan dua anak mereka yang masih remaja. Sesekali sang sitri memarahi anak laki-lakinya yang menggoda kakak perempuannya.
"Apa kamu merindukan Ayah, Bunda dan Arya?" tanya Tama.
"Bohong, jika aku mengatakan tidak. Aku sangat merindukan mereka. Tapi, aku tidak ingin mereka mengetahui kondisiku saat ini. Aku tidak ingin melihat mereka bersedih," jawab Kiara dengan mata yang masih memperhatikan keluarga bahagia yang ada di depannya.
"Sepertinya aku harus menghubungi mereka. Mungkin itu bisa membuat Kiara lebih bersemangat lagi," batin Tama.
"Jangan berpikir untuk menghubungi keluarga kita, karena jika kamu lakukan itu, aku akan kabur dari sini!" ancam Kiara yang seolah tahu dengan sesuatu yang sedang direncakan oleh suaminya.
"Kia, tapi ...."
"Kita akan menemui keluarga kita saat aku sembuh. Oke." Kiara menyela perkataan Tama sebelum, dia menyelesaikan perkataannya.
"Baiklah, jika itu maumu."
"Ayo, kita kembali ke kamar! Aku sudah sedikit lelah!" ajak Kiara.
Tama pun segera mendorong kursi roda yang di duduki istrinya itu untuk kembali ke ruang rawatnya.
Saat sedang berada di koridor rumah sakit. Tama melihat penjual asongan yang semalam sempat mengobrol dengannya di taman sedang berbincang dengan seorang perawat di depan tangga darurat. Tampaknya mereka adalah sepasang kekasih. Namun, Tama memilih mengabaikan mereka karena menurutnya itu bukan urusannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Kiara saat suaminya tiba-tiba berhenti mendorong kursi rodanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Tama sambil kembali mendorong kursi roda tersebut.
tapi karena sudah berbau poligami, yang baca jadinya sedikit deh..
btw, tetap semangat ya kakak.. 💪🏻
walaupun harus sad ending dan aku tidak suka itu, tapi aku tetap menghargai semua jerih payahmu untuk menghasilkan karya ini kak..
semoga sehat selalu ya kak.. 😘🥰
ooo ternyata Roni dijebak dan berakhir di hotel PK polisi....
jadi gregetan pengen tonjok wajahnya
bukannya terima kasihh, malah mau nikung.
begitupun Tama