Apa jadinya ketika sebuah pernikahan terjadi hanya karena sebuah keterpaksaan semata?
Rumah tangga yang akan mereka jalani secuilpun tak ada cinta, bahkan sebuah kebencian yang lebih dulu hadir di antaranya.
Andini gadis lugu yang belum pernah sekalipun berpacaran. Arsena pria angkuh sekaligus menyebalkan, ia telah lama menjalin hubungan dengan seorang wanita yang selalu sempurna di matanya.
Namun papa tak menginginkan putranya menikah dengan wanita pilihannya, ia malah menjodohkan dengan seorang gadis sederhana yang telah di tolongnya pada suatu hari.
Mungkinkah rumah tangga semacam itu akan berujung bahagia? Ataukah malah berakhir dengan perpisahan.
Yuk ikuti ceritanya guys !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12. Tidur berteman tikus.
"Ars, kamu sudah pulang?" Andini gelagapan, ia segera berdiri, walau kepalanya terasa pusing. Gara-gara suara yang tiba tiba datang seperti guntur tadi.
" Kamu ngapain disini ... !" Tanya Arsena yang baru datang dari luar ia kaget ada tubuh wanita l terlentang di pulau empuknya.
"Emm ... Bukannya Ini kamar aku?" Jawab Andini gelagapan.
"Apa!? Siapa suruh?!" Arsena mulai berang, seketika matanya membulat.
"Papa,"jawab Andini enteng.
"Apa? Papa yang nyuruh kita sekamar?"
"Aku nggak sudi sekamar dengan gadis kampungan sepertimu, keluar sana." Arsena mengusir Andini dari kamarnya. Sambil mendorong tubuh Andini agar melewati pintu, dan ia ingin cepat cepat menutupnya.
"Ta- tapi tadi papa ingin aku menempati kamar ini." Andini mencoba bertahan.
"Apa?" Arsena semakin sinis. Tatapannya semakin tajam membuat Andini mengatupkan bibirnya rapat. Ia tak ingin dihari pertama pernikahanya sudah membuat suaminya marah.
"Iya, aku nggak bohong, Ars. Aku .... " Suara Andini terputus karena Arsena memotong pembicaraannya.
" Cukup ... ! Mari kutunjukkan kamarmu." Arsena menggenggam lengan Andini dengan kasar. Langkah kaki Arsena yang cepat membuat Andini harus setengah berlari untuk bisa mengejarnya.
Arsena keluar kamar dan terus saja membawa Andini ke kamar paling ujung. Bisa di bilang ruangan paling jelek dan kumuh dari seluruh ruangan yang ada.
"Ini kamarmu!" Arsena membuka kamar pembantu yang sudah lama tak terpakai. Karena sudah lama Bik Um meninggalkan kamar itu dan pindah tidur di kamar yang ada di lantai bawah. Sesungguhnya kamar itu digunakan untuk menyimpan benda yang sudah tak terpakai namun masih mengandung sebuah kenangan.
"Ars, ini ..." Andini melihat kamar yang kasurnya sudah usang dan buku buku berantakan serta kardus di sana sini. Mungkin kamar itu sudah berganti provesi menjadi gudang sejak bertahun yang lalu.
"Kenapa? Keberatan?" Arsena tersenyum penuh kemenangan. "Andini, dengar baik-baik, kamu bukan istriku, kita hanya istri di depan papa, ngerti!"
"Ars, kenapa kamu tega? Kamu telah mempermainkan pernikahan?"
"Pernikahan? menikahi wanita sepertimu?" Arsena memandangi wajah Andini dari atas hingga bawah lalu tertawa. Tawa yang sangat menakutkan membuat Andini bergidik ngeri.
"Andini, kamu melamar menjadi pembantuku saja aku masih harus berfikir, lihat dirimu dan penampilanmu itu!"
Arsena mengulangi memandangi tubuh mungil Andini, Andini yang merasa risih oleh tatapan pria itu, ia merapikan bolero yang di kenakan.
Jika sedang berdiri bersebelahan seperti sekarang ini, tinggi tubuh Andini hanya sepundak Arsena.
Andini menoleh ke arah cermin namun tidak ada yang salah dengan penampilannya, rambut yang di kuncir tinggi, dan wajahnya manis, kulitnya juga bersih, tubuhnya sintal, mungkin Arsena saja yang memiliki penilaian jelek tentang Andini. Walaupun dari kampung, lugu dan polos tapi ia manis sekali.
Ars, kamu bisa menghinaku sesukamu, tapi pantang untuk ku menangis, apalagi di depanmu. Jika semua itu memang benar, maafkan aku, aku melakukan semua karena membantu keinginan papa, orang yang telah bersedia dengan suka rela membantu kesulitan keluargaku. Bathin Andini.
"Terima kasih Ars, penghinaannya." Andini berusaha tersenyum. Sebisa mungkin berusaha tak berkedip agar kristal yang mulai membasahi irisnya tak terjatuh ke pipi.
Andini masuk, ia mulai mencari saklar dan menyalakan lampu yang ada di kamar gelap itu.
Ada beberapa sarang laba-laba menggantung diatas, dan kecoa mondar mandir dari kolong ranjang. Andini mulai menyingkirkan kardus usang yang berada diatas kasur.
Begitu melihat kecoak, Andini segera naik diatas ranjang.
"Huss ... huss ... hus ...." Andini ketakutan.
Arsena tersenyum puas melihat ketakutan Andini.
Saat ini ia sedang sibuk mengusir kecoak yang berlarian mencari rumahnya yang terusik.
Dalam mata pria itu Andini hanyalah wanita yang dapat menjadi penghalang akan cintanya dengan Liliana, selain itu dia hanya wanita miskin yang menghalalkan semua cara, mau menikah dengannya demi uang semata.
****
"Aaars ... Tolong !" Teriak Andini. Ia melihat tikus berlarian setelah memindahkan kardus dan menatanya.
"Tolong ...! Ars ....!" Andini kembali meminta tolong.
"Rasakan kau, siapa suruh bermain main denganku."
Arsena merasa puas mendengar suara ketakutan Andini. Arsena sudah menyangka sebelumnya kalau Andini pasti akan takut dengan tikus dan sejenisnya. Dengan sengaja Arsena mengunci pintu dari luar.
Aaaars ...
"Hewan apalagi ini ... Aku takut. Tolong!!"
Arsena hanya berhenti sejenak untuk memastikan teriakan Andini lagi.
Tak lama Andini sudah tenang, teriakannya sudah berganti dengan hening. Setelah itu Arsena berjalan lagi dengan tawa kemenangan di hatinya.
Hari pertama Arsena sudah sukses membuat Andini menjerit ketakutan.
"Hus ... Hus ... pergi ... pergi ...! Andini mengusir tikus dan kecoa dengan sapu.
Lama kelamaan ketakutan Andini berkurang, hanya geli saja melihat kecoa berlarian, untung saja si tikus berhamburan pergi setelah Andini membuka jendela yang menuju ke halaman belakang tadi.
Andini segera menata benda-benda yang berantakan dan memasukkannya kedalam lemari. Butuh waktu lumayan lama untuk membersihkan ruang itu. Akhirnya dua jam berlalu. Kamar itu kini sudah layak ditempati. Semuanya beres.
Lelah, yang dirasakan Andini, akhirnya tertidur pulas setelah mandi tadi hingga sampai ia lupa makan.
"Krucuk, krucuk," perut Andini berdendang nyaring ketika ia terbangun dari tidurnya sekitar jam 5 sore. Andini ingat terakhir kali ia memasukkan makanan ke perutnya adalah tadi pagi .
Manik mata indah berwarna hitam kecoklatan itu berkeliaran mencari keberadaan makanan ringan atau sejenisnya, namun tak jua ada. Andini Memang menemukan makanan ringan di ruang kerja suaminya, namun ia tak memiliki keberanian untuk masuk ruang pribadi itu tanpa permisi.
Andini turun kelantai bawah, perut keroncongan yang sedang mendera tak bisa terus ia abaikan, ia tak mau sakit di hari pertamanya di mansion suaminya. Selain akan merepotkan, ia juga tak mau kalo mama Rena berprasangka dia wanita pesakitan.
"Masak apa Bi?" Sapa Andini yang baru menyembul dari balik pintu dapur."
"Bikin kaget aja Non" ujar Bik Um menoleh sesaat setelah itu kembali sibuk menumis bawang. " Ini kesukaan Den Sena. Semur jengkol"
"Serius Bi, suka jengkol."
"Iya Non. Non nanti bisa lihat bagaimana jengkol ini akan masuk ke perut Aden"
"Saya bantu Bik," pinta Andini pada Bik Um.
"Emang non bisa masak?" Wajah tak percaya Bik Um mulai terlihat.
"Bisa, Bik. Tenang aja."
"Orang cakep ternyata doyan jengkol juga ya, Bik? ." Gumam Andini yang kini sudah menggantikan Bik Um, sambil tangannya terus mengaduk semur di atas wajan lalu menutupnya.
"Iya Non, sudah sejak kecil. kalau bibi lagi masak jengkol biasanya Den Sena sudah mencium aromanya dulu, dan segera menunggu di meja makan," curhat Bik Um.
Andini mendengarnya hanya tertawa ringan. Sambil terus mengaduk jengkol yang tinggal sebentar lagi sudah siap di hidangkan.
Andini mulai menuang semur ke dalam mangkuk, dan masih banyak menu lagi seperti capcai dan sup iga yang ia siapkan. Dengan cepat ia menyiapkan ke meja makan, serta menata piring.
Bi Um berulang kali tersenyum dengan Andini. Hari ini pekerjaannya terasa ringan karena ada yang membantu.
Setelah semua hidangan siap Rena dan Johan berkumpul di ruang makan, kebetulan hari ini mereka berdua mampir, besok besok Rena akan pergi ke London, dan Johan ke rumah istri mudanya. Andini segera membukakan piring untuk mertuanya dan menaruh nasi di piring mereka berdua.
"Ini nih mantu idaman, pinter masak. Ndin, kamu nggak makan sekalian?" Tanya papa.
"Em, Andini nunggu Mas Sena saja, Pa" jawabnya malu malu sambil menahan perutnya yang lapar.
"Baiklah, kalau begitu papa dan mama makan dulu. Atau kamu bisa panggil suami kamu dan kita makan bersama."
"Baiklah, Pa" Andini segera menuju kamar atas lalu mengetuk kamar Arsena.
Berulang kali Andini mengetuk namun tak mendapatkan jawaban dari dalam. Andini mencoba memutar handle pintu, ternyata tak terkunci.
Andini mendorong pelan hingga tak mengeluarkan bunyi sedikitpun. Ia melihat sosok suaminya berdliri di pinggir jendela kaca sambil mengamati pemandangan luar. Mana mungkin Arsena mendengar ia lagi asyik telepon dengan seseorang.
Arsena berbicara begitu tenang, manis jika dilihat dari samping, sesekali bibirnya tersenyum. Andini menatap hingga diam terpaku. Namun sangat berbeda saat dengannya. Selalu menunjukkan sikap dingin dan cuek.
"Ma-ma-af Ars, jika aku mengganggu, papa memanggil kita makan." ucap Andini sambil berjalan mendekat.
Andini selalu terlihat gugup dan semakin bodoh jika didepan Sena. Padahal sudah berusaha untuk menghilangkan namun realitanya selalu tak sesuai ekpetasi.
"Makan aja sendiri, lagian aku ogah makan bareng sama kamu,"
"Kenapa?" Andini sekali lagi harus pura pura bodoh.
"Tanya kenapa? Kami sudah ganggu kesenanganku tau!! Pergi sana!" sentaknya sambil mengibaskan tangannya.
"Baiklah, maaf mengganggu." Andini keluar dengan wajah cemberut.
Ya Allah, begini amat rasanya menikahi pria tampan. Sikapnya nggak ada manis manisnya.
Akhirnya Andini turun lagi, ternyata papa dan pama sudah selesai makan, dan kini ia sedang berpamitan untuk pergi. Pasti kerumah Mitha seperti katanya tadi siang.
Setelah mereka berdua pergi Andini segera mengambil secentong nasi plus ikan dan membawanya ke belakang. Andini yang kelaparan memilih makan bersama Bi Um di dapur.
"Nona! Jangan makan disini, nanti Tuan akan marah." Ketika melihat Andini tiba tiba duduk saja di sebelahnya.
"Kenapa? apa ada yang salah?"
"Salah Nona,Tuan Johan akan marah jika melihat nona disini."
"Sudah makan saja. Lagian Beliau sudah pergi." Andini terus saja menyuapi bibir mungilnya, rasanya lega hari ini bisa makan. Menunggu Arsena? Si pria kulkas itu pasti kelaparan.
"Bik Um terkekeh," pelan-pelan makannya Non, ni minumnya." Sambil menyodorkan segelas air mineral dan akhirnya mereka berdua makan bersama.
****
Arsena dan Andini melewati malam pertamanya dengan tidur terpisah. Mereka masih sangat asing. Diantara berdua belum ada cinta yang hadir. jangankan perasaan cinta, di hati Arsena justru yang timbul adalah kebencian.
Sebelum tidur Andini menyempatkan telepon ibu Ana. Tiba-tiba rindu pada orang tuanya terasa begitu dalam, padahal ini baru hari pertama tidur di tempat suaminya, bagaimana kalau ini setiap hari.
Andini : "Hallo."
Dara: "Hallo kakak. Andara sekarang berada di luar negeri, Kak?"
Andini: "Apa, benarkah?" Andini kaget. Ia yang semula terlentang kini duduk kembali. Memperjelas pendengarannya.
Dara: "jadi kakak nggak tau? Ibu akan mendapat pengobatan terbaik disini, mertua Kakak yang menginginkan. Tadi malam seseorang menjemput ibu. Dan kita langsung berangkat."
Andini: "Baguslah kalau begitu. Jaga ibuk baik baik ya?"
Andara: "Siap kak, kakak juga, Selamat sudah menjadi pengantinnya tuan tampan. Selamat tidur kakak, mimpi indah ya ...!
Andini: "Iya Dara ..."
Andara: "Kak apakah tuan tampan baik sama kakak?"
Andini: " iya baik."
Usai telepon Dara, Andini segera memulai tidurnya, malam ini, mungkin akan menjadi tidur yang paling nyaman setelah beberapa bulan belakangan ini. Sakit kronis ibu akhirnya mendapatkan pengobatan terbaik.
Andini mematikan lampu utama dan menyalakan night lamp. Kemudian menarik selimut yang terlipat di bawah kakinya, ketika netra belum benar-benar terpejam Andini mengamati ada sebuah kardus bergerak gerak dengan sendirinya.
Andini penasaran, kembali menyalakan lampu dan membuka kardus tersebut, ia membuka dengan pelan sekali. Ternyata isinya tikus yang sedang beranak pinak.
"Aaaars !!!! hiks ...." Andini berteriak ketakutan. Sekencang apapun suaranya tak mungkin didengar oleh pria arogant yang sudah pergi entah kemana sejak tadi.
Kok gak dicerai aj lho istri kyk gitu…
Daripada dengan arsena yg g ada tanggung jawabnya sama sekali
Ayolah din cuekin sedikit aja si sena biar tau rasa dia
Andin d jodokanya
Meskipun km miskin tp kamu punya prinsip, jd lah wanita tangguh….👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Udah tau ibu tiri sableng masih aha d turut, anak kuliahan ko bloon ya