Halsey Diana, itu namaku sebenarnya aku cukup dini untuk menikah karena aku baru saja beranjak usia 17 tahun dan aku juga masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester akhir. Bukan, bukan aku bukan hamil duluan seperti kebanyakan dari pernikahan dini.
Aku menikah dengan seorang pria 15 tahun lebih tua dariku, aku ingatkan kembali aku menikah bukan karena hamil atau jadi simpanan om-om namun ini karena perjodohan orang tuaku.
Tapi, mampuhkan aku bertahan didalam pernikahan dengan pria 32 tahun itu. Aku atau dia yang akan gagal mempertahankan pernikahan ini atau pernikahan ini akan berhasil sampai aku menua dengannya.
Ayo lanjutkan membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safira a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Sudah hampir 2 minggu ini aku sibuk dengan urusan sekolahku yang tiga minggu lagi akan mengadakan ujian kelulusan, begitupun dengan mas irwan yang sibuk dengan projek baru di kantornya.
Bahkan kami sekarang jarang berkomunikasi karena kami hanya bertemu saat malam hari dan paginya mas irwan sudah berangkat pagi sekali. Tidak mengerti lagi aku.
Karena itu aku memutuskan untuk bangun lebih awal yaitu jam tiga pagi aku sudah terbangun. Sebenarnya tidak sengaja juga karena suara ponsel mas irwan yang begitu nyaring sedangkan orangnya masih tertidur mungkin karena lelah ia pulang jam sebelah malam.
Aku mengambil ponsel pria itu di layar utana terdapat tertera nama si penelepon. 'Shalona' aku mengerut keningku untuk apa seorang wanita menelpon sepagi ini ? Aku menatap kearah mas irwan yang masih tertidur pulas. Angkat tidak yah ? Jika tidak di angkat takutnya penting.
Sebelum aku memencet ikon hijan panggilan itu terhenti di gantikan dua pesan. Yang membuatku tak habis pikir sekali.
Pak besok pagi jangan lupa ada meeting penting jam 7 pagi aku tunggu di parkiran yah begitulah isi dari pesan itu aku tak habis pikir dengan orang yang bernama shalona bagaimana, jam segini dia masih terbangun dan mengirim pesan mengingatkan besok meeting di tambah sempat menelpon tidak gila orang itu ?.
Aku bangun dan kekamar mandi untuk menuntaskan urusanku di kamar mandi, saat aku membuka pintu kamar mandi mas irwan sudah terduduk di ujung ranjang dengan tangan memegang ponselnya.
"Kamu membuka ponsel saya ?" Wow tuduhan macam apa saat aku keluar dari kamar mandi, mas irwan menuduhku aku membuka ponselnya bahkan kata sandi ponselnya saja aku tidak tau bagaimana mas irwan menuduhku seperti itu.
"Mas nuduh aku ?" Tanyaku saat sudah duduk di tempat tidurku, pas irwan membalik badannya menghadap kearahku aku tetap dengan kegiatanku yang masuk kembali kedalam selimut aku mau melanjutkan tidur saja tidak jadi berbicara dengan pria itu mood ku terlancur hancur.
"Jawab saya yah atau tidak" mas irwan kembali bersuara dengan dingin dan tatapan tajamnya. Aku malas jika sudah begini jadi aku membalik tubuhku membelakangi dia.
"Halsey ! " panggilnya aku pura-pura tidur, entahlah moodku hancur sekali jadi malas meladeninya. "Aku lelah mas, biarkan aku tidur besok aku banyak kegiatan di sekolah...." aku menjeda sebentar kepikiran juga soal menginap besok di rumah vernatta untuk mengerjakan tugas kelompok mending meminta izin sekarang saja agar sekalian mumpen ketemu dan berbicara.
"Mas aku besok sepulang sekolah mau nginep di rumah vernatta temenku, aku ada tugas kelompok. Mumpun kita sempat berbicara sekarang ketibang aku minta izinnya lewat chat" ucapku, aku tidak menunggu respon dia aku tahu pasti akan dilarang jadi ketibang mendengarkan aku mematikan lampu tidurku dan lampu kamar biar gelap sekalian toh.
"Saya tidak izinkan kamu pergi" sudah aku duga kan, aku menarik nafasku kasar begitupun dengan menghembuskan nafasku sama-sama kasarnya. "Dengar, jika tugas kelompok kenapa tidak di kerjakan saat pulang sekolah saja ? Kenapa harus sampai menginap ?" Nada bicarannya itu loh makin nggak enak aja.
"Menginap saja sana jika berani, saya akan gusur kamu sampai rumah" aku menyimbakan selimutku dan kembali duduk langsung menghadap mas irwan. "Mas tuh maunya apa sih ? Hah, mas pikir tugas kelompok itu ke mauan aku gitu ? Mas pikir tugas kelompok semudah itu ? Yah mudah bagi mas karena mas sudah melewati masa pendidikan tapi, tolong lah mas jangan mempersulit aku" aku tidak mau lagi tinggal di ruangan yang satu atap dengan mas irwan rasanya pengap.
Jadi aku memutuskan bangun dari tempat tidur dan keluar menuju ruang tengah bawah. Rasanya lebih adem aja dibawah.
Aku membaringkan kembali tubuhku di sopa panjang aku menutup mataku dengan tanganku. Dingin juga jam segini mana aku pakai baju pendek masa bodolah.
****
Aku kembali terbangun saat jam sudah menunjukan pukul lima pagi, saat aku akan membangunkan diriku aku melihat mas irwan turun dari tangga. Pria itu sudah sangat rapih, aku penasaran meeting dengan perusahan mana dia jam segitu sudah harus stay. Tampa kata pamit pria itu meninggalkanku begitu saja.
Oh jadi dia sedang mengibarkan bendera perang dingin dengan ku ? Okey, siapa takut.
Aku menyiapkan baju gantiku yang akan aku bawa didalam tas tatorbag dan beberapa kebutuhanku yang lainnya untuk menginap di arpatemen vernatta, aku tidak ingin gulak-balik jadi aku akan membawanya sekalian saja.
Sepanjang di sekolah aku tidak bisa fokus dengan apa yang guru jelaskan, pikiranku terlalu kalut entahlah apa yang menjadi benalu di pikiranku.
"Jadi lu nginep di rumah gw ?" Aku sedikit terkejut ketika vernatta menepuk bahuku dari belakang, saat ini aku dan vernatta di kolindor menuju gerbang. Sebenarnya sedari tadi aku berjalan sendirian karena vernatta sendiri benar-benar sibuk dengan pelajaran dan club-club eskul nya. "Iya aku jadi ingep" jawabku sambil *******-***** tali tas ku.
"Dikasih izin lu sama husband lu ?" Kenapa harus bahas itu di sekolahan sih. "Nanti aja nanyain gituannya, jadi yang ikut kerja kelompok siapa-siapa ?" Aku lupa memberi tahu jika tugas kelompok ini terdiri dari anak-anak kelas lainnya campuran gitu dari kelas 12 IPS 1,2,3,4,5, dan terakhir 6.
"Semuanya ikut dong" aku tiba-tiba menegang pasalnya jika semuanya ikut orang yang sangat aku hindari berada dalam kelompok yang sama, sama aku duh gimana dong.
"Dia ikut ver ?" Aku bertanya ragu-ragu dengan harapan orang itu tidak ikut namun, harapan itu pupus ketika vernatta mengangguk.
*****
Aku bersama vernatta baru saja sampai di arpatemennya, yah vernatta tinggal sendiri di arpatemennya karena ayah dan ibunya memilih tinggal di Prancis ketibang di Indonesia sejak 4 tahun yang lalu. Vernatta pernah di ajak untuk pindah namun, gadis itu bersih kekeuh ingin tinggal di Indonesia dan menuntaskan study nya di Indonesia saja.
Saat sampai di luar lift vernatta kembali menepuk bahuku, "bukannya itu suami lu yah ?" Vernatta menunjuk ke arah lift yang sebentar lagi akan tertutup. Aku sempat melihat sekilas itu seperti mas irwan.
Lift itu menuju lantai 17 beda satu lantai dengan arpatemen milik vernatta yang berada di lantai 18. "Benarkan sey ?, tapi sama siapa ?" Tanyanya sama dengan berada dalam otakku siapa wanita yang di sampingnya dan anak kecil itu.
Dan untuk apa mas irwan berada di sini ? Overthinking ku semakin menjadi-jadi sejak tadi.
_____________________________________________
[Sabtu, 13 November 2021]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
Note : Sebelumnya saya berterima kasih pada kalian yang sudah mau nunggu cerita ini, dan maaf saya tidak konsisten dalam ucapan saya yang di bab sebelumnya menjanjikan akan up date tiap hari tapi nyatanya saya menghilang beberapa hari ini. Saya mohon maaf karena saya sibuk dengan tugas dan inipun saya sempat-sempatkan. Terima kasih dan Selamat membaca