Cinta adalah samudera kehidupan menuju puncak kebahagiaan. Mencintai dan di cintai adalah suatu kebutuhan hakiki setiap manusia begitu pun yang dirasakan oleh Bella dan Brian.
Berawal dari pertemuan tak sengajanya siapa sangka mereka jadi terbiasa bersama dan menjalin bahtera yang bahagia sebagai pasangan suami istri. Tapi siapa sangka suatu ketika kebahagiannya pupus karena suatu keadaan yang menguji Rumah tangganya yang telah terjalin beberapa tahun.
"Bella apa aku bisa untuk setia di saat keadaan memaksaku untuk berpaling, aku butuh perhatian dari seseorang tapi aku masih mencintai dan menyayangi mu maafkan aku sayang" ucap Brian di sela kesedihan melihat istri tercintanya yang lemah tak berdaya.
"Maafkan aku sayang, aku bukan selingkuh tapi hanya butuh" ucap nya lagi.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Brian dan Bella, akan kah mereka bisa bahagia setelah nanti sang istri kembali lagi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafasya Alfindra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Arka tidak bisa memejamkan matanya, wajah wanita yang ia temui tadi siang masih menari - nari dalam pikirannya. Seakan jantungnya juga ikut merespon apa yang ia rasakan, jantungnya pun berdetak sangat kencang. Dia merasa bingung kenapa wajah wanita itu terbayang - bayang di dalam pikirannya.
"Ini tidak mungkin, mungkin ini ada yang tidak beres dengan otak gue. Mana mungkin gue jadi kepikiran wanita itu terus. Kenapa semenjak pertemuan gue dengan dia tadi siang, berdampak ke kepala dan jantung gue?" batin Arka memikirkan kejadian tadi siang.
Arka mengambil handphone yang ada di saku celananya dan langsung mencari nombor telepon temannya yang kebetulan seorang dokter. Namanya Andrew, Andrew adalah teman Arka dan Brian dari mereka masih Sekolah Dasar (SD). Andrew seorang pemuda yang berotak jenius di bandingkan temannya Brian dan Arka. Semenjak SMA Andrew selalu loncat kelas sehingga Andrew yang duluan tamat SMA dan memilih jurusan kedokteraan. Saat itu mereka jadi jarang bertemu akan tetapi mereka tetap menjalin persahabatan sampai saat sekarang ini.
Arka mencoba beberapa kali menghubungi Andrew dan cukup pada panggilan yang ke tiga kalinya, barulah Andrew mengangkat telponnya.
Tut tut tut
"Halo Assalamualaikum .... Tumben lu nelpon gue malam - malam begini. Sepertinya, lu mau mengabari hari pernikahan lu sama gue, biar lu gak repot - repot ngirim undangan sama gue" ujar Andrew dengan tertawa lepas di seberang sana.
"Waalaikumsalam .... Apaan sih lu, belum juga gue ngomong lu udah nyerocos gak jelas. Gue belum ada kepikiran untuk ngabarin lu, karena gue belum ada niatan menikah secepat itu" jawab Arka.
Andrew merasa ada yang tidak beres dengan temannya, karena selama mereka berteman tidak pernah Arka menelponnya sekalipun. Kalau mereka bertiga ingin ngumpul, selalu saja Brian yang bakal mengabarin Andrew.
"Gue jadi bingung, lu ada masalah apa? sampai niat banget gangguin gue," ucap Andrew.
"Gue mau bertemu sama lu sekarang, karena ini menyakut hidup dan mati gue," ujar Arka.
"Emergency banget kayaknya?, oke gue tunggu di rumah gue," jawab Andrew.
Setelah itu Arka mematikan telponnya dan memasukkan kembali handphonenya ke tempat semula.
"Gue harus secepatnya kesana," batin Arka sambil mengambil kunci mobilnya.
****
"Hallo Assalamualaikum, lu dimana Ar," ujar Brian to the point setelah panggilan darinya diangkat Arka.
"Iya Hallo, Waalaikumsalam .... Gue mau ke tempat Andrew. Tumben lu nelpon gue, ada apa?" ujar Arka.
"Gue susul kesana ya, kebetulan kita dah lama tidak kumpul sama tu anak," ucap Brian.
"Ya udah gue tunggu disana aja,"
****
Berkumpul dengan Arka dan Andrew adalah momen yang sangat Brian tunggu selama ini. Karena pada kenyataaannya mereka yang sudah mempunyai kesibukan masing - masing, seperti contohnya dengan Andrew dengan jadwal pekerjaan yang terlalu padat sehingga tidak bisa menyempatkan berkumpul bersama mereka berdua.
Tok tok tok
"Andrew!" ucap Brian dan Arka serentak saat mereka sampai di depan rumah Andrew.
Ceklek
"Wedew, kirain lu tidak datang Bri. Masuk kuy," ujar Andrew menyuruh mereka masuk.
"Duduk dulu, gue mau buatin minum dulu," ujar Andrew saat Arka dan Brian duduk di kursi ruangan tamu.
"Ndrew, tidak usah repot - repot seperti orang lain aja lu. Tapi kalau lu masih kekeh bikinin gue minum, tentu gue tidak bakal menolak buatan minuman teman gue," ujar Arka di selingi tawanya.
"Ndrew, gue sepertinya mau minum jus deh sekalian jangan lupa cemilannya," ujar Brian ikut mengusili temannya.
"Wah boleh juga tuh, pesanan gue samain aja ya dengan Brian," ujar Arka tertawa.
"Brengsek kalian berdua, kalian pikir gue karyawan kafe," ujar Andrew.
Andrew melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambilkan temannya minum. Setelah selesai membuatkan minumannya, Andrew kembali dari dapur membawa 3 cangkir minuman untuk mereka bertiga.
"Jangan sungkan - sungkan, anggap aja rumah sendiri, minumannya di habisin Ndrew," ujar Arka kepada Andrew.
"Apaan sih lu, ini rumah gue sejak kapan lu jadi tuan rumah disini," ujar Andrew membalas kejahilan Arka dengan melemparkan bantal kecil yang ada di sofa ke muka Arka.
"Ohya, katanya lu ada yang mau di bicarakan sama gue, mengenai apa Ar?" ujar Andrew mengingat kembali perbincangannya lewat telpon tadi.
"Lu sakit, Ar," Ujar Brian menatap Arka dengan tatapan intens.
"Sekarang lu jelasin dulu Ar," ucap Andrew.
"Aduh, gue juga bingung mau bilang apa? yang jelas saat ini gue mengalami gangguan di bagian kepala dan jantung gue," ujar Arka yang sedikit murung karna takut akan berdampak lebih buruk lagi bagi kesehatannya.
"Sekarang lu jelasin secara datail dulu, apa kepala lu yang sakit di semua bagian atau bagian tertentu saja?" ucap Andrew bertanya dengan nada serius.
Arka merasa bingung untuk menjelaskan secara detail kepada Andrew. "Sebenarnya .... otak gue yang bermasalah. Entah kenapa, sebelumnya gue membenci seseorang bahkan merasa ilfil dengan dia dan sekarang malahan dia saat ini mengisi kepala gue dan sekalian nih jantung gue, juga ikutan berdetak kencang saat ada dia di kepala gue," ujar Arka menjelaskan.
"Hahaha ...." Brian dan Andrew pun tertawa mendengarkan curhatan temannya.
"Brengsek kalian, gue serius lu anggap candaan," ujar Arka yang akan beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Duduk dulu Ar, biar gue jelasin," ujar Andrew.
"Ogah gue, kalau kalian hanya anggap bercanda biar gue pulang aja," ujar Arka.
"Serius, tidak mau tahu tentang penyakit lu," ujar Andrew.
Arka pun kembali duduk ke tempat sebelumnya ia duduk, karena ia juga sangat penasaran dengan apa yang ia rasakan.
"Kalau menurut gue ya, sakit yang lu bilang itu, bukan sakit biasa Ar," ucap Andrew mengomentari perihal penyakit yang di bilang Arka tadi.
"Jadi gue sakit apa? apakah seserius itu? sampai otak dan jantung gue seakan sejalan," tanya Arka.
"Gue mau tahu, cewek mana yang sudah menakhlukan hati lu? Sehingga dia bisa sehebat itu mengisi kepala lu," tanya Andrew yang sedikit penasaran dengan wanita yang mengisi hati temannya sedangkan Brian hanya diam saja mendengarkan mereka berbicara.
Arka pun mulai menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu, mengenai perjodohannya yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya dan saat mereka melangsungkan pertunangan pun hanya dengan secara terpaksa dan juga mengenai isi perjanjiannya sebelum mereka bertunangan pun di ceritakan secara rinci. Serta Arka juga menceritakan awal pertama mereka bertemu dan juga pertemuannya tadi siang.
Andrew dan Arka pun tak kuasa menahan tawanya, mereka tidak habis pikir kenapa seorang Arka bisa sebodoh itu, yang tidak bisa memahami perasaan yang ia rasakan.
"Sudah puas lu ketawa diatas penderitaan gue," ujar Arka yang kesal karena tidak kunjung jua mendapatkan jawaban dari Andrew.
"Oke fix, sebenarnya penyakit yang lu derita sedikit parah sih dan masalah obatnya hanya lu yang bisa mengatasinya," ujar Andrew dengan tersenyum.
........................
Jangan lupa like dan komennya All