IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka mata namun tak ingin bicara
..." Ketika engkau ingin mengetahui kejujuran dari seseorang, jangan hanya dengar kan ucapan dari mulut nya....
... tapi cari lah jawaban di mata nya, karena mata tak kan pernah bisa berbohong "...
Aam berlari kencang di koridor rumah sakit, tujuannya agar cepat sampai kamar dimana Ais di rawat, dia tidak peduli pada orang-orang yang melihatnya heran, barusan dia mendapatkan kabar dari suster yang piket hari ini, bahwa Ais sudah membuka mata nya dua jam yang lalu.
Ya tadi siang setelah sholat dan makan Aam ke kamar Ais, untuk mengaji di samping nya dan mengajak nya bicara seperti biasa, tapi karena ada jadwal operasi Aam tidak bisa berlama-lama di sana.
" Alhamdulilah ya Allah, gadis berlesung pipi ku akhir nya mau membuka mata nya," ucap syukur Aam dengan tetap mengerakkan kaki nya cepat.
Pria itu langsung membuka pintu berwarna putih didepannya, "Assalamu'alaikum,"
"Walaikumsalam," Salam Aam di jawab oleh Rian, bang Reza dan dua orang wanita yang sering dia lihat makan bersama Ais di kantin rumah sakit.
Aam melihat sebentar wajah gadis manis itu, sudah terlihat dia membuka mata nya, namun kondisi nya masih begitu lemah.
" Maaf saya izin untuk memeriksa keadaan dokte Ais dulu."
Rian menggeser sedikit kursi yang di duduki nya untuk memberi ruang untuk Aam bergerak mendekati tubuh Ais,
" Silahkan dokter Aam"
Aam segera memakai sarung tangan nya, dan mulai memeriksa kondisi Ais dengan teliti.
"Assalamu'alaikum dokter Ais, apa ada yang terasa sakit?"
Namun yang di tanya tak menjawab sedikit pun.
" Dokter Ais, bisa kasih tahu saya apa yang terasa sakit?" Aam kembali bertanya dan masih saya tidak ada respon dari gadis di sampingnya.
Aam menatap heran pada seisi ruangan, ada apa sebenarnya?
"Dokter bisa kita bicara sebentar di luar?"
" Bisa bang ," Aam langsung membalikkan badan nya, mengikuti Bang Reza.
" Saya permisi dulu dokter" pamit Aam pada kedua wanita di depan nya.
" Silahkan dok," kedua nya menjawab serentak, meraka adalah dokter Sita dan dokter Ainun, sahabat Ais.
Aam, bang Reza dan Rian berjalan menuju taman samping ruang rawat Ais,
Terlihat bang Reza terus memurus wajah nya kasar,
" Sejak sadar dua jam lalu, Ais tidak bisa bicara dok,"
" Dia hanya tetap diam dengan Air mata nya jatuh," bang Reza kembali menjelaskan dengan wajah yang sedih.
" Saya rasa Bang, bukan tidak bisa," Aam menghentikan kalimat nya, dia sedang memilih kalimat terbaik untuk menjelaskan keadaan Ais.
" Untuk sekarang Dokter Ais tidak mau berbicara pada siapa pun" Aam menatap wajah bang Reza yang terlihat sedih.
" Mungkin karena kejadian itu membuat dokter Ais mengalami tekanan jiwa yang hebat,"
" Sehingga berdampak pada mental dan kejiwaan nya."
" Mungkin ini salah satu cara dia untuk melindungi dirinya, bersembunyi dari lingkungannya, dalam arti lebih , dia belum siap untuk menghadapi orang-orang di sekelilingnya." jelas Aam kepada kedua orang di depannya.
"Apakah ada cara untuk menyembuhkan nya?" Tanya Rian kali ini.
Aam menarik napas, setelah nya dia berucap,
" Kalau ini mungkin lebih baik jika di tanya kan pada dokter spesialis kejiwaan, atau Psikiater."
" Tapi saran saya, tetap ajak dokter Ais berkomunikasi, bangun kepercayaan pada diri nya, rasa nyaman dan usaha kan untuk tidak dulu berbicara yang membuat dia mengingat masalah itu."
"Baik dokter, Terimakasih saran nya," Bang Reza terlihat senyum sekarang, mungkin dari penjelasan Aam tadi membuat dia sedikit lega.
" Satu lagi bang Reza,"
" Yang paling terpenting terus lah berdoa meminta kesembuhan pada sang pencipta,"
" Karena mau sebaik apa pun obat dari suatu penyakit, tetap saja kesembuhan nya merupakan kekuasaan dari Allah SWT," ucap Aam lirik.
Pria itu mendekati Aam dan menepuk bahu nya lembut.
" Terimakasih sekali lagi dok,"
" Terimakasih sudah memberi saran dan mengingatkan kami,"
" Semoga dokter selalu di beri kesehatan oleh Allah SWT."
♥️♥️♥️♥️♥️
happy reading
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya