Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Pergi Ke Hutan
Setelah sarapan bersama keluarganya, seperti biasa Dazhi langsung pergi ke beranda depan rumahnya. Ia melakukan satu set latihan 100 Sit up, push up, dan squat dalam waktu singkat.
Kini sudah hampir 5 bulan sejak Dazhi pertama kali berlatih. Besok dirinya sudah mencapai umur 9 tahun. Berarti tenggat waktunya untuk mengalahkan beruang adalah hari ini.
Tubuh Dazhi benar-benar berbeda dari sebelumnya. Anak itu kini sudah lebih tinggi, kekar, dan kuat. Bahkan rasanya, postur tubuh Dazhi hampir mirip seperti remaja umur 15-an.
Bukan hanya itu, sekarang Dazhi juga sudah mencapai ranah Kultivasi ke-2. Titik Dantian miliknya juga sudah mencapai 7 buah. Ia sudah lebih dari siap untuk menghadapi beruang.
Tetapi sebelum pergi Kehutan, Dazhi menyempatkan diri untuk membuka Dantian karena kebetulan tubuhnya masih mampu menampung satu lagi titik Dantian.
Anak itu duduk di rerumputan luas depan rumah, Ia kini tidak lagi membuka Dantian secara sembunyi-sembunyi karena setelah mencoba membuka Dantian nya selama beberapa bulan kebelakang, dirinya menjadi lebih terbiasa dan tidak melakukan kesalahan lagi.
"Huft..."
Dazhi menaruh jari telunjuknya didada. Ia mulai menggerakkan nya secara perlahan. Gerakannya begitu konstan dan rapi, hampir tidak ada lagi kesalahan yang ia timbulkan.
Hanya dalam 15 menit, Dazhi berhasil membuka satu lagi Dantian ditubuhnya.
"Akhirnya selesai. Nah, sekarang aku bisa fokus memburu beruang!" Dazhi berdiri dengan bersemangat.
"Ibu!! Aku pergi bermain yah!!" Teriak Dazhi.
Dari dalam, Xiao Xinyue membalas, "hati-hati! Pulanglah sebelum makan siang!!"
"Baiklah!!"
Xiao Xinyue tahu kalau anaknya itu mempunyai jadwal pergi ke desa. Setiap pagi, setelah melatih badannya, Dazhi pasti akan lari keliling desa. Jadi dirinya tidak masalah dengan anaknya yang pergi sendirian.
Xiao Xinyue tidak tahu kalau sebenarnya yang Dazhi tuju bukanlah desa melainkan hutan di ujung barat Desa. Andaikan ia tahu, maka mungkin dirinya tak akan memperbolehkan sang anak untuk pergi.
***
Langkah Dazhi begitu ringan, hanya dalam waktu lima menit, dirinya sudah sampai di desa. Padahal jarak rumah dengan desa adalah 3 km.
Tujuannya saat ini bukanlah mengelilingi desa seperti biasa, melainkan pergi ke hutan.
"Yunyun!!" Ditengah perjalanannya, Dazhi melihat Yunhe sedang bermain lompat tali dengan teman-temannya. Tanpa basa-basi, anak itu menyapa adiknya.
"Itu kakakmu Shen Yunhe?" Teman Yunhe bertanya.
"Ah iya."
Beberapa anak laki-laki yang menjadi teman masa kecil Dazhi mendekat kearah Yunhe dengan tatapan tidak percaya.
"Hah? Serius itu Shen Dazhi? Dia tidak terlihat selama beberapa bulan, tetapi sekalinya kelihatan, dia jadi sangat berbeda sekali."
"Lihat itu!! Kakakku saja tidak setinggi dia."
"Wah, kira-kira apa yang dia lakukan sampai sangat berubah?"
Perhatian anak-anak itu beralih kearah Dazhi yang terus berlari. Mereka jadi melupakan permainan yang sedang mereka lakukan. Disisi lain, Yunhe hanya bisa tertawa canggung.
***
"Akhirnya sampai juga."
Dazhi menatap pepohonan rindang dihadapannya. Kini dirinya sudah sampai di hutan sebelah barat dari desanya. Ia mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam hutan.
Pepohonan disini begitu rindang, hewan-hewan kecil terlihat menjauh ketika Dazhi melangkahkan kakinya mendekati mereka. Semakin masuk kedalam, pepohonan menjadi semakin rapat membuat minim penerangan dari sinar matahari.
Sebenarnya bisa saja Dazhi pergi ke hutan belakang rumahnya, hutan itu lebih besar dan banyak hewan buasnya membuat Dazhi tidak kesulitan mencari beruang. Tapi sayang, kalau ia pergi kehutan itu, bisa-bisa sang ayah akan memarahinya habis-habisan.
Dazhi sudah berjalan sekitar setengah jam, namun tak ada tanda-tanda beruang. Bahkan, keberadaan hewan buas seperti babi hutan pun juga tidak ada.
"Ya ampun... Kenapa tidak ada hewan apapun disini. Minimal seharusnya ada babi hutan, jadi aku tidak terlalu bosan." Gumam Dazhi.
Baru saja ia berkata begitu, dari belakangnya terdengar suara semak-semak yang bergerak. Lalu secara tiba-tiba, seekor babi hutan berlari kearahnya, siap menyeruduk pantat Dazhi.
"Ngok!!"
Dazhi refleks menghindar kearah kanan ketika merasakan ancaman dibelakangnya, hal ini membuat si babi hutan menyeruduk pohon.
Bruk!!
Suara serudukan si babi begitu keras dan nyaring, untungnya pohon yang ia seruduk tidak sampai tumbang.
"Wah!! Hebat juga kau babi!! Tapi sayangnya, hidupmu harus berakhir disini!!"
Dazhi mengeluarkan sebuah kapak dari balik bajunya. Itu adalah kapak pemotong kayu milik Shen Guowei yang ia ambil secara diam-diam.
Dengan gerakan yang cepat, Dazhi melompat keatas tubuh si babi hutan. Hewan itu terlihat mau menghindar, tetapi Dazhi tidak membiarkannya, tangannya lebih dulu mengayunkan kapak sebelum si babi hutan sempat menghindar.
Sret!!
Tubuh babi hutan terbelah menjadi dua. Dazhi segera mundur agar darah si babi tidak mengenai pakaiannya.
"Hm... Terlalu lemah. Apa tidak ada lawan yang lebih kuat lagi?"
Seolah menjawab pertanyaan Dazhi, lima ekor babi hutan keluar dari balik pepohonan. Sepertinya mereka marah karena kawannya telah dibunuh oleh Dazhi.
"Nah, begini baru seru."
Dazhi menyiapkan kuda-kudanya, begitu pula dengan para babi hutan, mereka menyiapkan ancang-ancang untuk menyeruduk Dazhi.
"Ngoookk!!!"
Satu babi hutan yang paling besar berteriak, sepertinya dia pemimpin kawanan babi hutan itu karena tiba-tiba dua dari babi hutan menyeruduk kearah Dazhi secara bersamaan.
Tap!!
Dazhi berhasil menghindari serudukan dua babi itu, dia bahkan sempat mengayunkan kapaknya untuk melukai salah satu babi hutan.
Namun tak berhenti sampai di sana, satu babi hutan lagi menyeruduk Dazhi ketika anak itu lengah. Dazhi tak sempat menghindar, jadi ia hanya bisa menahan serudukan babi itu.
"Percobaan yang bagus." Gumam Dazhi kepada si babi.
Dazhi mendorong si babi hutan kebelakang, ia lalu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi sebelum akhirnya mengayunkannya kepada tubuh babi hutan.
Srett!!
Satu babi telah tumbang, sisa empat lagi.
Dua babi yang sebelumnya mencoba menyeruduk Dazhi kini memasang ancang-ancang kembali. Mereka menyerang Dazhi secara bersamaan lagi.
Tapi Dazhi sudah memperkirakan itu, ia lagi-lagi berhasil menghindari serudukan mereka berdua.
"Huh... Cuma bisa menyeruduk saja. Apa tidak ada variasi gerakan lain? Terlalu membosankan." Gumam Dazhi.
Dazhi akhirnya balik menyerang mereka, satu babi berhasil tumbang oleh tebasan kapaknya. Babi lainnya hendak mundur, tetapi tubuhnya yang terluka membuat gerakannya melambat sehingga Dazhi juga bisa dengan mudah membunuhnya.
Kini tersisa dua babi hutan yang masih hidup.
Pemimpin babi mendorong babi hutan yang tersisa untuk menyerang. Tetapi bukannya melakukan perintah, babi itu malah kabur ketakutan.
"Ngook!! (Tidak mau!!)" Teriak babi itu sembari berlari menjauh.
Kini hanya tersisa si pemimpin babi hutan yang memasang ancang-ancang. Dazhi tersenyum kearahnya, "hebat juga dirimu tidak kabur seperti kawanmu itu."
"Ngook!" Balas babi hutan itu walau Dazhi tidak tahu apa maksudnya.
Babi hutan itu maju dengan cepat untuk menyeruduk Dazhi, namun seperti yang kalian duga, Dazhi berhasil menghindari serudukan itu.
"Baiklah, karena waktu juga sudah lumayan siang... Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat."
Cengkeraman Dazhi pada kapaknya semakin mengerat. Anak itu lalu berlari menerjang kearah si babi hutan.