Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Pertahanan Menara
Efek buff kecepatan berpikir 200% dari Kopi Hitam Mercon Aether membuat dunia di sekitar Raditya seolah melambat. Detak jantungnya yang berdegup kencang bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena aliran adrenalin murni yang dipompa oleh kafein magis lintas dimensi.
BEEP! BEEP!
[Sisa Waktu Kontak]: 20 Detik.
[Analisis Musuh]: Serigala Bayangan Bertanduk Tiga (Level 15) memiliki kemampuan memanipulasi bayangan untuk mengecoh mangsa. Titik kelemahan: Tanduk tengah di dahinya berfungsi sebagai konduktor energi malam. Jika tanduk itu hancur, kemampuannya lenyap.
"Dua puluh detik? Lebih dari cukup untuk mendesain jebakan warung," gumam Raditya dengan seringai percaya diri yang belum pernah muncul di wajahnya sejak terdampar di dunia ini.
Dengan pandangan malam dari efek [Mata Elang], Raditya melihat ke sekeliling ruangan raksasa tersebut. Otaknya yang super encer langsung memetakan barang-barang yang bisa digunakan. Dia berlari ke arah kolam air murni, mengambil segenggam besar bubuk kopi Aether sisa gilingan yang masih kering di atas meja marmer, lalu mencampurnya dengan sisa minyak pelumas berkarat dari roda gigi pintu besi yang dia congkel tadi.
Dia mengoleskan campuran hitam lengket itu di sepanjang lantai batu ambang pintu masuk ruangan rahasia.
"Sistem, seberapa licin lantai ini kalau digabung dengan struktur batu kuno?"
[Analisis Taktis]: Tingkat friksi lantai turun hingga 85%. Makhluk berkaki empat yang berlari dengan kecepatan di atas 40 km/jam otomatis akan kehilangan kendali atas traksi cakar mereka. Efek samping: Lantai berbau harum kopi.
"Bagus. Biar mati dalam keadaan wangi," sahut Raditya.
Tepat saat Raditya mundur lima langkah ke belakang meja marmer dan mengambil posisi membidik dengan ketapalnya, gerbang kayu luar menara hancur berkeping-keping.
BRAAAASSHHH!
Sesosok bayangan hitam legam melesat masuk ke dalam aula utama menara. Makhluk itu menyerupai serigala Bumi, namun ukurannya sebesar anak sapi, dengan bulu sehitam arang yang tampak berasap kelabu. Di kepalanya, mencuat tiga buah tanduk tajam sewarna perak yang berkilauan dalam kegelapan. Sepasang matanya menyala merah darah, langsung mengunci ke arah Raditya yang berdiri di balik pintu besi yang terbuka.
"AWOOOOOOOOORRRRGGH!"
Raungan serigala itu menggetarkan debu-debu langit menara. Tanpa ragu, monster Level 15 itu melompat maju, membelah kegelapan dengan kecepatan yang luar biasa. Saat jaraknya tinggal tiga meter dari pintu ruangan rahasia, tubuh serigala itu mendadak membelah menjadi tiga bayangan yang identik!
Ding!
[Peringatan]: Target menggunakan skill [Shadow Clone]. Dua di antaranya adalah ilusi optik dari energi malam, hanya satu yang merupakan tubuh asli!
Jika ini adalah Raditya yang kemarin, dia pasti sudah menjerit histeris dan pasrah menjadi sosis manusia. Namun sekarang, dengan buff mata elang dan otak kafein, Raditya melihat sesuatu yang berbeda. Dua bayangan di sisi kiri dan kanan bergerak tanpa suara, sedangkan bayangan yang di tengah... cakarnya mengeluarkan suara gesekan halus di atas lantai batu.
"Yang tengah asli! Rasakan ini!"
Raditya memasang sebutir Jamur Batu Tawar terkeras ke kantong ketapelnya. Dia menarik karet lateks lateks militer itu hingga batas maksimal, mengabaikan rasa tegang di otot lengannya. Keker laser merah ketapel mengunci tepat pada pangkal tanduk tengah serigala asli.
JEPREEEEEET!
Peluru jamur melesat seperti peluru senapan angin, membelah udara malam.
TAK!
Tembakan itu tepat sasaran, tetapi serigala Level 15 memiliki refleks yang luar biasa. Di detik terakhir, dia sedikit memiringkan kepalanya. Peluru jamur itu tidak menghancurkan tanduknya, melainkan menghantam pipi kirinya hingga merobek kulit dan mengeluarkan darah hitam.
Serigala itu melolong murka, kecepatannya justru bertambah saat dia menerobos ambang pintu ruangan rahasia—dan tepat di saat itulah, keempat cakarnya menginjak area "pelumas kopi" buatan Raditya.
SREEEEET... GUBUK!
Hukum fisika Bumi bekerja dengan mutlak di dimensi lain. Serigala raksasa itu langsung kehilangan traksi. Keempat kakinya melebar ke samping seperti seekor anjing yang terpeleset di atas lantai keramik yang baru dipel. Tubuh besarnya meluncur tak terkendali di atas lantai licin, menabrak pinggiran meja marmer kuno dengan hantaman yang sangat keras.
BRAAAKKK!
Serigala itu terkapar di lantai, kepalanya pening, dan dua bayangan ilusinya langsung lenyap seketika.
"Kesempatan tidak datang dua kali dalam satu bab!"
Raditya tidak menyia-nyiakan waktu. Dia melompat ke atas meja marmer, merogoh kantong celana kargonya, dan mengeluarkan peluru pamungkasnya: Potongan terakhir Cabai Aether Kuno yang masih meletup-letupkan hawa panas mercon tingkat dewa.
Dia memasang cabai itu ke ketapelnya, berdiri tepat di atas tubuh serigala yang masih berusaha bangkit dengan kaki gemetar. Jaraknya kini hanya satu meter. Dari jarak sedekat ini, akurasi dari gelar [Pelempar Sayur Profesional] naik menjadi 100%.
"Ini dia, racikan kopi plus sambal mercon spesial buatmu, Gukguk!"
Raditya membidik tepat ke arah tanduk tengah yang berjarak sangat dekat dengan dahi monster itu.
JEPREEEEEET!
Cabai Aether Kuno itu menghantam tepat pada targetnya. Sifat magis dari cabai kuno yang panas berbenturan keras dengan energi malam dingin yang terkonsentrasi di dalam tanduk serigala bayangan tersebut.
BOOOOOOMRRRGGH!
Sebuah ledakan elemen kecil berwarna merah-ungu terjadi tepat di dahi serigala itu. Tanduk tengahnya retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya perak. Efek ledakan itu tidak hanya menghancurkan kemampuan sihirnya, tetapi juga membakar bulu-bulu di wajah monster itu hingga menyebarkan bau bulu gosong yang bercampur dengan aroma kopi.
Serigala Bayangan itu mengeluarkan melodi rintihan yang sangat menyedihkan. Tanpa tanduk utamanya, tingkat energinya merosot drastis dari Level 15 menjadi setara dengan anjing kampung biasa yang ketakutan. Makhluk itu memaksakan kakinya yang terluka untuk berdiri, berbalik arah dengan ekor menjepit di antara kedua kaki belakangnya, lalu lari terbirit-birit keluar dari menara sambil sesekali terpeleset sisa minyak di lantai.
Suasana ruangan kembali sunyi. Raditya berdiri di atas meja marmer, memegang ketapelnya tinggi-tinggi laksana seorang pahlawan legendaris yang baru saja mengusir naga.
Ding!
[Pertempuran Epik Selesai!]
Evaluasi: Anda berhasil mengalahkan makhluk Level 15 menggunakan kombinasi taktis antara ilmu fisika dasar Bumi, pelumas roda gigi, dan amunisi sayuran pedas. Luar biasa gesrek tapi sangat efektif!
Hadiah Utama:
+300 Poin Survival (Saldo Saat Ini: 530 Poin).
Pembukaan Fungsi: [Sistem Dapur Seduh Mekanik Terintegrasi] (Anda kini bisa menyeduh ramuan dari bahan apa pun lewat antarmuka Sistem).
Item Langka Drop dari Musuh: 1x Taring Serigala Bayangan (Bahan dasar untuk membuat pisau taktis magis).
Raditya duduk lemas di atas meja marmer, efek buff kopinya perlahan mulai memasuki fase tenang, membuatnya merasa santai. Dia melihat saldo poinnya yang kini menembus angka lima ratus.
"Lima ratus tiga puluh poin... ditambah fasilitas menara yang aman, baju baru, dan dapur seduh," Raditya tersenyum puas, memandang cangkir ayam jago miliknya yang masih menyisakan sedikit kopi hangat. "Prasetyo Utomo, senior boba... terima kasih atas warisan tempat nongkrong yang estetik ini. Malam ini, aku tidur nyenyak."
Raditya merebahkan tubuhnya di atas lantai batu yang kini terasa hangat berkat sisa energi ledakan cabai tadi, menutup matanya dengan perasaan aman untuk pertama kalinya di dunia Aethelgard.