Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buaya Darat Pemangsa
Hari ini Aya dan Iis sedang makan siang bersama di sebuah Restoran Ayam cepat saji. Semalam mereka berjanji untuk bertemu hari ini. Iis meminta Aya untuk mengantar membeli perlengkapan seserahan untuk keperluan pernikahannya karena calon suaminya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Calon suami Iis usianya terpaut jauh dengan Iis, duda dengan tiga anak, anak yang paling kecil saja sudah kelas tiga SMP.
“Apa? Elo minta dicarikan jodoh?!” Iis terkejut dengan permintaan Aya untuk dicarikan jodoh, makanan yang sudah ada di dalam mulutnya hampir keluar karena terkejut.
“Iya Is, siapa tahu kamu punya teman atau kenalan laki-laki yang belum menikah.”
“Siapa ya? Tapi gua takut elo nya gak cocok!” Iis berkata sambil berpikir.
“Yah kenalin aja dulu kalau masalah cocok mah belakangan.”
“Emmm ... ada pak Ustaz teman calon suami gua, mau?”
“Eh iya tuh ustaz ga papa, ibuku pasti senang punya menantu ustaz.” Aya sumringah mendengarnya baginya kebahagiaan ibu lebih utama, ia tidak akan mempermasalahkan kriteria pria idaman untuknya yang penting ibunya senang.
“Tapi ... elo jadi istri ketiga, hehehe ....” Iis berbicara sambil tersenyum.
“Ih ogah lah ... yang ada ibuku malah sedih kalau aku jadi istri ketiga.” Aya mendengus kesal.
“Eh elo sama adik gua aja!” tiba-tiba Iis punya ide untuk menjodohkan dengan adiknya.
“Adik kamu?!"
“Iya lah kan kalau kakak, gua cuma punya satu kakak cowok dan dia sudah menikah.”
“Adik kamu, si Ismet maksudnya?" tanya Aya, ia tahu Iis hanya memiliki satu orang adik.
“He eh," jawab Iis dengan menganggukkan kepala.
Ismet kan dulu waktu kecil boloran ingusan angka 11. Aya bergumam dalam hati dan kemudian ia tertawa sendiri, kedua tangannya menutup mulut agar tawanya tidak bisa terlihat oleh Iis.
“Kenapa elo ketawa? Pasti lo mau bilang kalau si Ismet waktu kecil boloran kan, ingusnya kaya angka 11” Iis menebak isi hati Aya.
Eh kok si Iis tau isi pikiranku sih.
“Eh, bukan aku yang ngomong ya, kamu yang ngomong loh!” kata Aya.
“Tapi itu kan dulu waktu kecil tapi sekarang Ismet ganteng kok,” ujar Iis.
“Iya aku tahu kan Ismet satu sekolah waktu SMA, dia adik kelas aku ... tapi please jangan Ismet aku kan sudah menganggapnya seperti adik sendiri.” Sebenarnya ada hal lain yang membuat Aya tidak ingin dijodohkan dengan Ismet yaitu sikapnya yang tengil dan pecicilan, Aya tidak menyukai pria tengil.
“Hmmm ... siapa ya??“ Iis mulai berpikir.
“Faisal, dia teman SMA aku, dia pernah mondok di pesantren setelah lulus sekolah, terus sekarang dia punya toko kain, meneruskan usaha orang tuanya, pokoknya sudah mapan deh."
“Boleh tuh Is.” jawab Aya antusias.
“Iya udah nanti nomor elo gua kasih ke dia ya biar dia yang menghubungi elo duluan.”
“Ok” Aya berharap semoga ikhtiarnya ini mendapatkan hasil.
Sudah beberapa hari ini Aya dan pria bernama Faisal menjalin komunikasi lewat aplikasi WA. Faisal yang lebih dulu menghubungi Aya. Mereka juga beberapa kali melakukan video call namun mereka belum pernah bertemu secara langsung, masih menunggu waktu yang tepat. Menurut Aya, Faisal cukup menyenangkan, fisiknya juga lebih lumayan jika dibandingkan dengan Rudi mantan kekasih Aya. Aya berharap semoga ini adalah benar jalannya untuk mendapatkan jodoh.
Hari ini Aya dan Faisal berjanji bertemu di sebuah kafe. Saat Aya datang, Faisal sudah duduk dan memesan meja di kafe itu.
“Aya mau pesan apa?“ tanya Faisal.
“Aku pesan minum saja, jus alpukat.”
“Tidak pesan makanan?"
“Tidak usah, terima kasih masih kenyang.” Sambil menunggu minuman datang mereka mengobrol. Kemudian Faisal tiba-tiba menggenggam tangan Aya dan menariknya hingga ke bibir dan mengecup mesra punggung tangan Aya. Aya yang sangat terkejut langsung menarik tangannya, ia tidak suka dengan yang dilakukan Faisal.
Tidak lama pelayan datang membawa minuman. Mereka minum sambil mengobrol, topik obrolannya kebanyakan tentang keluarga mereka dan kegiatan mereka sehari-hari. Selama mereka berbincang-bincang beberapa kali Faisal berusaha untuk meraih tangan Aya membuat Aya merasa tidak nyaman.
“Nanti habis ini kita nonton yuk!” ajak Faisal.
“Nonton apa?"
“Nonton film dong di bioskop.”
“Emmm.... Gimana yah?!” Aya terlihat berpikir dia agak ragu dengan sikap Faisal yang membuat Aya merasa tidak nyaman.
“Ayo lah, mau ya ... mumpung hari ini aku ga sibuk,” kata Faisal.
“Ya udah deh.”
Mereka pergi ke bioskop menggunakan mobil Faisal. Aya tadi datang ke kafe dengan menggunakan jasa ojek online. Iis memang pernah bercerita jika Faisal ini pria mapan sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Faisal memesan karcis bioskop, ia memilih bangku paling belakang.
Hadeuh ngapain juga pake pilih duduk di belakang. Gumam Aya merasa tidak nyaman.
Mereka berdua sudah duduk, Faisal duduk di sebelah kanan Aya. Film sebentar lagi akan dimulai. Lampu bioskop pun dipadamkan. Baru sekitar sepuluh menit film diputar tiba-tiba Faisal langsung memeluk Aya dan sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Aya.
PLAK....
Tangan Aya spontan menampar pipi Faisal. Dan ia langsung berlari keluar dari gedung bioskop.
“Aya tunggu...!!“ Aya tidak memedulikan Faisal yang memanggil namanya. Aya terus berlari sementara Faisal hanya berjalan cepat berusaha mengejar Aya, ia merasa malu jika harus ikutan berlari nanti akan menjadi pusat perhatian orang banyak.
Aya sudah sampai di halaman depan mall. Setelah ia merasa sudah jauh dari Faisal ia menghentikan pelariannya, memilih berjalan biasa. Aya baru sadar dengan apa yang barusan ia lakukan, berlari-lari di mall pasti menjadi pusat perhatian banyak orang. Aya menghentikan angkot lalu naik, pulang ke rumah naik angkot. Sesampainya di rumah, Aya langsung masuk ke kamar merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Drrrt... Drrt..
Bunyi getar ponsel Aya. Ia melihat ada panggilan dari “Wong Edan”. Saat di angkot tadi Aya merubah nama kontak Faisal menjadi “Wong Edan” (Wong Edan \= Orang Gila). Aya ragu dan berpikir apakah ia harus menerima panggilan itu atau merijek-nya. Akhirnya Aya memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu.
“APA!!! ” Aya menjawab telepon dengan ketus dan galak, ia benar-benar merasa marah dengan kejadian di bioskop tadi.
“Kenapa kabur?"
“Hey, elo tuh ga sopan ya, kurang ajar, DUSUN!!!“ bentak Aya. (Dusun artinya perbuatan tidak sopan, tidak tahu tata krama dalam Bahasa Jawa Banten).
“Cuma gitu doang aja marah.”
“Cuma gitu doang??! ... Oh ... kayaknya elo emang udah biasa bersikap dusun sama perempuan ya. HEH...!! jangan samakan aku dengan perempuan-perempuan yang biasa kamu gituin ya!!“ Aya memaki Faisal.
“Pantesan kamu belum dapat jodoh, kamu sok jual mahal!!” balas Faisal.
“Dasar JURIG sia, tak BALEDOG sia ku aing !!” kali ini Aya berkata lebih kasar lagi, menggunakan Bahasa Sunda Banten yang sangat kasar (author juga tidak mengerti kalimat itu artinya apa hehe...) Aya langsung menutup teleponnya dan langsung memblokir nomor Faisal.
Hadeuh, amit-amit ketemu cowok kaya gitu katanya pernah mondok berarti anak pesantren kan, kelakuannya kok kaya gitu. Gumam Aya dalam hati. Aya merenungi drama hari ini kabur dari Buaya Darat Pemangsa.
Don’t judge the book by its cover. Jangan menilai orang dari luarnya sepertinya ungkapan itu benar adanya.
.
.
.
.
.
.
Mohon Like dan Komen ya agar author lebih semangat.