NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menahan diri

Satu minggu. 

Itu yang Revan janji ke dirinya sendiri. 

Serena pulang hari Jumat. Hari ini sudah hari Jumat lagi. 

Tujuh hari tanpa suara Serena di apartemen, tanpa aroma sabun lavender, tanpa suara langkah kecil di koridor jam 11 malam.

Apartemen itu tiba-tiba jadi terlalu besar. 

Setiap sudut mengingatkan Revan kalau ada orang yang hilang.

Hari pertama, ia ngecek ponsel tiap 5 menit. 

Hari kedua, ia mematikan notifikasi agar tidak kecewa jika tidak ada balasan. 

Hari ketiga, ia mulai memasak makanan yang Serena suka, padahal ujungnya hanya dibuang karena tidak dimakan.

Ia tidak menelpon. tidak memaksa. 

hanya mengirimkan satu pesan tiap malam, jam 9 tepat.

"Udah makan?"

"Hujan di sana?"

"Jangan begadang."

Balasannya tidak selalu ada. Kadang “udah”. Kadang cuma centang dua. 

Tapi Revan simpen semua itu selayaknya benda berharga. 

Di kantor, Bu Maya mulai khawatir. 

“Pak Direktur, mau saya batalkan rapat sore? Wajah Bapak pucat.”

Revan hanya menggeleng. 

“Jalanin aja.” 

Ia bekerja lebih gila dari biasanya. Rapat 8 jam, tanda tangan kontrak ratusan miliar, tapi pikirannya tidak pernah lepas dari satu pertanyaan: Serena kangen nggak, ya?

Rapat berakhir pukul 00.17.

Revan tetap duduk di kursinya. Dasinya telah dilepas, tetapi jasnya masih melekat di bahu. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan memejamkan mata.

Hanya satu nama yang terus berulang di benaknya: Serena.

Sudah tujuh hari. Tidak ada suara Serena di apartemen. Tidak ada balasan pesan pukul 21.00. Ponselnya gelap sejak sore tadi.

Bu Maya mengetuk pintu pelan.

"Pak Direktur... Bapak mau saya panggilkan sopir?"

Revan menggeleng tanpa menoleh.

"Nggak perlu. Saya menyetir sendiri."

Tangannya gemetar ketika meraih kunci mobil. Selama seminggu ini, tidurnya tidak pernah lebih dari tiga jam. Makan pun sering ia lupakan.

Di pelataran gedung, gerimis turun tipis dan dingin.

Ia menghidupkan mesin. Tujuannya bukan apartemen.

Melainkan rumah orang tua Serena. Hanya sekali. Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.

Orang tua Serena sudah mengenalnya dengan baik. Pasti ia akan diizinkan bertemu, pikirnya.

Injakannya menekan pedal gas.

Awalnya laju mobil masih wajar. Namun lama-kelamaan semakin kencang. Jarum spedometer melampaui angka seratus dan terus naik. Ia menyalip kendaraan lain, menembus tikungan tanpa mengurangi kecepatan. Sampai ban depan hampir kehilangan cengkraman.

Dalam pikirannya hanya ada satu hal: Aku rindu.

Kemejanya basah oleh keringat. Pandangannya mulai kabur karena lelah. Namun genggamannya pada kemudi tetap kuat, sampai buku-buku jarinya memucat.

Ia seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tiba-tiba Revan membanting setir ke kiri.

Mobil berhenti mendadak di bahu jalan. Dia terdiam beberapa detik. Napasnya memburu.

Di detik itu juga ia sadar.

Seharusnya gue nggak menyusul Serena. Kalau gue lakukan itu sekarang, dia bakal semakin ngejauh.

Rasa frustasi itu memuncak.

Revan berteriak kencang di dalam mobil.

“HAAAAAA... ANJENGG!!”

Suaranya pecah, menggema di dalam kabin yang sempit.

Dengan sekuat tenaga ia memukul setir mobil. Sekali. Dua kali.

Lalu ia menghantukkan kepalanya ke setir berulang kali.

“ANJENGG!! ANJENGG!!”

Teriakannya bercampur dengan napas yang tidak beraturan.

Beberapa saat kemudian, ia terdiam.

Tubuhnya lemas. Kedua tangannya mencengkeram setir erat, sementara dadanya naik turun menahan sesak.

 

Hari ke delapan.

Revan masih berusaha membiasakan diri tanpa Serena. Tapi pikirannya selalu tentang gadis itu. Apakah dia baik-baik saja, atau bahkan telah melupakan dirinya. 

Ia menyuruh sopir nya untu membelikan buket bunga lili putih—bunga favorit Serena. 

Niatnya ingin dikirimkan ke rumah orang tuanya. 

Tapi saat sopir itu sudah berdiri di depan pintu, Revan tiba-tiba mengurungkan niatnya. 

“Gausah. Balikin aja.”

“Pak?” Sopir itu berusaha menyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar.

“Bilang aja pesanan salah.”

Revan duduk di lantai ruang tamu, punggung nya menempel ke sofa. 

Ia mengerti sekarang. Kalau ia mengirimkan bunga, bukan karena Serena membutuhkan nya. Tapi karena ia yang tidak tahan dengan sepi. 

Dan ia sudah berjanji tidak akan membuat serena merasa bersalah.

Malamnya ia mengetik pesan panjang, yang akhirnya di hapus juga.

Hari kesembilan

Revan baru pulang dari kantor pukul 23:00. Apartemen gelap dan dingin. 

Ponselnya bergetar di saku.

Serena: Kak, besok aku balik. Jam 3 sore.

Revan berhenti di ambang pintu. Nafasnya tertahan seketika. Ia membaca ulang pesan itu tiga kali, memastikan agar ia tidak salah membaca pesan.

Jari tangannya gemetar saat mengetik balasan. 

Oke. Gua jemput.

Revan tidak tidur semalaman. 

Bukan karena cemas. 

Tapi karena untuk pertama kalinya, apartemen ini tidak terasa kosong lagi.

 

Jam 3 kurang 5 menit.

Revan berdiri di area kedatangan bandara. Tangan masuk ke saku jas, wajahnya datar. Tapi telapak tangannya dingin dan basah.

Pintu kedatangan terbuka.

Penumpang mulai keluar satu per satu, membawa koper, payung, dan tawa kecil yang pecah di udara sore.

Lalu Revan melihatnya.

Serena.

Rambutnya tergerai tertiup angin. Jaket krem yang Revan belikan tahun lalu masih ia pakai. Di tangan kiri tergenggam koper kecil, di tangan kanan ponsel.

Ia tidak langsung berlari. Hanya berhenti sebentar, matanya mencari.

Saat tatapan mereka bertemu, langkah Serena menjadi lebih cepat.

Revan tidak bergerak.

Sebagian dari dirinya ingin menarik Serena ke dalam pelukan saat itu juga. Sebagian yang lain mengingatkannya pada janji nya.

Serena berhenti di depannya. Napasnya sedikit tersengal.

“Kak Re…”

Revan menatapnya dari atas ke bawah. Memastikan ia benar-benar utuh, benar-benar sehat.

Baru setelah itu ia mengangguk pelan.

“Gua jemput lo.”

Serena tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Revan cukup lama, seolah mencari sesuatu yang berubah.

“Makasih,” katanya pelan.

Revan maju satu langkah, mengambil koper dari tangan Serena tanpa bertanya.

“Ayok. kita pulang.”

Mereka masuk ke dalam mobil dalam diam.

Begitu pintu ditutup, suasana menjadi hening. Hanya suara wiper yang menyapu kaca.

Revan tidak langsung menyalakan mesin.

Ia menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Serena yang tidak berubah. Cantik.

“Gimana seminggu di rumah?” tanyanya pelan. Suaranya serak.

Serena menghela napas.

“Seru. Tenang. Mama masakin banyak makanan.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi… sepi juga.”

Revan mengerutkan kening.

“Sepi?”

Serena mengangguk.

“Apartemen yang pasti sepi karena kak Revan nggak marah-marah lagi.”

Kalimat itu hampir membuat Revan tertawa.

Tapi ia menahannya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat sedikit.

“Gua nggak marah-marah,” bantahnya pelan.

“Gua cuma… khawatir.”

Serena menatapnya.

“Aku tahu, kak. Makanya aku balik.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Revan tidak menjawab. Tangannya yang berada di setir mengepal pelan, seperti sedang menahan diri lagi.

Ia menyalakan mesin. Mobil mulai melaju, keluar dari area bandara.

 

Sesampainya di apartemen.

Pintu apartemen tertutup dengan suara pelan.

Revan meletakkan koper Serena di sudut ruang tamu. Ia tidak langsung masuk ke kamar.

Ia berdiri di sana, menatap Serena yang masih berdiri canggung di tengah ruangan.

Seminggu tidak bertemu, tapi rasanya seperti sudah setahun.

“Lo mau minum dulu?” tanya Revan akhirnya. Suaranya pelan, hati-hati.

“Kok jadi canggung banget. Nggak usah repot, kak.”

“Bukan repot. Gua yang mau.”

Revan pergi ke dapur, mengambil dua gelas air putih. Tangannya tidak setenang biasanya.

Saat ia kembali, Serena sudah duduk di sofa. Kopernya belum dibuka. Seolah ia takut membukanya, karena itu berarti ia benar-benar kembali.

Revan duduk di ujung sofa, menjaga jarak satu orang di antara mereka.

“Rumah gimana? Mama sehat?”

Serena mengangguk.

“Sehat. Mama titip salam. Katanya… makasih udah jaga aku baik-baik.”

Kalimat itu membuat Revan terdiam.

Dadanya terasa panas. Restu itu lagi. Restu yang ia pegang, tapi juga yang membuatnya takut salah langkah.

“Gua nggak selalu baik,” gumamnya pelan.

“Aku tahu,” jawab Serena.

“Tapi kamu berusaha. Aku lihat, kak.”

Revan mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Serena.

Di sana tidak ada rasa takut. Hanya ada lelah, dan sesuatu yang mirip dengan percaya.

Ia tidak sanggup menahannya lagi.

Revan maju sedikit. Siku bertumpu di lutut, suaranya rendah.

“Na… kalau lo nggak nyaman, bilang. Sekarang juga. Gua nggak akan maksa.”

Serena menatapnya lama.

“Kak Re, kalau aku nggak mau balik, aku nggak bakal ada di sini sekarang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat bahu Revan yang tegang selama seminggu akhirnya turun.

Ia menghela napas panjang.

“Bagus.”

Malam itu tidak ada yang berubah drastis.

Tidak ada pelukan mendadak, tidak ada ciuman, tidak ada janji besar.

Revan hanya membantu Serena membereskan koper.

Serena hanya bercerita tentang makanan aneh yang dimasak mamanya.

Tapi di sela-sela obrolan kecil itu, ada sesuatu yang berbeda.

Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa dipaksa.

Hanya ada dua orang yang pelan-pelan belajar percaya lagi.

Saat jam menunjukkan pukul 11 malam, Revan berdiri di depan pintu kamar Serena.

“Lo istirahat. Gua tidur di kamar sebelah.”

Serena mengangguk.

“Kak…”

“Hmm?”

“Makasih udah nahan diri.”

Revan tersenyum tipis. Pertama kalinya dalam seminggu.

“Buat lo, gua bisa nahan apa aja.”

Pintu ditutup pelan.

Di luar kamar, Revan bersandar ke dinding. Dadanya masih berdebar. Padahal sebenarnya Revan ingin sekali memeluk erat Serena, dan menguncinya di dalam pelukannya. Menahan diri itu sakit.

Tapi rasanya… lebih baik daripada kehilangan dia lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!