NovelToon NovelToon
'Ahlaan Zawjati

'Ahlaan Zawjati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Komedi
Popularitas:282.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naja

Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.

Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.

Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.

Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.


Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Di sebuah ruangan hotel, keadaan makin mencekam, David dan Raka sudah pontang panting masuk ke dalam.

"Lex. Apa kau gila, kau bisa membunuh Ansell bodoh." David membentak Alex dengan begitu keras.

"Bos. Apa Bos juga menjadi bodoh setelah di pukul nya? bangun Bos, setidaknya Bos bisa menghindari pukulan nya kan, habislah sudah wajah tampan Bos jadi babak belur begini." Raka menghampiri Ansell, masih sempat sempatnya melawak di saat genting seperti ini.

David dan Raka kalang kabut, David mencekam tangan Alex agar tidak melayangkan pukulannya lagi. Sedangkan Raka, membantu Ansell yang tersungkur di lantai untuk berdiri.

Mereka dari tadi sudah tidak enak hati membiarkan dua laki laki ini bicara empat mata. Dan benar saja apa yang mereka khawatirkan sudah terjadi. Saat David dan Raka masuk, Alex sedang membabi buta memukul Ansell tanpa ampun, dan yang lebih mengkhawatirkan, Ansell yang terus di pukul tetap diam tanpa perlawanan.

Alex berontak dari cengkraman David, belum puas rasanya ia melampiaskan kekesalannya.

"Ia, Aku gila karena laki laki ini," Secepat kilat Alex melepaskan diri dari cengkraman David, mendekati Ansell langsung mencekam erat jas yang di kenakan nya.

David hanya bisa melongo rupanya Alex yang sekarang lebih

kuat dari pada sebelumnya.

"Lex lepaskan!" Setelah sadar dari kekaguman pada sahabat lamanya, David kini kembali menarik tubuh itu. Bersamaan dengan Raka yang sudah bersiaga menjaga Bos nya.

"Kalian masih membela si berengsek ini hah, apa kalian juga sama berengsek nya dengan dia?" Alex berontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman David dan Raka, namun percuma dua lawan satu membuatnya tidak bisa apa-apa.

"Lepaskan saja, biarkan dia sampai puas melakukan nya." Iya, mungkin dengan cara itu Ansell akan sedikit lebih lega, setidaknya mungkin itu sebanding dengan apa yang telah ia lakukan dulu pada teman lamanya.

"Bos....?"

David dan Raka di buat heran dengan ucapan Ansell, sekuat apa tubuh Bos nya sampai masih sanggup menerima pukulan Alex, padahal David sendiri butuh tenaga yang kuat untuk menahan tubuh Alex agar menghentikan kegilaannya.

Secepat kilat, saat David dan Raka lengah, Alex lepas dari cengkraman mereka, menghampiri Ansell dan kembali mendaratkan pukulan dengan begitu keras sampai Ansell kembali terjungkal di lantai.

"Anak ini sekarang lumayan kuat juga," Ansell merintis kesakitan, tangannya refleks memegang bekas pukulan di wajahnya.

"Kau kira aku akan memaafkan mu meski kau hanya diam saja. Selain berengsek apa sekarang kau juga pikun sampai lupa apa yang telah kau lakukan padaku hah?"

"Sorry..." Ansell kini mulai membuka mulutnya. Sambil menahan sakit dia berusaha bangun. Mengusap darah segera yang keluar di ujung bibirnya. Pukulan Alex sudah menggores wajah tampan nya namun permasalahan akan semakin rumit kalau dia melawan nya.

Alex tersenyum masam, "Kau kira semua cukup dengan kata maaf hah? Kau membuang ku, menyuruh ku mendapatkan kekuasaan dan kekayaan melebihi mu agar bisa berada di sampingnya. Tapi sebelum aku kembali kau telah menikahkan nya. Apa kau tidak tahu kalau aku benar benar tulus mencintai nya." Bibir Alex bergetar suaranya makin tinggi, hatinya sakit jika mengingat kenyataan kalau Alika kini sudah menikah.

"Sorry Lex, aku mengaku salah, semua ini di luar kuas ku. Aku dan Alika, kita semua sudah berubah," Ansell berusaha menjelaskan, tapi percuma, Alex masih di kuasai amarah dan lagi lagi melayangkan tangan ingin memukul Ansell, namun kali ini dengan sigap Ansell menangkisnya.

"Aku sudah minta maaf, bisakah kita membicarakan ini dengan baik baik? inikah cara menyapa mu setelah sekian lama kita tidak bertemu?" Ansell mempertajam tatapan nya, dengan keras mengibaskan tangan Alex dari genggaman nya.

"Kalau kau tidak terima dengan sapaan ku, kenapa kau tidak membalas nya?" Walau mungkin amarahnya belum reda, Alex berusaha merendahkan suaranya, nyalinya sedikit menciut melihat tatapan tajam Ansell pada nya.

"Anggap saja kita impas," Ansell mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu, dia pun dengan begitu buas memukul Alex tanpa mendengar penjelasan dari nya.

"Kalau saja tidak mengingat Zahra dan bayi yang di kandung nya, ingin sekali Aku membalas pukulan nya. Akah sakit sekali,"

Sambil melangkah mencari tempat duduk, Ansell menabrak keras pundak Alex walau mungkin impas tapi ia merasa kesal atas semua pukulannya.

Mata Ansell kini beralih melihat David dan Raka. Mata mereka bertemu, saling menatap dengan tatapan yang hanya bisa di artikan oleh ketiganya.

"Wah hebat Bos kita, hanya dengan tatapan mata saja bisa membuat si Alex jinak." arti tatapan David dan Raka.

"Sudah puas mengagumi nya? apa kalian akan terus berdiri di sana tanpa mencari sesuatu untuk mengobati luka ku?" Ansell makin melebarkan mata, begitulah arti dari tatapannya.

"Akah baik Bos..." Raka cepat tanggap langsung tersenyum kikuk dan membisikkan sesuatu pada David di samping nya.

"Aku akan mencari sesuatu untuk mengobati luka si Bos, kau tetap di sini! jangan sampai mereka adu jotos lagi." Raka pun bergegas keluar ruangan.

...***...

Di sisi lain di waktu yang bersamaan, semua pelayan di rumah Ansell di buat pontang panting dengan kabar kalau Nona muda mereka akan melahirkan. Sang sopir yang awalnya sudah tidur kini harus membuka mata menyiapkan mobil untuk membawa Zahra ke rumah sakit, dengan hati yang gelisah takut jika ia melakukan kesalahan karena sang Tuan belum juga pulang.

Zahra sedang bersandar di tempat tidur, mengelus ngelus perutnya yang makin sakit,

menunggu kedatangan Ibu yang sedang turun ke bawah mencari bantuan.

"Habib, cepat pulang!"

Ada sedikit rasa sedih di hati Zahra. Di saat ia harus menahan rasa sakit akan melahirkan suaminya malah susah di hubungi dan belum juga pulang.

Zahra kini meletakkan ponselnya, percuma saja dia menghubungi Ansell, karena nomer suaminya tetap tidak bisa di hubungi.

Zahra sudah bertanya pada Keysa dan Jenika, ternyata suami mereka pun sama-sama belum pulang dan tidak bisa menjawab penghilang telepon dari istri istrinya.

Ibu kini sudah kembali, membawa dua pelayanan untuk membantu menyiapkan segala keperluan untuk di bawa ke rumah sakit.

"Apa Ansell masih belum bisa di hubungi?" Ibu mendekati Zahra, segera merangkulnya karena bisa menangkap ada kekecewaan di wajah menantunya. Zahra menggelengkan kepala pelan, menarik napas panjang dan perlahan menghembuskan nya. Mengatur rasa sakit karena ritme yang makin kerap terasa sakit di perut nya.

"Sabar ya sayang mungkin acaranya belum selesai, sini biar Ibu bantu! kita ke rumah sakit sekarang ya, nanti Ibu hubungi Ansell, dan menyuruhnya menyusul ke Rumah Sakit." Ibu membantu Zahra mengikat rambut dan membantu mengenakan kerudung nya.

"Iya Bu, tapi tunggu Ayah dulu ya Bu, sebentar lagi Ayah ke sini," Saat Sang suami tidak bisa di hubungi, Ayah lah yang menjadi pelarian Zahra, berusaha menghilangkan kegelisahan dan dia akan tetap aman tanpa kehadiran suaminya.

...***...

"Kau memukul ku cukup keras ya sampai ponsel yang Aku pegang terjatuh di lantai, kalau ponsel ku sampai rusak habis kau. Ambil sana!"

Ansell bersandar di sofa, mengibaskan tangan mengisyaratkan agar Alex memenuhi perintah nya.

"Sialan Kau, sebenarnya ini daerah kekuasaan mu atau kekuasaan ku hah? seenaknya saja memerintah ku," Bibir protes. Tapi apalah daya, badan itu langsung menciut melihat tatapan Ansell yang menatap tajam dirinya. Dan dengan cepat mengambil ponsel Ansell di mana tadi ia membabi buta memukul nya.

David cengar-cengir, merasa puas dengan pemandangan di depannya. "Si Ansell walau babak belur begitu, aura gangster nya tetap aja masih keluar."

"Kenapa? sedang mentertawakan ku hah?"

Ansell menendang kaki David di samping nya, merasa di ledek karena sebelumnya ia tidak akan pernah membiarkan seseorang menyentuh tubuhnya apalagi sampai melukainya.

"Mana berani Sell," David hanya terbahak dalam hati, merasa lucu melihat ekspresi Ansell yang tetep marah walau sebenarnya ia sedang menahan rasa sakit di wajahnya.

Alex kembali duduk di depan Ansell, melemparkan ponsel pada pemiliknya.

"Jika rusak Aku bisa mengganti nya."

Sudah berkali kali Ansell berusaha menghidupkan ponsel nya. Ia bukan terlalu sayang pada ponselnya, tapi Ia ingin bergegas menghubungi Zahra dan mengetahui keadaannya. Namun naas, akibat benturan yang keras membuat ponsel itu tidak kunjung menyala.

"Kau berani merusak ponsel ku?" Ansell melebarkan mata, namun kali ini Alex mempunyai keberanian lebih untuk melawan orang di depannya.

"Kau masih peduli dengan ponsel mu. Hati ku sudah remuk dan rusak melebihi itu gara gara mu Sell." Kemarahan Alex muncul kembali. Membuat Ansell sejenak lupa tujuan untuk menghubungi istrinya.

"Kalau saja aku belum mengetahui seperti apa suami Alika, mungkin Aku akan benar benar membunuh mu karena menikahkan Alika dengan laki laki lain."

Iya, hati Alex memang sakit, rasanya tidak terima dengan kenyataan ini, tapi jujur hati kecilnya sedikit tentang jika mengingat kembali perlakuan Ali yang begitu mengkhawatirkan Alika, terlihat jelas kalau laki laki itu begitu mencintai mantan kekasihnya.

"Syukurlah kalau kau sudah melihatnya. Mereka sudah bahagia, jadi jangan mengganggu nya Lex," Ansell akan berusaha memastikan kalau mereka baik baik saja. Meyakinkan kalau Ali akan membuat Alika bahagia walau tanpa kekayaan dan kekuasaan seperti yang sudah Alex dapatkan sekarang.

"Kau kira aku tidak tahu, Suami Alika bukan orang berada, Aku yang lebih pentas bersama nya, aku memiliki segalanya dan aku akan membahagiakan Alika. Aku akan terus mengawasi Alika dan mengambilnya kembali Sell." Alex di buta kan cinta, bukanlah hal yang mudah untuk meluluhkan nya.

"Apa kau gila, kebahagiaan tidak di ukur oleh kekuasaan dan kekayaan Lex, Alika lebih pantas bersama Ali jadi kau jangan mengganggu nya." Ansell meningkatkan suaranya, gusar sendiri dengan sikap laki laki di depannya.

Alex terbahak, "Kau mengatai ku gila, padahal kau sendiri yang lebih gila. Apa kau tidak sadar aku menjadi gila karena siapa hah." Alex ikut meninggikan suaranya, kesal rasanya jika mengingat perkataan Ansell di masa lalu.

"Apa yang kau miliki sampai bisa membahagiakan Alika hah, bahkan kau tidak memiliki kekuasaan dan harta. Jatuhi Alika, jangan pernah kembali sebelum kau mendapatkan semuanya." Perkataan Ansell di masa lalu.

"Iya maaf, aku dulu mengucapkan itu karena di kuasai amarah, dan belum berubah seperti sekarang Lek." Ansell merendahkan suaranya, harus bagaimana lagi menjelaskan pada Alex agar dia tidak menggangu rumah tangga adiknya, dan memaafkan kesalahannya di masa lalu.

"Lex, Ali memang orang bisa, tidak memiliki kekuasaan dan harta, tapi dia mempunyai hati yang baik, Alika sudah berubah menjadi lebih baik karena nya."

"Pemikiran ku yang dulu dan pemikiran mu sekarang sama, menganggap kebahagiaan terletak pada kekuasaan dan kekayaan, namun keyakinan itu salah Lex.

Kebahagiaan tidak terletak pada harta penampilan maupun keindahan dunia, kebahagiaan berasal dari keikhlasan hati. Ku harap kau mengerti." Ansell berusaha menenangkan Alex, walau mungkin tidak mudah ia akan berusaha meluluhkan nya, dan juga mengajak Alex untuk lebih baik kedepannya.

Alex terdiam, dia bungkam bukan mencerna setiap perkataan Ansell, dia hanya kagum. Apakah orang yang di depannya beneran Ansell, atau mungkin ia salah orang? kenapa dia bisa begitu berubah tidak seperti dulu, begitu pikirnya.

"Aku tidak yakin kalau Ali bisa membahagiakan Alika, bahkan dia bukan pengusaha yang banyak harta, bagaimana Alika akan bahagia Sell?" Cinta Alex terlalu dalam pada Alika, sampai ia tidak bisa melihat kekasihnya menderita.

"Kekayaan sejati tidak di ukur dari banyak harta yang kita miliki, melainkan di ukur dari hati yang merasa cukup. Alika sudah cukup bahagia dengan apa yang di berikan suaminya. Ikhlaskan Alika, dia sudah menjadi tanggung jawab suaminya."

"Berjalan lah ke jalan yang lebih baik, jika ada sesuatu yang hilang dari diri kita bersabar lah. Jika itu milik kita insyaallah akan kembali, jika tidak, akan Allah ganti dengan yang lebih baik lagi." Menyimpan dendam bukan hal yang baik, jalan satu-satunya tidak lain saling mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan semuanya.

Alex menundukkan kepalanya, dia belum bisa berkata kata.

"Maafkan perlakuan ku dulu, Alika sudah bahagia dan ku harap kau pun bahagia walau bukan dengan nya." Ansell mengakhiri perkataan nya. Lebih tenang melihat Alex yang diam, berarti dia perlahan meluluhkan nya.

Saat semua terdiam, Raka tanpa permisi masuk dengan terburu-buru.

"Bos... gawat Bos!"

"Sepertinya kita bakal kena pukul Ayah mertua. Ayo pulang Bos ini mendesak!"

Raka tanpa permisi menarik tangan Ansell, menggusur tubuh itu berjalan keluar.

"Apa kau sudah gila hah, lepaskan tanganku."

"Sabar Bos. Vid ayo pulang," tidak menggubris kemarahan Ansell, Raka malah terus menarik Ansell keluar, dan mengajak David untuk mengikuti nya.

"Ada apa bodoh...?" Ansell dan David berteriak bersamaan karena heran.

"Non Zahra akan melahirkan, Ayah mertua sudah di rumah sakit menemaninya." Raka menjelaskan, membuat Ansell terkejut bukan main mendengar nya.

.

.

.

1
Lilik Farihah
wkkwk...kita temenin bang alex
Lilik Farihah
hha.hha..asli ngakak baca yaa
Sindun Solissa
bagaus
Dwi Setya S
kenapa ga di lanjut kak.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
Nurma Lisa Hasanah
🤣🤣🤣luccu jg
Dewi Nurlela
Alex sama Rani aja thor
Romadhoni Indra5758
thor kok digantung sih ceritanya?
Yayoek Rahayu
baik banget suaminya Alika
Yayoek Rahayu
sangat setuju dg zahra...
Romadhoni Indra5758
kok lama blm up lg thor
Iyaa Lia
salut sama novel ini..
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏
Joko Jokoo
smpe terbawa mimpi dgn cerita ini. dicek2 belum dilanjut lgi. tpi cek profil othor ny ad karya baru. knp ini gk dilanjut lgi😥😥
Joko Jokoo: msa lupa kk, lanjut dong
total 2 replies
Tri Sudarso
baca novel ini berasa di kehidupan nyata ya sederhana tp menghibur...tanpa konfkik berat...semua pasangan sllalu bikin baper abis....🤗🤗
Muhibbah
lanjut tor 💪👍
Joko Jokoo
buka2 mna tau ad tulisn up
Ainin Mu
hahaha godaaan terbesar snih
Ainin Mu
ketemu deh ya
Ainin Mu
hamil kan
Ainin Mu
Alek ma istri bikin q deg deg persis Ansel 11,12
Ainin Mu
jgn end dlu Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!