Jangan menilai seseorang hanya karena masa lalunya. Setiap orang pasti mempunyai masa lalu yang buruk.
Semua orang pasti pernah berbuat salah, hanya letak kesalahannya saja yang berbeda, dan berbeda juga cara orang menanggapinya.
Jenny adalah seorang model cantik yang sudah go Internasional. Kehadiran nyawa baru dalam rahimnya membuat Jenny memilih mundur dari pekerjaannya saat
ini.
Hamil dari seorang pria yang sama sekali tidak dicintainya ditambah lagi pria tersebut sangat membencinya, membuat Jenny yakin akan keputusannya untuk memulai kehidupan baru bersama calon Anaknya.
Bagaimana kelanjutan perjalanan hidup Jenny?
Baca kelanjutan kisahnya dengan masukan cerita ini dalam rak buku kalian atau tekan favorit. Like, komen, vote dan masukan dari kalian juga diperlukan agar kisah ini semakin menarik. Terima kasih.🙏🤗
Follow Ig: NonaFi0609
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Kota P menjadi kota yang di pilih Jenny untuk memulai kembali perjalanan hidupnya.
Saat ini Jenny sedang berada di salah satu hotel yang berada di kota P.
"Nak, mulai sekarang kita tinggal disini ya. Kamu baik-baik di dalam sini," ucap Jenny mengusap perutnya.
Lewat media sosial Jenny mulai mencari-cari rumah ataupun lahan tanah yang cocok untuknya.
Setelah hampir 2 jam lamanya berkutat dengan phonsel. Jenny memutuskan untuk mandi, menunaikan sholat setelah itu mulai menyusuri sekitaran kota P.
"Pak, eh Ibu. Bu, saya cancel saja pesanannya tapi saya tetap pakai jasa taxi ibu secara offline. Bisa kan Bu?" tanya Jenny ramah kepada Ibu-ibu supir taxi online yang di pesannya.
"Boleh mba, jadi tujuannya mau kemana ini mba?" tanya sang Ibu tak kalah Ramah.
"Ini Bu, Ada beberapa tempat yang mau saya datangi," nawab Jenny memberikan daftar beberapa alamat yang sudah di catatnya di sebuah kertas.
"Oh, iya baiklah Mba."
"Tapi sebelum itu kita cari makan dulu ya, Bu. Menurut Ibu dimana makanan yang enak disini?"
"Ada Mba, di daerah sana. Mba mau?"
"Boleh Bu, Ibu temani ya. Ibu juga belum makan siang, kan?" pinta Jenny.
"Iya, terima kasih sebelumnya mba," jawab sang ibu pelan.
Cantik dan sangat ramah. Sepertinya wanita ini bukan orang biasa. Wajahnya lebih mirip seperti artis-artis yang sering muncul di Tv.
Batin sang Ibu menatap Jenny dari spion.
"Oh iya Bu, kenalkan nama saya Jenny. Kalau Ibu?" tanya Jenny lagi kembali membuka obrolan.
"Saya Desi mba. Mba baru ya di kota Ini?"
"Iya Bu, saya baru di sini. Ini juga saya masih menginap di hotel, karena belum punya tempat tinggal. Itu alamat yang saya kasih tadi alamat beberapa hunian yang saya lihat di jual. Saya mau lihat-lihat dulu siapa tau ada yang cocok." Jelas Jenny panjang pada Desi.
"Oh, begitu. Mba lagi hamil ya? Suaminya mana?" pertanyaan sang Ibu, namun tidak membuat Jenny terkejut mendengarnya karena pertanyaan seperti ini sudah sering di terimanya.
"Saya tidak punya suami Bu, Saya hamil diluar Nikah, karena satu musibah. Tapi, bagi saya anak saya bukan musibah, dia sebuah anugerah!" jawab Jenny cepat sembari tersenyum.
Kasihan kamu Nak. Saya yakin kamu wanita baik-baik.
"Sabar ya, Mba. Semua pasti akan ada hikmahnya," ucap sang Ibu yang sangat tak di duga oleh Jenny, Jenny sempat berpikir bahwa mungkin sang Ibu akan menjadi jijik kepadanya tapi nyatanya Ibu tersebut malah menyemangatinya.
"Iya Bu, terima kasih. Eh, sudah sampai ya Bu?" tanya Jenny lagi, saat mobil berhenti di sebuah kedai yang terlihat sederhana, namun sangat ramai pengunjung
"Iya Mba."
"Ya sudah ayo, Ibu juga makan temani saya." linta Jenny lagi lebih dulu keluar dari mobil.
***
1 Minggu kemudian, Jenny sudah menempati sebuah hunian yang terlihat cukup besar, luas dan mewah. Berlokasi di pusat kota P.
Dekat dengan rumah sakit, lerkantoran, pusat perbelanjaan, dan tentunya dengan keamanan yang terjamin 24 jam.
Satu hal yang saat ini juga di syukuri Jenny adalah uang. Jenny sangat bersyukur di tengah masalah yang di hadapinya setidaknya Jenny tidak kesulitan dengan uang. Karena apa, karena uang tabungan di tambah lagi uang dari hasil penjualan rumah yang di berikan Sean sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum lagi setoran yang setiap bulan masuk ke rekeningnya dari hasil pusat perbelanjaan yang di berikan Sean. Jenny sangat bersyukur, setidaknya dengan uang jalannya tidak menjadi buntu untuk melanjutkan kehidupan bersama anaknya.
****
Di lain tempat, seorang Pria tampan masih terus dan terus berusaha mencari Jenny, namun hasilnya tetap lah nihil, alamat terakhir Jenny yang ditemukan Niko adalah sebuah pondok pesantren. Tapi, lagi-lagi usahanya sia sia, karena Jenny sudah pergi dari sana, dan sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana keberadaan Jenny.
Niko menjadi semakin merasa bersalah jika mengingat semua cacian yang dilontarkan Kiki kepadanya. Satu Hal yang selalu terngiang di telinganya adalah kata kata Kiki yang mengatakan, "Karena dirimu Jenny harus menjalani kehidupan yang buruk."
"Jen, kamu dimana? Ya Tuhan, berikan aku kesempatan paling tidak untuk meminta maaf padanya," gumam Niko mengusap kasar wajah nya.
Sebenarnya saat ini ada satu orang yang mengetahui keberadaan Jenny, orang tersebut adalah Sean. Atas permintaan dari Naura, Istrinya, Sean berhasil membungkam setiap gosip buruk tentang Jenny. Dengan kuasanya, Sean juga menghilangkan semua Jejak Jenny agar semua pihak yang berniat mencari tahu tentang Jenny tidak dapat menemukannya.
Sean akui dia merasa kasihan kepada sahabatnya yang terlihat bingung mencari keberadaan Jenny. Namun, di satu sisi Sean merasa lebih baik Jenny tenang disana tanpa gangguan dari siapapun, Sean ingin melihat dulu kesungguhan dari Niko, karena saat ini Sean sangat tahu bahwa Niko belum benar-benar berubah. Sean ingin melihat dulu sepenuhnya kesungguhan Niko yang menyadari kesalahannya dan merubah semua sikap Buruknya agar dikemudian hari tidak akan menyakiti Jenny Lagi. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, namun itu semua dilakukan Sean dan Naura demi kebaikan Jenny.
****
Usia kehamilan Jenny sudah memasuki usia sembilan bulan. Jeny sudah menghubungi supir taxi yang dulu pernah membawanya pergi dari pesantren, dan sekarang supir taxi tersebut beserta anak dan istrinya tinggal dan bekerja bersama Jenny di kediaman Jenny di Kota P.
Jenny yang merasakan sangat merindukan keluarga pondok terutama ummi Nurul dan Kiki, akhirnya mencoba menghubungi mereka.
"Assalamualaikum," ucap suara yang begitu Jenny rindukan
"Waalaikumsalam."
"Halo. Ini siapa, ya?"
tanya ummi Nurul di seberang sana.
"Ummi. Apa Ummi sudah lupa dengan suara putri cantik ummi ini?" ucap Jenny membuat ummi Nurul seketika menangis karena haru dapat mendengar kembali suara orang yang sangat di rindukannya.
"Nak, ini kamu. Ummi sangat merindukanmu. Apa kamu sehat? Bagaimana keadaan cucu Ummi? Kamu dimana sekarang? Apa semua baik baik saja?" ucap Ummi bertanya dengan berbagai pertanyaan membuat Jenny tersenyum mendengarnya.
"Ummi tolong jangan menangis. Aku baik-baik saja, cucu ummi juga. Kata dokter cucu ummi laki-laki. Bagaimana dengan kabar kalian disana?" ujar Jenny.
"Alhamdulillah kami semua disini baik, nak. Bahkan kabar baiknya lagi minggu lalu Kiki sudah menikah dengan ustadz Ilham," jawab ummi Nurul sedikit membuat Jenny terkejut, namun turut bahagia.
"Syukurlah kalau begitu. Aku pikir Kiki menikah sama ustadz Yusuf, Mi," ucap Jenny tertawa mengingat jika yang pertama disukai Kiki adalah ustadz Yusuf.
"Nggak Jen, Jodohnya ustadz Ilham!" jawab ummi lagi.
"Mi, Ummi mau nggak tinggal disini bersamaku?" tanya Jenny pelan merasa harap cemas, takut kalau-kalau ummi menolak.
Hanya suara tangisan dari ummi Nurul di balik telepon yang terdengar membuat Jenny bingung.
"Ummi kalau tidak mau tidak apa-apa, ummi jangan menangis!" ucap Jenny cepat.
"Kamu putri ummi yang bodoh, jelas ummi tidak akan menolak nak. Sudah sangat lama ummi menantikan kamu menghubungi dan mengatakan hal ini," jawab Ummi yang membuat air mata Jenny menetes terharu mendengarnya.
"Kirim alamatmu. Besok lusa Ummi akan langsung kesana. Ummi harus berpamitan dan membicarakan semuanya pada keluarga pondok dulu," ucap ummi Nurul lagi.
"Baiklah Ummi. Terima kasih ya ummi, setelah ini aku kirim alamatku. Titip salam buat semua yang ada disana ya, Mi. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab ummi mengakhiri sambungan telepon.
Ya Allah terima kasih karena aku dikelilingi oleh orang orang baik seperti mereka.
***