Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ANTARA CINTA, LUKA, DAN KERAGUAN
Deru halus motor milik Fatih perlahan melambat saat memasuki pekarangan rumah Maira. Namun, baru saja lampu sorot motor menerangi area teras, dada Maira seketika berdesir tajam dihantam rasa tak nyaman. Sial bagi Maira, malam ini ketenangannya kembali terusik.
Di atas kursi teras kayu, tampak sosok Rayn sedang duduk menunggu. Penampilan lelaki itu terlihat mengenaskan; kepalanya masih terikat perban putih, begitu pula dengan salah satu kaki dan lengannya pasca-kecelakaan kemarin. Begitu melihat Maira turun dari boncengan motor Fatih, sepasang mata Rayn langsung menyipit tajam. Ada kilat kecemburuan yang membakar tatapannya, tak menyangka bahwa Maira bisa secepat itu mendapatkan sosok laki-laki lain yang tampak jauh lebih berwibawa.
Rayn bangkit berdiri dengan tertatih, bertumpu pada kaki sehatnya demi menghampiri Maira yang masih mematung di dekat motor Fatih.
“Mai... Lo udah gak apa-apa, kan? Maafin gue, Mai... Maafin gue karena keegoisan gue kemarin malam sampai bikin Lo celaka dan terluka kayak gini,” ucap Rayn dengan nada memelas yang terdengar dipaksakan. Tangannya terulur, berusaha meraih dan menggenggam jemari Maira untuk meminta pengampunan.
Namun, sebelum kulit kasar Rayn sempat menyentuh permukaan tangannya, Maira dengan sigap dan dingin langsung menepisnya kasar. Ia melangkah mundur satu jengkal, memberikan jarak yang tegas.
“Ray, mau ngapain lagi Lo ke sini?” desis Maira tajam. Suaranya terdengar bergetar menahan amarah yang mendadak membumbung tinggi.
“Mai, gue pengen Lo balik. Gue bener-bener gak bisa hidup tanpa Lo, Mai... Tolong, balik lagi ke gue ya? Gue janji, kali ini gue bakal berubah. Gue gak akan kasar lagi, gue bakal turutin semua mau Lo,” mohon Rayn dengan raut wajah memelas, mencoba memanfaatkan sisa-sisa kenangan masa lalu mereka.
Maira menarik napas dalam-dalam, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan yang teramat dingin dan hampa. “Gak bisa, Ray. Hati gue udah mati rasa sama Lo. Mau Lo mohon-mohon sampai berlutut pun, rasanya gak akan pernah sama lagi.”
“Gak! Gak mungkin!” sentak Rayn tiba-tiba, emosinya yang labil mulai terpancing. “Kita ini udah lama banget pacaran, Mai! Bertahun-tahun kita bareng! Masa iya Lo bisa dengan mudahnya hilang rasa dan ngelupain semua kenangan kita begitu aja?”
Rayn menjeda kalimatnya, lalu perlahan mengarahkan telunjuknya yang gemetar ke arah Fatih yang sejak tadi berdiri tenang di sebelah motornya. “Pasti gara-gara cowok ini, kan? Lo kecantol sama cowok alim ini makanya Lo buang gue?!”
Maira mengepalkan tinjunya erat-erat, merasa sangat tersinggung. “Rayn! Jaga ucapan Lo! Hubungan kita yang hancur ini sama sekali gak ada hubungannya dengan dia! Justru dia... dia orang baik yang udah nolongin gue di saat gue hampir putus asa dan mau mati karena dikhianati sama Lo!”
Mendengar kenyataan pahit itu, Rayn seolah kehilangan argumennya sejenak. Ia kembali memasang wajah memelas, menatap Maira dengan mata berair. “Maira... plis, Mai. Maafin gue...”
“Ray, gue bakal maafin semua kesalahan Lo... kalau Lo pergi dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan gue,” ucap Maira dengan penekanan di setiap katanya, mutlak tanpa celah negosiasi.
Maira melirik canggung ke arah Fatih yang sejak tadi hanya terdiam menyimak. Di dalam dadanya, rasa malu yang luar biasa kembali membuncah hebat. Maira merasa sangat hina dan rendah karena lagi-lagi, masalah pribadinya yang berantakan harus disaksikan secara langsung oleh sosok suci seperti Fatih.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif dan mengarah pada kekerasan verbal, Fatih akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Langkah kakinya maju selangkah, menempatkan tubuh tegapnya sedikit di depan Maira seolah menjadi perisai tak kasat mata.
“Mas, sudah, Mas... lebih baik sekarang Mas pulang dulu dan obati lukanya dengan baik. Tidak baik memaksa kehendak orang lain seperti ini, apalagi ini sudah larut malam,” ucap Fatih dengan nada suara bariton yang sangat tenang, sopan, namun memiliki penekanan wibawa yang tak bisa dibantah.
Rayn menatap Fatih dengan pandangan bermusuhan yang sarat akan kebencian. “Diem Lo! Jangan sok ikut campur urusan gue sama cewek gue!”
Fatih tidak terpancing emosi sedikit pun, ia tetap menatap Rayn dengan pandangan teduh yang membuat Rayn justru merasa terintimidasi.
Sadar bahwa dirinya tidak akan bisa melunakkan hati Maira malam ini, ditambah kondisi fisiknya yang masih kesakitan, Rayn akhirnya mundur selangkah demi selangkah. Ia menunjuk wajah Maira dengan pandangan mata yang berubah menjadi dingin dan penuh dendam.
“Oke, Maira... oke. Kalau Lo emang bersikeras gak mau balik sama gue lagi, gak apa-apa. Tapi gue pastiin... gak akan pernah ada siapapun laki-laki di dunia ini yang bisa milikin Lo! Kalau gue gak bisa dapetin Lo lagi, orang lain juga jangan harap bisa!” ancam Rayn dengan nada berbisik yang mengerikan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah tertatih meninggalkan pekarangan rumah Maira.
Setelah bayangan Rayn benar-benar lenyap ditelan kegelapan malam, keheningan yang teramat canggung kembali merayap di antara Fatih dan Maira. Maira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis dan rasa malu yang mendera dadanya.
“Lagi-lagi... Lo harus nyaksiin masalah pribadi gue yang memalukan ini, Fatih,” bisik Maira dengan nada suara yang bergetar lirih, tak berani mendongak menatap mata Fatih.
Fatih mengembuskan napas hangat, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat tulus. Tidak ada sentuhan fisik, tidak ada dekapan atau pelukan penenang yang biasa dilakukan lelaki duniawi, namun tutur kata dan pembawaan tenang Fatih justru mengalirkan kedamaian yang luar biasa di dalam rongga dada Maira yang semula sesak.
“Sudah, tidak apa-apa, Maira. Tidak perlu merasa sungkan atau malu pada saya,” ucap Fatih lembut. “Sekarang, sebaiknya kamu segera masuk ke dalam rumah, kunci pintunya rapat-rapat, lalu istirahat ya. Jangan terlalu banyak pikiran.”
Maira perlahan mendongak, menatap wajah teduh di depannya dengan binar mata yang sarat akan rasa terima kasih yang mendalam. “Makasih banyak ya, Fatih... buat semuanya.”
“Sama-sama, Maira,” jawab Fatih ramah, memberikan senyuman menenangkan sebelum akhirnya memakai helmnya kembali.
Setelah memastikan Maira melangkah masuk ke dalam rumah dan mendengar suara pintu depan dikunci dengan aman dari dalam, Fatih barulah menarik tuas gas motornya. Ia melajukan kendaraannya membelah jalanan malam kota yang sudah mulai sunyi dan berangin dingin.
Sesampainya di rumah, Fatih menaruh kunci motornya di atas meja kecil dekat pintu masuk. Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju kamarnya, langkah kakinya terhenti ketika mendapati Aisyah yang rupanya belum tidur dan sedang duduk di ruang tengah dengan sebuah buku di pangkuannya.
“Mas Fatih habis dari mana kok jam segini baru pulang?” tanya Aisyah langsung, menatap kakaknya dengan dahi berkerut penuh selidik.
Rupanya, inisiatif Fatih untuk kembali ke kafe dan memastikan keselamatan Maira tadi sama sekali bukan karena suruhan Aisyah seperti yang ia katakan pada Maira. Itu murni dorongan dari lubuk hati Fatih sendiri yang merasa tidak tenang. Namun, demi menutupi ketertarikannya yang mulai tumbuh, Fatih harus memutar otak mencari alasan logis.
“Mas habis mengantar Maira pulang, Syah. Ternyata dia belum mendapatkan taksi online-nya sampai larut,” jawab Fatih tenang, mencoba bersikap sewajar mungkin. “Sebenarnya tadi Mas berniat pergi ke kantor sebentar untuk mengambil berkas sketsa desain interior yang tertinggal. Tapi di tengah jalan, tidak sengaja Mas melihat Maira masih berdiri sendirian di dekat halte depan kafe. Karena hari sudah terlalu malam dan sepi, Mas merasa tidak tega dan khawatir terjadi apa-apa, makanya Mas putuskan untuk mengantarnya terlebih dahulu.”
Aisyah meletakkan bukunya perlahan, lalu menatap lekat-lekat mata kakak laki-lakinya itu. Sebagai adik yang tumbuh bersama, Aisyah sangat hafal setiap gerak-gerik kakaknya.
“Mas... Aisyah boleh tanya satu hal?” tanya Aisyah dengan nada yang mendadak berubah serius.
“Apa? Tanyakan saja,” sahut Fatih santai sembari merapikan letak kemejanya.
“Mas... apa Mas suka sama Mbak Maira?”
Pertanyaan menohok dari sang adik seketika membuat detak jantung Fatih seolah berhenti sesaat. Namun, dengan kontrol emosi yang luar biasa sebagai pria dewasa, Fatih tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan santai. Ia terkekeh pelan, mencoba mencairkan ketegangan.
“Kamu ini bicara apa, Syah? Nggaklah. Perasaan Mas biasa saja ke dia, sama seperti rasa peduli Mas ke orang-orang lain yang membutuhkan bantuan.”
“Tapi kenapa akhir-akhir ini Mas sering sekali terlihat tersenyum tulus setiap kali membahas atau berinteraksi sama Mbak Maira?” kejar Aisyah, tak mau kalah. “Aisyah kenal Mas sejak kecil. Mas itu tipe orang yang dingin dan jarang sekali memberikan senyum hangat seperti itu kepada lawan jenis yang bukan keluarga. Tapi sama Mbak Maira, semuanya kelihatan beda banget.”
Fatih tersenyum tenang, menepuk pundak adiknya pelan. “Tidak ada yang berbeda, Aisyah. Masmu ini orangnya memang ramah kepada siapa saja, Kamu tenang saja, insyaallah Mas selalu berusaha menjaga pandangan dan batasan diri dengan baik.”
Aisyah menghela napas panjang, sedikit lega namun juga tersimpan keraguan di matanya. Ia menatap Fatih dengan pandangan penuh harap.
“Baguslah kalau begitu, Mas... Aisyah harap, Mas Fatih bisa mulai membuka hati kembali untuk Ning Halwa. Aisyah itu suka sekali dengan kepribadian Ning Halwa yang anggun dan santun. Umi juga pasti bahagia sekali kalau Mas berjodoh dengan beliau.”
Mendengar ucapan adiknya, Fatih hanya terdiam. Sebenarnya, alasan Aisyah berbicara seperti itu bukan karena ia membenci Maira. Aisyah menyayangi Maira sebagai sahabat kerjanya. Namun, mengetahui masa lalu Maira yang kelam, pergaulannya yang dulu bebas, serta keberadaan mantan kekasihnya yang kasar dan berbahaya seperti Rayn, membuat Aisyah merasa cemas. Ia takut jika kakaknya harus terseret ke dalam lingkaran masalah yang rumit dan membahayakan jika terus berhubungan dengan Maira.
Fatih hanya mengulas senyuman tipis yang sulit diartikan, lalu melangkah menuju pintu kamarnya. “Doakan saja yang terbaik untuk Mas, ya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Fatih menutup pintu kamarnya dengan pelan, meninggalkan Aisyah yang hanya bisa menatap pintu tersebut dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa khawatir.