NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 - Panggilan yang Mengusik

Ponsel Arga terus bergetar.

**Celine Calling...**

Nadira tanpa sadar ikut menatap layar itu. Nama yang muncul terasa seperti batu kecil yang jatuh ke permukaan air tenang. Riaknya tidak besar, tetapi cukup mengganggu.

Arga menghela napas pelan.

"Aku angkat sebentar."

Nadira hanya mengangguk.

"Iya."

Arga menjauh beberapa langkah.

"Hallo, Line."

Suara itu terdengar pelan, nyaris tidak terdengar jelas.

Nadira langsung membalikkan badan dan berjalan ke mejanya.

*"Kenapa aku malah memperhatikan?"*

Ia membuka laptop, mencoba fokus pada revisi presentasi. Namun pikirannya terus melayang.

*"Mereka masih sering teleponan?"*

*"Masih sedekat itu?"*

Ia kesal pada dirinya sendiri.

Baru beberapa hari yang lalu ia yakin tidak peduli.

Sekarang?

Satu panggilan saja sudah cukup membuat konsentrasinya buyar.

---

Sepuluh menit kemudian, Arga kembali.

Wajahnya tidak setenang biasanya.

"Nadira."

"Hm?"

"Aku izin keluar sebentar siang nanti."

"Silakan."

"Celine minta ketemu."

Jemari Nadira berhenti di atas keyboard.

"Oh."

"Cuma sebentar."

Nadira memaksakan senyum tipis.

"Nggak perlu jelasin ke aku."

Arga mengamatinya beberapa detik.

"Aku cuma nggak mau kamu salah paham."

"Kenapa harus takut aku salah paham?"

Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang sempat ia pikirkan.

Mereka sama-sama terdiam.

Arga tersenyum tipis.

"Iya juga."

Lalu ia kembali ke mejanya.

Sementara Nadira menutup wajahnya sebentar.

*"Kenapa aku ngomong begitu?"*

---

Saat jam makan siang, Arga benar-benar pergi.

Rina datang membawa semangkuk bakso dan langsung duduk di samping Nadira.

"Partner-mu ke mana?"

"Keluar."

"Sama siapa?"

Nadira pura-pura sibuk membuka bekal.

"Celine."

"Ooh..."

Rina mengangguk pelan.

"Lama nggak ketemu mantan, ya."

"Mungkin."

"Kamu cemburu?"

Nadira langsung mendongak.

"Rina."

"Apa?"

"Kamu kebanyakan baca novel."

Rina tertawa kecil.

"Justru karena sering baca novel, aku hafal ekspresi tokohnya."

"Dan sekarang ekspresiku bagaimana?"

"Kayak orang yang lagi bilang 'aku nggak peduli', padahal peduli."

Nadira menghela napas.

"Aku cuma..."

"Cuma?"

"...bingung."

"Nah."

"Itu lebih jujur."

---

Sementara itu, di sebuah kafe tak jauh dari kantor...

Celine sudah duduk lebih dulu.

Di depannya ada dua gelas es kopi.

Arga datang beberapa menit kemudian.

"Maaf nunggu."

"Nggak lama."

Celine tersenyum.

"Aku langsung aja ya."

"Boleh."

"Aku dapat tawaran kerja di Singapura."

Arga terlihat terkejut.

"Wah... selamat."

"Kalau jadi berangkat, mungkin bulan depan."

"Itu kabar bagus."

"Iya."

Celine memainkan sedotannya pelan.

"Tapi sebenarnya bukan itu alasan aku ngajak ketemu."

Arga diam.

"Aku cuma mau memastikan satu hal."

"Apa?"

"Kamu benar-benar sudah bahagia?"

Arga tersenyum kecil.

"Aku lagi belajar."

"Dengan Nadira?"

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam cukup lama.

Lalu ia mengangguk pelan.

"Iya."

Celine menatapnya beberapa detik.

Tidak ada air mata.

Tidak ada drama.

Hanya senyum yang sedikit pahit.

"Aku senang."

"Line..."

"Nggak apa-apa."

Ia menggeleng.

"Dulu kita gagal bukan karena kurang sayang."

"Tapi karena kita sama-sama mengejar hal yang berbeda."

Arga mengangguk.

"Aku tahu."

"Sekarang..."

Celine tersenyum lebih tulus.

"...jangan ulangi kesalahan yang sama."

---

Menjelang sore, Arga kembali ke kantor.

Di mejanya, ia menemukan sebuah kotak kecil.

Di atasnya ada secarik kertas.

> **Jangan lupa makan.**

>

> — N

Arga mengangkat kepala.

Nadira sedang fokus menatap layar komputer, pura-pura tidak melihat reaksinya.

Senyum tipis muncul di wajah Arga.

Ia membuka kotak itu.

Di dalamnya ada dua potong roti isi.

Tidak mewah.

Namun cukup membuat dadanya terasa hangat.

Ia bangkit dan menghampiri meja Nadira.

"Ini dari kamu?"

"Kalau nggak mau ya udah, balikin."

"Bukan gitu."

Arga tersenyum.

"Makasih."

Nadira tetap menatap layar.

"Kamu tadi belum makan siang."

"Kok tahu?"

Kini giliran Nadira yang mengulang kalimatnya beberapa hari lalu.

"Kalau kamu lapar..."

Ia melirik Arga sekilas.

"...kamu jadi lebih banyak diam."

Arga tertawa pelan.

"Berarti sekarang kita impas."

"Apa?"

"Sama-sama saling memperhatikan."

Wajah Nadira langsung memanas.

Ia buru-buru kembali mengetik.

"Kebetulan aja."

"Iya."

Arga mengangguk sambil tersenyum.

"Kebetulan."

Namun mereka berdua sama-sama tahu...

Terlalu banyak "kebetulan" yang terjadi akhir-akhir ini.

---

Malam itu, mereka mulai lembur untuk menyiapkan presentasi.

Seluruh lantai kantor mulai sepi.

Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan ketikan keyboard.

Sekitar pukul sembilan malam, listrik tiba-tiba padam.

Ruangan mendadak gelap.

Beberapa orang berteriak kaget.

"Eh!"

"Nyalain senter!"

Di tengah kegelapan, Nadira refleks mencari ponselnya.

Namun sebelum sempat menemukannya, ia merasakan seseorang menggenggam pergelangan tangannya.

"Tenang."

Suara Arga.

"Aku di sini."

Entah kenapa, hanya dua kata sederhana itu sudah cukup membuat jantung Nadira yang sempat berdebar kembali tenang.

Tetapi mereka tidak menyadari...

Dari ujung lorong, sepasang mata sedang memperhatikan tangan mereka yang masih saling menggenggam.

Dan tatapan itu jelas bukan tatapan yang bersahabat.

**Bersambung ke Episode 12...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!