NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Berbeda dengan hari Sabtu minggu lalu yang dipenuhi kepanikan dan kejar-kejaran dengan kurir, hari ini langit Jakarta tampak bersahabat. Cerah benderang tanpa ada tanda-tanda mendung, membuat Arkan bisa tetap berada dalam wujud manusianya yang sempurna—setidaknya untuk saat ini.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan aspal menuju kawasan Menteng, area perumahan elite yang dihuni oleh para pejabat kuno dan konglomerat lama. Di balik kemudi, Arkan fokus menatap jalanan dengan kemeja rajut kasual berwarna sage dan celana jin gelap. Di sebelahnya, Kinanti duduk manis mengenakan gaun terusan kasual bermotif bunga kecil.

Ini pertama kalinya Kinanti melihat Arkan menyetir mobilnya sendiri tanpa Pak Bambang, dan tanpa setelan jas tiga potongnya yang kaku.

"Pak," panggil Kinanti memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara. "Eyang Widya... orangnya galak tidak? Maksud saya, apakah beliau tipe nenek-nenek konglomerat di sinetron yang suka melemparkan cek kosong ke muka perempuan untuk menjauhi cucunya?"

Sudut bibir Arkan berkedut tipis, hampir membentuk senyuman. "Eyang tidak serendah itu untuk memakai skenario sinetron, Kinanti. Beliau jauh lebih mengerikan dari itu. Beliau bisa membaca pikiran orang hanya dari cara mereka memegang cangkir teh."

Kinanti langsung menelan ludah, refleks merapikan posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Bagus sekali. Jiwa sekretaris saya mendadak gemetar."

Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi tempa hitam raksasa yang dijaga oleh dua orang sekuriti berbadan tegap. Di balik gerbang, terhampar sebuah rumah bergaya kolonial Belanda yang sangat luas, dikelilingi oleh pohon-pohon beringin tua dan taman bunga yang dirawat dengan sangat rapi. Aura aristokrat dan kemewahan kuno sangat kental terasa.

Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah, seorang pelayan tua berseragam rapi langsung membukakan pintu untuk mereka. Arkan turun, diikuti oleh Kinanti yang membawa sebuah tas jinjing berisi berkas cadangan (kebiasaan sekretaris yang sulit dihilangkan).

"Selamat datang kembali, Den Arkan. Nyonya Besar sudah menunggu di paviliun belakang," kata pelayan tua itu dengan hormat.

Arkan mengangguk singkat. "Terima kasih, Bik Ani."

Arkan melangkah memimpin jalan melewati lorong-lorong rumah yang dipenuhi foto-foto hitam putih keluarga Mahardika dari generasi ke generasi. Kinanti melirik salah satu foto tua yang diambil sekitar tahun 1920-an. Di dalam foto itu, ada seorang pria berjas kuno yang sedang duduk di kursi kebesaran, dan di pangkuannya... terdapat seekor kucing oranye gembul. Kinanti mengerjap, menatap Arkan yang berjalan di depannya, lalu kembali menatap foto itu. Fix, ini memang penyakit keturunan, batinnya.

Mereka berdua tiba di paviliun belakang yang menghadap langsung ke kolam ikan koi besar. Di sana, duduk seorang wanita lanjut usia dengan rambut putih yang disanggul rapi. Meskipun wajahnya sudah dihiasi kerutan, guratan kecantikan masa muda dan aura kekuasaan yang tegas masih terpancar jelas dari sosok Eyang Widya. Beliau sedang mengenakan kebaya kain sutra, jemarinya yang dihiasi cincin batu zamrud besar sedang menuangkan teh ke dalam cangkir porselen.

"Duduklah, Arkan. Dan... sekretaris barumu—ah, maksud Eyang, Direktur Operasional barumu, Kinanti," suara Eyang Widya terdengar tenang namun berwibawa, menggema di paviliun terbuka itu.

Kinanti tersentak. Gila, beliau bahkan tahu tentang jabatan baru saya sebelum kami sempat menjelaskan!

"Selamat siang, Eyang," kata Arkan, mengambil tempat duduk di kursi rotan di seberang neneknya. Kinanti mengikutinya dengan gerakan se-sopan mungkin.

Eyang Widya menatap Kinanti lama, dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Kinanti merasa seolah-olah sedang dipindai oleh mesin sinar-X bandara. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu abad bagi Kinanti, Eyang Widya akhirnya tersenyum tipis. "Pilihan yang bagus, Arkan. Setidaknya gadismu ini tidak langsung pingsan saat melihatmu berubah jadi hewan rewel yang hobi mencakar gorden."

Wajah Arkan seketika menegang. "Eyang, jangan mulai."

Kinanti menahan tawa sekuat tenaga dengan menggigit bibir dalamnya.

"Jadi," Eyang Widya meletakkan teko tehnya, tatapannya berubah menjadi sangat serius, mengunci pandangan cucunya. "Apa yang membuatmu nekat membawa orang luar ke rumah ini, Arkan? Kamu tahu aturan keluarga kita. Rahasia darah Mahardika tidak boleh bocor ke luar."

"Kinanti bukan orang luar, Eyang. Dia yang menyelamatkan perusahaan dari sabotase Rangga hari Senin lalu saat saya... tertahan dalam wujud itu," bela Arkan, suaranya terdengar tegas dan protektif.

Eyang Widya menaikkan satu alisnya, lalu menatap Kinanti. "Benar begitu, Cah Ayu?"

"Benar, Eyang," jawab Kinanti, berusaha mengontrol suaranya agar tidak bergetar. "Saya menghormati Pak Arkan sebagai atasan saya, dan saya berkomitmen penuh untuk melindungi beliau serta rahasia ini. Kami ke sini karena kami ingin mencari tahu... apakah ada cara untuk mematahkan kutukan ini selamanya? Pemicunya terlalu berisiko bagi operasional perusahaan."

Eyang Widya mengembuskan napas panjang, bersandar pada kursi rotannya. Ia menatap riak air di kolam koi. "Kutukan ini bukan penyakit, Kinanti. Ini adalah sumpah magis kuno yang diikat oleh leluhur keluarga Mahardika dengan penguasa tanah lama ratusan tahun lalu demi mendapatkan kejayaan bisnis. Setiap anak laki-laki pertama yang memimpin dinasti ini akan mewarisi 'Sifat Singa' dalam wujud manusia, tapi akan dijatuhkan menjadi 'Kucing Rapuh' saat jiwanya tidak stabil atau terpapar air langit."

"Lalu, apa tidak ada penawarnya, Eyang?" tanya Kinanti tidak sabar.

Eyang Widya menatap Kinanti dengan binar mata yang misterius. "Ada. Aturan kuno selalu menyertakan celah. Sumpah itu hanya bisa dipatahkan oleh satu hal: Ketulusan tanpa syarat."

Arkan mengernyitkan dahi. "Maksud Eyang? Saya selalu tulus mengelola perusahaan ini."

"Bukan tulus dalam bisnismu, Arkan!" potong Eyang Widya gemas. "Kutukan itu mengunci hatimu agar menjadi dingin seperti harimau. Sumpah itu hanya akan patah jika ada seseorang yang mampu mencintaimu dan menerima dirimu sepenuhnya—bukan karena statusmu sebagai CEO kaya raya, bukan karena ketampanan manusiamu, melainkan seseorang yang dengan tulus mau merawatmu saat kamu menjadi makhluk paling merepotkan, gembul, dan tak berdaya di dunia."

Eyang Widya menjeda kalimatnya, tatapannya beralih perlahan dari Arkan ke arah Kinanti, seolah-olah sedang menjatuhkan sebuah bom tak terlihat di antara mereka berdua.

"Seseorang yang rela membelikanmu baju tidur motif kucing merah muda saat kamu telanjang, dan menyuapimu mi instan goreng saat kamu kelaparan di apartemen sempit," lanjut Eyang Widya dengan nada geli yang tak lagi disembunyikan.

UHUK!

Arkan mendadak tersedak air liurnya sendiri, sementara Kinanti langsung membeku di tempat dengan wajah yang seketika berubah sewarna dengan cabai rawit matang.

"Eyang... dari mana Eyang tahu tentang mi instan dan celana tidur itu?!" tanya Arkan dengan nada suara yang naik satu oktav karena syok luar biasa. Harga diri CEO-nya hari ini resmi hancur berkeping-keping di paviliun Menteng.

Eyang Widya hanya terkekeh pelan, menyesap tehnya dengan sangat anggun. "Sudah Eyang katakan, Arkan. Di rumah ini, bahkan burung gereja di halaman pun melapor kepada Eyang. Jadi, Kinanti..." Eyang Widya menatap Kinanti dengan pandangan penuh harap yang hangat. "...apakah kamu siap menjadi penawar bagi cucu Eyang yang menyebalkan ini?"

Kinanti terpaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia melirik Arkan yang kini sedang memalingkan wajahnya ke arah kolam ikan, mencoba menyembunyikan semburat merah muda yang muncul di tulang pipinya yang tegas.

Di bawah siraman matahari Sabtu siang yang hangat, di sebuah paviliun kuno di Menteng, sang sekretaris yang baru saja naik jabatan itu sadar bahwa tugas barunya sebagai Direktur Operasional ternyata jauh lebih luas—dan jauh lebih melibatkan perasaan—daripada sekadar mengurusi laporan keuangan perusahaan.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!