NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.

Keesokan paginya, seperti biasa Kevin dan Alesha berangkat ke sekolah bersama.

Di perjalanan, Alesha tampak bersenandung pelan sambil menikmati angin pagi.

Kevin yang menyadari suasana hati adiknya sedang sangat baik langsung melirik lewat kaca spion.

"Lagi senang?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Kenapa?"

"Nggak tahu."

Kevin mengangkat alis.

"Nggak mungkin tiba-tiba senang tanpa alasan."

Alesha berpikir beberapa detik.

"Mungkin karena kemarin sore enak."

"Main sama Pingky?"

"Iya."

Alesha memilih tidak menceritakan kalau ia bertemu Arka di taman. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, melainkan karena menurutnya itu hanya kebetulan.

Tak lama kemudian mereka tiba di sekolah.

Kevin memarkirkan motornya seperti biasa.

"Ayo."

Alesha turun sambil merapikan tasnya.

"Pagi, Kak."

"Pagi."

Mereka berjalan berdampingan hingga tiba di persimpangan koridor. Kelas mereka berada di arah yang berbeda.

Kevin mengusap pelan kepala Alesha.

"Belajar yang benar."

"Iya, Kak."

"Jangan tidur."

Alesha langsung memutar bola matanya.

"Kak, kenapa masih dibahas?"

"Karena itu sejarah."

Alesha mendengus pelan.

"Ih."

Kevin tertawa kecil lalu berjalan menuju kelasnya.

Alesha juga melangkah ke kelas bersama Dinda yang baru datang.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Dinda langsung memperhatikan wajah Alesha.

"Lo lagi senang?"

"Iya."

"Kenapa?"

Alesha menggeleng.

"Pokoknya."

Dinda menyipitkan mata.

"Jangan bilang semalam menang undian."

Alesha tertawa.

"Bukan."

"Lalu?"

Alesha hanya tersenyum misterius.

Mereka pun masuk ke kelas.

Sementara itu, di koridor lantai dua, Arka sedang melakukan patroli pagi bersama beberapa anggota OSIS.

Ia berjalan seperti biasa sambil memperhatikan setiap kelas.

Ketika melewati kelas Alesha, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.

Alesha yang sedang berdiri di dekat jendela langsung tersenyum sambil mengangkat tangan kecil.

"Pagi, Arka."

Beberapa teman sekelasnya langsung menoleh.

Arka berhenti sebentar.

"Pagi."

Jawabannya tetap singkat, tetapi kali ini tidak sedingin biasanya.

Setelah itu ia kembali melanjutkan patroli.

Dinda yang melihat kejadian itu langsung mendekati Alesha.

"Tunggu."

"Apa?"

"Sejak kapan lo sama Arka saling sapa?"

Alesha menjawab santai.

"Sejak ketemu kemarin sore."

Dinda membelalakkan mata.

"Ketemu?"

"Iya."

"Di mana?"

"Di taman komplek."

Dinda langsung menatap Alesha dengan ekspresi terkejut.

"Kalian ketemu di luar sekolah?"

Alesha mengangguk.

"Kebetulan."

Dinda menutup mulutnya sambil menahan senyum.

"Wah... ini menarik."

Alesha mengerutkan kening.

"Apanya yang menarik?"

Dinda hanya tertawa kecil.

"Nggak ada."

Namun, dalam hati Dinda merasa hubungan Alesha dan Arka perlahan mulai berubah.

Bukan lagi sekadar ketua OSIS dan murid baru.

Melainkan dua orang yang mulai terbiasa bertemu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Alesha masih terlihat bingung dengan sikap Dinda yang terus tersenyum sendiri.

"Kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum."

Dinda langsung menggeleng.

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

"Nggak."

Alesha mengerucutkan bibir.

"Kalau bohong nanti hidung lo panjang."

Dinda langsung tertawa.

"Emang Pinokio?"

Belum sempat Alesha membalas, bel masuk berbunyi.

Guru mata pelajaran pertama memasuki kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak."

"Hari ini kita akan mengadakan kuis singkat. Buku disimpan."

Suasana kelas yang tadinya ramai langsung berubah hening.

Beberapa siswa mengeluh pelan.

"Loh, kok dadakan."

"Belajar semalam nggak kepake."

Alesha menelan ludah.

"Dinda."

"Hm?"

"Gue lupa baca materi semalam."

Dinda langsung menoleh.

"Serius?"

"Iya."

"Ya sudah, kerjakan sebisanya."

Guru mulai membagikan lembar soal satu per satu.

Alesha menerima kertas itu sambil menarik napas dalam.

"Semoga soalnya gampang."

Beberapa menit pertama, Alesha masih bisa menjawab dengan lancar.

Namun, saat sampai di nomor terakhir, ia berhenti.

"Hmm..."

Ia memutar pulpen di tangannya sambil berpikir.

Dinda yang duduk di sebelahnya hanya fokus mengerjakan tanpa menoleh sedikit pun.

Alesha menghela napas pelan.

"Nggak boleh nyontek."

Akhirnya ia memilih menjawab berdasarkan apa yang masih ia ingat.

Tak lama kemudian, waktu pengerjaan selesai.

"Baik, kumpulkan lembar jawabannya."

Alesha menyerahkan kertasnya dengan pasrah.

"Nasib deh."

Begitu guru keluar kelas, Dinda langsung mendekat.

"Gimana?"

Alesha mengangkat bahu.

"Kalau lulus, alhamdulillah."

"Kalau nggak?"

"Berarti aku belajar lagi."

Dinda tersenyum.

"Nah, itu baru semangat."

Saat jam istirahat tiba, Alesha dan Dinda berjalan menuju kantin.

Di tengah perjalanan, mereka kembali bertemu Arka yang sedang memeriksa kebersihan koridor bersama anggota OSIS.

Alesha langsung melambaikan tangan.

"Pagi lagi, Pak Ketua."

Arka menoleh.

"Pagi."

Dinda menahan senyum melihat jawaban Arka yang kini terdengar lebih santai.

Alesha kemudian menunjuk buku yang ada di tangannya.

"Tadi ada kuis mendadak."

Arka mengangguk.

"Bagaimana?"

Alesha mengembuskan napas panjang.

"Semoga nilainya nggak bikin guru kecewa."

Arka menatapnya beberapa detik.

"Kamu sudah berusaha."

"Iya."

"Itu yang penting."

Mendengar kalimat itu, Alesha tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Arka hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan tugasnya.

Dinda yang sedari tadi diam akhirnya menyenggol lengan Alesha.

"Lo sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Arka sekarang lebih banyak ngomong sama lo."

Alesha berkedip bingung.

"Masa?"

"Iya."

Alesha hanya tertawa kecil.

"Mungkin dia lagi baik."

Dinda tidak menjawab.

Namun dalam hati, ia merasa itu bukan sekadar kebetulan.

Jam istirahat berakhir lebih cepat dari yang Alesha sadari.

Bel berbunyi nyaring memenuhi seluruh area sekolah. Para siswa yang masih berada di kantin mulai bergegas kembali ke kelas masing-masing.

"Ayo, nanti telat," ujar Dinda sambil berdiri.

Alesha mengangguk. Ia segera membereskan bungkus makanannya lalu berjalan berdampingan dengan Dinda menuju gedung kelas.

Di koridor, suasana masih cukup ramai.

Beberapa siswa berlari kecil karena guru sudah mulai memasuki kelas. Alesha dan Dinda memilih berjalan santai, tetapi tetap mempercepat langkah.

Saat melewati tangga, mereka berpapasan dengan Arka yang baru selesai berpatroli.

Arka menghentikan langkahnya sebentar.

"Kelas sudah mulai."

Alesha mengangguk.

"Iya, ini juga mau masuk."

Arka melirik jam tangan di pergelangan tangannya.

"Tiga menit lagi bel kedua."

"Masih sempat."

"Jangan santai."

Alesha tersenyum jahil.

"Siap, Pak Ketua."

Arka hanya menggeleng pelan sebelum kembali berjalan ke arah ruang OSIS.

Dinda yang melihat interaksi mereka langsung berbisik pelan.

"Dia benar-benar beda kalau sama lo."

Alesha menoleh.

"Beda gimana?"

"Biasanya kalau ada siswa yang masih keluyuran, dia langsung nyuruh masuk kelas tanpa basa-basi."

Alesha mengangkat bahu.

"Mungkin karena dia tahu aku memang lagi jalan ke kelas."

"Atau..."

Dinda menggantung ucapannya.

"Atau apa?"

"Nggak jadi."

Alesha mendengus pelan.

"Kamu aneh."

"Kita lihat saja nanti."

Mereka pun masuk ke kelas tepat sebelum guru datang.

Pelajaran berlangsung seperti biasa.

Kali ini Alesha benar-benar fokus. Ia mencatat setiap penjelasan guru dan sesekali mengajukan pertanyaan saat ada materi yang belum dipahaminya.

Guru yang melihat perubahan itu tampak cukup senang.

"Bagus, Alesha. Pertanyaannya tepat."

Mendengar pujian itu, Alesha tersenyum kecil.

"Terima kasih, Bu."

Dinda menyenggol lengannya pelan.

"Tuh, sekarang bukan cuma Kevin yang bilang 'bagus'."

Alesha terkekeh pelan.

"Kayaknya hari ini memang hari yang bagus."

Di luar kelas, Arka yang sedang melewati koridor tanpa sengaja mendengar suara guru memuji Alesha.

Ia melirik ke dalam melalui jendela.

Terlihat Alesha sedang berdiri menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.

Arka kembali melanjutkan langkahnya.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Setidaknya... dia benar-benar berubah."

Namun, ia tidak tahu bahwa perubahan Alesha baru saja dimulai, dan hari-hari berikutnya akan membawa kejadian yang jauh lebih tidak terduga bagi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!