NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pusat Retakan

Gua tempat persembunyian Suku Penjaga Retakan jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Dindingnya dipenuhi lukisan kuno yang menceritakan masa lalu: saat Tanah Terbelah masih menyatu dengan benua seberang, saat sungai mengalir deras, dan puncak gunung ditumbuhi hutan lebat. Namun di lukisan-lukisan bagian bawah, terlihat garis hitam yang membelah semuanya, seolah pisau raksasa mengiris dunia menjadi dua.

"Pusat Retakan berada di inti kepingan benua terbesar yang tergantung di tengah jurang," kata pemimpin suku yang bernama Kepala Batu, sambil menunjuk peta yang terukir di lempengan batu besar. "Di sanalah segel kuno dipasang ribuan tahun lalu. Segel itu bukan dibuat untuk menahan bahaya—tapi untuk memutus ikatan bumi agar tidak ada lagi kekuatan yang lahir dari tanah."

"Siapa yang melakukannya?" tanya Meng Chao dengan suara berat.

"Kami menyebutnya Pengukir Batas," jawab Kepala Batu dengan wajah pucat. "Ia datang dari tempat di luar langit yang kami kenal, membawa hukum baru: bahwa segala sesuatu yang menetap, berakar, dan abadi harus dihancurkan. Ia berjanji akan memberi kami kebebasan tanpa batas—namun yang tersisa hanyalah kehampaan."

Perjalanan menuju Pusat Retakan adalah yang paling berbahaya. Mereka harus melintasi jembatan batu yang rapuh di atas jurang kabut, melompati kepingan daratan yang bergerak naik-turun, dan menghindari pusaran angin yang bisa menyedot apa saja ke bawah. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca raksasa.

Namun Lin Mo tidak berhenti. Ia terus menyebarkan kesadarannya, menstabilkan bebatuan yang goyah, dan menghubungkan celah-celah kecil dengan akar energi yang tak terlihat. Perlahan, di sepanjang jalan yang mereka lewati, tanah yang tadinya berdebu mulai sedikit lembap, dan lumut kecil mulai tumbuh di sela-sela retakan.

Saat mereka akhirnya tiba di pusatnya, pemandangan di sana membuat hati mencelos.

Di tengah kepingan benua terbesar terdapat lubang raksasa yang melingkar, menembus jauh ke dalam kegelapan. Di pinggir lubang itu berdiri pilar batu hitam setinggi gunung, dan di tengah pilar itu terpasang segel berbentuk tanda silang yang menyala dengan cahaya abu-abu pucat. Cahaya itulah yang setiap detik memancarkan gelombang pemutus, menyebar ke seluruh penjuru benua, memisahkan tanah, memutus ikatan, dan melenyapkan kehidupan.

Dan di depan segel itu berdiri sosok yang tinggi ramping, mengenakan jubah yang berwarna sama persis dengan kabut jurang. Wajahnya tenang, tanpa emosi, dan di tangannya memegang pahat tajam yang terbuat dari cahaya padat.

"Aku menunggumu," suaranya terdengar seperti gesekan batu yang saling bergesekan. "Aku tahu kau akan datang menyambung apa yang sudah kuputus. Tapi kau sia-sia saja."

"Kebebasan yang kau tawarkan ternyata hanya kehancuran," kata Lin Mo melangkah maju. "Mengapa kau membenci segala sesuatu yang berakar?"

Pengukir Batas mengangkat pahatnya. "Aku tidak membenci. Aku hanya menegakkan kebenaran. Segala sesuatu yang berakar akan tua, akan rusak, akan menjadi penjara bagi yang baru. Aku membebaskan dunia dari belenggu tempat tinggal, belenggu asal-usul, belenggu keterikatan. Dunia seharusnya mengalir bebas seperti air, tidak terpaku seperti batu."

"Air mengalir karena ada lembah yang menampungnya," jawab Lin Mo tegas. "Batu membelokkan alirannya agar tidak meluap menghancurkan apa yang ada di sekitarnya. Tanpa tempat yang menetap, kebebasanmu hanyalah kekacauan yang memakan dirinya sendiri."

Ia menekan kakinya ke tanah. Kali ini bukan untuk menahan serangan, tapi untuk memanggil sisa-sisa ikatan yang masih tersembunyi di balik ribuan tahun pemutusan.

"Kau memutus ikatan di permukaan," suaranya bergema di seluruh lembah. "Tapi kau tidak pernah bisa memutus apa yang ada di hati setiap makhluk hidup. Setiap orang yang merindukan kampung halamannya, setiap pohon yang tumbuh tegak, setiap air yang jatuh ke tanah—mereka semua sedang berusaha menyambungnya kembali."

Cahaya cokelat keemasan mulai muncul dari ribuan retakan di tanah, dari lubang-lubang kecil di pilar batu, bahkan dari celah jubah Pengukir Batas sendiri. Cahaya itu bukan serangan—ia adalah kenangan tentang kesatuan.

Pengukir Batas terkejut. Ia mencoba memotong cahaya itu dengan pahatnya, namun setiap kali ia membelah satu garis, sepuluh garis lain tumbuh di tempatnya. Ia semakin memukul, semakin banyak ikatan yang muncul, seolah seluruh benua ini telah menunggu ribuan tahun untuk menyatukan kembali potongan dirinya.

"Cukup!" bentak Lin Mo. "Lihatlah sekelilingmu! Apakah dunia yang kau buat ini indah? Apakah kau sendiri bahagia menjaganya?"

Pengukir Batas berhenti bergerak. Ia menatap tanah yang kini mulai bersinar terang, menatap retakan yang perlahan menutup sendiri. Untuk pertama kalinya, wajahnya yang tenang menunjukkan keraguan.

"Apakah... aku salah?" bisiknya pelan.

Sebelum Lin Mo sempat menjawab, segel di tengah pilar tiba-tiba menyala terang berlebihan. Ternyata serangan Pengukir Batas tadi membuat segel yang sudah tua itu tidak stabil. Ia tidak bisa lagi menahan kekuatan pemutus yang tersimpan di dalamnya—ia akan meledak, dan seluruh sisa benua ini akan hancur seketika jatuh ke jurang.

"Segel itu akan meledak!" teriak Kepala Batu. "Kita tidak bisa lari cukup cepat!"

Lin Mo tidak ragu sedetik pun. Ia melompat ke depan, menempelkan kedua telapak tangannya langsung ke permukaan segel yang menyala.

"Pergilah ke tempat aman!" serunya pada teman-temannya. "Aku akan menahannya, dan menyatukannya sebelum ia hancur!"

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!