Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*16
Irza tersenyum penuh semangat. Sungguh, malam ini adalah malam yang paling membahagiakan buat pria gemulai tersebut. Sejak dunia menolak kehadirannya, malam ini adalah malam terbaik selama ia hidup di dunia ini.
Malam ini penuh dengan arti. Penuh dengan semangat juga penuh akan cinta. Hatinya baru bisa merasakan kehangatan yang sesungguhnya malam ini. Karena kehangatan yang ia inginkan, telah ia dapatkan. Bukan hanya dari kedua orang tuanya saja. Melainkan, dari gadis yang dia inginkan. Gadis yang telah ia impikan selama sepuluh tahun lamanya.
'Sha ... aku akan buktikan kalau aku mampu. Aku bisa bikin kamu bahagia saat bersama dengan ku. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar bisa membuatmu nyaman dan bahagia saat ada di dekatku. Aku janji akan hal itu, Ashanti.' Irza bicara dalam hati dengan keyakinan dan harapan yang penuh.
***
Entah sejak kapan Sha terlelap tadi malam. Saat membuka mata lagi, cahaya matahari malah sudah bersinar. Dengan sedikit terkejut karena bagun sedikit kesiangan, Sha beranjak dengan langkah besar ke kamar mandi.
"Astaga, kenapa bisa bangun setelat ini sih?" Kesal Asha sambil menutup pintu kamar mandi.
Sementara itu, di luar sana, tepatnya di dapur tempat meja makan berada, kedua orang tua Asha sudah duduk manis sambil menyantap sarapan mereka dengan tenang. Bibi yang bekerja di rumah tersebut sibuk melakukan tugasnya sambil berbicara dengan si majikan.
"Nya, tadi malam, non Asha kedatangan tamu lho .... "
Mama Asha yang sedang makan langsung memperlambat geraknya. Perhatiannya pun langsung teralihkan. "Tamu, Bi? Siapa?"
Si bibi tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan pada papa Asha yang juga terlihat sedang penasaran meski tidak ikut berbicara untuk mempertanyakan siapa tamu yang si bibi maksudkan. Sesaat terdiam, akhirnya, si bibi angkat bicara juga.
"Tuan muda Irza, Nya."
"Ha? Apa? Irza? Dia datang sama siapa?"
"Sendiri saja, Nya. Mereka ngobrol di ruang tamu. Bibi gak guping, cuma memperhatikan dari kejauhan aja. Takut merusak suasana."
"Apa ... yang mereka bicarakan?" Mama Asha terlihat semakin ingin tahu.
"Mm ... sepertinya, mereka bicara soal perjodohan. Hanya saja, bibi tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Terus .... "
"Terus apa, Bi? Jangan bikin aku yang ingin tauu ini semakin deg-degan dong. Katakan dengan jelas coba, tanpa nunda-nuda."
"Maaf, Nya. Saya juga kurang tahu apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Tapi yang bisa saya lihat cuma satu hal. Awalnya obrolan itu tegang terus suram, tapi akhirnya malah lumayan baik."
"Lumayan baik? Maksudnya apa?" Kali ini, papa Asha yang sudah diam sejak tadi tidak lagi bisa menahan bibir untuk tidak melontarkan kata-kata.
"Itu, tuan. Sepertinya, tuan muda Irza pulang dengan wajah bahagia. Sangat berbeda dari waktu ia datang. Wajahnya lebih cerah aja gitu kek senang banget deh pokoknya."
Tentu saja ucapan si bibi tidak membuat rasa penasaran pasangan suami itu menghilang. Bukannya merasa lega, mereka malah dibuat bingung dengan apa yang pelayannya katakan.
Namun, belum sempat pembicaraan itu selesai, orang yang sedang mereka bicarakan malah datang. Asha yang sudah siap untuk berangkat ke kampus, mampir ke meja makan untuk sarapan sebelum pergi.
"Pagi, Ma, Pa. Kalian ... sedang bicara soal apa? Kok kelihatannya, serius amat."
Belum sempat kedua orang tuanya menjawab, Asha malah bicara dengan bi Onah.
"Bi, pagi ini sarapan apa? Nasi goreng sambal merah atau nasi goreng apa?"
"Maaf, non. Hari ini gak bikin nasi goreng. Bibi bangun kesiapan, telat ke pasar. Jadi, sarapannya cuma roti aja."
"Ha? Roti?"
"Sha." Panggil sang mama.
"Iya, Ma."
"Kenapa dengan roti?"
"Gak papa. Cuma sedikit seret aja. Kalo nasi goreng kan enak."
"Ya udah, belajar bikin sendiri aja biar bisa makan nasi goreng kapan pun. Juga ... biar bisa masakin suami nasi goreng entar."
Asha yang sedang mengunyah roti langsung terdiam. "Mama ... gitu amat."
"Iya. Mama bicara apa adanya lho, Sha. Kan, sebentar lagi .... Ah iya, tadi malam, Irza beneran bertamu ke rumah kita?"
Sontak, Asha langsung melirik bi Onah. Karena sudah pasti, sumber pemberitahuan itu datangnya dari si bibi. Soalnya, tadi malam hanya ada mereka berdua saja.
"Sha."
"Hm?"
"Mama tanya, kok gak dijawab?"
"Maaf, Ma. Iya, tadi malam, Irza datang."
"Ngomong apa kalian?" Papanya langsung angkat bicara.
"Gak ada, Pa. Cuma bahas soal ... soal kabar yang menyebar."
"Sha .... "
"Iya, Pa."
"Kamu tahu keinginan papa kan, Nak? Kamu juga ingat apa yang papa bicarakan sebelumnya, kan? Kalau kita punya hutang budi yang besar pada keluarga Rahardi. Tanpa mereka, gak akan ada perusahaan papa yang sekarang. Tanpa mereka, gak akan ada hunian yang nyaman ini. Tanpa mereka, mungkin juga gak akan ada kehangatan keluarga pagi ini, Sha."
"Papa tidak bisa membalas kebaikan mereka dengan uang. Karena mereka sudah punya banyak materi tersebut. Papa juga gak bisa balas mereka dengan tenaga. Karena mereka gak butuh tenaga tua papa ini. Tapi, papa punya kamu, Sha. Kamu adalah hal yang paling berharga buat papa sebenarnya. Papa juga inginkan yang terbaik buat kamu. Dan keluarga Rahardi, ininya orang-orang baik semua. Mereka orang kaya yang punya perasaan. Tidak sombong dan tidak pula memandang rendah orang lain."
"Keturunan mereka mungkin tak sempurna, Sha. Tapi didikan keluarga mereka, papa yakin, tidak buruk. Didikan itu tidak punya kekurangan sedikitpun."
Asha terdiam beberapa saat. Matanya sejak tadi terus menatap wajah tua papanya yang terlihat punya beban berat yang masih belum berhasil ia lepaskan. Dan Asha tahu, beban berat itu adalah dirinya. Hutang budi keluarga yang selama ini selalu papanya kenang setiap waktu.
Asha tersenyum kecil walau pada kenyataannya, senyum itu adalah senyum yang sangat ia paksakan. "Papa jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan seperti yang telah direncanakan. Aku akan tetap menerima perjodohan keluarga ini, Pa. Aku gak akan buat papa malu karena aku adalah anak papa."
"Sha .... "
"Papa mama, aku baik-baik saja. Aku anak kalian. Mungkin kemarin-kemarin, aku tidak berpikir dengan jernih. Tapi sekarang, aku sudah memikirkannya dengan sangat baik. Perjodohan akan tetap berlanjut. Pertunangan akan tetap berlangsung pada hari dan waktu yang telah di tetapkan. Tidak sedikitpun berubah."
"Terima kasih banyak, Sha. Papa mungkin membuat kamu terbebani, tapi papa selalu berharap, kamu punya kehidupan yang baik untuk kamu jalani."
Pada akhirnya, Sha hanya bisa mengangguk pelan saja mendengarkan apa yang papa dan mamanya katakan. Hingga waktu berangkat tiba, meja makan itupun mereka tinggalkan.
Rumah kembali sunyi, tapi benak Asha tidak. Apa yang papanya bicarakan di meja makan, dia bawa sepanjang perjalanan menuju kampus.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi