NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

"Bagaimana denganmu?" tanya Gilang balik. Mencoba mengembalikan topik itu kepada Hugo agar sahabatnya itu tidak terus-menerus menghindar dari desakan sang ibu.

Hugo mengembuskan napas berat, bersandar pada kursi rodanya sambil menatap meja yang dipenuhi berkas. Dia menjawab dengan jujur, "Aku belum siap."

Gilang terdiam sejenak. Dia sangat paham bagaimana besarnya cinta Hugo pada mendiang istrinya. Kehilangan Indira bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Gilang menjadi saksi bagaimana Hugo mengunci hatinya rapat-rapat sejak hari pemakaman itu. Namun sebagai sahabat yang realistis, Gilang harus tetap menyuarakan kebenaran demi kebaikan keluarga Hugo.

"Mungkin memang waktunya kamu menemukan seseorang untuk dinikahi, Hugo. Apalagi mungkin ibumu sudah lelah harus mengurus cucunya. Ya, bukan berarti ibumu tidak sayang cucunya," lanjut Gilang dengan nada suara yang melunak.

Dia mencoba mengetuk logika Hugo sebagai seorang anak. Dia ingin Hugo sadar bahwa fisik ibunya yang sudah tua memiliki batas dalam menghadapi kenakalan Nero setiap hari.

Hugo kembali terdiam mendengar penuturan itu. Kata-kata Gilang barusan persis seperti apa yang diucapkan ibunya semalam, membuat pertahanannya perlahan mulai goyah oleh kenyataan yang tidak bisa dia sangkal lagi.

"Aku tidak mengenal banyak wanita," aku Hugo akhirnya. Suaranya terdengar pasrah.

Gilang paham kalau Hugo jarang berinteraksi dengan perkumpulan wanita. Acara-acara sosial seperti itu sering kali hanya dihadiri oleh ibunya. Kalau memang dia harus ikut karena tuntutan jabatan, Hugo akan langsung pulang jika acara sudah usai. Dia tidak berniat meluangkan waktu untuk sekadar basa-basi atau berkenalan dengan lawan jenis.

Mengingat keterbatasan pergaulan sahabatnya itu, sebuah ide mendadak melintas di kepala Gilang.

"Aku jadi ingat wanita kemarin," ujar Gilang, mengingat Asia.

"Asia?" Hugo langsung hafal. Nama itu langsung tercetus begitu saja dari bibirnya tanpa perlu berpikir lama.

"Ya, benar. Aku lupa namanya," sahut Gilang sambil menjentikkan jari. "Dia cukup tangguh untuk mendidik Nero. Di depannya, anakmu itu jadi sedikit tenang. Meski tidak sepenuhnya."

Hugo pun sadar itu. Apa yang dikatakan Gilang memang fakta yang dia saksikan sendiri semalam. Namun, logikanya kembali menolak ide tersebut.

"Pengasuh?" tanya Hugo.

"Kamu butuh istri, bukan pengasuh," potong Gilang cepat, langsung mengunci argumen Hugo. Gilang mengingatkan kembali inti dari perintah sang ibu semalam. Bahwa yang dibutuhkan rumah itu adalah figur ibu yang permanen untuk mendidik, bukan sekadar pekerja bayaran.

Hugo menggelengkan kepala dengan tegas. "Ini sangat tidak mungkin. Membawa orang asing dalam pernikahan." Mana mungkin pria dengan latar belakang seperti dirinya tiba-tiba menikahi wanita yang latar belakangnya sama sekali tidak jelas.

Gilang mengerti.

Hugo memalingkan wajahnya ke arah jendela, memikirkan jalan buntu yang sedang dihadapinya. Di satu sisi, dia tidak akan pernah bisa memberikan hatinya kepada wanita lain karena cintanya sudah habis bersama mendiang Indira. Di sisi lain, kondisi ibunya yang menua dan kebutuhan Nero adalah kenyataan yang tidak bisa dia abaikan.

Sebagai seorang kapten, otak Hugo terbiasa bekerja taktis di bawah tekanan. Jika dia harus menikah lagi demi anak-anaknya, dia tidak ingin pernikahan itu didasari oleh kebohongan atau paksaan perasaan.

"Aku bisa menikahinya, Gilang."

"Oh syukurlah." Gilang senang.

"Tapi dengan satu syarat mutlak," ujar Hugo datar.

"Syarat apa?" tanya Gilang, mengernyitkan dahi. Dia tidak paham.

"Perjanjian hitam di atas putih sebelum menikah," jawab Hugo tanpa keraguan. "Aku tidak punya waktu untuk jatuh cinta lagi. Aku juga tidak mau membohongi wanita itu dengan harapan palsu. Cintaku sudah selesai di Indira."

Gilang tertegun, menatap sahabatnya dengan tidak percaya. "Maksudmu, kamu mau membuat perjanjian untuk sebuah pernikahan?"

"Benar. Ini satu-satunya cara yang adil bagi kami berdua," tegas Hugo. "Kamu lihat sendiri semalam, Asia dipukuli dan dia punya masalah pelik yang membuatnya takut melapor ke polisi. Jika dia bersedia menjadi ibu bagi Nero dan mengurus rumahku, aku akan memberikan kompensasi penuh. Aku akan menggunakan posisiku dan hukum militer untuk melindungi nyawanya dari siapa pun orang yang mengejarnya semalam. Sebuah kesepakatan perlindungan yang sah."

Gilang terdiam. Logika militer Hugo kali ini sulit dibantah. Itu bukan pernikahan kontrak yang merendahkan, melainkan sebuah bentuk perlindungan hukum yang dikemas dalam ikatan sakral.

"Sebuah kesepakatan perlindungan yang sah," tegas Hugo sekali lagi.

Gilang menarik napas dalam-dalam, lalu bersandar di kursi depan meja Hugo. Dia mengangguk pelan, mulai bisa menerima jalan pikiran sahabatnya yang taktis itu.

"Kalau alasannya untuk melindungi dia dan mengamankan Nero, aku bisa paham," sahut Gilang, melipat kedua tangannya di dada. "Tapi masalahnya, Hugo... Apa dia mau?"

Hugo terdiam sejenak. Tangannya yang memegang pena tampak mengetuk meja kerja dengan ritme yang teratur. Tatapannya menajam, memancarkan aura seorang Perwira Seksi Intelijen yang tidak pernah kehilangan arah buruannya.

"Kita tidak tahu kalau belum mencoba."

"Lalu, bagaimana melakukannya? Kita bahkan tidak tahu wanita bernama Asia itu sekarang ada di mana. Semalam dia langsung pergi begitu saja. Bagaimana kamu mau menawarkan perjanjian ini?"

"Itu tugasmu, Gilang," ujar Hugo tenang namun penuh penekanan. "Cari tahu siapa Asia sebenarnya, di mana dia tinggal, dan masalah apa yang sedang dia hadapi sampai dipukuli semalam. Aku butuh data lengkapnya di mejaku sebelum minggu ini berakhir."

Gilang mengembuskan napas panjang, menyadari bahwa jika seorang Kapten Hugo sudah memberikan perintah dengan nada seperti itu, argumennya sebagai sahabat harus dikesampingkan sejenak demi profesionalisme tugas.

"Baiklah, Hugo. Aku hanya menjalankan perintah. Setelah itu, di luar tanggung jawabku," ujar Gilang pasrah sembari menegakkan kembali posisi berdirinya. Dia memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya, mengingatkan Hugo bahwa tugasnya hanya sebatas mencari informasi dan data diri Asia, bukan ikut campur dalam urusan rumah tangga kontrak yang direncanakan atasannya itu.

Hugo mengangguk paham. "Aku tahu. Cukup bawa data itu ke mejaku."

"Siap, Kapten. Kalau begitu, saya permisi untuk memulai penyelidikan," pamit Gilang.

Pria itu kembali mengambil sikap sempurna, memberikan hormat militer yang tegas kepada Hugo yang berada di atas kursi rodanya. Lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan kerja Kodim tersebut.

Begitu pintu tertutup rapat, Hugo kembali menatap berkas di mejanya. Tetapi pikirannya kini sepenuhnya tertuju pada sosok wanita tenang bernama Asia yang sebentar lagi akan masuk ke dalam radar hidupnya. Kalau niatnya di setujui.

***

Asia ditemukan Gilang lagi masih berurusan dengan penagih utang. Rupanya nasib wanita itu benar-benar di ujung tanduk.

Siang itu, di sebuah gang sepi, tiga orang pria berbadan besar tampak mengepung Asia. Mereka terus membentak dan menuntut pembayaran, membuat posisi Asia semakin terdesak tanpa ada orang sekitar yang berani menolong. Namun, pergerakan agresif para pria itu seketika terhenti saat melihat kedatangan seorang pria berbadan tegap.

"Huh, dia lagi," gumam salah satu penagih utang dengan kesal saat mengenali wajah pria yang baru datang tersebut.

Melihat Gilang muncul membuat mereka mundur. Pun mungkin karena seragam yang dipakai Gilang. Mereka tahu bahwa berurusan dengan anggota militer yang berseragam lengkap hanya akan menyulitkan posisi mereka. Sadar situasi sudah tidak berpihak pada mereka, ketiga pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi dan melangkah menjauh dari gang tersebut.

Setelah para penagih utang itu benar-benar hilang dari pandangan, suasana menjadi lebih tenang. Asia tertegun menatap pria berseragam di depannya. Ingatannya langsung kembali pada kejadian malam sebelumnya di mana dia juga dibantu oleh orang yang sama.

"Anda pria yang menolong saya waktu itu kan? Bawahan orang yang di kursi roda?" tanya Asia untuk memastikan.

Gilang mengangguk pelan, membetulkan posisi berdirinya. "Ya. Itu atasan saya. Pak Hugo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!