Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Linda masih mengamuk di halaman belakang rumahnya. Tempat biasa keluarganya berlatih silat.
Setelah dirasa cukup, Linda terduduk disana.
"Dasar bos br*ngs*k!!!!!! Mentang-mentang punya kuasa main atur seenaknya aja! Kalo bukan atasan udah bonyok kamu!!!"
Linda berteriak tidak karuan, sangat kesana dengan perlakuan Satria yang semena-mena.
Seharian dikurung di ruangan pengap itu. Kalau tidak ingat dengan kontrak kerjanya selama tiga tahun, Linda pasti sudah berhenti tanpa pamit.
Dilihat sudah tenang, Ibunya mendekati Linda yang masih terduduk disana. Sambil membawakan minuman jeruk yang hangat kesukaan Linda.
"Kamu kenapa nak?" Wanita paruh baya itu menghampiri Linda yang masih terlihat kesal.
"Ibu tahu??? Linda sudah tidak tahan kerja disana!!".
"Itu kan keputusanmu untuk kerja nak!"
Keduanya berbincang hangat menikmati waktu senja
"Kalau tidak memikirkan seberapa besar dendanya, Linda sudah kabur dari kemaren bu..." Tatapan Linda masih jauh ke langit. Meracau penuh amarah.
"Kamu sudah dewasa nak! Kamu harus bertanggung jawab atas keputusanmu. Baru masalah kecil, kelak akan ada berbagai cobaan yang lebih berat lagi.......... Kamu tahu nak? Beruntung kamu bekerja di perusahaan besar saat cuti kuliah. Berarti perusahaan itu membutuhkanmu....."
Linda masih terdiam mendengar wejangan dari Ibunya.
"Kamu berani melangkah juga harus berani mengambil resiko baik maupun buruknya...." sambung Ibunya.
"Linda tau bu, harusnya Linda lebih berbesar hati. Karena diluar sana tidak semua berjalan sesuai keinginan kita. Linda juga sadar, bahwa Linda terlalu gegabah. Padahal ibu dan ayah sudah melarang Linda untuk cuti kuliah. Dan ini akibatnya, menghadapi kejamnya pimpinan yang super arogan."
Setelah semua isi hati Linda ungkapkan, juga meluapkan amarahnya. Setidaknya Linda merasa lega. Dan akan memulai esok hari dengan bahagia. Tidak perduli jika bosnya akan memberinya tugas seperti apa pun
Karena memang pekerjaan dulu tidak terlalu sulit ia hadapi.
Setidaknya jika bertemu pelanggan yang judes, hanya saat pelanggan itu berkunjung kesana.
Sedangkan di perusahaan, dia harus menghadapi Satria setiap hari. Dan belakangan Linda merasa dirinya sedang dikerjai oleh pimpinannya.
Linda memasuki rumahnya menuju kamar. Berjalan ke kamar mandi yang ada di luar kamarnya, menyegarkan pikiran juga badannya..
Setelah beres dan bercanda cantik, Linda ikut menonton siaran tivi bersama ketiga adiknya
"Mbak....." Indra mulai membuka suara. Dia dan kedua kakaknya masih belum tau keadaan kakak perempuan mereka.
"Mmmm..." Linda masih fokus ke layar tivi dan menikmati ubi rebus di meja.
"Mbak kenapa sih?"
Linda menghentikan makannya, lalu menoleh ke samping. Menatap Indra yang bertanya terus
Dikira Indra, Linda akan marah. Tapi justru senyum lebar ditujukan kepada Adiknya.
"Heeeee kamu khawatir???" Dngan tatapan aneh Linda tersenyum penuh arti.
"Mbak kenapa sih?" Sahut Ikhsan yang tak sabaran dengan sikap Linda.
"Kalian mau bantu mbak???" Tatapan Linda sungguh mematikan, Mereka takut kakak perempuannya akan menggila seperti beberapa waktu lalu.
"Apa?" Jawab ketiganya sangat kompak
"Temenin mbak mu ini nonton film konedi..."
"Kapan?" kembali ketiganya menjawab dengan kompak.
"Bagaimana kalau malam ini kita nonton...."
Ucapan Linda disambut sorak sorai oleh ketiga adiknya.
"Mbak lagi pusing ya???? Tumben" Ledek Ikhsan segera menhmghindar karena takut kakanya berubah pikiran.
"Iya, bantu mbakmu ini bersenang-senang. Biar kalian tidak jadi sasaran... Ayo siap-siap.." Linda beranjak dari duduknya menuju kamar hendak berganti pakaian.
Diikuti oleh ketiga adiknya menuju kamar mereka.
Keempat saudara itu sangatlah dekat. Bahkan untuk menunjukkan rasa sayang mereka, tak jarang mereka saling adu jotos.
Kebiasaan yang unik memang untuk hubungan saudara. Namun begitulah, karena sedari kecil mereka berlatih ilmu beladiri bersama hingga kini.
Yang paling susah mengendalikan emosinya adalah Linda. Anak sulung dari keempat bersaudara.
Meski dia seorang wanita, tapi tenaganya tidak kalah dengan pria. Malah lebih sering para pria yang menunduk padanya.
Maka ketiga adiknya ditugaskan oleh ayah mereka untuk selalu mengawasi Linda agar tidak lepas kendali.
Emosi Linda gampang meledak, sama seperti ibunya. Namun setelah ibunya memiliki anak, kini tidak pernah terlihat ibu mereka menghajar orang dengan tinjunya.
Pengendalian diri, itulah yang berusaha Linda lakukan. Selama kuliah dia berhasil menahan emosinya, namun semenjak kerja di perusahaan S. Emosinya lebih sering tak terkontrol.
Terutama jika ia dibuat kesal oleh Satria
Karena sudah terikat kontrak, maka mau tak mau Linda harus bertahan.
Saat ini Linda dan ketiga adiknya telah berada di pusat perbelanjaan. Linda menyuruh Ikhsan agar membeli tiket untuk mereka.
Waktu pemutaran film masih sekitar satu setengah jam lagi
Daripada bete, Linda mengajak ketiga adiknya untuk bermain di Temjon.
Mereka bermain capit boneka dan Tentunya dengan sebuah taruhan. Bagi siapa saja yang mendapatkan boneka pertama kali, maka dia berhak mendapatkan separuh dari lauk sarapan besok.
Meski taruhannya terlihat sepele. Namun membuat keempatnya bersaing penuh semangat. Taruhan bukan prioritas pertama mereka.
Kesenangan adalah tujuan utamanya.
Dan pastinya, agar Linda tidak stress lagi
Sudah sangat lama mereka memainkan capit boneka itu.
Masih penasaran karena dari tadi mereka belum mendapatkan satu boneka pun, bahkan yang terkecil.
Saat Indra berhasil mendapatkan satu boneka untuk pertama kali, Indra langsung berterima histeris lalu berjoged ala rocker sedang konser jalanan.
Kepuasan tersendiri, setelah mencoba berbagai kesulitan hanya untuk sebuah benda aneh.
"Aaahhhh kamu curang Ndra!!" Ferry menghampiri adiknya yang tengah melompat kegirangan karena telah mendapatkan boneka lucu itu.
"Hahahahha semua tergantung amal bang!!!! Tuhan tau siapa hambanya yang paling nurut..."
Indra berusaha menjauh dari kejaran Ferry dan juga Ikhsan.
Linda pun sangat penasaran. Kembali ia mencoba tanpa memperdulikan ketiga adiknya yang bertingkah konyol.
Kenapa susah banget sih???? Padahal ngeliat vidio di yutub kayaknya gampang main ginian..."
Linda masih semangat untuk lanjutkan permainannya. Hingga ia berhasil mendapatkan boneka yang cukup besar
"Mbak juga dapet????" Ketiga adiknya menatap Linda
Tidak percaya Linda bisa mendapatkan boneka lebih besar Dari Indra.
Melihat ke pergelangan tangannya, Surah waktunya pemutaran film.
Linda mengajak ketiga Adiknya agar segera bergegas.
"Dekkk!!!!! Ayok, Bentar lagi film mulai..."
Ketiga pria tampan itu mengekor di belakang Linda.
Sikembar bertugas membeli minuman, sedangkan Ferry membeli popcorn.
Setelah semuanya siap, mereka memasuki pintu teather begitu mendapat pengumuman bahwa film mereka akan segera diputar.
Dengan langkah santai keempat orang itu memasuki pintu teather.
Mereka duduk paling belakang.
Menurut mereka itu adalah posisi paling pas untuk menikmati film di bioskop.
Tak lama film pun mulai diputar, semakin lama gelak tawa memenuhi ruangan gelap itu.
Bahkan Linda sampai terbahak-bahak melihat adegan demi adegan.
Suara riuh dari dalam ruangan gelap, memang obat mujarab untuk menunjukkan sisi lain penontonnya
Mereka tak perlu malu memperlihatkan sisi gila mereka. Karena satu sama lain tidak akan perduli selain teman mereka.
Kecuali yang sengaja menonton sendiri. Dan itu hanya sedikit. Kebanyakan mereka berkelompok untuk menonton film di bioskop Setidaknya ada kesenangan tersendiri saat menikmati film dalam sebuah layar super jumbo
Itulah yang dirasakan oleh Linda saat ini. Bebas, lepas, tak perlu jaim.