Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGAMATI SANG PENGAMAT
Alya mendongakkan wajahnya dan menatap Anaxa. Keterkejutan jelas terlihat di wajahnya. Alya melihat ke sekelilingnya dulu seolah-olah minta persetujuan, baru menganggukkan kepala terhadap ajakan Anaxa.
Alya berdiri dari duduknya dan mengikuti Anaxa ke sudut ruangan yang lebih sepi. Sementara itu mata Ribka terus menyorot ke arah Anaxa dan Alya sampai mereka menghilang dari pandangannya.
"Kayaknya Anaxa suka sama Alya deh." Ucapnya Ribka pelan, namun langsung disambung oleh ucapan Keenan. 'Kamu suka sama Anaxa ya, Rib?"
Sedangkan Dimas mengangguk-ngangguk kan kepala seolah paham. "Jangan bilang kamu masuk kelompok Anaxa ASOY karena suka sama dia?"
Ditanya seperti itu, Ribka malah terkekeh pelan "Bonusan aja sih kalau ternyata Anaxa suka sama aku. Ya kalau gak suka, juga gak papa. Lagian dia kayak gak paham sama kode-kode yang ku berikan hahaha."
"Kalau sama Anaxa mah harus dikasih kontrak, di cap, dan di tandatangani baru Anaxa mengerti." Kali ini Dimas yang terkekeh.
Suasana di meja kelompok tersebut penuh dengan tawa. Berbeda dengan suasana di pojok perpustakaan. Alya berdiri diam menunggu perkataan yang keluar dari mulut Anaxa, sedangkan Anaxa sedang berpikir keras bagaimana cara memberitahu nya dengan baik
"Jadi... Ada masalah apa yang harus dibicarakan berdua?" Perkataan Alya memecah lamunan Anaxa.
Entah kenapa Anaxa jadi sedikit grogi dan gelapan. Namun, dia berhasil menguasai balik dirinya sendiri "Itu... Boleh aku menginap di kos mu? Kos ku sedang di renovasi.."
Alya menaikkan alisnya. "Lalu?"
Anaxa mengulas senyum tipis agar terlihat lebih menyakinkan. "Maaf aku terpaksa minta tolong ke kamu. Aku... Lebih percaya ke kamu... Kalau kos Keenan dan Dimas terlalu berisik. Aku tidak bisa tidur... Yeah.. Begitu."
Setelah itu hening. Cukup lama. Anaxa berniat membuka mulut lagi, namun Alya lebih dulu memyela. "Boleh. Tapi jangan aneh aneh oke? Kamu butuh berapa hari menginap di kos ku?"
"Hah... Boleh?" Anaxa kembali memastikan pendengaran nya itu.
"Iya boleh. Tapi kamu tidur di sofa kamar. Gak papa?" Tanya Alya
"Itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih Alya. Kalau gak ke kamu, aku bingung mau bilang ke siapa lagi." Ucap Anaxa dengan lemah.
"Santai saja sama teman sendiri." Alya tersenyum tipis lalu meninju main-main dada Anaxa. "Ayo kembali kerja kelompok?"
Anaxa menganggukkan kepala. Dan mereka berdua kembali ke meja kelompok. Tentu saja langsung di cie-cie in oleh Keenan. "Jatuh cinta pada pandangan pertama ya?"
"Ucapan mu ngawur!" Dimas melempar sebuah penghapus kertas ke arah Keenan. Tapi Keenan malah terkekeh begitu saja.
Baik Alya dan Anaxa tidak mengindahkan ucapan Keenan. Dan akhirnya mereka kembali sibuk menyelesaikan tugas, juga Anaxa yang terus menuliskan analisis baru dari buku-buku lain yang dia dapatkan.
Sampai beberapa jam kemudian tugas mereka selesai. Keenan bersorak-sorak, namun kepalanya langsung digebuk buku dengan pelan oleh Dimas. "Berisik bodoh. Ini masih di perpustakaan!" Dan benar saja sorakan Keenan mengundang perhatian dari mahasiswa lain yang berada di perpustakaan.
"Bisa gak sih mulut Keenan di lakban aja? " Usul Ribka namun langsung dibalas gelengan kepala brutal oleh Keenan.
Anaxa hanya tertawa canggung. Bagi dia, mereka semua itu berisik. Tapi entah kenapa, Anaxa juga merasa nyaman. Pikiran Anaxa langsung terbang ke masa lalu. Teringat semester kuliah awalnya yang sepi, duduk di pojok sendiri, tiada yang mengajak nya mengobrol. Dan Anaxa baru sadar akan kesendirian nya selama ini.
"Mengapa saat aku punya teman-teman yang peduli denganku, aku malah menghadapi masalah ini?" Anaxa berucap dalam hati. Miris
Dan hari itu, kelas berlanjut sampai malam. Anaxa sudah menenggak dua gelas kopi panas. Keenan bahkan sudah tidur ter telungkup di mejanya berkali-kali. Dimas bermaksud untuk membangunkan Keenan, namun Ribka menghentikannya. Ribka cengar-cengir sambil berbisik. "Biar saja dimarahin bu Aglaea." dan Dimas pun menyetujui ide itu.
Dan saat Bu Aglaea memanggil nama kelompok mereka untuk presentasi mengenai tugas, benar saja, dia menotis muridnya yang malah tidur saat kelas berlangsung. Dimas dan Ribka menahan diri untuk tidak cekikikan. Sementara Anaxa hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Lain hal nya dengan Alya yang berdiri dari kursinya kemudian mendekati kursi Keenan. Tanpa ampun Alya langsung menjewer telinganya Keenan hingga berteriak mengaduh.
Serasa jump scare, saat Keenan sudah sadar dari tidurnya, dia juga mendapati bu Aglaea yang berdiri di dekatnya, melipat dua tangan di bawah dada, dan menatapnya dengan tajam.
"Ma-maaf bu. Gak sengaja sumpah!"
Ucapan Keenan gak mempan bagi bu Aglaea. Dan bu Aglaea kemudian mengucapkan sesuatu yang terasa seperti vonis dingin kepada Keenan. "Nilaimu di potong 10 point."
"Bu?! Tapi bu... Ibu!" Keenan panik. Tapi bu Aglaea malah membalikkan badannya, berjalan ke depan kelas, langsung membuka buku nilai mahasiswa, kemudian mencatat pengurangan point untuk Keenan.
Keenan terduduk lemas. Lalu matanya melirik ke Ribka dan Dimas yang menahan tawa. Ucap Keenan dengan sebal "Oh begitu ya jadi teman. Ohhh begitu ya. Ohh."
"Berisik Keenan." Alya juga menatapnya dengan dingin. Dan Keenan langsung terdiam.
Untuk memecah suasana, akhirnya Anaxa juga berdiri dari kursinya dan melangkah ke depan. "Yang serius. Ayok mulai presentasi." Dan yang lain mengikuti Anaxa.
Dimas mulai mengambil alih komputer di tempat duduk dosen, menyalakan proyektor, dan menampilkan file presentasi. Ribka bersiap-siap untuk membuka sesi presentasi pada malam itu. Keenan terlihat berkomat-kamit menghapal dialog bagiannya. Sementara Anaxa tetap tenang berdiri di depan kelas.
"Selamat malam bu Aglaea dan teman-teman. Kami dari kelompok Anaxa ASOY ingin mempresentasikan tentang Observasi Perilaku Mahasiswa Dewasa Awal. Mohon disimak baik-baik yaa. Jika ada yang ingin bertanya, silahkan bertanya saat sesi bertanya dimulai."
Saat bagian awal presentasi itu dijabarkan, secara tak sengaja Anaxa memperhatikan gerak-gerik dosennya yang duduk di bangku mahasiswa untuk mendengarkan sekaligus menilai presentasi. Tapi bu Aglaea... Reaksinya tidak biasa.. Tatapan matanya seakan tidak fokus. Hanya memegang pulpen dengan erat tanpa mencatat sesuatu tentang presentasi. Wajahnya jadi sedikit agak pucat?
Anaxa mengangkat satu alisnya. Dalam hati, dia bertanya-tanya. "Mengapa bu Aglaea... Apakah... Jangan bilang kalau dia..?"
Pikiran Anaxa langsung menghubungkan detail-detail lain tentang kecurigaan dan mulai berteori. Dan dia juga sekalian ingin menguji bu dosen nya sendiri, Aglaea.
Anaxa menarik napas pelan.
Kalau dugaan nya benar...
Anaxa mengangkat tangannya. "Bu."
Aglaea menoleh. "Ya?"
Anaxa tersenyum tipis. "Menurut Ibu... apakah mungkin seseorang masih melakukan observasi terhadap subjek penelitian, bahkan setelah penelitian itu dinyatakan selesai?"
Pulpen di tangan Aglaea berhenti bergerak.
Hening.
Untuk pertama kalinya, ekspresi tenang Aglaea benar-benar hilang.
"...Kenapa kamu menanyakan itu?"