Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.
Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.
Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.
Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.
Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Dengan Ellen ?
Seperti yang Kakek duga sebelumnya, jika Tuan Ares datang maka suasana akan semakin seru. Tuan Ares memasuki ruang keluarga dengan langkah panjang dan tergesa-gesa. Lalu ia mendekati Ethan, menarik kerah bajunya lalu melayangkan pukulan keras ke wajah Ethan.
Ethan diam saja tidak membalas. Ia yakin hal ini pasti akan terjadi. Teriakan Kakek agar berhenti tidak dihiraukan. Dan Ellen semakin histeris saat tubuh Ethan merosot ke lantai.
"Ayah hentikan. Ethan bisa terluka"
Nyonya Eva tersenyum kecil melihat tontonan yang seru ini. Kapan lagi bisa menyaksikan Ethan merasakan sakit.
Saat Tuan Ares ingin menendang perut Ethan, tidak di duga-duga bahwa Iris malah menghalangi nya dengan kakinya hingga Tuan Ares kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.
"Kau, apa yang kau lakukan ?" teriak Tuan Ares dipenuhi amarah. Matanya melotot kearah Iris seakan semua kemarahannya hari ini berpusat pada wanita itu.
"Ayah mertua bukanlah orang yang baik. Kenapa menghajar putramu sendiri yang bahkan tidak melakukan kesalahan apapun" kata Iris sembari melihat kedua tangannya. Wajahnya menunjukkan kepongahan.
"Kau, semua ini adalah salah mu. Kenapa memaksa Ethan menikahi mu ? Kau pasti jalang yang disuruh oleh mata-mata untuk menghancurkan keluarga ini kan !" teriaknya lagi.
"Ares, tenangkan dirimu. Jangan bicara yang tidak-tidak. Jangan sakiti cucuku lagi" sentak Kakek marah. Ia tidak menyangka jika Tuan Ares akan berani memukul Ethan di depannya.
"Ayah, kau tau kalau anak ini sudah menghancurkan nama baik keluarga dan semua ini gara-gara wanita ini !" masih dengan berteriak dan Tuan Ares masih ingin menerkam Iris.
"Kalau begitu kau boleh menghajar ku" tantang Iris.
"Iris, apa yang kau lakukan" tegur Ethan sambil berdiri. Ia sibuk menepis tangan Ellen yang mencoba membantunya.
"Tidak apa-apa. Supaya adil. Dan supaya hati ayahmu menjadi lega" kata Iris dengan senyumnya.
Tuan Ares maju selangkah hendak memukul Iris namun dengan cepat Iris menghindar. Ia menjegal kaki Tuan Ares dari belakang hingga Tuan Ares jatuh berlutut. Setelah itu Iris memukul dada dan leher Tuan Ares dengan sekali pukulan hingga Tuan Ares muntah darah dan hampir tumbang.
"Ares .." Nyonya Eva berteriak menghampiri suaminya. Ia tidak menyangka hanya dengan sekali pukulan dari Iris bisa melukai suaminya itu.
"Kau.." kata Ethan menarik Iris dalam dekapannya.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Maaf. Apa kau marah aku melukai Ayahmu ? Aku hanya membalasnya karena sudah melukai suamiku. Bukankah tugasku adalah memastikan keamanan dan kenyamanan mu ?"kata Iris.
"Bagaimana bisa kau lakukan itu ? Kau hanya memukul nya sekali dan dia sudah muntah darah ?" tanya Ethan masih tidak percaya.
'Karena aku memukulnya di titik syaraf nya. Dia akan kesakitan tanpa menghajarnya ' gumam Iris.
"Aku hanya asal pukul saja. Bagaimana denganmu ? mana yang terasa sakit ? Kau itu, meskipun dia ayahmu, tidak seharusnya kau menerima kemarahan dan pukulan nya" omel Iris.
"Tidak ada yang sakit. Hanya wajahku yang sedikit perih" kata Ethan. Ia menatap wajah Iris yang terlihat tenang seperti aliran sungai. Terasa damai dan entah mengapa hatinya menghangat. Apalagi baru saja Iris membelanya di depan keluarganya.
"Aku diam bukan karena takut pada anda, Tuan Ares. Aku sudah membayar pernikahan ini dengan pukulan. Maka jangan menggangguku lagi" kata Ethan dingin. Ia mengabaikan Ayahnya yang sedang sibuk membersihkan darah yang keluar dari mulutnya. Sedikitpun ia tidak menaruh kasihan melihat itu. Mengingat apa yang dulu sering ia terima dari Ayahnya. Pukulan yang meninggalkan bekas dihatinya jika ia tidak mau menurut.
Ethan mengajak Iris pergi ke kamarnya. Sedangkan Kakek kehabisan kata-kata untuk bicara. Anak dan cucunya sama-sama keras kepalanya. Tidak ada yang mau mendengarkan ucapan si tua ini.
"Aku akan mengobati mu, Bos" kata Iris saat mereka tiba di kamar.
"Kau panggil apa tadi ?" tanya Ethan tidak suka.
"Bos ?"
"Kenapa berganti ? Bukannya tadi kau memanggil suamiku ?" kata Ethan seperti merajuk.
"Ya itu karena ada orang lain"
"Aku tidak mau tau. Jangan memanggilku Bos lagi" kata Ethan merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Iya ya baiklah. Aku memanggilmu suamiku, Ethan. Sudah puas sekarang ?" tanya Iris sembari tangannya sibuk melepaskan kancing jas dan kancing kemeja Ethan.
"Eh kau mau apa ? Iris aku tidak siap sekarang. Lihat hari masih belum gelap dan juga aku masih kesakitan" kata Ethan panik.
"Apa maksudmu ? Aku hanya membuka bajumu untuk melihat luka diperut mu. Bukan mau meniduri mu" omel Iris. Tangan menekan sedikit lebam di pinggang Ethan sampai Ethan berteriak.
"Aw sakit"
"Aku ambilkan es batu dulu ya. Dimana dapurnya ?" tanya Iris yang sudah berdiri.
"Tidak perlu. Kau pencet saja tombol diatas meja itu nanti akan ada pelayan datang"
"Ah jangan. Aku mau melihat-lihat istana ini. Boleh ya" pinta Iris dengan kedua tangannya diletakkan di pipi.
Ethan hampir tertawa melihat ekspresi Iris seperti itu. Dan akhirnya ia mengizinkannya.
"Kalau ada pelayan, minta dia menemanimu. Dan jangan lupa katakan kalau kau adalah istriku " kata Ethan. Melihat sikap Iris barusan, sepertinya ia tidak perlu merasa cemas berlebihan.
Mungkin Iris memang pemberani namun hanya bersikap takut di beberapa situasi saja.
"Baiklah suamiku. Tunggu sebentar ya" kata Iris lalu berlari kecil.
Sejak tadi ia sudah tidak sabar untuk berkeliling rumah yang besarnya bak istana ini. Apa kira-kira besarnya sama dengan kerajaan raja di Aurelia atau seperti rumah para pejabat kerajaan.
Setelah kepergian Iris, Ethan memejamkan matanya karena merasa mengantuk. Saat ia hampir tertidur, ia mendengar suara pintu terbuka dan tiba-tiba ia merasa ada yang memeluknya.
"Ethan, aku takut sekali saat Ayah menghajar mu tadi. Kenapa kau diam saja dan tidak menghindar ? Ini semua karena wanita jalang itu"
Ethan segera membuka matanya dan mendorong Ellen yang tengah memeluk tubuh bagian atasnya yang tidak mengenakan apapun.
"Kurang ajar. Siapa yang mengizinkan mu masuk !" teriak Ethan. Wajahnya terlihat memerah, matanya berkilat amarah. Ia mendekati Ellen yang masih terduduk di lantai dan mencengkeram lehernya.
"Kau mau membunuh wanita yang sudah memberikan kepuasan untuk mu, Ethan ? Apa kau tidak takut kehilangan kepuasan mu itu ?" tanya Ellen dengan terbata-bata.
...
Happy reading 🥰
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘