WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAAFKAN KAKAK.
Kringg kringgg
Suara bel pertanda yang membuat seluruh siswa siswi senang karena seluruh siswa sudah diperbolehkan pulang kerumahnya masing-masing namun kali ini berbeda seluruh siswa siswi mengikuti arahan untuk berkumpul di lapangan outdoor sekolah
Semua siswa siswi berbaris seperti pelaksanaan upacara,banyak siswa siswi yang berbisik bisik kebingungan adaa hal apa sampai mereka dikumpulkan seperti ini
"Perhatian untuk semua siswa dan siswi mohon tenang,hari ini bapak kepala sekolah akan menyampaikan sesuatu" ujar salah satu guru dan kemudian memberikan mikrofon kepada pak Satrio selaku kepala sekolah
Di samping pak kepala sekolah juga sudah ada Rafael dan anggotanya beserta semua orang tua mereka
"Baik, perhatian untuk seluruh siswa dan siswi mohon ketenangannya selama ini berlangsung,untuk siswa kelas 10 IPA 1 yang bernama ALFINO PUTRA mohon maju kedepan" ujar kepala sekolah membuat semua siswa mengalihkan perhatiannya ke Alfin
"Ngapain tuh anak miskin di panggil kedepan"
"Gue yakin pasti mau dikeluarkan tuh gara-gara buat masalah sama Rafael"
"Keluarin aja gak sih jadi benalu aja numpang disekolah kita,buat rusak nama sekolah kota"
Dan banyak lagi kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut mereka,dan itu sampai dalam pendengaran Alluna membuatnya mengepalkan tangannya Langit yang berada disamping Alluna melihat hal itu
Langit melepaskan sebelah earphone yang dia pakai dan memakaikannya ke telinga Alluna
"Gak usah di dengerin" ujar langit
Alluna menatap Langit yang lebih tinggi darinya dengan mata yang setengah menyipit karna cahaya matahari yang tepat mengenai wajah cantiknya
"Lucu bangett sih" ujar langit mengacak rambut Alluna pelan lalu memajukan dirinya untuk melindungi Alluna dari cahaya terik matahari
"Ga,lo tau hati gue sedang remuk hancur tak berbentuk ngelihat bos godain crush gue" ujar David memegang dadannya dengan muka yang di sedih-sedihkan
"Ngalah aja lah,lo mau tau satu fakta gak, sini gue bisikin" tanya Arga
"Apaan apaan" tanya David mendekat kan telinganya ke Arga
"Pant*t Langit lebih tampan dari wajah lo" ujar Arga santai
"Anj*ng lo,untung lagi baris yah kalo gak gue.."
"Lo mau apa" potong arga
"Gak ada" ujar David lalu membuang mukanya malas melihat Arga
Hal itu terlihat jelas oleh Naumi yang mengepalkan tangannya
"Lo liat aja,gue akan buat lo menderita bitch" ujar Naumi mengepalkan tanganya
Kembali ke Alfin....
Alfin maju ke depan sesuai perintah kepala sekolah dia sudah pasrah jika harus dikeluarkan dari sekolah ini karna tidak sanggup membayar,,Alfin sudah berdiri dengan kepala tertunduk
"Saya selaku kepala sekolah disekolah ini, mengumumkan secara tegas bahwa ALFINO PUTRA siswa teladan yang sudah sangat sering mengharumkan nama sekolah akan tetap menerima Beasiswa sampai ia tamat dari sekolah ini" ujar kepala sekolah dengan suara lantang
Alfin terkejut dia mengangkat kepalanya melihat kearah kepala sekolah seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar
Alluna yang melihat keterkejutan adiknya tersenyum tipis dan hal itu masih dilihat oleh Langit
"Apa hubungan lo dengan dia lun sampai lo selalu tersenyum dengan apapun yang menyangkut dengannya" batin Langit yang menatap Alluna yang sedang melihat kearah Alfin
"Dan ada lagi yang akan disampaikan oleh teman-teman kalian yang berada di depan kalian ini" ujar Satrio menyerahkan mikrofon ke Rafael dan kawan-kawannya
"Gue Rafael dan teman-teman gue ingin meminta maaf secara tulus dengan Alfin karna kami selalu membullynya,tolong maafkan kami" ujar Rafael dan anggotanya yang berdiri di depan Alfin dengan menunduk
"Aku sudah memaafkan kalian,aku juga minta maaf kak kalau aku pernah buat salah ke kalian" ujar Alfin tersenyum manis
"Dan kami juga akan mengganti rugi segala kerusakan dan kelakuan tidak baik anak-anak kami kepada Alfin" ujar salah satu orang tua mereka
"Tolong terima ini" ujar mami Rafael memberikan selembar cek pada Alfin
"Maaf bu,pak saya tidak bisa menerima ini,saya sudah memaafkan mereka dengan ikhlas, jadi saya mohon maaf tidak bisa menerima ini" ujar Alfin tersenyum lembut.
setetes air matanya jatuh tanpa ada yang melihat
Setelah semuanya sudah selesai, semua siswa siswi di perbolehkan pulang
Alluna yang melihat Alfin menuju gerbang,dia melepaskan earphone Langit yang masih terpasang ditelinganya
"Thanks" ujar Alluna dengan tersenyum tipis menatap langit, setidaknya moodnya sedang baik hari ini dengan apa yang terjadi saat ini dan Langit juga sedikit membantunya
Langit membatu di tempatnya memegang dadanya jantung terasa akan melompat dari tempatnya,ini adalah senyuman pertama yang Luna berikan untuknya, Langit bahkan tersenyum sendiri,dia tidak menyadari Alluna sudah pergi dari hadapannya
"Bos lo gila tuh" ujar Arga ke david yang melihat tingkah bodoh ketuanya itu,Arga tau Langit sudah mempunyai perasaan dengan Alluna namun dia tidak menyadarinya karna masih terbayang dengan seseorang di masa lalu Langit
David ikut memegang dada Langit
"Dada lo kenapa bos" ujar David yang meraba raba dada Langit
"Lo gila set*n" teriak Langit menutup dadanya seolah dia di lecehkan
"Habisnya lo megang dada lo sendiri sambil senyam senyum gak jelas, nafsu lo?" Tanya David bodoh
Plaaakk
"Bego" ujar Arga
"Sakit anj*ng" Teriak David
"Luna mana?" Tanya Langit bego
"Kenapa lo bodoh pas kenal cinta sih ngit" ujar Arga frustasi
"Lo bilang ketua lo bodoh?" Tanya Langit tidak percaya dengna perkataan Arga
"Trus apa? Bego?" Jawab santai Arga memang cuma Arga yang berani bicara santai dengan Langit
"Sialan lo" sinis Langit
"Sudah pulang dia bos makanya sadar ngapa lo megang dada lo sendiri, sakit jantung?"
"Bacot lo,cabut" ujar Langit pergi meninggalkan sekolah diikuti Arga dan david
Alfin tidak langsung pulang dia mengurungkan niatnya saat mendengar perkataan tegas Alluna
Mereka sampai di sebuah supermarket yang tidak terlalu kecil
"Kak Luna makasih yah sudah anterin aku ke tempat kerja,lain kali aku akan traktir kak Luna sebagai tanda terimakasih" ujar Alfin tulus
"Semangat kerjanya,gue duluan" ujar Alluna mengacak rambut Alfin pelan
"Kenapa setiap kak Luna dekat denganku aku selalu merasa nyaman dan aman" batin Alfin
Alluna tidak pulang dia lebih memilih melihat dari jauh adiknya yang bekerja,,bahkan dia pulang kerumah saat Alfin juga sudah sampai dengan selamat dirumahnya
membuka helmnya dan berpura-pura tidak tau tujuan Alfin
"Kak Luna yah?" Tanya Alfin
"Iya" jawab luna
"Aku mau ke kuburan bunda sama ayah aku kak". Jawab Alfin tersenyum
Taukah Alfin bahwa sekarang dia telah membuat kakaknya bersedih melihat sang adik yang sendirian tanpa bantuan kakaknya
"Naik biar gue antar" ujar Alluna
"Gak usah kak biar Alfin jalan aja, udah biasa kok" jawab Alfin
"Gue gak nerima penolakan,naik" ucap Alluna tegas
"Ya udah aku naik tapi biar aku aja yang bawa yah" ujar Alfin pelan bagaimanapun dia seorang laki-laki lebih baik dia yang mengendarai motornya bukan
Alluna tidak menolak dia lebih memilih berpindah ke kursi boncengan,,Alfin memarkir motornya di parkiran TPU
"Kak Luna mau ikut berkunjung?" Tanya Alfin
"Boleh?" Tanya Luna
"Boleh kak,aku tidak pernah bawa siapapun kesini kak Luna orang pertama yang aku bawa kesini dan kenalin ke ayah bunda" ujar Alfin semangat
"Yaudah ayo" ajak Alluna ,alluna mengikuti Alfin yang berjalan lebih dulu
Sekarang tepat di depan mereka dua makam bersih dan cantik bernamakan Albertson Thomson dan Elina Skhaya
Alluna menahan air matanya yang akan jatuh sungguh dia rindu dengan keutuhan keluarganya
"Ayah bunda kenalin ini temen Alfin namanya kak Luna dia orang baik kok" ucap Alfin yang dia tujukan ke orangtuanya
"Meninggal karna apa fin?" Tanya Alluna
"Aku juga nggak tau kak saat itu mata aku ditutup dengan seseorang yang aku benci tapi aku selalu menanti kehadirannya,lucu kan" jawab Alfin tersenyum
"Maafin kakak dek maaf maaf ,suatu saat nanti kakak harap kamu tidak membenciku lebih jauh" Batin Alluna berusaha menahan air matanya
"Ayah,bunda apa kakak baik-baik aja hm?" Tanya Alfin pelan namun masih di dengar oleh Alluna
"Kenapa aku lemah jika itu menyangkut kalian,aku tidak ingin terlihat lemah,aku ingin menjaga adikku tapi kenapa hatiku sesakit ini melihat adikku yang dipaksa dewasa dengan keadaan" Batin Alluna dia bahkan mati-matian menyembunyikan air matanya yang jatuh agar tidak terlihat oleh Alfin
Hari mulai sore Alfin harus pergi bekerja
"Kak maafin Alfin terlalu lama yah" ujar Alfin tidak enak
"Tidak,sekarang mau kemana biar gue antar,gue gak nerima penolakan" jawab Alluna
Alfin yang hendak menolak
Ada beberapa siswa siswi yang kagum dengan kebaikan hati Alfin mereka seperti merasa bersalah sudah menganggap Alfin parasit di sekolah mereka dan masih banyak juga yang masih tidak menyukai Alfin
"Yah,bunda lihat adik aku tumbuh jadi anak yang baik,sangat baik sekarang aku mengerti kenapa papa tidak membiarkan Alfin ikut bersamaku,karna papa takut akan tumbuh dendam dalam jiwa Alfin jika dia ikut bersamaku saat itu,maafin kakak yah fin hanya bisa menjagamu dari jauh,maafin kakak juga belum bisa jadi tempat kamu bersandar dan mengeluh,kakak janji tidak lama lagi kakak akan selalu jadi tempatmu berkeluh kesah,selalu memelukmu saat kamu sedih,dan selalu jadi obat penenang saat kamu merindukan ayah dan bunda" batin Alluna tanpa sadar.