Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG GULING DAN WUDHU DI BAWAH EMBUN SUBUH
Malam beranjak makin larut. Jam dinding berukir kayu di kamar utama menunjuk angka sepuluh malam. Kesunyian begitu pekat, hanya diselingi oleh deru halus mesin pendingin udara dan detak jantung Aisyah yang tak beraturan.
Aisyah duduk bersila di tepi kasur king size. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. Tangannya sibuk menata pertahanan sebuah guling tebal berbungkus sprei katun putih ia letakkan tepat di tengah-tengah ranjang, membelah area tidur menjadi dua bagian yang sama besar.
Klik.
Suara gagang pintu diputar membuat tubuh Aisyah tersentak kaku.
Ammar melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu tampak sangat lelah usai mengajar dan menghadiri rapat pengurus pesantren hingga malam. Baju kokonya sedikit kusut, dan peci hitamnya sudah ia genggam di tangan kanan.
Begitu pintu tertutup, Ammar berjalan lurus menuju sofa kulit tempat biasa ia merebahkan diri. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara batuk kecil yang sengaja dibuat-buat dari arah kasur.
"Ehem!"
Ammar menoleh. Keningnya berkerut mendapati Aisyah sedang menatapnya dengan raut wajah kaku, penuh kecanggungan yang kentara.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ammar kaku, suaranya terdengar parau.
Aisyah menelan ludah, membetulkan letak selendang yang menutup kepala dan bahunya. "Kamu... tidur di kasur malam ini."
Ammar terpaku seketika. Pria itu menatap Aisyah dengan pandangan tak percaya, seolah-olah wanita itu baru saja mengucapkan mantra sihir. "Apa kamu bilang?"
"Tidur di kasur," ulang Aisyah dengan nada sedikit ditekan, walau dadanya berdegup kencang. Ia menunjuk guling tebal yang membelah ranjang. "Tapi ada syaratnya. Guling ini pembatasnya. Kamu di sebelah sana, aku di sebelah sini. Jangan sekali-kali melewati batas ini."
Mata cokelat Ammar berkilat dingin. Arah pandangnya berpindah dari guling ke sofa, lalu kembali ke wajah Aisyah. "Saya tidak butuh kasur empuk itu, Aisyah. Sofa ini sudah cukup."
"Tadi siang Ibu naik ke kamar ini!" potong Aisyah cepat dengan nada panik yang tak bisa ditutupi.
Ammar menyipitkan matanya. "Ibu naik?"
"Iya! Ibu melihat bantal dan selimut kamu di atas sofa sempit itu!" seru Aisyah, suaranya memelan namun sarat penekanan. "Ibu curiga, Ammar! Ibu mikir kita pisah ranjang karena kita berantem atau karena aku nolak kamu! Kamu tahu kan kondisi jantung Ibu baru mendingan? Aku terpaksa bohong bilang kamu tidur di sofa karena lagi ada tugas nulis kitab dari Abah!"
Ammar membisu. Pria itu menghembuskan napas panjang, mengusap keningnya yang mendadak terasa pening. Menyertakan kondisi kesehatan Ibu adalah skakmat yang tak bisa ia bantah. Pria itu tahu persis seberapa rentannya kondisi jantung mertuanya itu.
Aisyah berdiri, menunjuk guling itu sekali lagi. "Jadi, demi kesehatan Ibu dan demi menjaga rahasia ini biar gak makin semrawut... malam ini kamu tidur di kasur. Cuma malam ini, sampai situasi aman."
Ammar menatap Aisyah dalam diam selama beberapa detik. Tak ada bantahan lagi. Pria itu akhirnya melangkah menuju sisi ranjang sebelah kiri, meletakkan pecinya di atas meja rias, lalu melepas kancing atas kemejanya.
Ia melangkah naik ke atas kasur tanpa mengucapkan sepatah kata pun, merebahkan tubuh tegapnya di sisi kiri guling. Ammar berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan posisi kaku bagaikan patung.
Aisyah menarik napas lega, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di sisi kanan guling, membelakangi Ammar.
Jarak mereka kini hanya terpisah oleh sebuah guling tebal berukuran delapan puluh sentimeter. Namun bagi keduanya, guling itu terasa bagaikan tembok raksasa yang memisahkan dua benua. Kehangatan tubuh Ammar yang membias tipis menembus guling membuat Aisyah menggigit bibir bawahnya, menahan desiran asing yang perlahan menguasai malam.
Pukul empat pagi. Suara patukan embun subuh dan sayup-sayup lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid mulai mengisi kegelapan.
Ammar terbangun secara alami. Sebagai seorang Habib dan pengajar pesantren, jam biologisnya selalu membangunkannya sebelum fajar menyingsing. Matanya terbuka pelan, menikmati kesadaran yang kembali secara bertahap.
Namun, saat ia hendak menggeser tubuhnya untuk bangun... Ammar merasakan sebuah beban hangat yang menempel erat di dada dan perutnya.
Ammar menunduk.
Mata cokelatnya membelalak lebar.
Guling pembatas yang semalam ditaruh Aisyah kini sudah terlempar entah ke mana, tergeletak tak berdaya di lantai marmer bawah kasur. Dan di atas dadanya... sebuah lengan halus milik Aisyah terlingkar dengan sangat erat!
Tidak hanya itu, tubuh ramping Aisyah merapat sempurna ke sisi tubuh Ammar. Kepala wanita itu bersandar nyaman di atas dada bidang Ammar, dengan selendang penutup kepalanya yang sudah terlepas entah sejak kapan, membiarkan rambut hitam panjangnya yang wangi terurai memenuhi lengan Ammar. Napas halus dan hangat dari bibir Aisyah berembus teratur menerpa leher Ammar.
Darah Ammar serasa berhenti mengalir seketika.
Pria itu membeku total. Jantungnya bertalu-talu menghantam dada tepat di bawah telinga Aisyah yang sedang terlelap. Sensasi kehangatan kulit dan aroma wangi alami dari tubuh istrinya merusak seluruh konsentrasi subuhnya dalam sekejap.
"Astaghfirullahal'adzim..." bisik Ammar sangat lirih, menatap atap kamar seraya menelan ludah dengan susah payah.
Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan lengan Aisyah, namun pelukan wanita itu justru makin erat, seolah-olah mencari perlindungan di tengah dinginnya udara subuh.
Ammar menghembuskan napas pasrah. Dengan sangat hati-hati, ia memegang pergelangan tangan Aisyah, lalu menepuk punggung tangan istrinya itu pelan.
"Aisyah..." panggil Ammar dengan suara bariton subuhnya yang sangat berat dan parau. "Aisyah, bangun..."
Aisyah melenguh pelan. Bintang-bintang kesadaran mulai berkumpul di matanya. Ia menggeser kepalanya lebih dalam ke dada Ammar, mencari kenyamanan. "Eung... lima menit lagi, Bu..."
"Aisyah, ini saya. Ammar," bisik pria itu tepat di atas kepalanya. "Bangun. Sudah mau subuh."
Mendengar nama 'Ammar' dan merasakan tekstur dada bidang berotot di bawah pipinya, mata Aisyah seketika terbuka lebar!
Aisyah terpaku. Matanya beradu lurus dengan dagu Ammar yang berbayang cambang tipis. Saat ia mendongak, matanya menatap langsung manik mata cokelat Ammar yang sedang menatapnya dari jarak sangat dekat.
DEG!
Kesadaran menghantam Aisyah bagaikan gumpalan es! Ia menyadari posisinya yang sedang memeluk erat tubuh Ammar bagaikan guling kesayangan!
"AAAA--!"
Pekikan Aisyah terpotong saat Ammar dengan cepat membekukan mulut Aisyah menggunakan telapak tangan besarnya.
"Jangan berteriak! Nanti Ibu dan Awan terbangun!" tegur Ammar berbisik tajam.
Aisyah mengangguk panik dengan mata membelalak lebar. Ammar perlahan melepaskan tangannya dari mulut Aisyah.
Seketika itu juga, Aisyah melompat mundur hingga hampir terguling dari tepi kasur. Wajahnya memerah padam bagaikan udang rebus. Rasa malu yang luar biasa membakar seluruh permukaan kulitnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"A-Aku... aku gak sengaja! Gulingnya... gulingnya jatuh sendiri!" gagap Aisyah histeris namun berbisik, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jemari yang gemetar hebat.
Ammar duduk di tepi kasur, membetulkan letak kemejanya seraya berdeham kaku untuk menutupi rasa canggungnya sendiri. "Ya. Tidak apa-apa."
Pria itu berdiri tegap, menatap Aisyah yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangan di atas kasur.
"Bangunlah. Kita sholat subuh berjamaah," ucap Ammar tenang. Pria itu menghentikan kalimatnya sejenak, mengingat kesepakatan mereka. "...Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Saya tidak akan memaksa."
Aisyah mendongak dari balik jemarinya. Melihat Ammar yang tidak marah dan justru menawarkan dengan suara yang teramat lembut, rasa bersalah dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik mendadak menyenggol hatinya.
"Aku... aku mau sholat," jawab Aisyah pelan.
Ammar mengangguk tipis. "Baguslah. Ambillah wudhu duluan."
Aisyah melompat turun dari kasur bagaikan buronan yang melarikan diri dari kejaran polisi. Ia menyambar mukena putih yang tergeletak di atas meja rias, lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi besar di ujung kamar dan mengunci pintunya rapat-rapt.
KLIK!
Aisyah menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi yang dingin. Ia memegangi kedua pipinya yang terasa sangat panas. "Duh, Aisyah bodoh! Kenapa pakai acara meluk segala sih?! Mau ditaruh di mana mukaku sekarang?!" gerutunya pada diri sendiri.
Setelah berhasil menenangkan detak jantungnya yang heboh, Aisyah berbalik menghadapi wastafel dan kran air kamar mandi. Ia memutar kran. Air dingin mengalir deras.
Aisyah menatap kucuran air itu dengan raut wajah bingung.
Ia membasuh tangannya... lalu berhenti. Matanya mengerjap.
Tunggu... habis basuh tangan, apa dulu ya? Usap muka dulu atau kumur-kumur dulu? Terus usap kepala sampai mana? Kaki kanan dulu atau kiri dulu?
Aisyah memegang kepalanya yang mendadak buntu. Bertahun-tahun hidup di kerasnya jalanan Jakarta, jauh dari bimbingan agama dan tempat ibadah, membuat ingatan Aisyah tentang tata cara wudhu yang pernah diajarkan almarhum ayahnya sewaktu kecil menguap tak berbekas.
Aisyah mencoba membasuh mukanya, lalu mengusap sikunya, lalu bingung lagi. Ia mematikan kran, memikirkan urutannya, memutar kran lagi, membasuh tangan lagi. Begitu berulang-ulang hingga sepuluh menit berlalu.
Di luar kamar mandi, Ammar sedang merapikan sejadah di atas karpet kamar.
Pria itu melirik jam dinding. Sudah lima belas menit berlalu sejak Aisyah masuk ke kamar mandi, namun suara gemericik air kran masih terus terdengar tanpa henti.
Kening Ammar berkerut heran. Kenapa wudhu saja bisa selamanya ini? Apa dia tergelincir di dalam?
Didorong rasa cemas, Ammar melangkah mendekati pintu kamar mandi. Ia mengetuk pintu kayu itu pelan dengan buku jarinya.
Tok. Tok. Tok.
"Aisyah?" panggil Ammar dari luar. "Kamu tidak apa-apa di dalam? Kenapa lama sekali?"
Tidak ada jawaban, hanya suara air kran yang mendadak dimatikan.
"Aisyah?" panggil Ammar lagi, nadanya sedikit menegang. "Saya buka pintunya ya kalau kamu tidak menyahut."
Pintu kamar mandi perlahan terbuka sedikit. Aisyah mengintip dari celah pintu. Wajahnya yang basah oleh air tampak memerah kaku, dan matanya menyiratkan rasa malu yang jauh lebih besar daripada kejadian meluk di kasur tadi.
"Kenapa wudhunya lama sekali?" tanya Ammar heran, menatap wajah basah istrinya.
Aisyah menggigit bibir bawahnya erat-erat. Jemarinya meremas kain mukena di pegangannya. Dengan suara yang sangat pelan hampir menyerupai cicitan anak burung Aisyah akhirnya mengaku.
"Aku... aku lupa..."
Ammar memiringkan kepalanya sedikit. "Lupa apa?"
"Lupa... tata cara wudhu yang benar..." bisik Aisyah, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu yang tak tertahankan. "Aku bingung urutannya mana dulu... Takut salah dan sholatnya gak sah."
Ammar terpaku di depan pintu.
Kalimat jujur dan polos yang keluar dari mulut wanita yang selama ini ia cap sebagai cewek jalanan yang keras, seketika menghantam dinding hati Ammar dengan sangat lembut. Tidak ada kebohongan atau rasa gengsi di mata Aisyah yang ada hanyalah kepasrahan seorang hamba yang ingin belajar menyembah Tuhannya namun kehilangan arah.
Rasa kaku di wajah Ammar perlahan-lahan luntur. Tatapannya berubah menjadi sangat teduh dan penuh kasih sayang yang tulus.
Ammar membuka pintu kamar mandi lebih lebar, lalu melangkah masuk dan berdiri di samping wastafel, di sebelah Aisyah.
"Kemari," panggil Ammar lembut.
Aisyah menyamping kaku, berdiri di dekat Ammar.
Ammar memutar kran air, membiarkan alirannya mengucur sedang. Pria itu menyingsingkan lengan baju kokonya hingga ke atas siku.
"Wudhu itu bersuci, Aisyah. Bukan cuma membersihkan fisik, tapi juga menyucikan jiwa kita sebelum menghadap Allah," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang menenangkan, bernada seperti seorang guru yang membimbing murid kesayangannya.
Ammar membasuh kedua telapak tangannya hingga pergelangan. "Pertama, baca Bismillah. Basuh kedua tangan tiga kali, sela-sela jari dimasukkan air."
Aisyah memperhatikan setiap gerakan jemari tegap Ammar dengan saksama, menahan napasnya.
"Lalu kumur-kumur tiga kali, sekaligus membersihkan hidung," Ammar memperagakannya dengan sangat halus. "Setelah itu, basuh seluruh wajah, dari batas tumbuhnya rambut sampai bawah dagu, tiga kali."
Ammar menoleh menatap Aisyah yang sedang menyimak dengan mata bulatnya yang polos. Ammar tersenyum tipis sebuah senyuman yang begitu indah hingga membuat dada Aisyah berdesir hangat.
"Sekarang, coba kamu praktekkan dari awal. Saya bimbing," tutur Ammar halus.
Aisyah menelan ludah, lalu perlahan mendekatkan kedua tangannya ke bawah kucuran air. "B-Bismillah..."
Aisyah membasuh tangannya. Ammar memperhatikan dari samping, sesekali jemari Ammar menyentuh lembut punggung tangan Aisyah untuk merapikan gerakan airnya.
"Bagus. Sekarang kumur-kumur," bimbing Ammar.
Aisyah mengikutinya. Saat sampai di tahap membasuh tangan hingga siku, Aisyah agak ragu menaikkan lengan bajunya. Ammar dengan lembut membantu merapikan lipatan kain baju Aisyah agar tidak terkena air, jemarinya yang hangat menyentuh kulit lengan Aisyah dengan sangat sopan dan penuh rasa hormat.
"Tangan kanan dulu sampai siku tiga kali, baru tangan kiri," bisik Ammar dekat di samping telinga Aisyah.
Satu per satu urutan wudhu dijalankan Aisyah di bawah bimbingan Ammar. Mulai dari mengusap sebagian kepala, membasuh telinga, hingga membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
Saat Aisyah menyapu air di kaki kirinya yang terakhir, Ammar mematikan kran air.
Aisyah berdiri tegap, mengusap sisa air di wajahnya. Tubuhnya terasa begitu segar, dan dadanya mendadak dipenuhi rasa lapang yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ammar mengambil sebuah handuk kecil bersih dari gantungan, lalu mengulurkannya pada Aisyah.
"Selesai," senyum Ammar tulus. "Wudhumu sudah sah. Sekarang kita sholat."
Aisyah menerima handuk itu, menatap Ammar dengan binar mata yang berkaca-kaca oleh rasa haru. Keangkuhan dan dinding dingin di antara mereka seolah meleleh di bawah kucuran air wudhu subuh ini.
"Terima kasih... Ustaz Ammar," bisik Aisyah jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Ammar terkekeh pelan sebuah tawa halus yang sangat merdu di telinga Aisyah. "Saya suami kamu, Aisyah. Panggil saya Mas Ammar."
Ammar berbalik melangkah keluar kamar mandi, meninggalkan Aisyah yang berdiri membeku dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan drum, menggenggam handuk kecil itu dengan rasa bahagia yang tak terlukiskan.