Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISTERI AMPLOP PUTIH YANG USANG
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang pria berdiri di depan sebuah rumah besar. Wajahnya terlihat tegas.
"Ini...?"
Pengacara Frans memperhatikan reaksiku.
"Dia ayahmu, Naya."
Aku menatap foto itu lebih lama. Selama hidupku, aku hanya memiliki satu bayangan tentang ayah: seseorang yang tidak pernah datang menjemputku dari panti asuhan.
"Kenapa Bapak punya foto ini?"
"Karena aku pernah menjadi pengacara pribadinya," jawab Pengacara Frans.
Aku mengangkat wajah.
"Pengacara pribadi?"
"Ya. Dan sebelum ayahmu menghilang, beliau pernah menitipkan sesuatu kepadaku."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
"Apa?"
Pengacara Frans belum menjawab. Ia justru mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah tampak tua. Di bagian depan amplop itu tertulis satu nama:
*NAYA SKYVI*
Aku membeku.
"Kalau memang ayahku meninggalkan surat... kenapa Bapak tidak memberikannya sejak dulu?"
Pengacara Frans menundukkan pandangan.
"Karena saat itu, ada orang yang berusaha memastikan surat ini tidak pernah sampai kepadamu."
"Siapa?"
"Hans, Naya. Aku yakin Hans juga tahu di mana ayahmu," ucap Pengacara Frans.
Mendengar perkataan Pengacara Frans membuatku terkejut. Ada hubungan apa semua ini? Aku tetap duduk dengan tenang seraya masih mencerna semuanya. Aku menatap Pengacara Frans dengan tajam, bola mata kami saling beradu.
"Apa hubunganku dengan Hans?"
"Naya, aku tidak bisa memberitahumu semuanya untuk saat ini. Aku hanya bisa memberimu petunjuk ini. Itu pun atas perintah Alea yang menghubungiku. Hans bukan orang yang mudah kau tumbangkan, Naya. Hati-hati dengan Hans." Seraya bersiap untuk pergi.
Pengacara Frans beranjak keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Jaga dirimu baik-baik, Naya," pesan Pengacara Frans. Ia meninggalkan teka-teki yang masih belum kupahami.
_Brrr... brrr..._ Suara telepon bergetar, Alex memanggil.
Dengan suara lirih yang sangat kecil.
"Naya, aku sudah memasukkan penyadap itu ke dalam dompet Mely."
"Baik, Lex. Terima kasih, jaga dirimu." _Tut..._ Mematikan telepon.
Aku melihat foto ayah Naya yang terlihat dari kalangan elit. Rumah besar, tapi kenapa ia tega membuang Naya ke panti asuhan? Aku membuka amplop putih usang yang dibawa Pengacara Frans, tertulis nama Naya Skyvi. Di dalamnya ada kalung berliontin bulan sabit serta foto wanita cantik dengan gaun merah, rambutnya tersanggul dengan anggun. Aku melihat kalung berliontin bulan sabit di lehernya. Apa mungkin wanita di foto ini ibu Naya? Tapi kenapa mereka membuang Naya? Semua pertanyaan berputar di kepalaku.
_Brumm..._ Suara mobil terparkir di depan rumah. Aku mengintip dari jendela, mereka Puri dan Alex.
_Krekk..._ Suara pintu terbuka. Alex dan Puri masuk ke dalam rumah seraya menutup pintu.
Aku tersenyum melihat mereka baik-baik saja. Mungkin aku dulu tidak memiliki siapa pun, tapi di dunia yang sekarang aku memiliki mereka berdua dan Choco. Aku yakin mereka dapat dipercaya.
Puri melihatku memegang amplop putih. "Naya, apa itu?"
"Ini kalung dan foto, dari dalam amplop putih ini, Puri."
Puri langsung mengambilnya. "Foto wanita dan kalung, dan apa itu?" Puri mengambil foto ayah Naya.
"Naya, dari mana kau dapat ini? Siapa wanita dan pria yang ada di foto ini?"
"Tadi ada pengacara datang ke rumah, namanya Pengacara Frans. Dia memberiku foto itu dan memberiku amplop putih yang berisi foto wanita dan kalung ini. Pengacara itu bilang, pria itu ayahku, Puri."
Alex langsung melihat foto yang sedang dipegang Puri.
"Naya, sepertinya Mely akan bertemu dengan Hans. Tadi aku melihat Mely dijemput anak buah Hans," ucap Alex.
Suara penyadap yang langsung terhubung dengan laptop tiba-tiba terdengar.
_"Krek... krek..."_
Aku dan Puri yang duduk di sofa sontak terdiam.
"Alex, kamu mendengar suara itu?" bisikku.
Alex mendekatkan wajahnya ke layar laptop, tangannya yang memegang cangkir perlahan meletakkannya di atas meja.
Puri memperbesar tampilan rekaman suara. Dari laptop terdengar suara musik diskotik yang sangat berisik, kami masih mengamati suara itu. Seperti suara yang masih sedang berjalan... Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari laptop.
"Mely, bagaimana dengan Naya?"
"Naya sudah keluar dari agensi," jawab suara wanita dengan nada rendah. "Naya juga sudah menemui istrimu, Alea."
Kami saling berpandangan. Alea. Mendengar nama itu membuat dadaku terasa sesak. Aku memberi isyarat pada Alex untuk tidak berisik.
Laki-laki itu kembali bicara.
"Kalau begitu kita harus melangkah lebih cepat. Jangan sampai Naya tahu semuanya."
Tanganku berhenti di atas meja, Puri menatapku dengan mata melebar seolah ingin bicara. Aku langsung mengangkat telunjuk ke bibir.
Terdengar suara kursi tergeser.
"Dan satu lagi, kita harus menyingkirkan istriku," suara Hans.
Kami bertiga saling bertatapan.
Lalu terdengar suara Mely.
"Hans, Naya sudah berubah. Dia sudah berani kepadaku dan mulai menamparku."
"Kau benar, Mely. Dia mulai memberontak dan sudah berani menemui Alea."
Aku terdiam dan menahan napas, aku menatap layar laptop dengan pikiran yang berputar. Ada hubungan apa mereka, Mely dan Hans?
Terdengar suara asing yang baru kami dengar.
"Pak Hans, bagaimana dengan Pak Aji, kita pindahkan ke mana?"
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," terdengar suara Hans.
"Hans, bagaimana jika Naya tahu ayahnya masih hidup?"
"Dia tidak boleh mengetahui apa pun, apalagi kejadian 25 tahun yang lalu," terdengar suara Hans seperti sedang minum.
Bersambung..