Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KILAS BAIK
Kampung dalam Tempo Dulu
"Pak... ",
"Bu... ",
"Aku pulang... ",
Sabdo baru saja pulang sekolah.
Jika teman-temannya bisa pulang sampai di rumah sebelum jam dua belas siang.
Maka berbeda dengan Sabdo yang rumahnya paling jauh dari sekolah.
Dengan berjalan kaki melewati hutan, memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Anak SD kelas tiga itu sampai di rumah sebelum jam satu siang.
Sabdo usia sembilan tahun mencari kedua orang tuanya setiap pulang sekolah.
Dengan cara berteriak memanggil mereka.
Jika tidak ada jawaban, itu artinya Prawiro dan Lentik sudah berangkat lagi ke perkebunan untuk bekerja.
Makan siang untuk Sabdo sudah disiapkan di meja dapur di bawah lindungan tudung saji.
Sabdo sampai di rumah langsung makan.
Sesudah itu tidur siang sampai waktu asar.
Itupun rumah akan masih terasa sepi ketika ia bangun.
Sudah setahun ini Sabdo resmi tinggal sendiri di rumah bersama ibu dan bapak.
Dua kakak Sabdo yang sudah lulus sekolah dasar melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah yang ada pondok baiknya.
Jika sudah di rumah Sabdo hanya seorang diri.
Tidak ada teman seumuran di kampung dalam.
Adanya mereka yang masih bayi, balita atau yang jauh lebih tua.
Sabdo kecil yang kesepian suka menghibur diri dengan bermain bersama alam.
"Aku mau bantu di kebun ya pak?",
"Tidak usah bantu ibu dan bapak",
"Kalau kamu mau ikut main saja, tidak usah bekerja",
"Kamu masih bocah",
"Tugas kamu selain bermain adalah belajar di sekolah",
Prawiro dan Lentik tidak mau melibatkan anak-anak mereka untuk mencari nafkah.
Biarkan mereka menikmati masanya menjadi seorang anak kecil.
Sabdo suka bermain di dalam hutan yang jauh lebih ke dalam.
Karena di sana ia bisa bertemu dengan binatang yang enggan mendekat ke lingkungan pemukiman.
Salah satunya adalah kucing hutan yang masih liar.
Sudah sering kali Sabdo berusaha menangkap seekor kucing hutan untuk dipelihara.
Tapi hasilnya selalu saja gagal.
Bahkan untuk menangkap seekor anak kucing hutan pun tidaklah semudah yang dibayangkan.
Selain larinya kencang mereka juga lincah naik ke atas pohon.
"Kamu siapa?",
"Aku Sabdo",
"Kamu siapa?",
"Namaku Kayi",
Sabdo tanpa sengaja masuk ke sebuah pemukiman.
Ia tidak menyangka di dalam hutan yang jauh ini masih ada pemukiman orang-orang.
"Kamu darimana?",
"Aku anak kampung dalam",
"Kamu mau apa kemari?",
"Aku tidak sengaja lewat",
Kebetulan anak perempuan yang bernama Kayi itu sepantaran dengan Sabdo.
"Kamu mau bermain denganku?",
"Mau",
"Ikut aku",
Itulah pertemuan pertama kali Sabdo dengan Kayi seorang anak perempuan yang tinggal di pemukiman di dalam hutan yang lebih dalam.
Karena sama-sama kesepian dan tidak punya teman.
Sabdo dan Kayi langsung cepat akrab.
"Kita berteman sekarang",
"Iya, sekarang kita berteman",
"Besok kamu kesini lagi ya?",
"Iya, besok setelah pulang sekolah aku akan kesini lagi",
"Kamu tunggu aku di tempat yang tadi ya?",
"Iya",
"Aku pulang dulu sekarang",
"Iya sana pulang, sebentar lagi malam",
Untuk pertama kalinya Sabdo merasakan kehangatan yang luar biasa.
Bisa berinteraksi dengan anak seusianya dalam waktu yang lama dan tidak melulu soal pelajaran.
Bermain, bermain dan bermain.
Ia bertemu dengan seorang teman baru yang sangat mirip dengannya.
Mereka berdua langsung klop di hari pertama jalan bersama.
Mereka memiliki chemistry.
"Kamu dari mana saja Sabdo?",
"Sudah mau magrib baru pulang",
"Aku tadi habis kejar blacan (kucing hutan) Bu",
"Dapat?",
"Tidak",
"Sudah sana mandi dulu",
"Habis itu nyusul bapak ke surau",
Malam harinya tidur Sabdo lebih nyenyak dan bermimpi.
Sampai mengigau.
"Kayi... ",
Dalam mimpinya Sabdo kembali bertemu dengan sosok Kayi.